Incinerator

PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN PEMBAKARAN ( INCINERATOR MINI )

Oleh : Ir. Moch. Yasin Kurdi

Sumber: http://docs.google.com/www.diskimrum.jabarprov.go.id/

Lambatnya perkembangan dan pertumbuhan perekonomian, diantaranya dikarenakan tidak meratanya pembangunan, khususnya pembangunan infrastruktur yang, tidak dibarengi dengan sosialisasi regulasi serta penerapan nya, sehingga sering terjadi arogansi aparat maupun pengelola yang tidak mengakomodasi keberadaan masyarakat sekitar, bahkan sering ditudingkan mengambil hak mereka. namun ironisnya semakin membuat jarak antara masyarakat yang berpenghasilan rendah dengan masyarakat yang berpenghasilan menengah dan atas.

Pengelolaan persampahan umumnya tidak dilakukan secara konsisten dan konsekuen sesuai dengan konsep awal, sehingga dalam perjalanan nya sering melanggar dan berbenturan dengan berbagai pelanggan antara lain aspek sosial budaya, hukum , lingkungan, hak asasi, dan lain sebagainya. Pengaturan dan pengelolaan sampah saat ini pada dasarnya hanya terpaku kepada teknis saja, padahal yang terpenting adalah bagaimana caranya pihak pengelola dapat mengedepankan kepentingan masyarakat melalui sosialisasi yang transparan dalam penanganan sampah.

Saat ini cara paling banyak yang digunakan pemerintah Kabupaten / Kota dalam pengelolaan sampah adalah dengan penimbunan sampah yang dipusatkan ditempat tertentu dengan cara pengurugan dan penimbunan (landfill) yang dianggap murah dan mudah, atau bahkan terkadang kenyataan nya sering dilakukan dengan cara penumpukan bebas (open dumping) karena tanah timbunan dan lahan yang tidak lagi mencukupi. Dengan tidak terencana pembuangan sampah yang baik dan penimbunan nya dilakukan sembarangan, kurang professional tidak sesuai konsep sanitary landfill yang seharusnya sebagaimana persyaratan mutlak sebuah TPA, maka tidak jarang dijumpai sampah di TPA menjadi menggunung.

Tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi, serta keterbatasan lahan yang tersedia, menyebabkan timbulnya permasalahan sampah tidak dapat teratasi dengan baik, ketidak pedulian masyarakat akan masalah sampah membuat sampah terus menumpuk diberbagai sudut kota tanpa adanya sentuhan penanganan yang benar.

Tidak jarang pengelolaannya hanya mengandalkan seorang atau beberapa orang operator saja yang mengaturnya, atau hanya mengandalkan sopir-sopir pengangkut sampah, akibatnya sebuah lokasi yang dijadikan landfill hanya dilakukan dengan cara open dumping saja, ini diakibatkan kurang / lemahnya kontrol pengelola di TPA dan tidak jarang TPA dijadikan tempat pembuangan limbah B-3 yang dikategorikan infectious (menular).

Bagaimanapun pemerintah harus dapat memformulasikan infrastruktur yang diperlukan dengan memperhatikan masalah sosial, ekonomi dan lingkungan, termasuk didalamnya issu-issu penting dalam strategi pembangunan yang berkelanjutan diantaranya :

  • Bagimana kebutuhan dasar manusia terpenuhi
  • Bagaimana dapat menggerakan sumber daya manusia dalam pembangunan
  • Bagaimana memenuhi infrastruktur perkotaan yang cukup mendasar
  • Bagaimana membangun nilai tambah sector ekonomi yang tinggi
  • Bagaimana meningkatkan kesempatan kerja formal yang lebih baik
  • Bagaimana mengurangi polusi air, tanah dan udara
  • Bagaimana mengelola sampah yang layak dan baik
  • Bagaimana memperbaiki pengelolaan lingkungan

Hal penting yang biasa terdapat di negara-negara berkembang umumnya termasuk di Indonesia, pengelolaan sampah perlu mempertimbangkan beberapa hal diantaranya :

  • Persentase material organic secara umum tinggi (50 -70 %)
  • Umumnya ibu rumah tangga yang bertanggung jawab membuang sampah
  • Pengumpulan, pemanfaatan, pengolahan sampah tidak cukup effisien, karena hanya dikelola oleh seorang atau satu badan saja
  • Tingkat sosial secara umum masih rendah, sehingga pelayanan umum masih perlu ditingkatkan.
  • Tidak dipenuhinya pengelolaan sampah yang baik sering menyebabkan persediaan air bersih tercemar, sehingga mengakibatkan penyebaran penyakit dan penurunan kesehatan tidak dapat dihindarkan.
  • Pemanfaatan sampah sering ditangani sendiri oleh sektor informal (pemulung), oleh karenanya pemerintah agar berupaya untuk meningkatkan cara pengumpulan yang kompetitif

Solusi Penanganan Sampah

Dari permasalahan yang timbul kita dapat me-minimalisir jumlah timbulan sampah yang ada dengan berbagai cara dan upaya, dimulai dari rumah tangga dengan memilah-milah jenis sampah organic (mudah membusuk) dan sampah anorganik (sukar membusuk).

Salah satu metoda alternatif penanganan pengelolaan sampah dengan skala kecil dapat diterapkan di tingkat RT/ RW, Kelurahan dan Kecamatan dengan pola pembakaran berteknologi (Incinerator Mini). Pada prinsipnya sampah dapat dikelola dengan pembakaran yang ramah lingkungan, meskipun terkadang kita belum bisa menerima teknologi ini, karena masih menganggap biaya mahal dan anggapan sementara masih mempunyai dampak lingkungan. Penulis mengajak marilah kita mencoba untuk “ Berfikir Global – namum Bertindak Lokal “ artinya kita dapat melihat majunya teknologi tetapi kita dapat melakukan yang ada dihadapkan kita ada, salah satu pilihannya yaitu dengan teknologi pembakar sampah “ pilot project ” skala kecil atau sedang yang telah diproduksi di Indonesia.

Teknologi incinerator ini adalah salah satu alat pemusnah sampah yang dilakukan pembakaran pada suhu tinggi, dan secara terpadu dapat aman bagi lingkungan sehingga pengoperasian nya pun mudah dan aman, karena keluaran emisi yang dihasilkan berwawasan lingkungan dan dapat memenuhi persyaratan dari Kementerian Lingkungan Hidup sesuai dengan Kep.Men LH No.13/ MENLH/3/1995.

Keuntungan dari incinerator mini ini adalah :

a) tidak diperlukan lahan besar,
b) mudah dalam pengoperasian,
c) hemat energi (minyak tanah),
d) temperatur tidak terlalu tinggi ( 800/ 1.1000 C ),
e) tidak terdapat asap sisa pembakaran yang akan mencemari lingkungan,
f) tidak bising dan kemasan kompak per unit,
g)tidak menimbulkan panas pada tabung pembakar,
h) serta sisa abu dapat dimanfaatkan menjadi produksi batu bata/ bataco.

Sistem pengelolaan sampah yang terdapat di beberapa Kabupaten/ Kota dapat menerapkan dan menggunakan baik dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang dengan pola pengelolaan pembakaran (Incinerator mini) yang penempatannya tidak memerlukan lahan yang luas di perkotaan, penempatan incinerator ini dapat dilakukan di ruang/ lahan yang relatif tidak luas (cukup 6 x 10) seperti di TPS – TPS, lingkungan RW, Kelurahan dan Kecamatan atau disesuaikan dengan kebutuhan sampah yang akan dibakar.

Spesifikasi :

Spesifikasi dari Incinerator dengan kapasitas kecil, sedang dan besar dapat dibuat tergantung dari kebutuhan di Indonesia, dan timbulan sampah yang dihasilkan selanjutnya dapat diproses/ dibakar pada tungku bakar sesuai kapasitasnya.

