Briket Arang

UJANG SOLICHIN  SULAP SAMPAH JADI BRIKET

Sumber: http://dini-olahlimbah.blogspot.com/

KOPRAL Kepala (Kopka) Ujang Solichin boleh dibilang prajurit rancage (kreatif). Di sela-sela kesibukannya sebagai prajurit TNI ia mampu memanfaatkan waktunya dengan gagasan yang penuh inovatif.

Salah satu diantaranya dengan membuat arang briket berbahan baku sampah. Sampah apa saja, terutama sampah organik kering seperti daun-daun, rumput, serpihan kayu, bongol kayu, serbuk gergaji, kertas dan segala macam sampah yang bisa dibakar jadi arang dan abu. Di tangan bapak empat anak ini, arang dan abu hasil pembakaran sampah tadi dicetak jadi briket arang setelah dipress dengan mesin khusus rancangan sendiri.

Briket arang kemudian dijadikan bahan bakar kompor dengan nyala apinya tak kalah dengan nyala api kompor gas. Satu kilo arang briket buatan Ujang Solichin yang dijual seharga Rp 1.600 itu, setara dengan kekuatan 1 liter minyak tanah yang HETnya Rp 2.235/liter.

Usaha briket arang ini sudah dirintis Ujang sejak bulan Juli 2005 lalu, hanya beberapa hari setelah masyarakat Indonesia diguncang kebijakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada bulan April 2005. Saat itu harga minyak tanah melambung dari Rp 900/liter sampai jadi Rp 2.235/liter di tingkat masyarakat umum.

Dengan ide awal untuk mencari energi alternatif, Ujang kini sudah menjadi ‘jendral’ di bidang usaha pembuatan briket arang. Dan penduduk Lingkungan Pasir Angin RT 06 RW 06 Kelurahan Kertasari ini punya markas khusus di jalan raya Ciamis-Banjar Nomor Km 7 (CMS) No 341 Desa/Kecamatan Cijeungjing. Markas yang dikontraknya Rp 10 juta per tahun tersebut sekaligus merupakan kantor APABRIC (Asosiasi Pengusaha Arang Briket Ciamis) yang ketuanya Ujang Solichin sendiri.

Sebagai prajurit TNI yang suka keluyuran dari kampung ke kampung, Ujang mengaku merasakan sekali kesulitan warga akibat kenaikan BBM. Sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah teknis, Ujang yang tamat dari STM Dr Sutomo Cilacap tahun 1987 ini merasa mendapat ide saat menyaksikan buruh-buruh penggergajian kayu memanfaatkan serbuk gergaji untuk bahan tungku saat memasak air maupun nasi liwet.

“Serbuk gergaji tersebut dipadatkan dibakar dalam tungku khusus, apinya biru menyala. Saya pikir kenapa serbuk gergaji tersebut tidak dibikin briket arang saja. Saya mulai mengutak-atik di lantai II rumah saya di Pasir Angin. Akhirnya terciptalah briket arang seperti sekarang, bahan bakunya tidak hanya serbuk gergaji, tetapi dari bermacam-macam sampah,’ tutur Ujang Solichin kepada Tribun Senin (18/9).

Briket arang berbahan baku sampah buatan Ujang ini tidak menimbulkan perih asap dan tidak menyisakan limbah beracun B2 seperti halnya briket batu bara. Briket arang buatan Ujang ini bisa digunakan untuk memasak dengan memakai kompor khusus, dan juga bisa digunakan untuk bahan arang pembakar sate ‘Niat saya sekarang memproduksi briket arang ini bukan untuk menyaingi minyak tanah. Terlebih adalah untuk memanfaatkan sampah yang sekarang menumpuk di TPA Handapherang dan TPA Ciminyak. Ada 40 KK pemulung yang sudah siap dibina untuk menjadi produsen arang dari timbunan sampah di kedua TPA tersebut. Bagaimana pun juga sampah kota, kini menjadi persoalan serius, ingat saja kejadian TPA Leuwigajah atau musibah longsor TPA Bantargebang baru lalu,’ imbuhnya.

Menurut Ujang, tumpukan sampah kota yang dibuang ke TPA tersebut sebenarnya bisa digunakan dan bermanfaat. Salah satu diantaranya dibakar jadi arang dan arangnya kemudian jadi briket.

Dengan bahan baku serbuk gergaji, arang batok, limbah tapas kelapa kini Ujang memproduksi arang briket 1-2 kuintal per hari dengan mempekerjakan sembilan pemuda pengangguran dan putus sekolah.

“Tiap orang diberi upah secara borongan Rp 300/kg briket. Seorang pekerja mampu mendapatkan upah Rp 15.000/hari, tergantung produktivitasnya,’ ujar Ujang yang melakoni usaha briket arangnya ini setelah meminjam uang dari BRI sebesar Rp 31 juta untuk membeli dan membuat berbagai mesin.

