Berita 2012

Januari 2012

Sampah Pasar di Depok Capai 295 Meter Kubik Per Hari

Sumber: http://depoklik.com/ 2 Januari 2012

Dinas Pasar, Koperasi, dan UKM mengerahkan 133 pesapon dan puluhan gerobak sampah untuk mengangkut tumpukan sampah pasar setiap hari. Sampah yang menumpuk di pasar setiap harinya mencapai 295 meter kubik.

Sampah itu berasal dari tujuh pasar yakni Pasar Kemirimuka, Pasar Cisalak, Pasar Agung, Pasar Tugu, Pasar Musi, Pasar Sukatani, dan Pasar Depok Jaya. Sementara jumlah motor sampah yang dikerahkan yakni sebanyak 4 unit ditambah dengan 14 unit truk sampah.

Kepala Dinas Pasar, Koperasi, dan UKM, Herman Hidayat mengatakan selama ini pihaknya agak kerepotan apabila hari libur, disaat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung tutup. Hal itu membuat sampah di pasar menumpuk.

“Itu kendala yang kami hadapi, adanya penumpukan sampah pada hari Senin, akibat tidak bisa membuang sampah di hari Minggu, pembuangan sampah ke TPA Cipayung juga dibatasi hanya sampai jam 16.00 WIB,” jelasnya kepada wartawan di Balaikota, Minggu (1/1).

Belum lagi kondisi truk sampah yang sebagian besar sudah tua dan perlu diremajakan. “Karena itu solusinya kami selalu adakan operasi bersih di lingkungan pasar, minimal satu minggu sekali, dengan sasaran saluran drainase dari sampah yang berserakan,” tandasnya. Icha

Sampah tahun baru berserakan

Sumber: http://www.monitordepok.co.id/ 2 Januari 2012 

MARGONDA, MONDE: Perayaan malam pergantian tahun 2011 ke 2012 menyisakan sampah yang berserakan di sejumlah ruas jalan di Kota Depok, seperti yang terlihat di sepanjang Jl Margonda Raya, Jl Juanda, Jl Arif Rahman Hakim dan Pasar Kemirimuka.

Dari pantauan di lapangan, terlihat tumpukan sampah dari botol minuman air mineral, kertas, hingga bungkusan kembang api yang telah dipakai dalam pesta kembang api, berserakkan.

Sampah-sampah yang berserakan itu merupakan barang bekas yang ditinggalkan warga saat merayakan malam pergantian tahun di kawasan Kota Depok.
Sejumlah petugas kebersihan atau pesapon dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok, sejak pagi hari kemarin, berusaha membersihkan sampah yang berserakan di sejumlah jalan utama Kota Depok.

Petugas mengatakan, usai perayaan malam tahun baru banyak sampah yang berserakan di pinggir jalan seperti di Jl Margonda Raya, di mana sampah yang paling banyak adalah jenis kertas.

“Biasanya kalau kami membersihkan sampah di Jl Margonda Raya hanya sedikit paling kotoran batu kerikil, namun usai malam tahun baru sampah kertas bekas kembang api berserakan,” kata petugas.

Dia mengatakan, para pekerja pembersih jalan tidak libur namun tetap melaksanakan tugasnya di lapangan, untuk membersihkan sampah di pinggir jalan raya.
“Kami dan kawan-kawan nggak ada libur tahun baru, kami tetap masuk seperti biasa,” ucap petugas yang nggak bersedia namanya disebutkan.

Sementara itu di pintu masuk Pasar Kemirimuka, terlihat tumpukan sampah pasar yang belum dibersihkan oleh para petugas usai perayaan malam tahun baru. Tumpukan sampah juga menutupi pintu masuk pasar tersebut, dari arah Jalan Kedondong.(fx)

 Walikota minta dewan berperan jaga kebersihan

Sumber: http://www.monitordepok.co.id/02 Januari 2012 

KOTA KEMBANG, MONDE: Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail meminta kepada anggota DPRD untuk berperan serta dalam menjaga kebersihan di lingkungan daerah pemilihannnya.

Hal ini disampaikannya karena pada tahun 2012, Pemerintah Kota Depok akan mengadakan lomba kebersihan tingkat RW.

“Kami berharap para aggota Dewan yang terhormat ikut berperan aktif dalam lomba kebersihan ini, terutama di dapilnya masing-masing,” kata Nur di gedung DPRD, akhir pekan lalu.

Dirinya juga mengaku siap untuk mengikuti lomba ini demi memupuk kesadaran masyarakat betapa pentingnya kebersihan di lingkungan masing-masing.