Kapasitas Incinerator :

Sebagai contoh untuk dapat melaksanakan pembakaran sampah per hari mencapai 32 ton (eqivalen 9 truk @ 3 – 4 ton), maka volume nya sekitar 130 m3 dengan asumsi proses pembakaran dapat dilakuka 6 – 8 kali/ hari

Residu Abu, Panas dan Energi Listrik :

Abu pembakaran yang terjadi dalam tungku pembakar utama akan terkumpul dalam ruang pengumpul abu, dimana abu tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pencampur pembuatan “ bataco “ sedangkan panas yang dihasilkan pembakaran dari ruang bakar dua dapat dimanfaatkan sebagai pemanas air mandi yang dialirkan ke rumah tangga, dengan tambahan unit coverter energi pembangkit yang akan menghasilkan listrik.

Proses Incinerator :

Incinerator dilengkapi mesin pembakar dengan suhu tinggi yang dalam waktu relatif singkat mampu membakar habis semua sampah tersebut hingga menjadi abu. Pembakaran sampah ini digunakan dengan sistim pembakaran bertingkat (double chamber), sehingga Emisi yang melalui cerobong tidak berasap dan tidak berbau, dan menggunakan sitem cyclon yang pada akhirnya hasil pembakaran tidak memberikan pengaruh polusi pada lingkungan.

Pemilihan incinerator yang akan digunakan disesuaikan dengan keadaan lingkungan, jenis dan komposisi sampah, serta volume sampah, sehingga dapat dilakukan secara lebih efisien baik prosesnya maupun transportasi dan tenaga operasionalnya, serta pula penggunaan lahan lebih efisien. Meminimalkan sampah yang berukuran besar dan berat untuk dapat dipilah masuk ke dalam tempat tersendiri.

Untuk menjaga kesempurnaan pembakaran di incinerator dan mencegah kerusakan pada dinding pembakar, maka Gelas dan Logam tidak ikut dibakar. Volume sampah yang berlebihan diatas mungkin tercecer (tumpah keluar) sehingga menurunkan efesiensi pemilihan. Oleh karenanya pada lokasi pembakaran perlu disediakan tempat, dan bila diperlukan diadakan pengaturan pemulung yang akan menangani pemilahan sampah dengan baik, “ Sangat memungkinkan terjadi perebutan lahan kerja dari pemulung dan akan menjadikan friksi-friksi sosial ”.

Ruang Bakar Utama :

Dalam ruang bakar utama proses karbonisasi dilakukan dengan “ defisiensi udara “ dimana udara yang dimasukan didistribusikan dengan merata kedasar ruang bakar untuk membakar karbon sisa. Gas buang yang panas dari pembakaran, keluara dari sampah dan naik memanasinya sehingga mengasilkan pengeringan dan kemudian membentuk gas-gas karbonisasi. Sisa padat dari pembentukan gas ini yang sebagian besar terdiri atas karbon, dibakar selama pembakaran normal dalam waktu pembakaran.

Pada ruang bakar ini secara terkontrol dengan suhu 8000 – 1.0000 C dengan sistem close loop sehingga pembakaran optimal. Distribusi udara terdiri dari sebuah Blower radial digerakan langsung dengan impeller, dengan casing almunium dan Motor Listrik, lubang masuk udara dari pipa udara utama didistribusikan ke koil.

Ruang Bakar Tingkat Kedua :

Ruang bakar tingkat kedua dipasang diatas ruang bakar utama dan terdiri dari ruang penyalaan dan pembakaran, berfungsi membakar gas gas karbonisasi yang dihasilkan dari dalam ruang bakar utama. Gas karbonisasi yang mudah terbakar dari ruang bakar utama dinyalakan oleh Burner Ruang Bakar Dua, kemudian dimasukan udara pembakar, maka gas-gas karbonisasi akan terbakar habis.

Selama siklus pembakaran bahan bakar yang mudah terbakar dari gas karbonisasi suhunya cukup tinggi untuk penyalaan sendiri, dan ketika karbonisasi selesai maka Ruang Bakar Dua bekerja seperti sebuah after burner, yaitu mencari, gas-gas yang belum terbakar kemudian membawanya kedalam temperatur lebih tinggi sehingga terbakar sampai habis, dimana suhunya mencapai 1.1000 C dengan sistem close loop sehingga optimal. Pemasukan sampah ke ruang pembakaran dilakukan secara manual atau menggunakan lift conveyor.

Panel Kontrol Digital :

Diperlukan suatu panel kontrol digital dalam operasionalnya untuk setting suhu minimum dan maksimum didalam ruang pembakaran dan dapat dikontrol secara “ automatic “ dengan sitem close loop. Pada panel digital dilengkapi dengan petunjuk suhu, pengatur waktu (digunakan sesuai kebutuhan), dan dilengkapi dengan tombol pengendali “burner dan “blower” dengan terdapatnya lampu isarat yang memadai dan memudahkan operasi.

Cerobong Cyclon :

Cerobong cyclon dipasang setelah ruang bakar dua, yang bagian dalamnya dilengkapi water spray berguna untuk menahan debu halus yang ikut terbang bersama gas buang, dengan cara gas buang yang keluar dari Ruang Bakar Dua dimasukan melalui sisi dinding atas sehingga terjadi aliran siklon di dalam cerobong,. Gas buang yang berputar didalam cerobong siklon akan menghasilkan gaya sentripetal, sehingga abu yang berat jenisnya lebih berat dari gas buang akan terlempar kedinding cerobong siklon.

Dengan cara menyemburkan butiran air yang halus kedinding, maka butiran-butiran abu halus tersebut akan turun kebawah bersama air yang disemburkan dan ditampung dalam bak penampung. Bak penampung dapat dirancang tiga sekat, dimana pada sekat pertama berfungsi mengendapkan abu halus, pada bak selanjutnya air abu akan disaring, dan air ditampung dan didinginkan pada sekat ketiga, siap untuk dipompakan ke cerobong siklon kembali.

Burner dan Blower :

Incinerator dilengkapi dengan 2 sistem pembakaran yang dikendalikan secara otomatis. Burner yang digunakan dapat menghasilkan panas dengan cepat, serta dilengkapi dengan blower untuk mempercepat proses pembakaran hingga mampu menghasilkan panas yang tinggi.

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN INCINERATOR MINI :


Dari hasil analisa investasi pembiayaan didapat bahwa pada tahun 2005 awal pembangunan sebesar Rp.543.725.674,- dengan cash in flow pada tahun 2006 sebesar Rp.52.332.432,- dan net cash flow sebesar Rp.21.334.601,- dan komulatif / net cash in flow sebesar Rp.564.759.944,- yang selanjutnya pada pertengahan tahun 2012 akan mencapai BEP, dan mendapat keuntungan pada tahun – tahun selanjutnya.

Contoh penanganan :

Contoh Kemitraan :

Dengan demikian penulis mengajak marilah kita mulai tingkatkan kebersihan, keindahan, kenyaman, dan kesehatan kota. Karena kebersihan adalah bagian dari Iman.***

Incinerator: Alat Pengolahan Sampah

Sumber: http://www.maxpelltechnology.com/

Permasalahan Limbah

Selama ini sampah menjadi masalah serius terutama di perkotaan. Banyak tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di permukiman penduduk, mencemari udara dan air tanah, dan menjadi tempat berkembang biak binatang maupun bakteri pembawa penyakit. Setelah berhari-hari menumpuk dan membusuk di TPS, sampah diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Puluhan truk pengangkut sampah melewati jalan umum, menebarkan bau tidak sedap dan bisa menyebarkan penyakit. Di TPA sampah juga hanya dibiarkan menumpuk, menggunung, mencemari udara, mencemari air tanah dalam skala lebih luas.

Sementara itu seiring dengan melajunya waktu dan berkembangnya penduduk, Naiknya volume sampah jauh melebihi kapasitas sarana dan prasarana Dinas Kebersihan Kota. Akibatnya banyak komunitas yang mencari jalan keluar sendiri dengan membakarnya, atau malah membuang sendiri kesungai yang tentunya bukanlah jalan keluar yang baik, karena akan lebih memperparah kerusakan lingkungan.