Bila usahanya berkembang, menurut Ujang, pihaknya akan bekerja sama dengan sejumlah SLB yang ada di Ciamis, merekrut pemuda cacat untuk jadi pekerja pembuatan arang briket. ‘Yang penting yang bersangkutan bisa melihat akan kami terima. Pemuda cacat kan susah masuk kerja dimana pun,’ ujarnya.

Ujang sendiri sekarang mengaku pusing karena pesanan briket arang terus mengalir. Misalnya dari Pabrik Peleburan Tima Aki di Leuwigajah sebanyak 10 ton perminggu. Dan dari Perkebunan Teh di Bandung selatan sebanyak 50 ton per bulan.

“Sementara kami hanya mampu memproduksi briket arang 7 kuintal sampai 1 ton seminggu. Untuk saja mereka mau menampung berapa pun adanya,’ ujar Ujang yang berniat segera menyerahkan usaha arang briketnya kepada yang lebih professional.

“Saya tentu tetap mengutamakan tugas saya sebagai prajurit. Usaha briket arang akan serahkan kepada yang lebih professional. Saya sekarang, hanya punya keinginan untuk mempaten hak cipta briket arang ini. Cuma biayanya cukup besar, katanya sampai Rp 10 juta,’ tutur Ujang yang setelah tamat STM Dr Sutomo Cilacap tahun 1987 lalu langsung membuat PLTA mini di Curug Panganten Desa Kepel, Cisaga sehingga mampu menerangi dua desa. Tapi PLTA minihidro yang dikelola Ujang ini tersingkir setelah listrik PLN masuk desa tersebut pada tahun 1992. Ujang sendiri memilih masuk jadi prajurit TNI yang kini berdinas di Ciamis.

“Dari tumpukan sampah masih banyak yang mungkin bisa digunakan. Seperti untuk membuat pavingblock, eternity, keramik, batako dan segala macamnya. Tinggal sekarang bagaimana memilah-milah sampah yang mungkin digunakan,’ ujar Ujang tentang idenya yang masih belum terlaksana dalam pemanfaatan tumpukan sampah di TPA Handapherang. (andri m dhani)

Briket Arang dari Sampah Organik

Suara Merdeka – 17 Juli 2009

Sumber: http://digilib-ampl.net/

TIMBUNAN sampah kadang menjadi persoalan di kota-kota besar yang tidak mempunyai lahan kosong untuk pembuangan akhir. Namun dengan kreasi dan inovasi dari tangan-tangan kreatif, sampah bisa bermanfaat terutama bagi lingkungan termasuk untuk penghematan energi di bumi ini.

Melalui inovasinya, para siswa SMK Negeri 1 Magelang mampu mengubah sampah organik dari daun-daun kering menjadi bahan bakar rumah tangga dan industri yang ramah lingkungan dengan membuat briket arang.

Proses pembuatannya diawali dengan sampah-sampah daun kering yang dimasukkan ke dalam tong kemudian dibakar. Sisa abu pembakarannya kemudian digiling menggunakan alat penggilingan.

Kemudian mereka mengayaknya sehingga menjadi bubuk arang. Setelah itu ditambahkan lem kanji untuk perekatnya dengan perbandingan 1:2. Adonan tersebut kemudian dicetak menggunakan mesin cetak buatan siswa SMK.
Dengan pengeringan alami yaitu diangin-anginkan dengan matahari didapatkannya briket padat yang siap digunakan.

Mudah Didapat

Menurut siswa SMK Negeri 1 Magelang, Hery Fitrianto, keunggulan briket arang dari sampah organik tersebut adalah karena bahannya (sampah) mudah didapat.

Dengan pemanfaatan bahan baku ini juga mampu mengurangi timbunan sampah. Selain itu briket sampah juga tidak mengandung belerang sehingga tidak berbau menyengat. Harganya pun lebih murah dibandingkan dengan arang dari kayu.

’’Dari proses pembuatannya pun bisa dilihat bahwa asap yang ditimbulkan, ditangkap dengan mesin khusus buatan kami dan ini tidak menimbulkan polusi,’’ terang Hery Fitrianto yang duduk di kelas 3 SMK.

Kelebihan lainnya dari briket arang ini adalah pada saat digunakan tidak cepat menjadi abu karena lebih tahan lama. Namun sayang produksi briket arang ini belum bisa dipasarkan secara umum karena alat pembuatannya masih terbatas. Sementara ini briket arang bisa dipesan melalui sekolah.(K3-41)

Warga Dumpoh buat briket arang dari sampah

Sumber: http://www.wawasandigital.com/ 07 October 2008

MAGELANG – Sampah yang selama ini menjadi sesuatu yang menjijikkan, selain bisa digunakan untuk pupuk tanaman, dapat digunakan sebagai energi alternatif.

Pengembangan energi alternatif yang dilakukan warga Kampung Dumpoh, Kelurahan Potrobangsan, Kota Magelang tersebut menjadikan kampung yang ada di tepian Sungai Progo tersebut dipilih menjadi salah satu proyek percontohan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM).

