Berita 2011-4 (Jul -Agt)

Juli 2011

Kunjungan Kerja Balasan Dari Osaki City

 Sumber:  http://www.depok.go.id/ 1 Juli 2011 


Jum’at (1/7) pagi bertempat di aula lantai 5 Balaikota Depok, Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Depok Hj. Ety Suryahati SE, M.Si menerima kunjungan balasan dari Osaka Jepang. Kunjungan Profesor Kozo Obara dari Kagoshima University merupakan tindak lanjut dari kunjungan yang dilakukan oleh H. Nur Mahmudi Isma’il beberapa waktu silam. “Waktu berkunjung ke Osaka, Walikota Depok belajar tentang cara mendaur ulang sampah dan mengunjungi 12 perusahaan di Osaka yang membantu pemasaran produk daur ulang” jelas Kozo Obara. Kunjungan yang dihadiri oleh Kabag Pemerintahan, Kadis UMKM & Pasar, BKD, Pemerintahan, Dinas Kebersihan & Pertamanan, Disporaparsenbud, dan Dinas Pertanian membahas tentang kerjasama antara Depok dan Osaka dalam memanfaatkan sampah sehingga menjadi barang yang bisa dijual.

“Selamat datang kami ucapkan kepada Profesor Kozo Obara dan rombongan. Kami berterima kasih karena professor mau membantu Depok dalam pemanfaatan sampah sehingga dapat bernilai ekonomis. Seiring dengan pertumbuhan penduduk di Kota Depok, maka akan bertambah juga sampah di Kota Depok. Saat ini kami berupaya untuk mengelola sampah tersebut dengan membuat UPS di setiap Kelurahan. Kami menyadari UPS belum sempurna dalam pengoprasiannya, untuk itu kami memiliki program pemilahan sampah mulai dari rumah sehingga dapat membantu proses pengolahan di UPS” jelas Ety. Ety berharap, kedatangan Kozo dapat membantu Depok dalam menciptakan inovasi dan krteativitas sehingga sampah bisa menjadi barang yang bernilai ekonomi.

Sekda menambahkan bahwa Depok juga menciptakan sekolah yang berbasis lingkungan sebagai tempat percontohan dalam mengelola sampah sebagai pendidiakan juga bagi para siswa untuk membiasakan dirinya menjaga kebersihan dan memilah sampah. Senada, Kozo mengungkapkan bahwa pendidikan tentang sampah harus diberikan kepada para siswa sejak usia sekolah agar mereka memahami dan memiliki kesadaran untuk hidup bersih dan menciptakan kreativitas mereka dalam mendaur ulang sebuah sampah. “Produk daur ulang yang dibuat oleh anak Indonesia sangat disenangi oleh anak-anak di Jepang, seperti robot dari kaleng. Itu merupakan kreatifitas yang harus ditanamkan dan dikembangkan sehingga bisa dijual dan menghasilkan uang. Kami terkenal dengan kota daur ulang terbaik karena kami selalu berpikir bahwa sampah adalah barang yang berguna yang dapat menghasilkan uang yang dapat menambah pendapatan” ujar Kozo. Kozo mengatakan, inti dari keberhasilan dalam pengolahan sampah adalah adanya kesadaran dan disiplin dari masyarakat karena Pemerintah membutuhkan dukungan dan partisipasi masyarakat dalam proses pengolahnnya.

Di akhir kunjungan, Kozo sangat tertarik dengan jus belimbing yang disuguhkan dan menawarkan untuk dijual di Osaka. “Jus ini sangat enak dan segar. Di Jepang tidak ada belimbing dan jika ini dijual disana pasti akan laku karena rasanya enak dan pas untuk diminum sehari-hari” ungkap Kozo. Kozo juga menawarkan untuk membantu menjualkan produk-produk Kota Depok di Osaka dan menawarkan program home stay bagi para siswa agar mereka bisa saling bertukar ide dan belajar tentang budaya dan cara mendaur sampah.

