5 Kriteria TPA

Rencana Induk Persampahan Kota Depok

5 . KRITERIA PERENCANAAN DAN EVALUASI DAMPAK TPA

5.1. Pengertian TPA

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam pengelolaan sejak mulai timbul di sumber, pengumpulan, pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan. TPA merupakan tempat dimana sampah diisolasi secara aman agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya. Karenanya diperlukan penyediaan fasilitas dan perlakuan yang benar agar keamanan tersebut dapat dicapai dengan baik.

Selama ini masih banyak persepsi keliru tentang TPA yang sering dianggap hanya sebagai  tempat pembuangan sampah. Hal ini menyebabkan banyak pemerintah daerah merasa sayang untuk mengalokasikan pendanaan bagi penyediaan fasilitas di TPA yang dirasakan kurang prioritas dibandingkan dengan penggunaan sektor lainnya. Di TPA, sampah masih mengalami proses penguraian secara alamiah dengan jangka waktu panjang. Beberapa jenis sampah dapat terurai secara cepat, sedang yang lainnya lebih lambat; bahkan beberapa jenis sampah tidak berubah sampai puluhan tahun; misalnya pastik. Hal ini memberikan gambaran bahwa setelah TPA selesai digunakanpun masih ada proses yang berlangsung dan menghasilkan beberapa zat yang dapat mengganggu lingkungan. Karenanya masih diperlukan pengawasan terhadap TPA yang telah ditutup.

5.2. Metode Pembuangan Sampah

Pembuangan sampah mengenal beberpa metode dalam pelaksanaannya yaitu :

5.2.1 Open Dumping

Open Dumping atau pembuangan terbuka merupakan cara pembuangan sederhana dimana sampah hanya dihamparkan pada suatu lokasi; dibiarkan terbuka tanpa pengaman dan ditinggalkan setelah lokasi tersebut penuh. Masih ada Pemda yang menerapkan sistem seperti ini karena alasan keterbatasan sumber daya (manusia, dana, dll)

Cara ini tidak direkomendasikan lagi mengingat banyaknya potensi pencemaran ligkungan yang ditimbulkannya seperti :

  1. Perkembangan vektr penyakit seperti lalat, tikus, dll
  2. Polusi udara oleh bau dan gas yang dihasilkan.
  3. Polusi air akibat lindi (cairan sampah) yang timbul.
  4. Estetika lingkungan yang buruk karena pemandangan yang kotor

5.2.2 Controll landfill

Metode ini merupakan peningkatan dari open dumping dimana secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah untuk mengurangi potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan. Dalam operasionalnya juga dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA.

Di Indonesia, metode control landfill dianjurkan untuk ditetapkan di kota sedang dan kota kecil. Untuk dapat melaksanakan metode ini diperlukan penyediaan beberapa fasilitas diantaranya :

  1. Saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan
  2. Saluran pengumpul lindi dan kolam penampungan
  3. Pos pengendalian operasional
  4. Fasilitas pengendalian gas metan
  5. Alat berat

5.2.3 Sanitary landfill

Metode ini merupakan metode standar yang dipakai secara internasional dimana penutupan sampah dilakukan setiap hari sehingga potensi gangguan yang timbul dapat diminimalkan. Namun demikian diperlukan penyediaan prasarana dan sarana yang cukup mahal bagi penerapan metode ini sehingga sampai saat ini baru dianjurkan untuk kota – kota besar dan metropolitan.

5.3. Persyaratan Lokasi TPA

Mengingat besarnya potensi dalam menimbulkan gangguan terhadap lingkungan maka pemilihan lokasi TPA harus dilakukan dengan seksama dan hati-hati. Hal ini dapat ditunjukkan dengan sangat rincinya persyaratan lokasi TPA seperti tercantum dalam SNI dan UU RI No.18 Tahun 2008, tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah da; yang diantaranya dalam kriteria regional
dicantumakan:

  1. Bukan daerah rawan geologi (daerah patahan, daerah rawan longsor, rawan gempa, dll)
  2. Bukan daerah rawan hidrogeologis yaitu daerah dengan kedalaman air tanah kurang 3 meter, jenis tanah mudah meresapkan air, dekat dengan sumber air (dalam hal tidak terpenuhi harus dilakukan masukkan teknologi)
  3. Bukan daerah rawan topografis (kemiringan lahan lebih dari 20 %)
  4. Bukan daerah rawan terhadap kegiatan penerbangan di bandara (jarak minimal 1,5 – 3 meter)
  5. Bukan daerah/kawasan yang dilindungi.