“Kampung Dumpoh dipilih bersama lima daerah lain, yakni Jombang, Banjarmasin, Bekasi, Tangerang, dan Bogor,” kata Asisten Deputi Kemitraan dan Jaringan Usaha Kementrian Koperasi (UKM) Herustiati.

Heriastuti mengatakan terpilihnya Kampung Dumpoh sebagai salah satu proyek percontohan pembuatan briket arang dari sampah, tidak lepas dari kesadaran warga setempat dalam mengelola sampah rumah tangga.

Diharapkan, proyek pembuatan briket sampah tersebut dapat digunakan untuk mengatasi krisis energi yang belakangan melanda Indonesia. Selama ini, masyarakat hanya mengandalkan bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Dengan mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif maka warga tidak lagi menggantungkan pada BBM. Dengan sampah, mereka dapat memproduksi bahan bakar sendiri untuk keperluan memasak seharihari, “ujarnya.

Skala mikro
Menurutnya, usaha pembuatan briket sampah yang seperti dilakukan warga Kampung Dumpoh tersebut masih dalam skala mikro. Namun, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah sanggup memfasilitasi untuk menawarkan produk bahan bakar briket sampah kepada perusahan-perusahaan besar. Seperti Perusahaan Listrik Negara (PLN) maupun PT Indocement.

“Bahan bakar briket seperti itu bisa menjadi pengganti batu bara yang selama ini dipakai PLN maupun Indocement. Apalagi, harganya lebih terjangkau, jadi peluang pasar sangat terbuka, ” katanya. Heriastuti menambahkan proyek pengembangan energi alternatif tersebut juga merupakan salah satu upaya melestarikan lingkungan.

Selama ini, sampah hanya dianggap sebagai barang tak berguna serta mengotori lingkungan. Tetapi, setelah diolah sedemikian rupa sampah-sampah tersebut disulap menjadi barang yang menghasilkan rupiah.

Ketua RW VII Kampung Dumph H Abdurrahman menambahkan untuk memproduksi bahan bakar briket tersebut, pihaknya telah mendapatkan bantuan peralatan dari Kementerian Koperasi dan UKM.

“Peralatan tersebut telah digunakan untuk memproduksi bahan bakar briket sebagai pengganti minyak tanah atau kayu,” imbuh dia.

Sebelumnya, warga setempat juga mendapatkan bantuan Pemkot Magelang berupan satu unit sepeda motor sampah yang digunakan petugas yang telah ditunjuk untuk mengambil sampah warga. Ias/ad

PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN SAMPAH ORGANIK
MENJADI BRIKET ARANG DAN ASAP CAIR

Nisandi
Alumni Mahasiswa Magister Sistem Teknik Fakultas Teknik UGM
Konsentrasi Teknologi Pengelolaan dan Pemanfaatan Sampah Limbah Perkotaan (TP2SLP) Guru SMK
Negeri 1 Magelang

Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007) ISSN : 1978 – 9777 Yogyakarta, 24 November 2007

ABSTRAKSI

Keberadaan sampah dari tahun ke tahun menimbulkan masalah berupa pencemaran serta meningkatkan kebutuhan pengadaan TPA. Dalam makalah ini di paparkan usaha mengatasi keberadaan sampah dengan pemanfaatan sampah sebagai bahan untuk membuat briket. Hasil didapat menunjukan pembuatan briket dari sampah ini dapat membantu mengurangi timbunan sampah, khususnya sampah organik serta dapat menjadi alternatif bahan bakar bagi masyarakat sekaligus mengurangi konsumsi yang tinggi dari minyak bumi.

Kata Kunci : Pemanfaatan Sampah, Briket, Bahan Bakar Alternatif

1.Permasalahan

Setiap hari kita tak dapat lepas dari sampah, karena kita membuangnya baik di rumah atau di kantor dan dimanapun kita berada. Tidak heran ketika akan menimbulkan pencemaran tanah, air dan udara. Berdasar perhitungan Bappenas dalam buku infrastruktur Indonesia pada tahun 1995 perkiraan timbulan sampah di Indonesia sebesar 22.5 juta ton dan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2020 menjadi 53,7 juta ton. Sementara di kota besar produk sampah perkapita berkisar antara 600-830 gram per hari (Mungkasa, 2004).

Berdasarkan data tersebut maka kebutuhan TPA pada tahun 1995 seluas 675 ha dan meningkat menjadi 1610 ha di tahun 2020. Kondisi ini akan menjadi masalah besar dengan terbatasnya lahan kosong di kota besar. Menurut data BPS pada tahun 2001 timbulan sampah yang diangkut hanya mencapai 18,3 %, ditimbun 10,46 %, dibuat kompos 3,51 %, dibakar 43,76 % dan lainnya dibuang di pekarangan pinggir sungai atau tanah kosong sebesar 24,24 % .