Salah satu teknologi alternatif telah dikembangkan untuk menangani permasalahan sampah dalam skala micro hingga makro. Teknologi tersebut dikenal dengan nama incinerator atau alat pembakaran sampah. Teknologi incinerator bekerja dengan cara membakar sampah secara optimal dengan pembakaran sempurna hingga sampah menjadi abu yang ramah lingkungan. Incinerator telah banyak digunakan di berbagai kota di Indonesia, akan tetapi incinerator yang digunakan masih belum optimal, tidak hanya mahal karena harganya sampai milyaran rupiah akan tetapi juga belum dapat menjawab semua permasalahan yang berhubungan dengan sampah dan lingkungan. Umumnya alat ini didatangkan dari luar negeri yang harganya mencapai milyaran rupiah, serta membutuhkan tenaga operator maupun teknisi yang terdidik dan terlatih. Incinerator luar ini dalam pengoperasiannya cukup memakan biaya besar karena dalam proses pemusnahan limbah membutuhkan bahan bakar dan listrik yang cukup besar secara kontinyu. Selain itu komponen alat tidak mudah didapatkan dipasaran dalam negeri sehingga cukup merepotkan takala terjadi kerusakan dan perawatan.

Lantas bagaimana cara memilih incinerator yang baik? Incinerator yang baik harus meliputi berbagai aspek, seperti aspek lingkungan, aspek ekonomis, aspek sosial dan lain sebagainya. Incinerator yang baik dituntut untuk dapat menjawab permasalahan-permasalahan berikut:

  • Pengurangan sampah yang efektif
  • kasi jauh dari area penduduk
  • Adanya sistem pemisahan sampah
  • Desain yang estetis
  • Pembakaran sampah mencapai suhu 800 o celcius
  • Emisi gas buang yang ramah lingkungan.
  • Perawatan yang teratur/periodik
  • Pelatihan Staf dan Manajemen

Permasalahan diatas menjadi syarat penting apabila incinerator dipilih sebagai alat pengolahan sampah modern yang ramah lingkungan. Dengan begitu, berbagai permasalahan sampah dari desa hingga kota dapat segera tertuntaskan hanya dengan adanya teknologi incinerator ini.

SOLUSI MAXPELL

Akhirnya setelah bertahun tahun team research Maxpell Techology telah menemukan dan mengembangkan sebuah alat pembakar sampah atau dikenal sebagai incinerator yang Mudah, Murah, Cepat serta Ramah Lingkungan.

• Mudah

Incinerator Maxpell sangat mudah dalam mengoperasikannya, sehingga tidak memerlukan pelatihan khusus bagi calon operatornya.

• Murah

Pada incinerator Maxpell, proses pembakaran tidak memerlukan energi lain berupa listrik,minyak bakar maupun gas sebab sampah itu sendiri yang diolah secara kimia dan fisika yang natural untuk menjadi bahan bakar Incinerator Maxpell.

• Cepat

Dalam setiap bathnya, Incinerator Maxpell mampu membakar sampah antara 1200 hingga 1800 Ltr dengan waktu berkisar 0.5 s/d 1 jam.

• Ramah Lingkungan

Dalam kondisi normal suhu pembakaran incinerator Maxpell mencapai 900 o C yaitu suhu yang aman untuk memusnahkan sampah infeksius dan menyebabkan senyawa beracun dapat terurai pada sistem pembakaran sempurna. Serta emisi gas buang Incinerator Maxpell jauh lebih baik dari standar baku mutu yang ditetapkan Lingkungan Hidup.

Bagaimana teknologi Maxpell menjawab semua permasalah sampah dari berbagai aspek kehidupan. Berikut ini merupakan keunggulan teknologi Maxpell dalam menjawab semua aspek yang berhubungan dengan permasalahan sampah.

Aspek Lingkungan

Aspek lingkungan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi incinerator maxpell agar produk maxpell tidak hanya mengatasi masalah pencemaran juga sanggup untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dari sampah.

• Pencemaran Dioksin

Dioksin merupakan jenis gas yang sangat beracun yang dapat memicu pertumbuhan kanker dalam sel tubuh manusia. Pengaruh dioksin pada manusia telah banyak menjadi perbincangan dalam dua dekade terakhir, bukan karena kestabilan dari dioksin tetapi disebabkan karena dioxin itu adalah suatu racun yang sangat kuat. Dioksin saat ini dipercaya sebagai senyawa yang paling beracun yang pernah ditemukan manusia, karena dapat menyebabkan kerusakan organ secara luas misalnya, gangguan fungsi hati, jantung, paru, ginjal serta mengganggu fungsi metabolisme dan menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh. Pada percobaan terhadap binatang di laboratorium, dioksin menunjukkan carcinogenic (penyebab cancer ), teratogenic (penyebab kelahiran cacat) dan mutagenic (penyebab kerusakan genetic).

Pembakaran sampah yang tidak menggunakan teknologi tinggi dapat mengakibatkan pada pencemaran dioksin. Hal ini disebabkan oleh pembakaran yang tidak sempurna (400-600 o celcius) yang menyebabkan terbentuknya senyawa dioksin. Senyawa ini dapat terbentuk pada pembakaran dengan temperature yang rendah. Bahkan menurut beberapa pakar lingkungan menerangkan bahwa pembakaran dengan menggunakan incinerator pada temperatur 400 – 600 0 C merupakan kondisi yang optimum untuk pembentukan senyawa dioksin.

Lantas bagaimana incinerator maxpell menjawab permasalahan diatas? Maxpell Technology telah menghabiskan banyak riset agar teknologi incinerator milik maxpell dapat menjawab masalah pencemaran dioksin. Hasil riset dari Maxpell Technology akhirnya menjawab bagaimana incinerator Maxpell dapat mengurangi atau bahkan mencegah terjadinya pencemaran dioksin.

Tabel 1.1 Perbandingan Teknologi Konvensional dengan Teknologi Maxpell dalam mengatasi pencemaran gas beracun dioksin

• Pencemaran Gas Metan

Selama ini gas metan masih menjadi kekhawatiran terbesar setelah karbon dioksida. Pasalnya, gas tersebut dianggap sebagai gas efek rumah kaca kedua setelah karbon dioksida berdasar besarnya efek pemanasan yang dihasilkan dan jumlahnya di atmosfer. Gas metan menyumbang sepertiga dari efek karbondioksida terhadap pemanasan global. Menurut beberapa penelitian, molekul metan mampu menghasilkan efek pemanasan 23 kali lebih besar dari molekul CO2.

Timbunan sampah telah menjadi salah satu penyumbang besar pencemaran gas metan. Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 Kg gas metan setiap harinya. Hal ini disebabkan pembusukan sampah oleh bakteri pengurai secara alami yang menghasilkan gas metan, karbon dioksida, dan sejumlah gas lainnya yang berbahaya bagi lingkungan.

Tempat penampungan akhir (TPA)/Tempat pembuangan sementara (TPS) diindikasikan telah mengeluarkan gas beracun berbahaya jenis metan. Bila tidak segera diantisipasi, besar kemungkinan gas berbahaya itu bisa merenggut nyawa orang yang berada di radius terdekat dari TPA/TPS. Masyarakat yang menghirup gas metan setiap harinya dapat dimungkinkan mengalami kerusakan organ dan sel tubuh atau bahkan dapat meninggal dunia jika terus menerus menghirup gas metan. Selain itu, gas metan sewaktu-waktu dapat meledak jika kandungannya sudah berlebihan.

Teknologi incinerator Maxpell telah terbukti dapat mencegah dan mengurai kerusakan lingkungan dari gas metan dengan adanya sistem datang, bakar, habis. Sampah yang baru datang ke tempat penampungan akan langsung dibakar habis sehingga pembusukan sampah oleh bakteri pengurai dapat dihindari agar tidak menghasilkan gas metan yang berbahaya.

• Pencemaran Gas Lainnya

Pencemaran lain yang berbahaya bagi manusia adalah mengenai emisi gas buang yang dihasilkan oleh pembakaran. Pencemaran emisi sebenarnya telah diatur oleh Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 1995 tentang Baku Emisi tidak bergerak untuk jenis kegiatan lain. Peraturan ini mengatur standar baku mutu gas buang yang dihasilkan oleh mesin pembakaran agar ramah lingkungan dan tidak mencemari udara sekitar.