5.4. Jenis dan Fungsi Fasilitas TPA

Untuk dapat dioperasikan dengan baik maka TPA perlu dilengkapi dengan rasarana dan sarana yang meliputi:

5.4.1 Prasarana Jalan

A. Jalan Masuk/Jalan Penghubung

Jalan masuk atau jalan penghubung adalah jalan yang menghubungkan lokasi TPA dengan jaringan jalan kota (jalan utama). Prasarana dasar ini sangat menentukan keberhasilan pengoperasian TPA. Semakin baik kondisi jalan ke TPA akan semakin lancar kegiatan pengangkutan sehingga efisiensi keduanya menjadi tinggi.

Konstruksi jalan TPA cukup beragam disesuaikan dengan kondisi setempat sehingga dikenel jalan TPA dengan konstruksi :

  • Hotmix
  • Beton
  • Aspal
  • Perkerasan sirtu
  • Kayu

Dalam hal ini TPA perlu dilengkapi dengan :

  • Jalan masuk/akses ; yang menghubungkan TPA dengan jalan umum yang telah tersedia.
  • Jalan penghubung; yang menghubungkan antara satu bagian dengan bagian lain dalam wilayah TPA.
  • Jalan oprasi/kerja; yang diperlukan oleh kendaraan pengangkut menuju titik pembongkaran sampah.
  • Pada TPA dengan luas dan kapasitas pembuangan yang terbatas biasanya jalan penghubung dapat juga berfungsi sekaligus sebagai jalan kerja ( operasi ).

Adapun kriteria jalan masuk ke lokasi TPA adalah sebagai berikut :

  • Merupakan jalan 2 arah
  • Kecepatan rencana kendaraan yang melintasi maksimum 30 km/jam.
  • Lebar perkerasan jalan minimum 8 m dan bahu jalan minimum 2 m (minimum ROW 12 m)
  • Kemiringan melintang 2%
  • Kemiringan memanjang + 1 o/oo (datar) dan elevasi jalan diatas HHWL.
  • Konstruksi tidak permanent dengan tekanan gendar rencana maksimum 8 ton. Mengingat kondisi pondasi dasar jalan masih mengalami penurunan (settlement), disarankan memakai konstruksi paving sehingga memudahkan dalam perbaikan badan jalan. Jalan dapat dirubah menjadi permanent apabila daya dukung tanah sudah stabil.

B. Jalan Kerja

Jalan kerja merupakan jalan operasioanal yang berfungsi sebagai lintasan kendaraan angkutan truk sampah untuk dapat sedekat mungkin dengan lokasi penimbunan sampah.

Kriteria jalan kerja untuk lokasi TPA adalah sebagai berikut :

  • Merupakan jalan 2 arah dengan sistem cul de sac.
  • Lebar badan jalan 4 m dan lebar bahu jalan minimum 1 m.
  • Pada tempat-tempat tertentu bahu jalan diperlebar untuk dimanfaatkan sebagai lokasi penurunan sampah (tipping area).
  • Kemiringan melintang 2%
  • Kemiringan memanjang + 10/00 (datar) dan elevansi jalan diatas HHWL.
  • Kecepatan truk rencana 20 km/jam.
  • Konstruksi tidak permanent dengan tekanan gandar rencana maksimum 8 ton. Mengingat kondisi pondasi dasar jalan yang masih mengalami penurunan (settlement), disarankan memakai konstruksi paving sehingga memudahkan dalam perbaikan badan jalan. Jalan dapat dirubah menjadi permanent apabila daya dukung tanah sudah stabil.

