Berita 2013

Februari 2013

62 Persen Sampah di Depok Tak Dapat Diangkut

Sumber:  http://www.republika.co.id/ 25 Februari 2013
Republika/Desy Suciati Saputri 

tumpukan-sampah-liar-sepanjang-hampir-25-meter-di-jalan-_130214113936-445

Tumpukan sampah liar sepanjang hampir 25 meter di Jalan Raya Citayam, Depok

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK — Sebanyak 62 persen sampah di Kota Depok tidak dapat diangkut oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok.

Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok, Rahmat Hidayat mengungkapkan, “Sampah di Depok terangkut 28 persen, diolah di UPS 10 persen, berarti 38 persen cakupan layanannya. Berarti kan ada 62 persen nggak kemana mana,” katanya, Senin (25/2).

Menurutnya, Kota Depok hanya memiliki 67 unit truk pengangkut sampah yang dapat mengangkut 1200 meter kubik sampah. Artinya, sekitar 28 persen saja yang terangkut dari 4500 meter kubik produksi sampah warga Depok.

Selebihnya, sampah-sampah tersebut hanya diangkut menggunakan gerobak dan diolah di Unit Pengolahan Sampah (UPS). “Makanya banyak sampah yang masih meluber di jalan. Harus kita akuin itu, kapasitas pelayanan kita kurang,” katanya.

Sementara itu, jumlah UPS yang beroperasi di Depok sekitar 21 unit dari 45 unit yang ada. Hal ini menurutnya disebabkan lantaran sejumlah UPS tersebut masih dalam tahap persiapan sarana.

Ia menambahkan, selain UPS, Depok juga telah memiliki sekitar 160 Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Rahmat juga mengaku tidak maksimalnya pelayanan pengangkutan sampah lantaran terbatasnya kapasitas TPA Cipayung.

“Ada keterbatasan TPA. Kalau semua kita angkut ke TPA sama saja berarti ingin mempercepat umur TPA. Frame kita itu harusnya mengurangi jumlah sampah ke TPA, bukan menambah,” jelasnya.

Untuk mengurangi jumlah sampah yang ada, saat ini pihaknya mengaku sedang fokus dalam program pemilahan sampah di rumah tangga dengan membangun bank sampah dan melaksanakan program Depok memilah.

Maret 2013

Sampah Kota Depok Mengancam Kesehatan Warga

Sumber: http://m.tubasmedia.com/ 17 Maret 2013

DEPOK, (TubasMedia.Com) – Sampah ternyata masih menjadi salah satu pekerjaan rumah yang hingga kini tidak kunjung usai bagi Kota Depok Jawa Barat. Sampah Kota Depok saatnya mengancam kesehatan warga. Selain kapasitas daya tampung sampah yang ada pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung hanya seluas 11,2 hektar, belakangan juga diketahui bahwa sebanyak 62 persen sampah di Depok belum bisa diangkut oleh Dinas Kebersihan Pertamanan (DKP) Kota Depok.

Sejumlah wilayah di Depok masih terlihat adanya gundukan dan tumpahan sampah yang berserakan. Seguhan kurang sedap dipandang mata, bahkan terkesan menjijikan itu cenderung terlihat ada pada sejumlah titik bahu jalan, mau pun aliran sungai, yang antara lain terdapat pada aliran sungai yang berada di pinggir jalan raya Citayem-Depok, yang letaknya tidak jauh dari lokasi stasiun KA Citayem di Jalan Sadewa wilayah Kecamatan Sukmajaya Depok, pinggir jalan raya Jatijajar dan pinggir jalan raya Dongkal Sukatani Kecamatan Tapos Depok.

Fenomena itu ternyata mengundang reaksi dari masyarakat pengguna jalan. Dikatakan Tom, salah seorang warga Sukmajaya belum lama ini kepada tubasmedia.com, tumpukan dan ceceran sampah yang terdapat dipinggir jalan raya Sukatani itu, pastinya sangat menggangu keindahan, kenyamanan para pengguna jalan saat melintas, bahkan kesehatan warga sekitar sangat terganggu.

Menanggapi persoalan itu, Ketua DPRD Kota Depok Rintis Yanto menanggapi Tubas mengatakan pemerintah Kota Depok melalui DKP telah gagal menanggani sampah. Menurutnya, program optimalisasi Unit Pengelolaan Sampah (UPS) dianggap gagal. Seharusnya, Kota Depok miliki 100 UPS untuk memilah sampah sebanyak 3000 M3 per-hari.

Sedang sejauh ini dari jumlah 22 unit UPS yang ada, hanya 18 UPS saja yang efektif beroperasi. Terlebih, dari jumlah itu pun masih belum mampu beroperasi sesuai target 3000 M3 per-hari. “Dari 18 unit UPS itu hasil pengolahan sampahnya juga tidak lebih dari separuh dari yang ditargetkan yaitu sebesar 3 ribu meter kubik perharinya,” kata Rintis.