Depok – Kagoshima University Bahas Kerja Sama Sampah

Berita Kota, 02 Jul 2011 
Sumber: http://bataviase.co.id/node/726232

DEPOK, BK

Guna mengatasi permasalahan sampah di Kota Depok, Pemkot Depok akan menggandeng pihak asing untuk melakukan kerjasama. Padajumat (1/7), pemerintah daerah itu membahas kerja sama penanganan sampah dengan sebuah universitas asal Negeri Sakura, Jepang.

Pembahasan kerja sama itu diawali dengan kunjungan balasan dari Profesor Kozo Obara dari Kagoshima University ke Kota Depok. “Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan atas kunjungan Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail, bebe-rapa bulan lalu. Dari kunjungan itu, mereka membandingkan penanganan sampah di negara mereka dan tertarik untuk bekerja sama. Namun, pembahasannya belum final,” kata Kepala Bagian Pemerintahan Pemkot Depok, Sri Utomo.

Hal senada disampaikan Sekda Kota Depok, Ety Suryahati. Ia menyatakan, Pemkot Depok berterima kasih kepada Kozo Obara karena mau membantu pemanfaatan sampah sehingga bernilai ekonomis. “Kedatangan Kozo dapat membantu Depok dalam menciptakan inovasi dan kreativitas sehingga sampahbisa menjadi barang yang bernilai ekonomi,” imbuhnya.

Ety menjelaskan, dalam mengatasi sampah, Pemkot Depok berupaya membuat Unit Pengolahan Sampah (UPS) di setiap kelurahan. Kemudian, akan membuat program pemilahan sampah mulai dari rumah. Diharapkan, pemilahan sampah itu, akan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Tak hanya itu, lanjutnya, Kota Depok akan menciptakan sekolah yang berbasis lingkungan sebagai tempat percontohan dalam mengelola sampah, seperti di SMAN 5 dan SMPN 3.

Sementara itu, Kozo mengatakan, pemilahan sampah di negaranya bisa berjalan karena dim uki sejak dini dan masyarakat sadar bahwa dengan melakukan pemilahan sampah, mereka turut membantu menjaga lingkungannya. Anak-anak itu sudah malu membuang sampah sembarangan. Mereka juga melakukan pemilahan sampah dan mampu berkreativitas memanfaatkan sampah, ujarnya.

Mcnurut Kozo, untuk mengatasi sampah di Kota Depok, kunci utamanya adalah menjadikan pemilahan sampah sebagai budaya di masyarakat.

Ia mengatakan, produk daurulang yang dibuat oleh anak Indonesia sangat disenangi oleh anak-anak di Jepang, seperti robot dari kaleng. Ini kreativitas yang harus dikembangkan, tandasnya.

Dalam kunjungan itu, Kozo tertarik untuk memasarkan jus belimbing di Osaka, Jepang. Alasannya, karena jus belimbing asal Depok enak rasanya dan di Jepang tidak ada jus belimbing. “Jus belimbing dari Depok irri sangat enak dan segar serta bisa diminum setiap hari. Jus belimbing ini enak. Di Jepang tidak ada belimbing dan jika dijual di Jepang akan laku, tuturnya, dh

Yuk Nabung Sampah!

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/ 2 Juli 2011 

Aktivitas penimbangan sampah di Bank Sampah Poklili, Sukmajaya, Kota Depok.

DEPOK, KOMPAS.com — Menabung sampah? Mengapa tidak. Warga kelurahan di Kecamatan Sukmajaya, Depok, membuka Bank Sampah Poklili. Bank ini sementara hanya buka setiap Jumat untuk menampung tabungan sampah warga. Setiap tabungan sampah ditimbang, dihitung, dan ditaksir nilainya. Pada saat tertentu, tabungan ini dapat diambil oleh nasabah sesuai keinginannya.