Teknologi incinerator Maxpell telah teruji pada Laboratorium Pengendalian Kualitas Lingkungan(LPKL) Bandung sehingga pencemaran gas lain yang membahayakan manusia dan lingkungan dapat dihindari.

Aspek Ekonomis

Permasalahan sampah saat ini memang menjadi kendala bagi pemerintah dalam pengelolaannya. Tidak hanya biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah yang sangat besar juga tingkat efesiensi pengelolaan sampah masih dipertanyakan jika permasalahan sampah masih menggunakan metode konvensional dengan cara menumpuk sampah pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tidak hanya memperberat anggaran pemerintah untuk pengolahan sampah juga berdampak bagi masyarakat sekitar TPS/TPA.

Sampah jika dapat dikelola dengan baik dapat menghasilkan keuntungan yang signifikan bagi pemerintah, pengelola swasta atau masyarakat. Hal ini dibuktikan jika terjadi pemilahan sampah antara sampah yang dapat didaur ulang dengan yang tidak. Sampah yang dapat didaur ulang dapat dijual kembali dan menghasilkan keuntungan yang besar jika dapat dikelola secara baik dan benar.

• Efisiensi Anggaran Pemerintah

Teknologi dan sistem maxpell secara nyata dapat mengurangi beban pemerintah dalam upaya penanganan masalah sampah. Sistem maxpell memfokuskan permasalahan sampah mulai dari skala micro, yaitu dari Rukun Warga atau Kelurahan. Sistem inilah yang mampu mengurangi beban anggaran pemerintah dikarenakan sampah yang berada ditingkat kelurahan sudah dapat ditanggulangi dengan baik tanpa harus diteruskan ke Tempat Pembuangan Akhir(TPA).

• Keuntungan Ekonomis dari Sistem Maxpell

Apabila sampah dapat dikelola dengan baik oleh masyarakat maupun pemerintah, sampah yang dapat didaur ulang dapat dijual kembali untuk mendapatkan keuntungan. Dengan adanya konsep pemilahan sampah organik dan non organik, tentunya akan dengan mudah diperkirakan berapa keuntungan hasil pengolahan sampah yang dapat di daur ulang. Untuk memudahkan perkiraan keuntungan dari hasil pengolahan sampah dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

• Murah dan terjangkau

Incinerator Maxpell berbeda dengan incinerator lain. Umumnya incinerator lain didatangkan dari luar negeri yang harganya dapat mencapai milyaran rupiah. Berbeda dengan incinerator Maxpell, incinerator ini murni buatan dalam negeri dan menggunakan bahan baku yang banyak terdapat didalam negeri sehingga biaya pembuatan relatif murah dan biaya perawatan yang terjangkau mengingat tingkat kesulitan untuk perawatan dan penggantian sparepart dapat diperoleh di dalam negeri.

Aspek Sosial

Maxpell Technology memiliki konsep pengelolaan sampah skala micro yang dapat menciptakan budaya baru bagi masyarakat mengenai masalah sampah. Sistem Maxpell ini dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dan membangun budaya masyarakat peduli lingkungan hidup. Sistem ini juga membuka peluang lapangan kerja baru bagi masyarakat serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara kolektif. Dengan adanya kebutuhan operator dan manajemen pengelolaan sampah, maka lapangan kerja bagi masyarakat miskin dapat terserap jika konsep maxpell diimplementasikan.

Partisipasi masyarakat dapat dilihat pada gotong royong masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah mulai dari tingkat rumah tangga. Model ini sengaja dikembangkan maxpell agar memudahkan pemilahan sampah dan masyarakat/manajemen pengelolaan sampah/petugas pengangkut sampah dapat mendapatkan keuntungan dari sampah yang dapat didaur ulang untuk dijual kembali. Tidak hanya itu, hasil pembakaran sampah pada incinerator Maxpell dapat digunakan untuk pembuatan batu bata atau bahan bangunan lainnya yang dapat digunakan oleh masyarakat atau dijual oleh manajemen pengelola sampah.

• Model Pengolahan Sampah Skala Micro berbasis rumah tangga

  1. Himbauan kepada masyarakat untuk sejak dini melakukan pemilahan sampah organik dan non organik guna mempermudah pengelolaan sampah
  2. Himbauan kepada masyarakat / ketua rukun warga / rukun tetangga untuk memiliki tempat sampah organik dan non organik
  3. Himbauan kepada masyarakat / kelurahan / ketua rukun warga / rukun tetangga untuk memiliki tempat penampungan sampah organik dan non organik skala micro berbasis RT/RW/Kelurahan
  4. Pemilahan sampah pada tempat penampungan untuk menentukan dan mengumpulkan sampah mana yang dapat didaur ulang atau dijual kembali
  5. Manajemen pengelolaan sampah dapat dikoordinir oleh RT/RW/Kelurahan
  6. Hasil pendapatan pengolahan sampah dapat menjadi kas warga untuk pengembangan atau pemenuhan kebutuhan warga.

Teknology Incinerator Maxpell

Teknologi incinerator Maxpell berbeda dengan teknologi incinerator yang lainnya. Incinerator Maxpell didesain khusus untuk dapat menjawab permasalahan sampah dan incinerator lain yang ada. Salah satu penerapan teknologi incinerator Maxpell adalah pada aspek lingkungan dan aspek ekonomis. Sehingga teknologi incinerator Maxpell dikenal sebagai incinerator yang Mudah, Murah, Cepat serta Ramah Lingkungan

Keunggulan Teknologi

Teknologi Incinerator Maxpell dirancang agar memiliki beberapa kemudahan untuk dioperasikan. Beberapa keunggulan incinerator Maxpell adalah:

  • Tidak membutuhkan tempat luas,
  • Bisa membakar sampah kering hingga sampah basah,
  • Daya musnah sistem pembakaran mencapai suhu diatas 900 o C,
  • Bekerja efektif tanpa bahan bakar tambahan,
  • Tingkat dari pencemaran rendah. Dalam operasional dibeberapa tempat terbukti asap hasil pembakaran yang keluar dari cerobong hampir tidak kelihatan dan tidak mengeluarkan bau yang menganggu,
  • Suhu pembuangan udara panas pada cerobong asap terkendali secara konstan,
  • Suhu dinding luar tetap dingin sama dengan suhu udara luar,
  • Perawatan yang mudah dan murah,
  • Abu sisa pembakaran bisa diolah menjadi beragam produk bahan bangunan.

Penjelasan Teknologi Incinerator Maxpell

Teknologi Perolisis

Pada start pembakaran, api akan memanaskan sistem Maxpell, dimana aero support akan memasok udara secara otomatis sehingga api akan membesar dan panas akan meningkat hingga mencapai suhu 400 o celcius. Pada suhu ini, terjadi proses perolisa yaitu proses pembentukan gas dari asap disaat terjadi pengarangan. Dalam kondisi ini gas akan mudah terbakar terlebih dengan adanya pasokan aero support secara kontinu gas akan terbakar habis dengan sangat cepat. Ketika proses perolisa berjalan sempurna, maka pembakaran menjadi sempurna, dimana suhu didalam ruangan dan di cerobong akan meningkat hingga 900 o celcius.

Teknologi Hydroprocess

Berbeda dengan teknologi pembakaran sampah konvensional, incinerator Maxpell menggunakan sistem hydroprocess, dan hydroprocess akan mulai bekerja setelah kurang lebih 5 menit pada saat pembakaran sampah dilakukan. Pembakaran sampah kering akan memanaskan sampah diatasnya sekaligus memanaskan suhu dalam incinerator, dan mempercepat sirkulasi udara di dalam ruangan pembakaran. Akibat dari suhu yang panas, maka tekanan udara di dalam ruangan menjadi jauh lebih rendah daripada tekanan udara di luar ruangan. Cepatnya sirkulasi udara di dalam ruangan memicu aktifnya instalasi Hydroprocess. Panasnya suhu dalam ruangan akan membuat air pada sistem Hydroprocess mendidih dan menghasilkan uap yang dapat menyerap racun dan bau serta mengubah partikel karbon menjadi bersifat magnet dan bisa ditangkap oleh splitcell sebelum keluar melalui cerobong. Asap yang keluar akan jauh berkurang, dan berwarna putih bahkan hampir tidak terlihat ketika instalasi bekerja sempurna.