5.4.2 Prasarana Drainase

Drainase di TPA berfungsi untuk Mengendalikan limpasan air hujan dengan tujuan untuk memperkecil aliran yang masuk ke timbunan sampah.Seperti diketahui,air hujan merupakan faktor utama terhadap debit lindi yang dihasilkan. Semakin kecil rembesan air hujan yang masuk ke timbunan sampah aakn semakin kecil pula debit lindi yang dihasilkan yang pada gilirannya akan memperkecil kebutuhan unit pengolahannya. Secara teknik drainase TPA dimaksudkan untuk menahan aliran limpasan aliran air hujan dari luar TPA agar tidak masuk ke dalam area timbunan sampah. Drainase penahan ini umumnya dibangun disekeliling blok atau zona penimbunan. Selain itu, untuk lahan yang telah ditutup tanah, drainase TPA juga dapat berfungsi sebagai penangkap aliran limpasan air hujan yang jatuh diatas timbunan sampah tarsebut. Untuk itu permukan tanah penutup harus dijaga kemiringannya mengarah pada saluran drainase.

Kriteria sistem drainase adalah sebagai berikut :

A. Drainase Jalan

Berada di sisi jalan sepanjang jalan penghubung yang berfungsi untuk mengalirkan limpasan air dari badan jalan dengan kriteria sebagai berikut :

  • Merupakan saluran semi permanent atau permanent.
  • Diberikan konstruksi penahan lonsor.
  • Kemiringan saluran + 0,5%

B. Drainase Lahan TPA

Saluran drainase ini berfungsi agar limpasan air permukaan , air tanah dan aliran air tanah mengalir kedalam bangunan pengolahan leachate untuk dioalah terlebih dahulu sebelum mengalir ke badan air penerima.

Adapun kriteria drainase lahan adalah sebagai berikut :

  • Merupakan saluran semi permanent atau permanent.
  • Diberi konstruksi penahan longsor.
  • Dinding saluran bersifat kedap air sehingga tidak terjadi infiltrasi ke arah samping.
  • Periode ulang hujan didesain untuk 5 tahun.

5.4.3 Fasilitas Penerimaan

Fasilitas penerimaan dimaksudkan sebagai tempat penerimaan sampah yang datang, pencatatan data dan pengaturan kedatangan truk sampah. Pada umumnya fasilitas ini dibangun berupa pos pengendali di pintu masuk TPA. Pada TPA besar dimana kasitas pembuangan telah melampaui 50 ton / hari maka dianjurkan pengunana jembatan timbangan.untuk efisiensi dan ketepatan pendapatan. Sementara TPA kecil bahkan dapat memanfaatkan pos fasilitas tersebut sekaligus sebagai kantor TPA sederhana dimana kegiatan administrasi ringan dapat dijalankan.

5.4.4 Lapisan Kedap Air

Lapisan kedap air berfungsi untuk mencegah rembesan air lindi yang terbentuk di dasar TPA ke dalam lapisan tanah dibawahnya. Untuk lapisan ini harus dibentuk diseluruh permukaan dalam TPA baik dasr masupun dinding.

Bila tersedia ditempat, tanah lempung setebal ± 50 cm merupakan alternatif yang baik sebagai lapisan kedap air. Namun bila tidak dimungkinkan, dapat diganti dengan lapisan sintetis lainnya dengan konsekwensi biaya yang relatif tinggi.

5.4.5 Lapisan Tanah Penutup

Idealnya tanah untuk penutup timbunan sampah harus memenuhi syarat sebagai
berikut :

  1. Tanah penutup harian tebal = 15 cm padat dengan exposure time antara 0 – 7 hari.
  2. Tanah penutup antara tebal = 30 cm padat dengan exposure time antara 7 – 365 hari.
  3. Tanah penutup akhir tebal = 50 cm dengan exposure time lebih dari 365 hari.

5.4.6 Fasilitas Penanganan Gas

Gas yang terbentuk di TPA umumnya berupa gas karbon dioksida dan metan dngan komposisi hampir sama; disamping gas-gas lain yang sangat sedikit jumlahnya. Kedua gas teresbut memiliki potensi besar dalam proses pemanasan global terutama gas metan; karenanya perlu dilakukan pengendalian agar gas tersebut tidak dibiarkan lepas bebas ke tamosfer. Untuk itu perlu dipasang pipa ventilasi agar gas dapat keluar dari timbunan sampah pada titik-titik tertentu. Untuk ini perlu diperhatikan kualitas   dan kondisi tanah penutup TPA. Tanah penutup yang porous atau banyak memiliki rekahan akan menyebabkan gas lebih mudah lepas ke udara bebas. Pengolahan gas metan dengan cara pembakaran sederhana dapat menurunkan potensi dalam pemanasan global.