Gambar 1. Diagram penanganan sampah

Salah satu alternatif penanganan sampah dari pada dibakar percuma adalah dengan pembakaran pirolisis dari sampah organik, walaupun harus dipilah sampah organik yang dapat dipirolisis. Proses ini akan menghasilkan padatan (char) berupa arang dan berupa cairan (tar) yang memiliki nilai kalor tinggi. (Bramono, 2004). Char dapat diproses lanjut menjadi briket bio arang dan menjadikan energi alternatif selain ikut memberikan kontribusi dalam mengurangi jumlah sampah yang ada.

Pembuatan energi alternatif dalam kondisi energi minyak menipis jumlah cadangannya, serta mahal harganya merupakan langkah terobosan yang bermanfaat, baik dari segi pemanfaatan sampah juga sebagai upaya strategis melatih masyarakat menggunakan energi alternatif. Menurut (Siteur,1996) peningkatan pemakaian energi sejak 1970-an telah menimbulkan krisis energi, hal ini dikarenakan suplai energi yang tidak dapat mengimbangi besarnya kebutuhan energi yang meningkat dari tahun ke tahun. Konsumsi energi pada tahun 1918 sebesar 1.181 PJ, tahun 1986 sebesar 1320 PJ dan tahun 1991 sebesar 1465 PJ. Sedangkan energi yang digunakan adalah sebagai berikut (Supranto,2004)

  1. Pemakaian biomassa masih besar diperkirakan sekitar 35 % dari total pemakaian energi nasional.
  2. PPemakaian energi primer komersial masih didominasi oleh minyak bumi, sedangkan cadangan minyak bumi semakin terbatas.

Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 11 propinsi pada tahun 1990 pemakaian biomassa di daerah pedesaan adalah :

1. Kayu bakar perkapita 430 kg /tahun.
2. Arang perkapita 9 kg / tahun
3. Sisa pertanian perkapita 175 kg / tahun

Pemakaian energi dari kayu bakar yang selama ini dilakukan, akan berakibat pada penggundulan hutan yang mana ini akan membawa kerusakan hutan (deforestration), hal ini memaksa kita untuk melakukan diversifikasi sumber energi antara lain, memanfaatkan sampah ataupun limbah sebagai sumber energi alternatif.

Limbah pada dasarnya berarti suatu bahan yang terbuang, atau sengaja dibuang dari suatu sumber hasil atau aktivitas manusia maupun proses-proses alam dan tidak atau belum mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatip, karena diperlukan beaya tambahan untuk pengumpulan ,penanganan dan pembuangannya (Murtadho dan Said 1988). Hal tersebut merupakan pengertian secara umum, sedangkan secara khusus untuk limbah padat disebut dengan sampah, yang memiliki pengertian suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis (Istilah Lingkungan untuk manajemen Ecolink dalam Suprihatin 1999).

Berdasar asalnya sampah (padat) dapat digolongkan sebagai (Suprihatin 1999) :

  1. Sampah organik yaitu sampah yang terdiri dari bahan –bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam, atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lainnya. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar sampah organik, termasuk sampah organik misalnya : sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah dan daun.
  2. Sampah anorganik yaitu sampah yang berasal dari sumber daya alam tak terbaharui seperti mineral dan minyak bumi atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga misalnya: botol kaca, botol plastik, tas plastik dan kaleng.

(Murtadho dan Said, 1997) mengklasifikasikan sampah organik menjadi 2 (dua) kelompok yaitu :

  1. Sampah organik yang mudah membusuk (garbage) yaitu limbah padat semi basah berupa bahan-bahan organik yang berasal dari sektor pertanian dan pangan termasuk dari sampah pasar. Sampah ini mempunyai ciri mudah terurai oleh mikroorganisme dan mudah membusuk, karena mempunyai rantai kimia yang relatif pendek. Sampah ini akan menjijikkan jika sudah membusuk apalagi bila terkena genangan air sehingga masyarakat enggan menanganinya.
  2. Sampah organik yang tak mudah membusuk (rubish) yaitu limbah padat organik kering yang sulit terurai oleh mikroorganisme sehingga sulit membusuk. Hal ini karena rantai kimia panjang dan kompleks yang dimilikinya, contoh dari sampah ini adalah kertas dan selulosa.

Penggunaan sampah sebagai bahan untuk membuat briket berangkat dari keprihatinan bahwa, semakin hari jumlah produksi sampah semakin banyak serta ternyata di kota besar malah menimbulkan permasalahan yang berat dan berkepanjangan, dan tentunya semua kota yang berkembang akan menghadapi permasalahan ini. Memang upaya penggunaan sampah sebagaibriket tidak akan dapat menyelesaikan permasalahan sampah secara keseluruhan yang memang permasalahan sampah harus diselesaikan secara integralistik dari beberapa faktor, namun upaya ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi produksi sampah .