Teknologi Splitcell

Dalam kondisi partikel bersifat magnetis, partikel-partikel yang keluar dari hasil pembakaran akan ditangkap oleh splitcell yang dibuat dari ratusan lempengan baja dengan lapisan khusus. Partikel yang telah ditangkap oleh splitsell kemudian akan terbakar kembali dikarenakan suhu didalam ruangan dan cerobong yang tinggi serta terjadinya gasifikasi proses perolisa mengakibatkan partikel-partikel yang tertangkap oleh splitcell akan habis terbakar.

Teknologi Natural Aero Support

Sistem pemasokan udara terjadi secara otomatis berdasarkan kaidah-kaidah fisika. Dimana dalam ruangan yang panas, udara akan habis terbakar dan mengakibatkan kekosongan udara dalam ruang pembakaran. Pada saat inilah ruangan akan segera terisi kembali oleh udara yang suhu yang lebih rendah melalui celah-celah sistem aero support.

Teknologi Isolator

Incinerator Maxpell dilapisi oleh dinding yang terbuat dari carbon silika serta bahan-bahan khusus lain yang mempunyai kemampuan meredam panas yang ditimbulkan. Dinding ini akan menetralkan suhu diluar ruangan dari karena sifatnya yang tidak menghantarkan panas. Sehingga pada saat terjadinya pembakaran dalam incinerator, dinding luar incinerator akan aman untuk disentuh atau dipegang walau incinerator yang bekerja secara optimal.

  • Cerobong Asap: untuk mengarahkan asap ke ketinggian agar tidak menyebar ke permukiman dan mengganggu sistem pernafasan.

  • Roof: melindungi sistem ruang pembakaran dari hujan.
  • Splitcell: komponen yang berfungsi menangkap partikel-partikel karbon dan mengurangi tingkat polusi asap.
  • Insulation wall: struktur pelindung sistem, penyangga bak pembakar sampah, dan menahan suhu udara ruang pembakaran agar tidak mempengaruhi udara luar.
  • Waste entrance: lubang untuk memasukkan sampah ke dalam ruang pembakaran
  • Waste Chamber: ruang pembakaran sampah dengan volume 1.2 M 3 & 1.8 M 3
  • Chamber wall: dinding pembakar sampah dari baja setebal 3 mm.
  • Hydroprocess: berisi air yang berfungsi mengimbas asap sehingga bersifat magnet dan bisa ditangkap oleh splitcell.
  • Dust hole: lubang untuk mengambil abu yang menumpuk di bagian bawah ruang pembakaran, juga untuk memasukkan api di awal pembakaran.
  • Air suport: lubang sirkulasi udara di pondasi untuk mendukung percepatan pembakaran.
  • Struktur Based : Bagian penyangga struktur

Cara Kerja Incinerator Maxpell

Agar incinerator dapat beroperasi optimal dan keamanan terjamin maka dilakukan prosedur pembakaran sebagai berikut:

  • Masukkan sampah kering di tempat paling bawah sebanyak kurang lebih 20 hingga 40 % sebagai pemicu pembakaran. Selanjutnya masukkan sampah sampai penuh.
  • Lakukan pembakaran dari bawah dengan memasukkan api melalui lubang pembuangan abu.
  • Begitu sampah di dalam ruang pembakaran mulai turun, masukkan lagi sampah sampai penuh. Pemasukan sampah ke dalam ruang pembakaran bisa dilakukan dalam rentang waktu 30 menit sejak mulai pembakaran dan tiap 20 menit di waktu berikutnya .
  • Pembakaran sampah akan menghasilkan abu sebanyak + 2 % volume sampah. Keluarkan abu yang terkumpul di lubang pembakaran dengan menggunakan skop, agar tidak menghambat sirkulasi udara di dalam ruang pembakaran sampah.

Incinerator, Berkah atau Bencana?

Sumber: http://docs.google.com/www.migas-indonesia.com/

Sunardi

Permasalahan sampah di DKI Jakarta sangatlah pelik, dari mulai mencari lokasi penimbunan yang selalu menimbulkan gejolak penolakan masyarakat disekitarnya, sampai mencari solusi penanganan/ pemusnahan yang penuh intrik dan kepentingan bisnis berbagai pihak. Sehingga Gubernur Sutiyoso pun dibuat pusing olehnya, melebihi pusingnya menghadapi para demonstran yang menentang pengangkatannya dulu. Masalah sampah tidak dapat dibiarkan begitu saja, seperti menghadapi demostran didiamkan akan hilang sendirinya seiring berjalannya waktu. Sampah semakin dibiarkan akan semakin menumpuk, menunda membersihkannya berarti semakin menumpuk permasalahan yang akan ditimbulkannya.

Walaupun demikian pelik, tetapi memusnahkan sampah dengan membakar menggunakan incinarator bukanlah solusi yang tepat, bahkan sangat membahayakan kelangsungan kehidupan. Banyak permasalahan yang ditimbulkan oleh incinerasi sampah dibandingkan manfaat yang dihasilkannya. Memang secara kasat mata volume reduksi yang dihasilkannya sangat menjanjikan, dari segunung sampah padat dapat menjadi hanya beberapa karung abu. Tetapi ada hal yang tidak kasat mata dan dapat dibuktikan secara kimiawi dihasilkan pada proses pembakaran sampah. Banyak senyawaan kimia sangat beracun terbentuk pada proses pembakaran sampah yang tidak terkontrol, apalagi jika sampah yang dibakar adalah sampah yang heterogen, belum lagi ditinjau dari segi ekonomi dan dampak sosialnya.

Tulisan ini akan mengupas sedikit tentang dampak pembakaran sampah dengan incinerator, sehingga masyarakat umum dapat memahami. Terutama para pengambil kebijakan dalam persampahan, dapat bersikap lebih arif dan berfikir berulang kali, sebelum memutuskan untuk mengolah sampah padat dengan membakar menggunakan incinerator. Hal yang perlu menjadi suatu pertimbangan sangat penting dalam incenerasi sampah ialah, tentang polutan yang dilepaskan ke udara atau media lainnya, biaya yang diperlukan dan tenaga kerja yang tersingkirkan serta hilangnya energi pada proses incinerasi.

Banyak polutan yang dihasilkan pada incinerasi sampah, apalagi sifat sampah domestik (sampah rumah tangga dan pasar) yang heterogen. Segala macam benda ada didalamnya, sisa makanan, sisa sayuran dan buah-buahan, bekas pembungkus (kaleng, karton dan plastik), kayu, logam, batu, gelas dan lain-lainnya. Sampah yang heterogen ini jika langsung di incinerasi tanpa dilakukan pemilahan sebelumnya maka hasilnya sangatlah berbahaya. Sampah basah, sisa makanan, buah-buahan dan sayuran jika akan diincinerasi memerlukan energi yang sangat besar untuk mngeringkannya sebelum dapat terbakar. Sedangkan material sampah yang berupa logam, batu, tanah dan gelas tidak dapat terbakar, material ini hanya akan menggangu proses pembakaran dan memboroskan energi.

Dioksin dan Furan.

Hasil emisi yang paling berbahaya pada pembakaran sampah heterogen ialah terbentuknya senyawa dioksin dan furan. Dioksin dan furan adalah sekelompok bahan kimia yang tidak berwarna dan tidak berbau. Dalam molekulnya mengandung atom karbon, hidrogen, oksigen dan klor. Dioksin terdiri dari 75 senyawaan kimia yang dibedakan oleh posisi dan jumlah atom klornya, sedangkan furan terdiri dari 135 senyawaan.