Untuk pengamanan lingkungan diperlukan usaha pengendalian gas, berupa : Pengamanan selama pengoperasian berupa saluran ventilasi. Saluran ventilasi berupa pipa PVC diameter 10 cm yang dilubang-lubangi pada dinding-dinding bukit lapisan tanah penutup.

Pengamanan pasca pengoperasian (setelah mencapai bukit akhir) merupakan :

  1. Lanjutan saluran ventilasi selama pengoperasian
  2. Panjang pipa tegak 2 m di atas bukit akhir.
  3. Setiap pembukaan lahan dipasang 2 buah ventilasi yang dipasang di tengah-tengah.
  4. Antar pipa ventilasi dipasang berjarak 20 meter diatas tanah penutup atara.

5.4.7 Fasilitas Penanganan Lindi

Lindi merupakan air yang terbentuk dalam timbunan sampah yang melarutkan banyak sekali senyawa yang memiliki kandungan pencemar khususnya zat organik sangat tinggi. Lindi sangat berpotensi menyebabkan pencemaran air baik air tanah maupun permukaan sehingga perlu ditangani dengan baik.

Tahap pertama pengamanan adalah dengan membuat fasilitas pengumpul lindi yang dapat terbuat dari: perpipaan berlubang-lubang, saluran pengumpul maupun pengaturan kemiringan dasar TPA; sehingga lindi secara otomatis begitu mencapai dasar TPA akan bergerak sesuai kemiringan yang ada mengarah pada titik pengumpulan yang disediakan.

Tempat pengumpulan lindi umumnya berupa kolam penampung yang ukurannya dihitung berdasarkan debit lindi dan kemampuan unit pengolahannya. Aliran lindi ke dan dari kolam pengumpul secara gravitasi sangat menguntungkan; namun bila topografi TPA tidak memungkinkan, dapat dilakukan dengan cara pemompaan.

Pengolahan lindi dapat menerapkan beberapa metode diantaranya:  penguapan/evaporasi terutama untuk daerah dengan kondisi iklim kering, sirkulasi  lindi ke dalam timbunan TPA untuk menurunkan baik kuantitas maupun kualitas pencemarnya, atau pengolahan biologis seperti halnya pengolahan air limbah.

Dasar perencanaan bangunan pengolahan leachate ini, seperti dikemukakan di atas adalah pertimbangan aspek ekonomi terhadap biaya investasi, operasi serta
pemeliharaan selain pertimbangan terhadap ketersediaan lahan untuk pembangunan bangunan pengolahan leachate (BPL).

A. Unit Proses Anaerobik

Unit proses anaerobik berfungsi untuk menguraikan kandungan bahan pencemar organik yang masih mengandung senyawa organik karbon (BOD  dan COD) yang relatif tinggi yaitu diatas 1500 mg/liter, sehingga akan  mengurangi kebutuhan oksigen (O2) yang tinggi pada proses pengolahan  selanjutnya, yaitu pada unit proses fakultatif. Disain teknis proses  anaerobik ini umumnya berbentuk bak atau kolam penampung yang  menerima influent leachate dari lahan pembuangan. Disain kolam ini  berbentuk persegi panjang /kolam dengan kedalaman 3 – 4 meter. Dari unit  ini selanjutnya leachate dialirkan ke unit pengolahan fakultatif dengan sistem pengaliran gravitasi.

Kinetika pemisahan BOD dalam anaerobik pada prinsipnya sama dengan  konvesional anaerobik digester. Apabila terdapat kekurangan data maka  dapat digunakan metoda empiris berdasarkan pada kualitas BOD per-hari, per-unit volume :

V = Li Q / v

dimana :

V = Pembebanan volumetrik BOD, gr/m3/hari
Li = Konsentrasi BOD influent, mg/liter
Q = Aliran rata-rata influent, m3/hari
V = Volume kolam, m3

B. Unit Fakultatif

Unit proses fakultatif berfungsi untuk menguraikan kandungan bahan  pencemar organik yang masih mengandung senyawa organik karbon (BOD dan COD) yang cukup tinggi yaitu 250 – 400 mg/liter sehingga memenuhi persyaratan influent untuk diolah pada unit proses maturasi.