Penggunaan bahan bakar minyak yang semakin meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan pertumbuhan industri, hal ini menuntut suatu pemikiran dan gagasan untuk menggali serta mengembangkan potensi sumber-sumber energi alternatif, terlebih dengan semakin menipisnya cadangan minyak dunia / bahan bakar fosil yang terbatas cadangannya, maka perlu untuk merintis penggunaan energi alternatif / terbarukan. Yang dimaksud dengan energi terbarukan adalah energi yang didapat dari sumber-sumber atau bahan-bahan yang siklus pengadaan/ peremajaan atau pembaharuannya tidak memerlukan waktu yang terlalu lama. Sedangkan energi yang tak terbarukan adalah energi yang didapat dari sumber-sumber yang dapat mengalami kelangkaan/ habis, dan tidak dapat diperbaharui.

Penggunaan bahan pengawet makanan yang berbahaya sangatlah memprihatinkan dan ini menjadi perhatian yang serius dari pemerintah sehingga upaya untuk melindungi konsumen selalu diperhatikan, namun hal ini belum dibarengi dengan tersedianya bahan pengawet makanan yang diharapkan. Pengembangan asap cair sebagai pengawet makanan yang tidak berbahaya bagi manusia sangatlah diharapkan sehingga penulis mencoba melakukan upaya pengembangan pemanfaatan aap cair sebagai pengawet makanan.

Manfaat Asap cair :

1. Industri Pangan

Dalam industri pangan, asap cair memberi rasa dan aroma yang spesifik juga sebagai pengawet karena sifat antimikrobia dan antioksidannya. Dengan tersedianya asap cair maka proses pengasapan tradisional dengan menggunakan asap secara langsung dapat dihindarkan . Perlu dicatat bahwa pengasapan tradisional mempunyai banyak kelemahan seperti pencemaran lingkungan ,proses tidak bisa dikendalikan , kualitas yang tidak konsisten serta timbulnya bahaya kebakaran , yang semuanya dapat dihindari.

2. Industri perkebunan

Asap cair dapat digunakan sebagi koagulan lateks dengan sifat fungsional asap cair seperti anti jamur , anti bakteri dan antioksidan tersebut dapat memperbaiki kualitas produk karet yang dihasilkan.

3. Industri Kayu

Kayu yang diolesi dengan asap cair mempunyai ketahanan terhadap serangan rayap, sehingga akan memperpanjang usia kayu.

2. Faedah Yang Diharapkan

Faedah dari pengolahan ini adalah dapat membantu mengatasi permasalahan dalam pengolahan sampah khususnya sampah organik, yakni mengurangi jumlah timbunan sampah.

Manfaat lain adalah sejalan dengan semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil / minyak bumi, maka diharapkan briket bioarang ini dapat menjadi alternatif bahan bakar bagi masyarakat sekaligus mengurangi konsumsi yang tinggi dari minyak bumi.

Membantu masyarakat yang melakukan usaha atau kegiatan pembuatan briket bioarang dari sampah organik dan menghasilkan asap cair yang diharapkan dapat menggantikan bahan pengawet makanan yag berbahaya.

3. Peralatan

a. Spesifikasi Alat.

  1. Ruang pengarangan dan ruang pembakaran dibuat dari bahan plat dengan ketebalan 1,2 mm.
  2. Kapasitas ruang pengarangan 38 liter.
  3. Kapasitas ruang bakar 80 liter.
  4. Lama pengarangan dapat berlangsung sampai dengan 3.5 jam.
  5. Suhu maksimal yang dapat dicapai 450 °C.

b. Keunggulan alat dan hasil

  1. Bahan bakar sampah selain murah juga dapat mengurangi timbunan sampah.
  2. Tidak tergantung pada bahan bakar di pasaran.
  3. Briket arang tidak mengandung unsur belerang.
  4. Dihasilkan briket arang dan asap cair.
  5. Teknologi sederhana sehingga mudah pengoperasiannya.

c. Bahan Baku dan Bahan Bakar.

  1. Kadar air dianjurkan tidak melebihi 8 %.
  2. Bahan baku yang akan diarangkan berupa sampah organik.
  3. Bahan yang akan diarangkan dapat diisi penuh tetapi dianjurkan tidak diisi terlalu padat.
  4. Bahan bakar untuk memanaskan ruang pengarangan berasal dari sampah dimana bagian bawah diberi ranting untuk menahan sampah.

d. Cara Pengoperasian Alat.