“Jika memang kesadaran akan kebersihan ini sudah tercipta, dia yakin Depok akan menjadi kota yang bersih dan nyaman,” tandasnya.

Bagi RW yang menjadi pemenang dalam lomba ini akan diberikan hadiah dan akan dijadikan bahan rujukan untuk RW yang lainnya. Selain mencari RW yang terbersih, Pemkot Depok juga akan mencari lingkungan atau wilayah yang terkotor.

Daerah terkotor akan didata dan diberikan pembinaan, sehingga secara perlahan bisa menjadikan wilayah tersebut lebih bersih. Tentu saja untuk menjadikan wilayah bersih ini dibutuhkan dukungan dan peran serta semua pihak di antaranya anggota DPRD.

Selain lomba kebersihan tingkat RW, Pemkot juga akan mengadakan lomba kebersihan tingkat kantor, salah satunya kantor DPRD. Dengan peran serta semua pihak, bukan tidak mungkin Depok meraih adipura.(mas)

Banjir Sampah Masih Tutupi Dinding Pos Panus 

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/ 3 Januari 2012 

Imih (55), petugas Pos Jaga Ketinggian Air Ciliwung di Jembatan Panus, Kota Depok menunjukkan tumpukan sampah di dinding jembatan.

DEPOK, KOMPAS.com — Tumpukan sampah kembali menutupi dinding Pos Jaga Ketinggian Air Ciliwung di Jembatan Panus, Kota Depok. Sampah tersebut menghalangi aliran air yang melintas di sekitar dinding pantau. Tumpukan sampah ini semakin lama semakin banyak seiring dengan aliran air dari hulu.

Sampah itu sudah ada sejak tanggal 17 November 2011 ketika ketinggian air ciliwung mencapai 280 sentimeter. Bersamaan dengan itu, aliran air membawa aneka sampah dari hulu. Belum ada yang membersihkan sampah tersebut sampai saat ini

Walau Imih bukan seorang insinyur, namun dia mengkhawatirkan tumpukan sampah di kaki jembatan itu mengganggu kekuatan konstruksi jembatan. Beberapa kali Imih melaporkan timbunan sampah tersebut ke atasannya.

“Biasanya setelah ada laporan, petugas Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Depok turun membersihkan sampah,” katanya.

Tidak hanya dari hulu, sampah di kaki Jembatan Panus juga datang dari warga yang membuang sampah dari atas jembatan. Seperti yang terjadi pada Selasa siang, seorang pengguna sepeda motor melemparkan dua kantong plastik besar ke arah aliran kali.

Sampah warga Depok semakin menggunung

Sumber:http://www.monitordepok.co.id/  03 Januari 2012 

BALAIKOTA, MONDE: Volume sampah warga Depok yang dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung terus meningkat, dan kini telah melebihi kapasitas atau overload…

Selain disebabkan menyempitnya areal penampungan TPA Cipayung, keberadaan puluhan Unit Pengolahan Sampah (UPS) belum berjalan optimal.

Menyikapi permasalahan krusial ini, Pemkot Depok—melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP)—akan menambah lagi 15 UPS, serta membebasan tanah seluas 8 hektare milik warga sekitar lokasi TPA. Saat ini luas lahan TPA Cipayung hanya 10,6 hektare.

“Untuk meluaskan penampungan sampah di TPA, pada tahun ini lahan milik warga Cipayung akan dibebaskan. Diperlukan sekitar delapan hektare,” ungkap Kepala DKP Depok, Ulis Sumardi, kepada Monde, kemarin.

Dijelaskan Ulis, penambahan lahan seluas 8 hektare tersebut bukan hanya untuk membuang sampah warga Depok atau sampah pasar, tetapi juga sebagai pengolahan sampah dengan penggunaan mesin yang lebih besar dan modern.

Menurut Ulis Sumardi, dengan bertambahnya lahan TPA serta pengelolaan sampah yang lebih baik, diharapkan ke depannya TPA Cipayung akan menjadi TPA yang ramah lingkungan.

“Nantinya sampah yang masuk ke lokasi TPA akan dikelola menggunakan alat yang disebut dry anaerobic digester. Proses pengolahannya diawali dari pemilahan sampah warga dan pasar,” kata Ulis.

Dry anaerobic digestion merupakan sistem pengolahan sampah teknologi modern. Melalui sistem ini nantinya sampah akan diolah terlebih dahulu dengan sistem hidrolisis yang digunakan untuk memisahkan dan mengurangi volume sampah.