Disain teknis unit proses fakultatif ini umumnya berbentuk kolam  penampungan yang menerima influent leachate dari unit proses anaerobik.  Disain untuk bak ini berupa kolam penampungan yang berbentuk empat  persegi panjang dengan kedalaman 1 – 2 meter. Dari unit ini selanjutnya  leachater dialirkan ke unit proses pengolahan maturasi dengan sistem pengaliran secara gravitasi.

Metoda yang akan dipakai berdasarkan pada pembebanan areal BOD (S), yaitu kunatitas BOD per-hari di dalam kolam per-unit luas permukaan.

S = 10 Li Q / A

Dimana :
S = Areal pembebanan BOD, kg/ha/hari
A = Luas kolam, m2
Li = Konsentrasi BOD influent, mg/liter
Q = Aliran rata-rata influent, m3/hari

Nilai maksimum S yang dapat dipakai untuk disain, merupakan fungsi dari  temperatur yang didapat dari data hasil analisa performasi kolam fakultatif  yang ada di semua tempat. Disarankan disain berdasarkan pada hubungan antara :

A = Li Q / 2 (T – 6)

Persentase pemisahan BOD pada unit fakultatif pada umumnya antara (70 –  80%). Efluent BOD diatas 100 meter mg/liter menunjukan kondisi koalam  bersifat aerobik. Pemisahan dan penguraian ( pematamgan)senyawa organik  dan kandungan mikroorganisme pathogen lebih lanjut terjadi dalam unit proses maturasi.

Dalam kolam fakultatif yang mengolah leachate baru, lapisan lumpur  terbentuk pada dasar kolam. Kurang lebih 30% dari influent BOD dipisahkan  sebagai methan dari cairan lumpur tersebut. Kolam fakultatif harus sudah  di kuras apabila lumpur sudah mencapai ¼ nya, yang juga sama seperti  kolam anaerobik, kecepatan akumulasi lumpur adalah 0,004 m3 dari debit  yang masuk per-tahun . kolam fakultatif yang menerima effluent dari kolam anaerobik umumnya tidak membutuhkan pengurasan.

C. Unit Maturasi

Unit proses maturasi berfungsi untuk menguraikan lebih sempurna  (pematangan) sisa kandungan bahan pencemar organik yang mengandung  senyawa organik karbon (BOD dan COD) dari effluent unit proses fakultatif,  sehingga memenuhi persyaratan effluent untuk dapat di buang ke badan air penerima (BAP) yang ada sekitar lokasi TPA.

Disain teknis unit proses masturasi ini umumnya berbentuk kolam  penampungan yang menerima inffluent leachate dari proses fakultatif.  Disain untuk unit ini berupa kolam penampungan berbentuk empat persegi  panjang dengan kedalaman 1-2 meter,dimana panjang (p), berbanding  lebar (l) adalah (2/3 : 1), dengan kemiringan tanggul pinggiran sebesar (1 : 3). Tanggul dilindungi dari bahaya erosi dengan menempatkan beton precast pada level permukaan air.

Beberapa prosedur disain untuk kolam masturasi, umumnya mempunyai  kedalaman antara 1-2 meter. Waktu detensi dalam kolam masturasi  umumnya dalam rentang 10 hari. Pada dasarnya dengan waktu detensi 5-10  hari, secara normal akan dapat memisahkan BOD dari effluent kolam  fakultatif antara 60-100 mg/liter menjadi dibawah 30 mg/liter.

Dalam perencanaan unit proses ini, dasar kolam harus bersifat tidak  meresapkan (impermeable). Pembangunan kolam di daerah yang  mempunyai tanah bersifat mudah menyerap air, dasar kolam harus dilapisi dengan lapisan kedap sebagai bahan pelapis (lining system).