“Saat ini, nasabah Bank Sampah Poklili mencapai 125 orang. Bukan hanya dari kelurahan sini saja, melainkan juga dari wilayah lain. Bahkan lain kota,” kata pendiri Bank Sampah Poklili saat ditemui Kompas, Jumat (1/7/2011) di Depok, Jawa Barat.

Pada hari Jumat tidak hanya ada penimbangan sampah, tetapi pengelola juga menggelar pelatihan memanfaatkan sampah sehingga dapat bernilai ekonomi. Pada Jumat ini ada kunjungan Profesor Kozo Obara dari Kagoshima University, Jepang. Kunjungan ini untuk melihat langsung pengelolaan sampah di Bank Sampah Poklili.

Naya (27), nasabah asal Ciputat, Tangerang Selatan, tertarik bergabung dengan bank ini sejak dua bulan lalu. Naya mengirim sampah setiap bulan ke Bank Sampah Poklili di Sukmajaya, Depok.

Meskipun jaraknya jauh, dia puas dapat memanfaatkan sampah. “Awalnya saya penasaran dengan pengelolaan sampah Bank Sampah Poklili. Saya tidak tahu ada pengolahan sampah di Ciputat,” kata Naya.

Selain menjadi nasabah, Naya juga bergabung mengikuti pelatihan pengolahan sampah plastik.

Ketertarikan yang sama disampaikan oleh Wanda (27), mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Indonesia (UI). Sebelum bergabung menjadi nasabah Bank Sampah Poklili, Wanda sudah mengolah sampah secara mandiri. “Jika gerakan pengolahan sampah menjadi kesadaran bersama, persoalan sampah bukan hal yang menakutkan,” kata Wanda.

Sampah Dibuang ke Sungai dan TPS Liar

Pikiran Rakyat, 4 Juli 2011
Sumber: http://bataviase.co.id/node/726232

DEPOK, (PR).- Sebanyak 2.500 m3 sampah di Kota Depok tidak dikelola dan tidak terangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) setiap harinya. Akibatnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan masyarakat tersebut dinuang ke tempat pembuangan sampah (TPS) liar atau sungai dan situ.

Hal itu dikataka Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok Ulis Sumardi, saat ditemui di Kantor Wali Kota Depok, beberapa waktu lalu. Ulis mengatakan, volume sampah di Kota Depok diperkirakan mencapai 4.200 m3 per hari. Namun dari jumlah tersebut hanya 500 m3 yang dikelola di unit pengelola sampah.

Pemerintah kota juga hanya mampu mengangkut 1.200 m3 sampah ke TPA Cipayung. Hal itu karena daya tampung TPA Cipayung yang sudah melebihi batas.

Menurut Ulis, kondisi tersebut menyebabkan banyak warga yang membuang sampah ke tempat yang tidak semestinya. “Tidak bisa dimungkiri sekarang bermunculan TPS-TPS liar di Kota Depok, bahkan sebagian dari mereka ada yang nekat membuang sampah ke kali dan situ,” ujarnya.

Padahal berdasarkan hasil penelitian, Ulis menjelaskan, volume sampah diperkirakan akan meningkat sebanyak 100 m3 setiap tahunnya. Dengan demikian, pengelolaan sampah merupakan sesuatu yang darurat dan harus segera dilaksanakan. Apabila tidak, penumpukan sampah di Kota Depok akan semakin parah.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Kota Depok tengah berupaya untuk memaksimalkan peran unit pengolahan sampah. Saat ini, jumlah UPS di Kota Depok yang beroperasi efektif yaitu sebanyak 20 unit. Pada tahun 2016, ditargetkan akan ada 60 unit pengolahan sampah yang beroperasi efektif. Dengan demikian, sampah sudah bisa dikelola sebelum diangkut ke TPA. Secara otomatis hal itu mengurangi volume sampah yang diangkut ke TPA.