Dikatakan Ulis, dengan adanya mesin canggih tersebut, tumpukan sampah yang menggunung di lokasi TPA Cipayung nantinya tak hanya diolah menjadi pupuk kompos yang laku dijual, melainkan bisa pula diolah untuk menghasilkan tenaga listrik.

Sambil menunggu terlaksananya program tersebut, saat ini pihak DKP Depok masih menggunakan sistem sanitary landfill.

Proses pemadatan sampah menggunakan sistem ini tak hanya menghasilkan pembusukan sampah dalam bentuk kompos, melainkan juga mampu mengontrol emisi gas metan, karbondioksida atau gas berbahaya lainnya akibat pemadatan sampah. Sistem ini juga mengeliminir populasi lalat di sekitar TPA, sehingga dapat mencegah penyebaran bibit penyakit.

Dipaparkan Ulis Sumardi, guna merealisasikan TPA Cipayung sebagai lokasi pembuangan sampah akhir yang ramah lingkungan, Pemkot Depok akan menggandeng atau bermitra dengan pihak ke tiga. “Insya Allah terwujud,” demikian Ulis.(m-24)

Atasi Sampah, TPA Cipayung Diperluas:   Dari 11,2 Hektar Menjadi 19,2 Hektar

Sumber: http://www.rintisyanto.com/ 3 Januari 2012

MARGONDA – Volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Cipayung saat ini sudah melebihi kapasitas. Untuk itu, Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok akan memperluas areal TPA dari 11,2 hektar menjadi 19,2 hektar. “Kami rencanakan diperluas menjadi delapan hektar,” terang Kepala DKP Ulis Sumardi kepada Radar Depok, kemarin.

Ulis menegaskan, untuk perluasannya tentu harus ada lahan yang dibebaskan. Saat ini lokasinya belum ditetapkan, namun diperkirakan lokasinya ada di sekitar TPA. “Saat ini belum ada sosialisasi kepada masyarakat karena baru sebatas perencanaan,” terang Ulis.

Menurutnya, pihaknya belum bisa memastikan kapan lahan tersebut dibebaskan. “Bisa tahun ini, bisa juga tahun depan,” jawabnya.

Kalau sudah dibebaskan, ia menjelaskan nantinya lahan tersebut akan digunakan bukan untuk tempat pembuangan sampah. Akan menjadi tempat pengelolaan sampah dengan sistem (DAD). Di mana, tempat itu akan dijadikan pabrik yang bakal memproses sampah menjadi gas metan sebagai sumber listrik, dan digunakan untuk menggerakkan mesin pengelola sampah yang ada di pabrik tersebut. Sedangkan sampah yang telah diproses dalam kondisi telah dicacah akan menjadi pupuk organik. “Teknologi pengelolaan sampah ini kami dapat dari Denmark,” ungkapnya.

Dia menjamin, dengan metode dry anaerobic digestion ini prosesnya akan ramah lingkungan dan tetap mempertahankan eksistensi lingkungan hidup. “Jadi tidak akan mencemari lingkungan yang ada di sekitarnya,” ujarnya.

Untuk itu, misalkan sudah ada muncul polemik di masyarakat, dirinya tidak terpengaruh hal itu. Karena saat ini pihaknya sedang berpikir untuk mengatasi sampah, sehingga perlu lokasi. Kalau warga ingin membantu pemerintah menangani sampah berarti ikut membantu kepentingan umum.

“Mau bagaimana lagi, sampah harus diatasi. Kalau tidak ditangani akan menjadi bencana. Jadi harus ada pengorbanan sedikit dari warga. Untuk itu, kita harus berpikir secara jernih,”

Sampah di jalan sejajar rel menumpuk

Sumber: http://www.monitordepok.co.id/ 03 Januari 2012 

PANMAS, MONDE: Belum difungsikannya jalan sejajar rel, penghubung Jalan Dewi Sartika-Jalan Arief Rahman Hakim (ARH), dimanfaatkan warga dan para pedagang untuk membuang sampah. Akibatnya, selain menumpuk, sampah itu juga berserakan hingga ke badan jalan bahkan menebarkan aroma tak sedap.

Rohman, seorang pejalan kaki yang melintas di lokasi tersebut, mengatakan, tumpukan sampah memang ada setiap pagi hari. Namun, hari ini (kemarin, red), jumlahnya lebih banyak dari hari biasanya karena sudah 2 hari sampah itu tidak diangkut petugas.

“Biasanya setiap hari Senin sampah di pasar atau di pembuangan sementara itu memang menggunung. Terlebih lagi seusai malam tahun baru, karena truk sampah libur dua hari berturu-turut, Sabtu (30/12) dan Minggu (31/12), sampah itu tidak diangkut,” jelas warga Jalan Dewi Sartika ini kepada Monde, kemarin.