Dioksin dilingkungan dapat bertahan dengan waktu paro (waktu yang diperlukan sehingga jumlahnya tinggal separonya) sekitar tiga tahun, tetapi akibat yang telah ditunjukkannya karena masuknya dioksin dalam rantai makanan sangat mengerikan. Pengaruh dioksin pada manusia telah banyak menjadi perbincangan dalam dua dekade terakhir, bukan karena kesabilan dari dioksin tetapi disebabkan karena dioxin itu adalah suatu racun yang sangat kuat. Dioksin saat ini dipercaya sebagai senyawa yang paling beracun yang pernah ditemukan manusia, karena dapat menyebabkan kerusakan organ secara luas misalnya, gangguan fungsi hati, jantung, paru, ginjal serta mengganggu fungsi metabolisme dan menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh. Pada percobaan terhadap binatang di laboratorium, dioksin menunjukkan carcinogenic (penyebab cancer ), teratogenic (penyebab kelahiran cacat) dan mutagenic (penyebab kerusakan genetic). Dari seluruh golongan senyawa dioksin yang paling beracun ialah senyawa 2,3,7,8-Tetra-Chloro-Dibenzo-para-Dioxin atau disingkat 2,3,7,8-TCDD yang menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) mempunyai nilai tingkat bahaya racun (TEF/Toxic Equivalency Factors) adalah 1 (satu) dan ini merupakan nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan Strychnine (racun tikus) hanya 1/2000 dan Sianida (banyak digunakan untuk meracuni ikan) yang hanya 1/150.000.

Gambar 1: Rumus molekul Dioksin dan Furan.

Kejadian masa lalu yang menyebabkan manusia terpapar oleh dioksin adalah kasus Orange Agent (yang terkontaminasi dioksin), yaitu herbisida yang digunakan oleh tentara Amerika pada perang Vietnam untuk merontokkan daun agar hutan menjadi gundul dan musuh dapat terlihat. Telah menyebabkan banyak kasus kematian akibat kanker dan bayi lahir cacat di Vietnam usai perang melawan Amerika, bahkan para veteran tentara Amerika pun banyak yang terkena kanker setelah terpapar dioksin.

Baik dioksin maupun furan tidak mempunyai nilai komersial, senyawaan ini terbentuk secara tidak sengaja karena akibat aktifitas manusia, misalnya pada pembakaran sampah atau produk samping pada pembuatan pestisida seperti Pentachlorophenol (PCP). Pada proses pembakaran sampah, terutama jika sampah yang dibakar adalah material organik yang kompleks (lignin, kayu, kertas, plastik, dll) dengan adanya donor atom Klor (garam dapur/natrium klorida, asam klorida, senyawaan organik yang mengandung klor, plastik/PVC, dll). Campuran material tersebut jika dibakar pada suhu antara 400oC sampai dengan 600oC sangat berpotensi terbentuk dioksin, apalagi jika pembakarannya tidak sempurna, kekurangan oksigen dan pemanasannya tidak merata. Dioksin 98% terbentuk di fly ash (abu hasil pembakaran) dan bukan di asapnya. Tetapi jika suhu pembakarannya lebih besar dari 800oC (tidak perlu sampai 1500oC) maka dioksin akan hancur terurai membentuk karbon dioksida/CO2 , air/H2O dan asam klorida/HCl.

Pada tahun 2000 lalu, WHO merekomendasikan bahwa jumlah dioksin yang diperbolehkan masuk ke dalam tubuh manusia per hari agar tidak menimbulkan bahaya (Tolerable Daily Intake) adalah 1 sampai dengan 4 pikogram ( 10-12 gram) per kilogram berat badan. Untuk mendeteksi dioksin adalah sangat sulit karena jumlahnya yang sangat kecil sekali sehingga diperlukan suatu instrumen yang sangat sensitif yaitu GCMS (Gas Chromatograph Mass Spectrometer)-High Resolution, bahkan di Indonesia tidak ada satu Laboratoriumpun yang kompeten untuk menganalisanya.

Logam berat dan gas pembentuk hujan asam.

Selain dioksin dan furan, incinerator juga merupakan sumber utama pencemar logam berat misalnya, mercury (Hg), timbal (Pb), kadmium(Cd), arsen(As), cromium(Cr) dan gas pembentuk hujan asam yaitu oksida nitrogen (NOx) dan oksida sulfur (SOx). Logam-logam berat tersebut pada proses incinerasi sangat mudah menguap, walaupun telah berbentuk oksidanya sifat racunnya hampir tidak berkurang. Misalnya mercury, merupakan racun yang sangat kuat menggangu sistem saraf, panca indera dan menurunkan kecerdasan, demikian pula pengaruh logam-logam berat lain pada umumnya.

Oksida nitrogen (NOx) dan oksida sulfur (SOx) adalah gas pembentuk hujan asam, jika banyak terdapat diudara dan terjadi hujan maka airnya akan bersifat asam. Hujan asam ini dapat menyebabkan korosif pada bangunan/gedung , tanah menjadi tandus dan gatal-gatal jika terkena kulit, sedangkan gasnya sendiri dapat menyebabkan kerusakan pada sistem pernafasan.

Incinerator.

Limbah padat (sampah: kota, rumah sakit, pabrik kertas dll) biasanya dimusnahkan dengan dibakar didalam Incinerator (tungku pembakar). Incinerator pada umumnya beroperasi pada suhu antara 400oC – 600oC (suhu yang sangat ideal bagi pembentukan dioksin), jika suhu operasi incinerator dinaikkan hingga lebih besar dari 800oC maka diperlukan biaya operasional yang besar, karena bahan bakar yang diperlukan juga banyak. Disamping hal tersebut peralatan incineratornya juga akan cepat rusak dan berkarat karena suhu tinggi, jika di dalam incinerator digunakan batu tahan api maka akan mudah pecah atau retak, sehingga biaya perawatan incineratornya akan sangat besar.

Banyak kaum industriawan pembuat incinerator yang membodohi kita, dikatakan incinerator buatannya sanggup membakar sampah pada suhu diatas 800 oC. Tetapi kalau kita amati dengan seksama, ternyata termometer pengukur suhu di tempatkan sedemikian rupa sehingga yang terukur adalah titik api pembakarnya dan bukan suhu gas buang hasil pembakarannya. Tentunya ini sangat ironis, karena pembentukan dioksin ada didalam gas buang hasil pembakarannya terutama di dalam fly-ash (abu terbang), sehingga persyaratan suhu tinggi diatas 800 oC adalah suhu bagi gas buangnya, bukan hanya suhu proses pembakarannya. Suhu tinggi ini harus tetap dapat dipertahankan ketika material baru sampah padat dimasukkan ke dalam incinerator. Biasanya ketika diberikan input baru sampah padat, maka suhu incinerator akan turun drastis, jika terjadi fluktuasi suhu maka incinerator tersebut merupakan penghasil dioksin.

Ada pakar incinerator lain mengatakan, untuk mengurangi pencemaran dioksin pada emisi gas buang dari incenarator ialah dengan menambahkan filter yang modern. Perlu kita ingat bahwa filter khusus untuk dioksin harganya sangat mahal, dan secara berkala harus diganti karena cepat mampat dan jenuh, tentunya hal ini akan menambah biaya operasional incinerator. Tetapi yang menjadi permasalahan pokok adalah, setelah dioksin terkumpul di dalam filter mau dikemanakan ? mengingat dioksin adalah zat no 1 paling beracun di dunia.

Di Jepang saat ini penggunaan incinerator untuk membakar limbah padat mulai dilarang, boleh digunakan tetapi dengan pengawasan ketat sambil menunggu teknologi penggantinya. Menurut berita dari http://www.asahi.com tertanggal 6-April 1999, bahwa Kementrian kesehatan dan kesejahteraan Jepang telah mensurvei 5886 industri yang mengolah limbahnya dengan incinerator, didapatkan 2046 industri terbukti menghasilkan dioksin, sehingga dari jumlah itu 1393 diperintahkan ditutup secara permanen, sedangkan sisanya 653 ditutup secara bertahap.