Selain itu, Ulis mengatakan, masyarakat juga sebenarnya memiliki kewajiban untuk mengelola sampah. Hal itu berdasarka pasal 12 Undang-Undang No. 8 Tahun 2008 yang menyatakan, masyarakat juga memiliki kewajiban untuk mengurangi dan menangani sampah di lingkungannya. Untuk itu, saat ini Pemerintah Kota Depok berupaya menggiatkan kembali pemilahan sampah di lingkungan masyarakat. “Hal itu juga dibarengi dengan mengampanyekan reduce, reuse, dan recycle atau 3R,” ujarnya. (A-185)***

UI Akan Dibuatkan UPS Oleh Pemkot

Sumber: http://www.depok.go.id/ 11 Juli 2011 

Makin banyaknya intensitas sampah yang bersumber dari Universitas Indonesia (UI), ternyata mendapat respon cepat dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok. Kepala DKP Kota Depok, Ulis Sumardi mengatakan, rencananya tahun ini DKP akan membuat sebanyak 15 unit Pengolahan Sampah (UPS), dan salah satunya di UI. Pasalnya, sampah yang berasal dari UI dinilai cukup banyak, yakni, empat truk sampah setiap harinya. Ia mengatakan, jika tidak segera ditanggulangi, dikhawatirkan sampah di sekitaran UI bisa mengganggu konsentrasi belajar para mahasiswa. Sebelumnya, sampah dari UI langsuing dibawa ke Tempat Pembuangan akhir (TPA) Cipayung. Tetapi, nyatanya hal tersebut kurang efektif, karena TPA mempunyai batas umur. Karena itu, mulai kini sampah harus melalui UPS, sebelum akhirnya ke TPA. “Secara khusus pihak UI telah meminta dibuatkan UPS oleh DKP,”ungkapnya.

Ulis –sapaannya- menuturkan, pembuatan UPS sebagai cara mengurangi intensitas keberadaan sampah di kota Depok. Sebelumnya, program yang di genjot Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail, berupa penangkapan para pembuang sampah dinilai sudah cukup efektif, dengan menangkap rata-rata sekitar sepuluh pembuang sampah di setiap kecamatan. Sementara ini, lanjut dia, program ini masih tahap sosialisasi. Mendatang, jika para pembuangan sampah masih membandel, akan diberikan penindakan siding Tindak Pidana Ringan (Tipiring). “Kalau sudah Tipiring hukumnya jelas,’ucapnya.

Ia mengungkapkan, Kecamatan Tapos masih tertinggi dalam segi penangkapan pembuangan sampah, dan kecamatan Cimanggis terendah. Diharapkan, dengan pembuatan UPS secara missal serta program penangkapan pembuangan sampah, Kota Depok bisa mendapatkan piala Adipura yang gagal diraih pada tahun ini. Sampah merupakan problema disetiap kota dan diperlakukan penanganan secara berkala. “Masalah sampah akan pelan-pelan dibereskan,”singkatnya.

Peneggakkan Perda 14 Tentang Tibum, Dua Warga Tapos Kembali Tertangkap Buang Sampah 

Sumber:  http://www.radaronline.co.id/ 13 Juli 2011

Seorang warga yang tertangkap membuang sampah. (Photodoc Tapos)

   Depok,Radar Online
Penerapan peneggakan peraturan daerah (Perda) No 14 tahun 2001 tentang ketertiban Umum di kecamatan Tapos Kota Depok Jawa Barat berjalan cukup baik. Bahkan sudah hampir satu bulan, penerapan terkait pelarangan bagi masyarakat agar jangan buang sampah sembarangan cukup membuahkan hasil.

Menurut kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum H.Deden Kosasih kepada Radar Online diruang kerjanya Rabu (13/7/2011) menjelaskan, sejak awal diterapkannya pemantauan pelarangan buang sampah sembarangan, sudah berhasil menagkap 10 warga dan memergoki masyarakat yang kedapatan buang sampah sembarangan yang tidak pada tempatnya,” kata H Deden usai melakukan pemantauan sampah yang berlokasi di sungai kali baru pagi tadi.