Rohman mengatakan, tumpukan sampah di jalan sejajar rel yang menggunung itu menebarkan bau busuk sehingga banyak orang yang melintas menutup hidung.

Saat dikonfirmasi di Balaikota, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok, Ulis Sumardi menjelaskan, jalan sejajar rel, Jalan Dewi Sartika-Jalan ARH, itu memang sudah bagus dan lebar. Namun, terkait pembuangan sampah sementara hingga saat ini masih belum ditemukan solusinya. Karenanya, lanjut Ulis, sampah warga dan pasar masih dibuang di pinggir jalan sejajar rel.

“Hingga saat ini, tempat pembuangan sampah sementara warga dan pasar masih belum dipindahkan, karena kami masih mencari lahan kosong untuk pembuangan sampah sementara. Karena belum ada lahan, sampah masih dibuang di pinggir jalan sejajar rel tidak jauh dari pintu kereta Jl Dewi Sartika, Pancoran Mas,” ujarnya.

Ulis menyebutkan, untuk mengantisipasi pembuangan sampah yang menumpuk, terutama setiap hari Senin, DKP menyiapkan dua truk untuk mengangkut sampah-sampah tersebut.

“Apalagi, dua hari berturut-turut yaitu Sabtu dan Minggu lalu bersamaan dengan tutup tahun. Sampah warga dan pasar yang tidak diangkut selama dua hari pastinya bertambah banyak, sehingga di pembuangan sementara pun makin menumpuk,” ungkanya.(m-24)

Pengelolaan Sampah Kota Depok Belum Maksimal

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 04 Januari 2012 

DEPOK, (PRLM).- Pemerintah Kota Depok dinilai belum maksimal dalam mengelola sampah termasuk di unit pengolahan sampah (UPS). Berdasarkan fakta di lapangan, UPS hanya mampu mengolah 30 persen sampah dari yang telah ditargetkan.

Sekretaris Perkumpulan Depok Hijau Sahroel Polontalo, mengatakan, berdasarkan kajian sebenarnya tempat pembuangan akhir (TPA) Cipayung hanya bisa digunakan sampai 2011. Namun penumpukan sampah terus dilakukan. Sementara pengolahan di UPS hanya mampu mencapai 5-10 m3 sampah per hari. Padahal, sebelumnya pemerintah Kota mentargetkan UPS bisa mengelola sampah sampai 30 m3 per hari. Sementara untuk membuka lahan TPA baru, kata Syahroel, membutuhkan proses yang panjang. Hal itu termasuk untuk mendapatkan persetujuan warga di sekitarnya.

Selain itu, program Gerakan Memilah sampah di RPJMD dengan target 330 rumah tangga/tahun, juga dinilai kurang efektif. “Kalau dengan jumlah itu sampai kapan seluruh Depok bisa memilah rumah tangga. Satu RT saja bisa mencapai 150 kepala keluarga, dan jumlah rumah tangga terus bertambah seiring meningkatnya populasi,” ujarnya di Depok, Selasa (3/1).

Sjahroel menambahkan, upaya pemkot Depok dalam menyosialisasikan program 3R (Reduce, Reused, Recycle) juga belum maksimal. “Tingkat kesadaran masyarakat masih rendah, padahal kalau berhasil maka ini akan mempengaruhi penurunan sampah,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan ((DKP) Kota Depok, Ulis Sumardi mengatakan, setiap harinya hanya 28 persen sampah yang dingkut ke TPA.Jumlah sampah yang dihasilkandi Kota Depok yaitu 4.200 meter3/hari. Namun yang dapat diangkut ke TPA hanya sebanyak 1.200 m3. Sementara 450 m3 lainnya diolah di UPS. “Diharapkan sedikitnya 29 persen sampah yang tersisa, dapat diolah oleh masyarakat sendiri dengan konsep 3 R,” kata dia.

Dia mengatakan saat ini sumber daya manusia untuk mengangkut sampah juga masih terbatas. Berdasarkan data DKP, tercatat 133 tenaga pesapon yang bekerja untuk menjangkau seluruh wilayah Depok. Padahal di beberapa titik tertentu membutuhkan tenaga ekstra seperti pasar dan ruang publik lainnya. Sementara untuk sarna dan prasarana di DKP tercatat 28 unit gerobak sampah, empat unit motor sampah, dan 14 unit truk pengangkut sampah. (A-185/A-88)***

RTH Lembah Gurame dipenuhi sampah

Sumber:  http://www.monitordepok.co.id/4 Januari 2012 

DEPOK JAYA, MONDE: Konsep ruang terbuka hijau (RTH) Lembah Gurame, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, yang sedang digarap Pemerintah Kota (Pemkot) nantinya akan terlihat indah dan nyaman. Namun penataan RTH Lembah Gurame tersebut tidak dibarengi dengan kebersihan sampah yang terlihat masih berserakan di sekitar lokasi.