  1. Dapur pengarangan dan ruang bakar dibersihkan dari abu.
  2. Memasukkan ranting di bagian bawah/ saluran udara untuk menahan sampah agar tidak jatuh kebawah.
  3. Memasukkan sampah sampai setinggi di bawah ruang pengarangan.
  4. Memasang dapur/ruang pengarangan.
  5. Mengisi ruang disekeliling dapur pengarangan dengan sampah sampai penuh.
  6. Mengisi dapur pengarangan dengan sampah yang akan dipirolisis sampai penuh.
  7. Menyulut starter dengan api sampai menyala dan bila api mulai membakar sampah di pengarangan kemudian ditutup.
  8. Membakar sampah bahan bakar di ruang bakar dengan membuka saluran udara dan menyulut api pada abu yang dibasahi minyak di bawah ruang bakar.
  9. Bila suhu sudah tinggi (± 400 °C) saluran udara diperkecil.
  10. Diamati asap yang keluar dari cerobong mula-mula putih setelah menipis dan warna kebiruan ruang cerobong ditutup,hal ini untuk mencegah agar arang tidak menjadi abu.
  11. Pengarangan dinyatakan selesai bila suhu di ruang pengarangan sudah di bawah 50 celsius dan ini kurang lebih setelah 3,5 jam.
  12. Arang yang dihasilkan selanjutnya digiling, dicetak dan dikeringkan baru digunakan atau disimpan.
  13. Asap cair yang dihasilkan ditampung yang selanjutnya dilakukan proses selanjutnya.

Gambar alat pembakar serta destilasi

Gambar alat penggiling arang manual

Gambar alat pengepres briket arang manual

Gambar briket arang yang dihasilkan

Gambar asap cair yang dihasilkan

Jenderal Sampah” yang tak Henti Berinovasi

Pikiran Rakyat, 30 September  2010
Sumber: http://bataviase.co.id/

SEJATINYA di lingkungan Korem 062/Tarumanegara belum ada tentara yang berpangkat jenderal. Pangkat tertinggi di sana adalah kolonel, yang disematkan kepada perwira dengan jabatan komandan korem (danrem). Meski demikian, ada seorang prajurit TNI AD di satuan tersebut yang kerap dipanggil “jenderal.” Namanya Ujang Solikhin.

Memang, panggilan “jenderal” kepada Ujang Solikhin bukan dalam konteks kepra-juritan karena pangkat Ujang sebenarnya masih sersan dua (serda). Panggilan “jenderal” lebih sebagai bentuk penghargaan orang atas prestasi dan jerih payah yang telah dilakukan Ujang di luar urusan ketentaraan, yakni di bidang lingkungan.

Ya, dalam kapasitasnya sebagai prajurit infanteri aktif, Ujang tergolong giat dalam bidang lingkungan, khususnya dalam soal inovasi mencari dan mengembangkan sumber-sumber energi alternatif dan terbarukan. Setelah melalui serangkaian uji coba dan pengembangan bertahun-tahun. Ujang sukses memanfaatkan sampah organik menjadi sumber energi alternatif berupa briket arang.

Hasil inovasinya berupa briket arang bukan saja telah membantu banyak orang dalam memenuhi kebutuhan energi yang murah dan ramah lingkungan, tetapi juga bisa dijadikan sumber penghasilan masyarakat. Projek pembuatan briket arang yang “dikomandani” Ujang telah berubah menjadi unit usaha kecil melibatkan ribuan orang dengan pola home industry di beberapa kecamatan di Kabupaten Ciamis.

Dari sanalah pria kelahiran Ciamis 15 Juni 1968 itu mendapat julukan “jenderal.” Kadang disebut “Jenderal Briket Arang,” kadang dipanggil pula dengan sebutan “Jenderal Sampah.” Namanya kian populer, tak hanya di Kab. Ciamis, tetapi juga di Jawa Ba- rat, dan tanah air. Apalagi, pada 8 Juni 2010 lalu, ia mendapat anugerah Kalpataru dari Presiden RI untuk kategori Perintis Lingkungan 2010.

“Terserah orang mau manggil saya dengan sebutan apa. Mau Jenderal Briket Arang atau Jenderal Sampah, enggak masalah. Yang paling penting buat saya bukanlah sebutan, tapi karya. Kalaukarya saya bermanfaat buat banyak orang, saya sangat senang,” kata Ujang Solikhin merendah.

Ramah lingkungan

Bisa jadi, Ujang Solikhin adalah sosok unik dan langka. Amat jarang pegiat lingkungan yang berlatar belakang tentara. Lewat berbagai inovasinya, Ujang pun seolah ingin membalikkan paradigma lama yang keliru di masyarakat seputar pengembangan energi alanternatif dan terbarukan.

Selama ini ada kecenderungan, masyarakat memahami upaya mencari dan mengembangkan energi alternatif sebagai kegiatan yang sulit dan mahal. Selain itu, tugas mencari dan mengembangkan energi alternatif, hanyalah milik pakar dan pegiat lingkungan. Akibatnya, upaya pencarian energi alternatif cenderung jalan di tempat. Sebatas ramai di ruang diskusi dan seminar, tetapi nol implementasi.

Ujang membuktikan, mencari dan mengembangkan energi alternati, tidaklah sesulit yang dibayangkan. Alasannya, sumber-sumber energi tersedia begitu melimpah ru-ah di tanah air. “Mestinya rakyat kita tidak kesulitan memenuhi kebutuhan energinya. Negara kita sangat kaya akan sumber-sumber energi. Masalahnya adalah ada tidak kemauan kita untuk memanfaatkan sumber-sumber energi itu,” kata Ujang.