Dikatakan H Deden, dari hasil pemantauan pagi tadi, tertangkap tangan 2 warga yang sudah membuang sampah ke kali baru, sedangkan 1 orang warga kepergok baru akan membuang sampah. Ketiga orang tersebut kami berikan pengarahan serta membuat surat pernyataan agar tidak mengulanginya kembali.

“ Pelaksanaan pemantauan pembuang sampah liar kali ini di pusatkan di satu lokasi jembatan kalibaru Cilangkap sejak pukul 05.30 hingga pukul 07.00 Wib. Dengan adanya pemantauan ini diharapkan masyarakat tidak akan membuang sampah sembarangan,” demikian H Deden.

Nama nama warga yang tertangkap saat buang sampah tersebut yaitu Saeful Chandra warga Nyencle Cilangkap RT.01/01, Meri warga RT. 01/03 Cilangkap dan Tuty warga RT.01/04 kelurahan Pabuaran Cibinong ( Asep Nasrudin)

Warga Pancoran Mas Buka Bank Sampah

Sumber: http://depoklik.com/ 14 Juli 2011

Bukan warga Pancoran Mas, jika tak kreatif seperti Camatnya, Rd Sudradjat yang suka menciptakan lagu-lagu bernuansa Depok. Kali ini, warga kecamatan yang berpenduduk cukup padat ini mempunyai inovasi baru, yaitu Bank Sampah.

“Awalnya, di lingkungan kami tak ada tempat sampah, luas pekarangan rumah kamipun tak cukup luas. Kami ingin buang sampah, tapi bingung mencari tempatnya. Akhirnya muncul ide untuk membuka Bank Sampah,” ujar Yustianingrum, Ketua PKK Kelurahan Pancoran Mas kepada Depoklik, Kamis (14/7).

Tabungan sampah itu untuk dipilah dan dijadikan produk daur ulang yang cukup bernilai. Sampah-sampah yang dikumpulkan warga ke Bank Sampah itu ditimbang, dihitung, dan ditaksir nilainya. Biasanya yang diterima seperti bekas bungkus detergen, kopi, minyak goreng, dan mie instant.

Menariknya lagi, ternyata nasabah Bank Sampah ini bukan hanya warga Kelurahan Pancoran Mas, tapi juga dari kelurahan lain. “Transaksinya sama seperti di bank. Penabung diberi buku rekening. Tiap kilogram sampah ditaksir seharga Rp500 hingga Rp1000. Sampah bekas kopi nilainya lebih tinggi dibandingkan sampah jenis lain,” jelas Yustianingrum.

Sampah bekas kopi dapat dijadikan tas, dompet, bandana, taplak meja, dan tatakan gelas. “Caranya sama seperti menganyam. Bahan-bahan tersebut sebelumnya dibersihkan, dipilah, dan dipotong berdasarkan ukuran yang ditentukan. Selanjutnya, potongan sampah tersebut dibuat menjadi berbagai macam produk yang memiliki manfaat,” ungkapnya.

Olahan sampah non-organik itu dipasarkan ke masyarakat melalui bazar-bazar. Harganya bervariasi, mulai dari seribu hingga puluhan ribu rupiah. Ternyata, lanjut Yustianingrum, tidak hanya warga lokal, produk daur ulang ini pun banyak diminati oleh warga negara lain yang berwisata ke Depok. “Agar pasarnya kian meluas, kami terus berkreasi mengolah bahan dari Bank Sampah ini,” tandasnya.

Wah, metode yang menarik untuk mengatasi persoalan sampah ya. Bagaimana dengan lingkungan Anda?

Di Tangan Mereka, Sampah Menjadi Bernilai

Berita Kota, 18 Juli 2011 
Sumber:  http://bataviase.co.id/node/742769

JIKA sebagian orang tiak peduli dengan sampah dan kadang berkeinginan agar sampah-sampah itu segera disingkirkan, namun tidak demikian dengan kaum ibu-ibu rumah tangga (RT) I di RT01/13, Pancoranmas, Depok. Di tangan para ibu yang menyebutkan diri sebagai ibu-ibu Ratu mereka (ibu-ibu RT Satu), sampah yang oleh sebagian orang dianggap sudah tidak berguna, justru disulap menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kerja keras para ibu Ratu ini mulai berbuah manis. Hasil karya mereka mengubah sampah menjadi tas, kini mendatangan hasil menggembirakan. Bahkan, mereka kini mulai membuka bank sampah.