Hendi, seorang warga Depok Jaya, mengatakan, RTH Lembah Gurame yang sedang dibangun Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok pastinya untuk kepentingan warga. Namun, penataan RTH juga jangan melupakan kebersihan terutama masalah sampah.

“Kalau memang konsepnya pembangunan RTH seharusnya penataan kebersihan sampahnya juga dibenahi. Saat ini, pembangunan RTH Lembah Gurame sedang dibangun tapi sampahnya masih berserakan sehingga merusak pemandangan,” jelasnya kepada Monde, kemarin.

Dia menjelaskan, penataan RTH dengan konsep alam terbuka merupakan fasilitas yang diberikan Pemerintah Kota Depok. Karenanya, untuk penataan suatu wilayah pun diharapkan jangan setengah-setengah, salah satunya sarana pendukung seperti sampah yang ada di dekat pembangunan gedung pun harus menjadi perhatian.

“Kalau memang mau menjadikan konsep RTH , Pemkot Depok juga jangan setengah hati. Kebersihan di lingkungannya juga diperhatikan. Penataan pembangunan ruang terbuka hijau berjalan, tapi sampah di tempat pembuangan sampah sementara masih berserakan sama aja nggak ada artinya,” ungkapnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala DKP Kota Depok Ulis Sumardi, menyebutkan, Lembah Gurame dengan konsep penataan RTH masih melalui proses yang cukup lama. Saat ini, DKP masih terfokus kepada penataan bangunan yang ada di sekitar Lembah Gurame.

“Penataan RTH Lembah Gurame ini masih panjang prosesnya. Saat ini masih tahap pembangunan seperti lapangan futsal dan gedung Amphitheater masih dibuat pondasi.

Selanjutnya, penataan di lingkungan sekitar RTH Lembah Gurame akan dilakukan termasuk pembenahan lingkungan, supaya tidak ada sampah-sampah berserakan yang merusak pemandangan,” ungkapnya.

Ulis menambahkan, Pemkot Depok serius melakukan penataan RTH Lembah Gurame yang tujuannya untuk memberikan kenyamanan kepada warga. “Di RTH Lembah Gurame diutamakan penghijauan, masak sih ada sampah berserakan. Pasti nanti kalau memang pembangunan sudah selesai sampah-sampah di sekitar RTH akan dibersihkan,” tandasnya.(m-24)

Warga Kampung Kresek butuh gerobak sampah

Sumber:http://www.monitordepok.co.id/ 04 Januari 2012 

GROGOL, MONDE: Sejumlah ketua RT/ RW di wilayah Kampung Utan Kresek RW 08 Kelurahan Grogol berharap agar Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok dapat memberikan bantuan gerobak sampah kepada setiap wilayah RT untuk mengatasi masalah sampah di lokasi yang tengah terjangkit penyakit Chikungunya ini.

Disinyalir, banyaknya sampah memicu kontribusi terhadap munculnya sejumlah wabah penyakit di wilayah itu. Menurut Udin, selaku Ketua RT 03/08 Grogol, permasalahan sampah di wilayahnya merupakan permasalahan pokok.

Ini juga dipicu pertumbuhan penduduk yang terus meningkat sehingga menyebabkan peningkatan produksi sampah. Apalagi wilayah RW setempat belum memiliki gerobak pengangkut sampah.

“Jarak antara wilayah kami dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) cukup jauh sementara petugas kebersihan yang ada hanya satu orang dan tidak memiliki alat angkut yang memadai sehingga penanganan sampah rumah tangga menjadi lamban,” ungkap Udin.

Dijelaskan Udin, produksi sampah di wilayahnya setiap hari bisa mencapai lebih dari satu kubik. Ini berarti, secara keseluruhan jumlah produksi sampah di kampung itu mencapai lebih dari empat kubik setiap harinya. Namun, keterbatasan alat pengangkut membuat sebagian sampah menumpuk di sejumlah titik. Inilah yang ditengarai menjadi salah satu penyebab munculnya wabah Chikungunya yang sedang marak di wilayah ini.