Keterlibatan Ujang dalam pembuatan briket arang berawal dari keprihatinannya terhadap fenomena tingginya ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar minyak (BBM) dalam memenuhi kebutuhan energinya. Padahal, harga BBM dipastikan tiap tahun naik dan akan sangat memberatkan masyarakat, khususnya warga miskin. Sementara itu, pada saat yang sama, Ujang juga merasa prihatin dengan tumpukan sampah (organik) yang dibiarkan begitu saja.

“Yang menjadi pikiran saya waktu itu, tidak hanya mencari sumber bahan bakar alternatif yang murah dan terjangkau, tetapi bagaimana menghasilkan sumber bahan bakar dari materi yang terbuang, yakni sampah,” kata Ujang menjelaskan latar belakang keterlibatannya dalam menghasilkan briket arang.

Menurut Ujang, ide pembuatan briket arang berbahanbaku sampah organik didasari oleh pengamatannya terhadap mekanisme pembakaran kayu. Hal itu berawal pada 1999, saat di bertugas di daerah Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. “Saya tiba di sana sore hari dan kebetulan melihat ada orang membakar hutan. Ternyata pagi harinya, dari kayu-kayu yang terbakar itu, sebagian sudah menjadi abu, sebagian lagi masih menyala.” kata Ujang.

Dari hasil pengamatannya, Ujang pun berkesimpulan, pada jenis kayu yang rapuh, proses pembakaran berlangsung cepat. Apalagi pada proses pembakaran terbuka di mana unsur oksigen (O2) terlalu banyak, sisa pembakaran bukan menghasilkan arang, melainkan abu. Pada pembakaran terbuka, unsur karbon (C) tidak terikat.

Mekanisme itulah yangmemberi Ujang keyakinan, dengan teknik pembakaran terkendali, dengan oksigen (O2) dibatasi, kayu atau materi yang dibakar tidak akan langsung luruh menjadi abu. Pembakaran akan menghasilkan kristal arang hitam dengan unsur karbon (C) tinggi. Kristal arang hitam pekat inilah yang kemudian lebih dipadatkan lagi dalam bentuk briket sehingga bisa menghasilkan bara api yang lebih kuat dan tahan lama.

“Setelah diuji dan dianalisis, ternyata bisa. Bahkan, bukan hanya kayu, seluruh sampah organik seperti kulit rambutan, sabut dan batok kelapa, daun-daunan, serbuk ger-gaji, hingga eceng gondok bisa dijadikan bahan baku briket arang. Bahan paling bagus adalah batok kelapa,” kata lulusan Jurusan Listrik STM Dr. Soetomo Cilacap ini.

Ujang berpendapat, ada banyak keuntungan menggunakan briket arang. Di samping kalirinya sangat tinggi yakni mencapai 6.000 – 7.000 kalori, briket arang juga punya kerapatan yang sama, pemakaian relatif lama, dan tak mengandung zat berbahaya sehingga aman sebagai bahan bakar rumah tangga dan industri. “Dibandingkan batu bara, briket arang bisa lebih cepat menyala. Sementara mengenai ukuran dan bentuk, bisa disesuaikan sesuai kebutuhan,” katanya.

Penggunaan briket arang berbahan baku sampah organik ini dinilai sangat ekonomis. Bahan bakunya bisa disebut sangat berlimpah, yakni sampah-sampah organik yang bertumpuk dengan volume yang terus bertambah. Nilai konversinya mencapai sepuluh persen. Artinya, dari ba-han 10-15 kg sampah organik bisa dihasilkan sekitar 1 -1,5 kilogram briket arang, bergantung jenis sampah. Makin tinggi kadar air sampah, makin rendah nilai konversinya menjadi briket arang.

Sementara itu, dari sisi harga, juga relatif lebih kompetitif daripada bahan bakar minyak. Waktu itu (2006), harga briket arang buatan Ujang berkisar Rp 1.900-2.000 per kilogramnya. Nilai efisiensi 1 kg briket arang setara dengan 1,5 liter minyak tanah. Dengan asumsi 1 liter minyak tanah bisa digunakan untuk memasak selama dua jam, sedangkan 1 kg briket arang bisa tahan selama 4-6 jam. Kalori yang dihasilkan juga cukup tinggi, yakni mencapai 6.000 – 7.000 kalori.

“Sebenarnya harga bisa ditekan lebih rendah lagi, jika produksinya bisa massal,” kata Ujang yang dengan bendera Asosiasi Pengrajin Arang Briket Ciamis (Apabric) memberdayakan para pemuda di sejumlah kecamatan Ciamis berkreasi menciptakan lapangan kerja sendiri.