Para ibu di Depok ini, sudah dua tahun bergelut dengan kreativitas i membuat bungkusan bekas kopi dan pewangi pakaian menjadi tas. Dengan adanya bank sampah itu, ibu-ibu Ratu kini sudah bisa menambah penghasilan. Yang lebih penting, telah membebaskan mereka dari cengkraman rentenir.

“Walaupun baru berdiri enam bulan. Alhamdulillah sudah ada 44 warga RW 13 yang menjadi anggota. Uang yang didapat dikumpulkan. Hingga saat ini tabungan para ibu-ibu rata-rata mencapai Rp 100.000, ujar Halimah (34), salah satu penggerak pengrajin tas dari sampah dan pemilahan sampah, akhirpekan kemari.

Menurut Halimah, dari hasil membuat tas, para Ibu kini dapat berkeliling daerah di Depok dan Jakarta untuk mengikuti bazar untuk menjual hasil karsa mereka.

Halimah mengatakan, mereka terpaksa harus berkeliling karena menjual hasil kerajinan di daerah sendiri tidak laku-laku, bahkan dilirik pun tidak. Padahal, harganya tergolong murah. Untuk jempitan rambut, bando, dan tatakan gelas dari bekas bungkus kopi harganya cuma Rp 1.000. Untuk tas ke-pit antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000/ unit. Sedangkan untuk tas ukuran besar, hargnya Rp 35.000 dan taplak meja harganya Rp 100.000.

Pernah buka stand di lingkungan kami saat acara Isra Miraz, warga tidak ada yang melirik. Sempat down, tapi pas ikut pameran malah laku terjual bahkan hingga pendapatan mencapai Rp 1 juta membuat kami semangat lagi. Walaupun tangan saya bengkak karena infeksi saat memilah sampah, tak membuat saya jera,* tandasnya.

Ketua PKK RT01/13, Yustianingrum menambahkan, dampak dari kegigihan dan ketulusan para Ibu Ratu untuk memberdayakan warga, kini sejumlah RW lain pun menjadi tertarik. Mereka memanggil para Ibu Ratu untuk mem-berikan pelatihan membuat tas dari sampah dan memilah sampah untuk dijual di bank sampah.

Karyawan Pasar Mogok, Sampah Menumpuk di Depok

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ 29 Juli 2011 

DEPOK–MICOM: Timbunan sampah mengotori Kota Depok, Jawa Barat. Hal itu terjadi akibat ratusan petugas kebersihan mogok. Mogok kerja itu sebagai protes terhadap pemerintah daerah yang tidak membayar gaji petugas kebersihan.

Ratusan petugas kebersihan yang melakukan mogok kerja itu adalah petugas kebersihan tenaga harian lepas (THL) dari 6 pasar tradisional yakni Pasar Tugu, Pasar Cisalak, Pasar Sukatani, Pasar Musi, Pasar Agung, serta Pasar Kemiri Muka.

Agus, salah satu karyawan THL kebersihan Kota Depok mengungkapkan, 342 karyawan THL kebersihan Kota Depok yang terdiri dari sopir dan kernet truk pengangkut sampah serta tukang sapu pasar, sangat minim. “Gaji kami hanya Rp46 ribu sehari atau Rp1,1 juta sebulan. Gaji tersebut tak cukup buat beli beras, bumbu dapur, dan permen anak,“ kata Agus di Depok, Jumat (29/7).