Kesempatan lain, Kepala Bidang Kebersihan DKP Kota Depok Rahmat Hidayat mengatakan sejauh ini pengolahan sampah di UPS hanya dapat dilakukan sebanyak 10 persen dari 4500 meter kubik jumlah produksi sampah masyarakat Depok. “Sampah di Depok yang terangkut sebanyak 28 persen, atau 1200 meter kubik sampah. Sebanyak 10 persen diolah di UPS. Jadi jumlah cakupan layanan sebanyak 38 persen. Sedang sebanyak 62 persen sisanya ngak kemana-mana.”, ujar Rahmat. (eko)

April 2013

Awas, buang sampah di Depok ditangkap

Marieska Harya Virdhani
Sumber: http://metro.sindonews.com/ 21 April 2013 −  

Ilustrasi (Ist)

Sindonews.com – Jumlah volume sampah di Depok per hari mencapai 4.000 meter kubik. Sementara kapasitas Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) di Cipayung Depok sudah nyaris melebihi kapasitas (overload).

Camat Cinere, Depok, Widyati Riyandani bertekad menangkap para pembuangan sampah sembarangan. Karena itu ia menginstruksikan kepada masyarakat di Kecamatan Cinere untuk memantau dan menangkap orang yang membuang sampah di wilayah Kecamatan Cinere.

“Kita akan koordinasi dengan Kapolsek dan Danramil Limo titik mana yang menjadi sasaran pembuang sampah sembarangan. Kita masih menunggu waktu yang tepat,” katanya di Kantor Kecamatan Cinere, Minggu (21/04/2013).

Widyati menjelaskan, saat ini pihaknya telah melakukan antisipasi dengan melakukan pengawasan di sejumlah titik yang menjadi sasaran tempat pembuangan sampah. Titik-titik yang menjadi tempat pembuang sampah liar tersebut diantaranya di jalan baru Cinere-Gandu, depan AKIP (tanah kosong), di RW 01 kelurahan Gandul, Kali Pesanggrahan, dan di jembatan Jalan Raya Bukit Cinere.

“Kebanyakan pembuang sampah sembarangan beraksi pada malam hari, kita pernah menangkap di wilayah Pangkalan Jati Baru, ternyata pembuang sampahnya dari wilayah lain di luar Depok. Namun demikian tetap kita proses ke kepolisian,” terangnya.

Widyati berjanji akan mengoptimalkan program ini setelah menyelesaikan perayaan HUT Depok ke-14. Rencananya akan dibuat tim khusus untuk memantau dan menangkap pembuang sampah sembarangan.

“Kita akan libatkan seluruh unsur kelurahan, trantib dan masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail telah memerintahkan para camat dan lurah untuk menangkap para pembuang sampah sembarangan. Hal itu dilakukan agar tercipta kebersihan di setiap lingkungan di wilayah Kota Depok. Dengan lingkungan bersih maka masyarakat pun akan sehat.

“Diharapkan juga masyarakat melakukan pemilahan sampah sehingga beban UPS dapat dikurangi,” tuturnya. (rsa)

Agustus 2013

Mahasiswa Bogor KKN Soal Sampah di Depok

Sumber: http://metro.sindonews.com/ 26 Agustus 2013 
Marieska Harya Virdhani – Okezone

DEPOK – Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail menerima mahasiswa KKN Tematik Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor di aula lantai 1 Balai Kota Depok, hari ini. Kedatangan mahasiswa yang dipimpin langsung oleh Rektor UIKA Ending Bahruddin adalah untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pemerintah Kota Depok.

“Mahasiswa kami akan melakukan KKN di Pemkot Depok selama 1 bulan dan akan ditempatkan di Kecamatan Bojongsari. KKN kali ini merupakan tahun ke-2, yang temanya masih sama dengan periode sebelumnya pada tahun lalu, yaitu tentang optimalisasi penanganan masalah sampah,” ujar Bahruddin di Balai Kota Depok, Senin (26/8/2013).

Nantinya, kata Bahruddin, 83 mahasiswa yang berasal dari dua fakultas ini akan disebar di enam Kelurahan dan didampingi dengan enam pembimbing selama KKN. Di sana mereka akan disebar lagi ke-3 RW di setiap kelurahannya sehingga bisa berinteraksi langsung dengan warga.

“Terima kasih kepada Pemkot Depok yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk bisa melakukan KKN di Kota Depok,” tuturnya.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail memerintahkan Camat Bojongsari dan para Lurahnya untuk menjadi partner para pembimbing mahasiswa selama satu bulan. Nur Mahmudi mengimbau kepada mahasiswa untuk mengenali Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kota Depok sehingga bisa lebih mengenal Kota Depok sebelum melakukan KKN.

“Kami juga mempunyai dua gerakan besar di Kota Depok, yaitu one day no rice dan one day no car. Kami berharap, para mahasiswa tidak hanya mengurusi masalah sampah saja, tetapi juga membangun karakter dan pola hidup bersih masyarakat sehingga memiliki kesadaran, serta terbentuknya bank sampah di setiap RW,” ungkap Nur Mahmudi.

Ia berharap dengan kehadiran mahasiswa ini dapat tercipta komunitas yang berperilaku pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dan mahasiswa mampu mendidik dan menunjukkan melalui perilakunya untuk tidak menjadi orang-orang yang memiliki perilaku konsumtif.

“Saya juga meminta para mahasiswa untuk terus memotivasi dan menggali potensi 3.000 anak yang bersekolah secara gratis di sekolah negeri di Kota Depok, sehingga nantinya mereka bisa menjadi pejuang dan pahlawan pendidikan,” tutupnya. (ade)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s