Agar bisa memanfaatkan briket arang, dibutuhkan kompor khusus yang desainnya hampir sama dengan kompor briket batu bara. Seperti halnya kompor minyak tanah, tinggi rendahnya panas bisa diatur dengan mena-ikturunkan wadah briket. Pada bagian bawah kompor, disediakan penampung abu sisa pembakaran briket. “Sisa abu pembakaran briket bisa digunakan untuk keperluan lain, seperti mencuci piring di dapur, kompos, membuat telur asin, atau keperluan lain,” kata Ujang.

Kini, ribuan orang di Kab. Ciamis, Kab. Tasikmalaya, dan Kota Banjar terlibat dalam projek briket arang hasil inovasi Ujang. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok perajin briket arang, anglo, tungku, peti, hingga kemasan briket yang siap dijual kepada masyarakat. Investor asal Jepang tertarik membangun pabrik briket arang dalam skala besar.

Ujang pun makin sibuk berbagi ilmu hingga ke luar daerah, bukan hanya di Jawa Barat, tetapi juga hingga Bali dan Lampung. Juara Terbaik Indonesia Creative Idol 2008 kategori ilmu terapan yang diselenggarakan oleh PT Cam Solution ini punya misi, ingin lebih memperluas penerapan teknologi pembuatan briket arang dari sampah ke seluruhpenjuru tanah air. “Saya ingin mendidik masyarakat mencintai sampah dengan memanfaatkannya menjadi sumber energi,” kata suami dari Dian Mardiani dan ayah dari M. Syarief Ginannjar (16), Dwi Yudha Aji Nugraha (14), dan Awalia Yoana Febriani (4) ini.

Kemandirian rakyat

Bagi pegiat lingkungan, bisa jadi, Kalpataru merupakan anugerah tertinggi di negeri ini. Apakah Kalparu telah cukup memuaskan Ujang?

Ternyata tidak. Ujang justru menjadikan Kalpataru sebatas simbol pengakuan dan penghargaan atas upaya yang selama ini telah dilakukannya. “Saya berterima kasih dan bersyukur telah diberi Kalpataru. Tetapi, saya tak akan berhenti hanya karena itu (mendapat Kalpataru). Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan dalam soal pencarian energi alternatif,” katanya.

Ujang mengaku, saat ini ia tengah merancang dua projek pengembangan energi listrik untuk masyarakat miskin yang belum terjangkau oleh jaringan PLN. Yang pertama adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga gravitasi (PLTGav), yang khusus untuk masyarakat pedalaman. Berbeda dengan mikrohidro yang memanfaatkan air terjun, PLTGrav memanfaatkan arus air.

Sementara itu, yang kedua adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga angin, yang khusus ditujukan untuk masyarakat lepas pantai yang belum terjangkau jaringan PLN. “Dalam waktu dekat, saya akan uji coba pembangkit listrik tenaga angin di Pantai Pangandaran. Kebetulan sudah ada pegiat lingkungan yang mendukung,” kata Ujang.

Selain dua projek tersebut, Ujang juga bakal merekon-struksi instalasi pembangkit listrik mikrohidro di Curug Panganten, Desa Kepel, Kec Cisaga, Kab. Ciamis. Instalasi tersebut pernah digunakan Ujang bersama ayahnya untuk menghasilkan listrik mandiri bagi rakyat pada tahun 1985. “Kapasitasnya lumayan besar, sekitar 200.000 watt. Bupati siap membantu pendanaan pembangunan kembali instalasi tersebut. Ini semua biar rakyat lebih mandiri dalam penyediaan tenaga listrik,” tutur Ujang. (Muhtar Ibnu Thalab/”PR”)*

 

9 responses to “Briket Arang

  1. Dear Pemilik Blog ini,

    Saya adalah Orang Riau, dan khususnya di kabupaten rengat
    disini saya berniat untuk memanfaatkan limbah sampah yang belum ada satupun yang memanfaatkan limbah organik di sini,
    kalau saya boleh minta ada gak kontak person yang bisa saya hubungi dan minta pengajaran ,

    Mohon bantuannya dan kalau ada kirim ke alamat email saya di Handoko_budi24@YAHOO.COM

  2. thanks of your inform

  3. saya dari medan tepatnya di SMAN 13 medan sbg staf pengajar,dan saya berniat memanfaatkan limbah sampah organikyanga ada disekolah menjadi briket arang,bagaimana proses yang harus dilakukan dan peralatan yang dipersiapkan?mohon bantuannya Pak.makasih

  4. salam’alaikum, sy butuh kontek hp. bisa tidak? makasih…

  5. Saya putu dari bali, Mohon dibantu informasi cara pembuatan briket sampahnya pak
    terimaksih eamil : suntrad17@gmail.com

  6. Ijin copas materi gan

  7. saya dari temanggung tepatnya SMPN 1 TEMANGGUNG saya ijin untuk copas artikel ini,,,

  8. saya dari bandung,bisa minta no yg bisa dihubungi pa.thks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s