Pernyataan senada juga dilontarkan oleh Sanip Jabun Ketua RW 08. Menurut dia, sesuai jumlah RT. di wilayahnya dibutuhkan sedikitnya enam gerobak sampah guna menanggulangi masalah penumpukan sampah rumah tangga di kampung tersebut. (ast)

Kebijakan soal Sampah Belum Sentuh Substansi

Pemkot Depok harus mengeluarkan kebijakan ketat bila ingin mengatasi masalah sampah.

Iskandar Hadji
Sumber: http://www.jurnas.com/  5 Januari 2011 

MASALAH persampahan di Kota Depok tak kunjung selesai. Penambahan 15 Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang dilakukan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok dinilai bukan solusi, melainkan hanya sarana menghabiskan anggaran.

Pemerintah Kota Depok dinilai belum menyentuh dan menemukan substansi penanggulangan sampah secara komprehensif. Tidak cukup sekadar mengajak para pembuang sampah peduli lingkungan.

“Kalau kebijakan Pemkot Depok hanya menambah sarana fisik UPS dan membeli puluhan kendaraan pengangkut sampah, tak akan menyelesaikan masalah. Pemkot harus memiliki paradigma baru dalam menyelesaikan masalah sampah,” ujar pengamat lingkungan hidup Universitas Indonesia (UI), Tarsoen Waryono kepada Jurnal Nasional, akhir pekan lalu.

Apalagi, kata Tarsoen, beberapa media massa kerap mengutip ucapan Kepala DKP Kota Depok Ulis Sumardi yang mengatakan bahwa tenggat waktu penggunaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung tinggal satu tahun lagi. Alasan, volume sampah yang dihasilkan pembuang sampah terus meningkat.

“Berhektare-hektare pun pemerintah melebarkan TPA Cipayung, tetap tidak menyelesaikan masalah. Pelebaran hanya penyelesaian masalah sementara. Dalam waktu 20 tahun, masalah ini kembali mencuat,” katanya.

Tarsoen mengingatkan, 70 persen sampah yang dihasilkan para pembuang sampah merupakan sampah plastik, baik itu sampah rumah tangga maupun sampah pasar. Sampah plastik tidak mudah diurai oleh mikroba. Sedangkan sampah organik mudah diurai.

“Bila kedua jenis sampah ini masuk ke TPA dan UPS, maka yang terjadi adalah penumpukan volume sampah. Dari hari ke hari sampah semakin menggunung. Sampah plastik tidak akan bisa terurai sampai 100 tahun, sedangkan sampah organik satu setengah bulan sudah berubah,” katanya.

Menurutnya, Pemkot Depok harus mengeluarkan kebijakan ketat bila ingin mengatasi masalah sampah. Para pembuang sampah diwajibkan memilah sampah organik dan anorganik mulai dari rumah. “Sampah organik hanya diperbolehkan masuk ke UPS dan TPA. Sementara itu sampah plastik alias anorganik masuk ke penampungan atau ke pabrik pengolahan plastik,” ucap Tarsoen.

Tarsoen meminta DKP dan Pemkot Depok hendaknya tidak bosan menyosialisasikan soal pemilahan sampah organik dan anorganik kepada masyarakat. Sosialisasi yang dilakukan rutin mampu mengubah paradigma masyarakat. Bila pemerintah kota kekurangan tenaga, dapat menggunakan tenaga mahasiswa.

“Mahasiswa dapat dimanfaatkan sebagai tenaga sosialisasi. Perlu diingat, di Depok ada tujuh sampai delapan kampus. Bila mereka dilibatkan, maka dalam tempo tak terlalu lama target pemerintah dapat tercapai,” ucapnya.

Bahkan, bila perlu, Pemkot Depok bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok membuat peraturan daerah (Perda) yang secara khusus mengatur persampahan. Salah satu poinnya berisi: masyarakat bertanggung jawab memilah sampah organik dan anorganik sebelum dibuang ke tempat sampah. Bila tidak dilakukan, maka akan dikenakan sanksi. “UU Persampahan sudah ada. Tinggal diubah saja sedikit,” kata Tarseon.

Menurut Kepala DKP Kota Depok, Ulis Sumardi kepada Jurnal Nasional, tahun 2011 sampah yang dihasilkan masyarakat mencapai 1,55 juta meter kubik (m3). Sedangkan tahun sebelumnya mencapai 1,45 juta m3. Satu penduduk rata-rata menghasilkan 2,5 liter sampah setiap hari.

Sementara jumlah penduduk Kota Depok tahun 2011 sebanyak 1,7 juta orang. Dengan demikian, setiap hari penduduk Kota Depok menghasilkan 4.250 m3 sampah. “Secara keseluruhan jumlah sampah yang dihasilkan Kota Depok tahun 2011 bertambah 91.250 m3 dibandingkan tahun sebelumnya. (Bagaimana nanti, tahun ini, 2012),” katanya.