Menanggapi mogok kerja tersebut, Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah Pasar (KUMKMP) Kota Depok Herman Hidayat, mengatakan karyawan THL belum saatnya untuk diberikan gaji ke-13. “Mereka baru bisa diberikan tunjangan seperti gaji ke-13 sesudah diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) oleh pemerintah, “ ungkapnya. (OL-8)

Agustus 2011

Tangkap Yang Buang Sampah Sembarangan!

Sumber: http://www.depoknews.com/  15 Agustus 2011

depoknews.com | Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail memerintahkan para camat dan lurah untuk menangkap para pembuang sampah sembarangan.

“Tangkap dan bikin berita acaranya. Foto rumahnya biar mereka jera membuang sampah sembarangan,” kata Nur Mahmudi di acara Media Gathering dengan wartawan yang digelar DPD PKS Kota Depok, Sabtu (13/8).

Menurut Nur Mahmudi, hal itu dilakukan agar tercipta kebersihan di setiap lingkungan di wilayah Kota Depok. Dengan lingkungan bersih maka masyarakat pun akan sehat. “Diharapkan juga masyarakat melakukan pemilahan sampah sehingga beban UPS dapat dikurangi. Dalam waktu dekat kami akan melaksanakan lomba RW bersih,” tuturnya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Depok dari Fraksi PKS, Mutaqin meminta kepada Wali Kota Depok untuk mengganti lurah dan camat yang tidak sanggup memelihara kebersihan di wilayahnya. “Kalau wilayahnya yang dipimpin masih kotor berarti lurah dan camatnya gak becus. Ganti saja dengan yang komitmen,” paparnya.

Meski sudah disediakan tempat sampah memang banyak warga yang punya mental buruk, yakni membuang sampah seenaknya. Padahal perilaku itu selain merugikan orang lain, juga merugikan diri sendiri. Sampah-sampah tersebut biasanya dibuang di pinggir jalan hingga menumpuk meski yang bersangkutan sudah tahu bahwa lokasi itu bukan lokasi pembuangan sampah.

Mental asal buang sampah itu juga menyebabkan banyak saluran air tersumbat dan menimbulkan genangan pada musim hujan.

Lomba RW Bersih di Depok, Tangkap Pembilang Sampah

Berita Kota,   15 Agustus 2011 
Sumber: http://bataviase.co.id/node/771612 

DEPOK, BK

Kota Depok akan segera menggelar lomba rukun warga (RW) bersih. Untuk menunjang program itu. Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail kembali menginstruksikan para camat dan lurah untuk menangkap pembilang sampah sembarangan.

Tangkap dan bikin berita acaranya. Foto rumahnya biar mereka jera membuang sampah sembarangan, kata Nur Mahmudi dalam acara Media Gathering yang digelar DPD PKS Kota Depok, Sabtu (13/8).

Pada 14 Juni dini hari lalu, tim gabungan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok bersama Babinsa dan Babinkamtibmas beserta Kecamatan Tapos menggelar operasi yustisi sampah. Dari hasil operasi itu terjaring 5 warga yang terbukti tengah membuang sampah sembarangan.

Operasi dilakukan di tiga lokasi, yakni Jalan Raya Cilangkap, kehayunan, dan Jalan Pckapuran. Kelima warga yang ditangkap umumnya sengaja membuang sampah di sembarang tempat saat akan berangkat kerja.

Menurut Nur Mahmudi, penangkapan pembuang sampah sembarangan dilakukan agar tercipta kebersihan di sedap lingkungan Kota Depok. Dengan lingkungan bersih, masyarakat akan sehat

Diharapkan juga masyarakat melakukan pemilahan sampah, sehingga beban UPS dapat dikurangi. Dalam waktu dekat kami akan melaksanakan lomba RW bersih, tuturnya.

Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Kota Depok dari Fraksi PKS Mutaqin meminta Wali Kota Depok mengganti lurah dan camat yang tidak sanggup memelihara kebersihan di wilayahnya.