Penggunaan incinerator adalah pemborosan, biaya untuk membeli sebuah incinarator berkisar dari beberapa ratus juta hingga beberapa milyar rupiah. Untuk mengoperasikannya jelas diperlukan bahan bakar yang cukup besar, belum lagi biaya perawatan yang luar biasa besarnya karena beroperasi pada suhu tinggi sehingga komponennya cepat rusak dan karatan.(Ingat kasus incinerator sampah di Kodya Surabaya yang hanya berumur beberapa bulan, padahal incineratornya buatan luar negeri yang dibeli dengan harga beberapa milyar dengan uang rakyat).

Solusi.

Mengingat bahaya dan kerugian yang diakibatkan oleh penggunaan incinerator baik secara ekonomi sosial dan dampak perusakan lingkungan, maka perlu dipikirkan dan dikaji lebih mendalam dan seksama tentang penggunaan incinarator untuk pembakaran limbah padat.

Kepada para pembuatan kebijakan atau instansi yang terkait, misalnya Kementrian Lingkungan Hidup agar membuat regulasi yang lebih ketat tentang incenerator jika perlu dilarang digunakan jika telah ditemukan teknologi penggantinya. Incenerator yang telah terlanjur beroperasi harus diawasi secara ketat dan diwajibkan menggunakan sistem pengolah emisi, baik gas buang maupun limbah cairnya, sehingga pencemaran lingkungan dapat ditekan seminimal mungkin.

Dibalik kegagalan sistem incinerator yang telah ada, sebenarnya hal ini merupakan suatu peluang dan sekaligus tantangan bagi para peneliti di Indonesia, untuk saling berlomba dan mengembangkan ide. Sehingga dapat menciptakan suatu sistem pengolah sampah yang inovatif dengan teknologi yang lebih maju, efisien, tidak boros energi, biaya perawatannya murah dan terutama ramah lingkungan.

Tri Basoeki S

Dear Rekans,

“Bagaimana dengan pemerintah mendatang?”

Permasalahan Sampah memang pelik, setelah bekasi “dijajah” oleh DKI Jakarta, entah siapa lagi dan sampai sejauh mana sampah akan menjajah.

Kesehatan adalah utama, sayangnya banyak orang yang sehat tidak memahami lingkungan.

Mungkin Incinerator saat ini jadi masalah karena hanya menghasilkan Polusi-polusi dan polusi lagi.

namun bagaimana bila incinerator ini dijadikan pembangkit listrik? dan incinerator ini diletakkan di salah satu pulau tak berpenghuni di Indonesia…dengan kata lain adalah “mengorbankan” satu dari sekian ribu pulau Indonesia?

dengan menggabungkan berbagai disiplin ilmu yang kita miliki, saya yakin sampah dimasa mendatang akan menjadi sesuatu yang berharga. i dont know how, but i’m sure it will be.

“Bagaimana dengan pemerintah mendatang?”

Elwin Rachmat

Saya gembira dengan hangatnya diskusi tentang pemanfaatan sampah ini. Saya sudah cukup lama memantau masalah pemanfaatan sampah ini. Sayapun sempat berdiskusi dengan seorang pejabat DKI yang cukup berkompeten mengenai hal ini. Berita yang saya peroleh cukup mengecewakan. Pemda DKI sudah beberapa kali menanda-tangani MOU tentang pemanfaatan sampah (baik untuk pembangkit energi atau pembuatan kompos). Bila sampah DKI dapat dimanfaatkan (walaupun tidak seluruhnya), maka cukup besar biaya yang dapat dihemat bila dibandingkan dengan melanjutkan pembuangan sampah dengan metoda land fill seperti yang masih dilakukan pada saat ini. Sayangnya penanda tangan MOU tersebut sesudah menjelaskan teknologinya, menghilang entah kemana. Besar dugaan perhitungan keekonomiannya tidak sesuai dengan besarnya investasi yang harus dilakukan. Mungkin juga dibutuhkan keringanan tertentu yang membuat keekonomiannya menjadi feasible. Jadi tampaknya masalah sampah ini tidak dapat sepenuhnya diselesaikan oleh swasta walaupun sudah memiliki teknologi yang tepat serta memiliki modal yang cukup.

HMP

pak Elwin kita tahu pemerintah kita selalu banyak sekali wacananya tapi sedikit sekali yang jalan…….

mungkin karena under table money dan komisinya kecil kali……….. saya dapat informasi dari lsm jakarta utk mengatur sampah setiap tahun habiskan dana 400 M, tapi dari retribusi sampah yang masuk ke kas Negara cuma 12 M bayangkan setiap tahun berarti kita tekor terus………….. Sebenarnya teman2 disini juga sdh banyak yang memiliki teknologi bagus…………, tapi yah itu tadi……… pemerintah kita lebih suka bicara angka daripada teknologi dan masalah lingkungan

HMP

sebenarnya bisa , kalau satu kawasan terkecil diterapkan managemen limbah yang baik(dipilah ).

sisanya baru dibakar pakai teknologi carbonizer……..dan bisa diproses utk jadi gas.

Yuwono

Dear sahabatku.

Ma af saya ikutan nimbrung ni.

Kalou boleh saya punya usul. kalou kita melihat kehidupan di desa desa.

khususnya di pulao jawa setiap KK Itu diwajibakan mempunyai BAK PENAMPUNGAN SAMPAH.

Yang sangat sederhana dan murah. yaitu dengan cara membikin lubang yg berukuran kurang lebih Panjang 3M LEBAR 2 M DALAMNYA SEKITAR 4M.Bak ini bisa untuk menampung sampah untuk tiap KK kurang lebih selama 1 Tahun. Dengan sytem pembakaran dilakukan setiap saat. setelah musim kemarau bak tersebut di gali lagi. dan hasil dari galian tersebut bisa digunakan untuk pupuk kompos di sawah dan ladang.Dan pekerjaan semacam ini dilakukan setiap tahun.Dan ternyata bisa kita lihat bahwa di desa itu tidak terjadi penumpukan sampah.

Untuk itu saya sarankan supaya Pemda DKI menerbitkan peraturan kepada penduduk di perkotaan seperti jakarta dan sekitarnya. supaya setiap KK HARUS MEMBUAT BAK SAMPAH SEPRTI CONTOH DI ATAS.

Dan hasil dari pembakaran setelah di gali per 6 bulan / 1 tahun bisa dikolective kan dan di kirimkan ke pedesaan melalui KUD .Yang pengirimannya dengan cara di pak lalu di kirim dengan Mobil mobil Unit Kebersihan kota..Setelah di KUD Tinggal di hibahkan kepara petani dengan gratis.

Pasti para petani mau mengabil sendiri sendiri untuk pupuk sawah / ladang.

Ini berlaku untuk sampah non metal.semoga bermanfaat.

Lutfi

Masalahnya adalah, mana ada pak lahan seluas 3 kali 2 meter di depan rumah orang kota? Di kota, yang ada di depan pintu rumah kita adalah bibir gang, tidak ada halaman, teras saja sekarang makin jarang. Kalau toh ada halama rumah pasti akan dibuat taman yang katanya indah dan asri, dan bukan untuk digali buat membuang sampah… Kondisinya saya kira berbeda jauh ya pak…

Najib,Bahrun

Ikutan nimbrung….

Yang perlu kita maklum, dua hal tersebut berbeda kondisinya. Desa dan kota. Mungkin sebagai solusi kita (yang lingkungan kita di kota) yang bisa kita lakukan untuk me-reduksi sampah adalah membiasakan selalu membakar sampah sendiri, lebih bagus lagi kita pilah2 dulu, yang masih terpakai macam kaleng dan botol biasanya pemulung masih ‘berkenan’ mengambil untuk di re-cycle. (Untuk yang pemukiman kota yang cukup padat, biasanya ada TPA sendiri, cumin sekali lagi, kebanyakan orang2 kita malas| kenapa kita tidak mencobanya?) Saya hanya mencoba menggaris bawahi, bila kita cermati masyarakat kita yang cukup heterogen ini, adalah kebiasaan membuang sampah di kali/ drainage, karena ‘males’ membakar sampah sendiri. Pada akhirnya akan membuat saluran mampet, banjir dsb. Dan masih banyak-lah impact negatif adanya sampah tersebut.