Padahal, ujar Ulis, daya tampung TPA Cipayung sudah melebihi kapasitas. Saat ini saja hanya 40 persen dari jumlah sampah yang bisa diangkut ke TPA. Sisanya diupayakan diolah di UPS. Bahkan TPA Cipayung diprediksi sudah tidak bisa menampung sampah lagi tahun 2013 bila pengolahannya masih seperti saat ini.

“Supaya mengurangi beban TPA, pemerintah berencana membangun pabrik sampah atau Eco-park. Pabrik itu dibangun di dekat TPA Cipayung seluas 8-10 hektare dan akan menghasilkan gas metan guna menghasilkan listrik. Rencana, pembebasan lahan pabrik tersebut akan dilakukan tahun ini,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Kepala Bidang (Kabid) Kebersihan DKP, Rahmat Hidayat. Menurutnya, tahun 2012 DKP akan menggalakkan sosialisasi pemilahan sampah organik dan anorganik kepada seluruh lapisan masyarakat. Tujuan, agar masyarakat memahami mana sampah yang dapat diolah tanah dan mana yang tidak. “Kami akan fokus pada mengubah budaya masyarakat memilah sampah terlebih dahulu, tanpa melupakan pembangunan fisik,” katanya kepada Jurnal Nasional. n

Digelontor Dana 40 M Lebih, Pengelolaan Sampah Mlempem

Sumber: http://www.suara-publik.com/ 8 Januari 2012

DEPOK (suara-publik.com) – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Depok yang akan membangun ratusan Unit Pengolahan Sampah (UPS) sebagai salah satu upaya untuk dapat menangani permasalahan sampah di Kota sejuta Belimbing ini nampaknya bakal menghambur-hamburkan lebih banyak uang rakyat saja.

Bagaimana tidak. Dari target RPJMD Kota Depok, hingga tahun 2016 mendatang, rencananya Pemkot melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) akan membangun 100 unit hanggar UPS.

Jika sampai tahun 2011 lalu Pemkot Depok telah membangun 44 unit hanggar UPS, artinya hingga tahun 2016 mendatang, target yang harus dipenuhi tinggal 56 unit lagi.

“Saat ini, UPS yang sudah terbangun ada 44 unit. Jadi tinggal 56 unit lagi yang akan di bangun sesuai target RPJMD hingga tahun 2016 mendatang”, ungkap Kepala Bidang Pelayanan Kebersihan di DKP, Rahmat Hidayat.

Dari data rekapitulasi belanja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) APBD Kota Depok tahun 2011, diketahui bahwa untuk peningkatan manajemen pengelolaan persampahan, seperti pembangunan hanggar UPS, Pelaksanaan Pengolahan Sampah, Optimalisasi fungsi UPS, gerakan depok memilah, pengadaan mesin pengolah sampah dan penyusunan DED Pembangunan hanggar UPS, dana yang dialokasikan mencapai Rp 23,5 Miliar.

Belum lagi dana yang dialokasikan untuk peningkatan manajemen pengelolaan sampah di TPA yang jumlahnya mencapai Rp 16,8 Miliar.

Dana untuk pelayanan pengangkutan sampah pun tidak bisa dibilang kecil. Mendapat alokasi dana sebesar Rp 10,7 Miliar, pelayanan pengangkutan sampah di Kota Depok tahun 2011 ternyata belum sesuai harapan.

Seperti telah diberitakan sebelummya, perkiraan volume sampah yang dihasilkan di Kota Depok dalam setiap harinya mencapai 4.250 m kubik.

Dari perkiraan volume tersebut, sampah yang terangkut ke TPA volumenya hanya 1.200 m kubik per hari. Sementara sampah yang di angkut ke UPS hanya 600 m kubik saja.

Jika dilihat dari angka diatas, artinya dalam satu hari, ada sekitar 2.450 m kubik sampah yang tidak tertangani.