Kalau wilayahnya yang dipimpin masih kotor, berarti lurah dan camatnya tak becus. Ganti saja dengan yang punya komitmen, tegasnya, dh

Pasukan Oranye Bersihkan Depok

Warta Kota, 27 Agustus 2011 
Sumber: http://www.bataviase.co.id/node/784800  

Depok. Warta Kota

Pada malam takbiran dan pasca Lebaran pasukan oranye atau pesapon Kota Depok disiapkan untuk membersihkan Kota Depok. Hal Itu dilakukan untuk menghindari tumpukan sampah di Jalanan.

“Kami sudah mengantisipasi. Oleh karena Itu petugas sudah kami siapkan. Mereka hanya libur pada Lebaran pertama saja atau libur sehari. Setelah itu bekerja kembali.” kata Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok, Rahmat Hidayat. Jumat (26/8).

Menurut Rahmat, pada saat petugas sapu Jalan libur sehari, pihaknya telah menyiapkan satgas kebersihan. Namun satgas Itu diutamakan mengangkut sampah di Jalan-jalan protokol.

Sedangkan sampah di permukiman tidak diangkut, namun akan diangkut oleh petugas pengangkut sampah pada Lebaran kedua.

Wall Kota Depok Nur Mahmudi Ismail menambahkan, selain DKP. dinas lain yang tidak libur adalah Dinas Perhubungan. Pemadam Kebakaran. Satpol PP. dan Dinas Kesehatan Kota Depok.

Selama Lebaran. 11 puskesmas di Kota Depok tetap buka. Petugas kesehatan yang disiapkan adalah petugas piket.

Ini sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat, karena Itu dinas yang bersentuhan langsung dengan pelayanan masyarakat tidak libur pada Lebaran.” kata Nur Mahmudi saat ditemui seusai melakukan inspeksi mendadak (sidak) kehadiran PNS di setiap bagian. Jumat (26/8).

Mobdin boleh mudik

Sementara Itu menjawab pertanyaan seputar penggunaan mobil dinas (mobdin). Nur Mahmudi menjelaskan, mobil dinas diperbolehkan dibawa mudik oleh karyawan yang diberikan tanggungjawab merawat mobil tersebut. Mobil dinas tersebut tidak boleh dipinjamkan apalagi disewakan.

“Salah satu cara menjaga dan merawat adalah membawa mobdin mudik. Jika mobil Itu rusak atau hilang maka PNS Itu yang harus menggantinya.” Imbuhnya.

Dikatakan Nur Mahmudi. PNS libur selama sembilan hari. Mulai Sabtu (27/8) dan masuk Senin (5/9). Jika PNS sampai bolos maka akan diberikan sanksi sesuai aturan.

Dalam sidak tersebut diketahui ada 98 PNS yang tidak masuk kerja. Dari 2092 PNS. yang sakit sakit 15 orang, cuti bersalin 9 orang, dinas luar kota 26 orang, pendidikan 7. Izin 41 orang.

Sementara Itu, Wakil Wall Kota Depok. Idris Abdul Shomad. sehari sebelumnya, melakukan sidak di Depok Trade City. Pancoranmas, Depok. Ia bersama tim dari Dinas Kesehatan Depok menemukan makanan yang diduga mengandung zat berbahaya bagi kesehatan manusia, di antaranya bakso, telur, buah. roti, clncau. daging ayam, dan daging sapi.

Namun makanan tersebut dinilai aman. Meski begitu Idris menemukan makanan mengandung formalin seperti pacar cina dan tahu murni slawi, sena makanan yang mengandung pewarna kain yakni moon oaJce

Dinkes pun kemudian memanggil pengawas supermarket dan memberitahu untuk tidak menjual makanan yang mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan dan makanan kedaluarsa

Sebelumnya. Idris bersama tim gabungan dari Dinkes. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok serta Polresta Depok melakukan sidak di Pasar Musi. Sukmajaya. Depok. Namun dalam sidak tersebut tidak ditemukan adanya ayam suntik, daging sapi glonggong-an. dan daging sapi oplosan (dod)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s