Kalau sudah tahu kondisi tersebut diatas, kenapa kita tidak mencoba dilingkungan kita sendiri? Saya kira hal ini dapat menjadi impuls bagi kita semua, bagaimana hal/ masalah yang besar seperti sampah ini bisa kita coba preventive-nya dengan cara pembakaran sendiri mulai dari kita sampah rumah tangga. Untuk sampah industri, saya kira perlu penanganan khusus untuk itu, sesuai dengan jenis dan system penanganannya yang berbeda-beda.

Karena comment saya seperti diatas, saya jadi ada ide, (mungkin di daerah/ perumahan tertentu sudah ada kali ya?) untuk penanganan sampah didaerah/ perumahan tertentu, diserahkan ke (biasanya komunitas pemulung tadi atau wiraswasta sejenis) untuk ngurusin sampah rumah tangga di daerah tersebut, mencakup semua kebersihan di lingkungan tersebut tanpa kecuali (dari pengumpulan, pemilahan dan pembakaran)/ tidak hanya truk sampah yang hanya mengambil dari box sampah masing2 KK. Tetap kita juga tidak boleh lupa, bahwa kebersihan adalah tanggung jawab

kita bersama. Diharapkan dengan system seperti diatas kebersihan dapat terwujud tidak hanya kamuflase seperti apa yang kita sering lihat sekarang ini. Walaupun belum sempurna, sebagai contoh : kebersihan jalan tol (yang dikelola swasta?) sudah dapat kita rasakan kwalitasnya (terkadang kita tak menyadari) dibandingkan dengan jalan2 yang dekat dengan pasar tradisional (pasar induk???)

Untuk lebih maksimal, metoda campaign yang tepat harus dipikirkan dan dischedule sesuai kebutuhan, sehingga menata masyarakat dan lingkungan kita dapat lebih aware dan self action untuk masalah kebersihan ini.

Demikian, kalau ada yang kurang mohon ditambahkan. -semoga kita bisa mulai bersama……

Agung Cahyono

Pak Sunardi dan rekan-rekan yang lain,

Jika memang aplikasi incinerator berbahaya, apakah sudah apa teknologi lain ? Bagaimana prinsipnya serta performance-nya dari segi ekonomi dan HSE ? Mohon sharingnya.

Terima kasih

Alia Damayanti

Saya kira bila kita ada kemauan, sampah yang dihasilkan tiap rumah tangga, bisa diolah sendiri, dibuat kompos, dengan alat yang sederhana. Saya kenalkan, kebanyakan orang terkena syndrome NIMBY. Artinya Not In My Back Yard. Artinya bolehlah sampah dibuang ke mana pun asal tidak ke halaman saya. Paling tidak kita mulai membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah (kalo bisa), dan memikirkan bahwa sampah adalah masalah kita bersama.

us mar

Ikutan nich,

Ide Bapak bagus, manajenen sampah di desa-desa memang simple dan malah menguntungkan, pupuk kompos dapat menyuburkan tanaman, makanya pohon-pohon di halaman rumah tidak pernah dipupuk, setiap musim mangga, jambu, rambutan, nangka dll akan berbuah dengan sendirinya.

Jika kita tengok perumahan di kota, nyaris nggak ada space sejengkalpun buat bak sampah, apalagi perumahan type 21 / 60 (luas rumah 21M2 dan luas tanah 60 M2) yang notabene mayoritas penghuni di perkotaan. Kalaupun dipaksakan setiap 10 KK membuat satu bak sampah ukuran 3X2 M, kurang dari satu minggu bak sudah penuh dan baunya menyebar kemana-mana.

Hidup di pedesaan memang segalanya menguntungkan, semoga Pak Presiden yang akan memimpin negeri ini mau melirik pembangunan di pedesaan, minimal mengurangi urbanisasi sehingga perkotaan tidak berjubel dan sampahnya bisa dikelola masing-masing KK.

x.sulistiyono

Masalah sampah, khususnya dikota2 besar merupakan masalah besar yang belum terpecahkan hingga kini. Sejalan dengan menyempitnya kepemilikan lahan di kota2 kecil bahkan didesa2pun , secara umum menyebabkab sulitnya pelaksanaan usulan membuat lobang sampah yang dibakar secara berkalap seperti cara orang2 tua kita tempo dulu. Apalagi rumah2 sudah pepet2an. khususnya di P.Jawa atau kota2 besar lainnya diluar P.Jawa. Untuk yang punya tanah luas saya tetap menyarankan untuk tetap menggunakan dan melestarikan coro ndeso seperti telah disarankan dalam diskusi ini. Lalu bagaimana dengan incinerator untuk membakar sampah kota? Sampah kota umumnya adalah sampah organik dengan campuran sebagian (kecil?) sampah kaleng,botol dan plastik, yang seyogyanya dipisahkan dari sampah organic yang mudah terurai. Sampah organik tersebut bisa dibuat kompos , namun memerlukan penekunan .Kalau dibakar dengan incinerator sampah organik yang menurut saya bukan B3 tentunya emisi yang dihasilkan tidak berbahaya meskipun tentu saja ada CO2nya. Abunya bisa digunakan untuk pupuk. Bila temperatur incinerator dapat paling tidak 1000 derajat C atau lebih sampah plastik pun bisa dibakar karena sudah tidak menghasilkan dioxin lagi. Namun plastik apabila dibakar pada temperatur dibawah 1000C akan timbul dioxin yang dapat menyebabkan kanker. Pemda DKI pernah mengirimkan staff nya ke Negeri Belanda untu belajar pengelolaan sampah menggunakan incinerator, bahkan juga pernah membeli incinerator pada salah satu Perusahaan swasta nasional, namun entahlah kelanjutannya dan saya bahkan tidak mendengar bangkai incineratornya dimana. Dalam pengelolaan sampah Pemda DKI hanya mengandalkan pembuangan ke TPA yang nota bene berakibat buruk bagi kesehatan manusia dan linkungan hidup. Apabila petugas yang menengani sampah mempunyai wawasan lingkungan dan tidak mengedepankan interest pribadinya saya teramat yakin Pemda DKI dan Pemda lainnya mampu mengatasi masalah sampah kota. Biaya ? Tentu saja ada, itulah yang disebut sebagai biaya lingkungan. Terus bagaimana KMI DKI atau KMI Daerah lain dapat ikut berperan dalam masalah sampah ini? Kerjasama? Memberi masukan ? Kenalan dulu lalu ditindak lanjuti dengan langkah2 selanjutnya untuk pemecahan masalah sampah ?

5 responses to “Incinerator

  1. mengelola sampah memang memang ribet banget,. di rt saya harus keluar uang Rp.900.000 tiap bulan untuk pengangkutan sampah sebanyak 1 minggu sekali.. gatau tuch dibuang kemana sama yang ngangkutnya.. kalo ada teori/cara mengelola sampah yang mudah murah dan ga ribet,mohon pencerahan dari para master master persampahan. maturnuwun

  2. mau buat skripsi tentang ekosemen nih,
    depok nya dimana ya,? bisa minta alamat nya ga,?
    mau mempelajari secara langsung :)

  3. @ mbak dana chan gimana kalau skripsinya mengangkat masalah TPA Cipayung yang sdh tidak layak buang? atau lihat perkembangan demo warga pasput menolak pelebaran TPA Cipayung

  4. tema skripsi sy tentang semen, jd sy ingin melakukan perbandingan antara ekosemen dengan semen portland biasa, mau minta alamatnya boleh,?

  5. Klo utk kota..bisa dipikirkan 1 lahan yg bs dipake bersama utk menimbun sampah organik menjadi kompos.yg non organik dijadikan hastakarya ato dipilah lsg utk dibeli pemulung..plastik snack bisa dipotong2 kemudian dipress dlm 2 lembar plastik bercorak dijahit kmdn bisa dikreasi menjadi tas, sarung bantal, tempat laptop yg cantik.Tapi memang butuh pemimpin yg tegas dan kreatif utk bisa merealisasikan hal tersebut.dalam hal ini pak dukuh ato pak rt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s