“Sepanjang tahun 2011, sampah yang tertangani volumenya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya (2010, red) karena jumlah armadanya juga tetap, yakni 57 armada truk”, ungkap Rahmat menjelaskan. (ferry sinaga)

6 responses to “Berita 2012

  1. Kepada Yth;
    • Bp. Nurmahmudi / Walikota Depok
    • Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok

    Assalammuailakum Wr.Wb

    Dengan hormat,
    Mohon maaf sebelumnya kalau kami langsung potong kompas tidak melalui Kelurahan kami dikarenakan sudah mendesak, bersamaan dengan program ” Depok Bebas Sampah” dengan ini kami pengurus RT/ RW.17, Kelurahan Rangkepan Jaya – Depok memohon kepada Bp. Nurmahmudi / Walikota Depok dan khususnya ” Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok” untuk membantu mengadakan gerobak sampah kami yang sudah lama kurang lebih 9 tahun masa pakai, dan sudah beberapa kali rusak maka beberapa kali pula kami patungan untuk memperbaikinya sedangkan kami tahu mohon maaf sekarang masyarakat masih diliputi masalah ekonomi yang makin hari makin tidak terjangkau lagi dengan kenaikan harga barang diluar yang tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai, untuk dapat memberikan bantuan hibah berupa gerobak sampah kepada setiap wilayah RW.17 Rangkepan Jaya -Depok.
    Demikian permohonan ini, atas bantuan dan perhatian serta tindak lanjut dari pengajuan ini kami ucapkan banyak terimakasih dan dengan hormat kami menunggu jawabanya.

    Akhir kata mohon maaf bila ada kesalahan ucapan, billahi taufik walhidayah,
    Wassalammualaikum Wr,Wb.

    Fajar/Ketua RT.03/RW.17
    Kelurahan Rangkepan-Jaya Depok

  2. Depok, 24 Februari 2012

    Kepada Yth;
    • Bp. Nurmahmudi / Walikota Depok
    • Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok
    • Dinas Terkait

    Assalammuailakum Wr.Wb

    Dengan hormat,

    Masalah persampahan selalu menjadi sorotan di semua kota termpat termasuk di kota Depok. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan terutama bagi warga depok sendiri khususnya. Berdasarkan hasil pengamatan kami, sepertinya pemkot DEPOK melalui DKP tidak mampu mengatasi masalah persampahan di sejumlah tempat karena beberapa faktor, antara lain kurangnya armada pengangkutan dan manajemen pengelolaan pengangkutan yang tidak profesional. Ditambah lagi dengan oknum pejabat terkait yang bermental korup.

    Atas dasar hal tersebut diatas, kami kira pihak Pemkot DEPOK perlu melibatkan Pihak Swasta untuk membantu masalah pengangkutan dan pengelolaan sampah dalam rangka program kota Depok menjadi kota yang bersih dan nyaman. Go Green.

    Terdapat beberapa lingkungan perumahan di kota Depok yang warganya lebih nyaman menggunakan jasa swasta dikarenakan pihak swasta berkomitmen memberikan jadwal dalam pengangkutan sampah, 2 atau 3 x seminggu. Sedangkan pihak DKP sendiri tidak jelas dalam memberikan jadwal pengangkutan sampah. ujung-ujungnya terjadi penumpukan sampah dimana-mana terutama pada musim lebaran. Warga banyak yang mengeluhkan kinerja DKP sendiri.

    Demikian. Semoga menjadi pertimbangan.

    Salam,

    A.D. Sarwanto

  3. ade septiyanah

    assalamualaikum wr.wb.
    yth.bapak walikota depok
    dinas kebersihan kota depok

    dengan hormat,
    saya sorang waga kecamatan Tapos depok,saat ini lingkungan saya jauh dari kata bersih.saya berncana mendirikan Bank sampah untuk lingkungan tempat tinggal saya,sudah beberapa bulan ini saya mempelajari bagaimana mengolah sampah baik lwt media cetak atau media lainnya sayang saya masih belum begitu mengerti.karena itu saya mohon agar dikenalkan dengan tenaga trampil yang mampu membatu saya menangani masalah tersebut.terimakasih

    • Surya Nila A. Hamid

      saudara ade septiyanah,…salah satu misi dari lsm kami (wanita peduli lingkungan, wpl) adalah pemberdayaan masyarakat dalam menyelsaikan masalah lingkungan dengan output pendampingan bank sampah, bila tertarik dengan bank sampah, dapat menghubungi email kami: pedulilingkungan.wpl@gmail.com

  4. KAMI MEMPUNYAI SACHET BEKAS MAKANAN DARI BAHAN ALUMUNIUM FOIL BAGI YANG BERMINAT DAPAT MENGHUBUNGI 085867218478

  5. KAMI MEMPUNYAI SACHET BEKAS KEMASAN MAKANAN DARI BAHAN ALUMUNIUM FOIL BERBAGAI UKURAN DAN WARNA COCOK UNTUK BAHAN KERAJINAN DAUR ULANG BAGI YG BERMINAT DAPAT MENGHUBUNGI 083867218478

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s