5.4.8 Umur TPA/Kebutuhan Lahan

Sesuai dengan kriteria desain, umur lahan TPA minimal 5 tahun. Adapun ketinggian timbunan sampah direncanakan 5 meter dari permukaan badan jalan.

Luas lahan yang diperlukan dapat ditentukan dengan rumus-rumus berikut :

1. Volume sampah yang akan ditimbun

A = B x C

Dimana :

A = Jumlah sampah yang akan dibuang (kg/hari)
B = Jumlah penduduk (orang)
C = Timbunan sampah (kg/orang/hari)

2. Volume sampah yang telah dipadatkan

D = E x A

Dimana :

D = volume sampah yang telah dipadatkan (m3/hari)
E = Volume sampah yang akan dibuang (m3/hari)
A = Faktor pemadatan (kg/m3)

3. Luas lahan yang diperlukan per-tahun

Berdasarkan asumsi rata-rata ketinggian sampah yang telah dipadatkan F dan perbandingan tebal lapisan tanah penurup dan tebal sampah 1 : 4, maka luas lahan yang diperlukan setiap tahun

G = D x 365 x 1,25
F

Dimana :

G = luas lahan TPA yang diperlukan per-tahun (m2)
D = Volume sampah padat (m3/hari)
F = Ketinggian lapisan sampah (m).

4. Kebutuhan lahan total

H = G x I x J

Dimana :

H = Luas total lahan (m2)
I = Umur lahan (tahun)
J = Ratio luas lahan total dengan luas lahan efektif (minimum 1,2)

5.4.9 Rencana Timbunan Bukit Akhir

Sesuai dengan daya dukung tanah yang ada, tinggi timbunan sampah untuk bukit akhir maksimum 5 meter dari elevasi rencana jalan.

Ketentuan-ketentuan lain untuk bukit akhir adalah sebagai berikut :

1. Kemiringan lereng timbunan adalah 1 : 3 atau 33% atau 18,5%.
2. Kemiringan pada bidang timbunan dibuat maksimum 1%.

Di atas timbunan akhir setelah diberi lapisan penutup akhir ditanami vegetasi agar timbunan menjadi lebih stabil serta menahan erosi.

5.4.10 Alat Berat

Alat berat yang sering digunakan di TPA umumnya berupa: bulldozer, excavator dan  loader. Setiap jenis peralatan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dalam operasionalnya.

Bulldozer sangat efisien dalam operasi peratan dan pemadatan tetapi kurang dalam  kemampuan penggalian. Excavator sangat efisien dalam operasi penggalian tetapi  kurang dalam perataan sampah. Sementara loader sangat efisien dalam pemindahan baik tanah maupun sampah tetapi kurang dalam kemampuan pemadatan.

Untuk TPA kecil disarankan dapat memiliki bulldozer atau excavator; sementara TPA yang besar umumnya memiliki ketiga jenis alat berat tersebut.

5.4.11 Penghijauan

Penghijauan lahan TPA diperlukan untuk beberapa maksud diantaranya peningkatan estetika lingkungan, sebagai buffer zone untuk pencegahan bau dan lalat yang  berlebihan. Untuk itu perencanaan daerah penghijauan ini perlu pertimbangan letak dan jarak kegiatan masyarakat di sekitarnya (pemukiman, jalan raya, dll)

5.4.12 Pagar Keliling dan Green Belt

Pagar keliling dapat berupa pagar duri atau pagar hidup. Pagar keliling direncanakan  dipasang pada batas lahan TPA. Untuk daerah green belt, jenis tanaman harus dipilih  berupa tanaman keras yang sesuai dan dapt tumbuh di daerah gambut. Tanaman ini sudah harus ditanam dan tumbuh dengan baik sebelum operasi TPA dilaksanakan.

5.4.13 Fasilitas Penunjang

Beberapa fasilitas penunjang masih diperlukan untuk membantu pengoperasian TPA yang baik diantaranya : pemadam kebakaran, mesin pengasap (mist blower), kesehatan/keselamatan kerja, toilet, dll.

5.5. Teknik Operasional TPA

5.5.1 Persiapan Lahan TPA

Sebelum lahan TPA diisi dengan sampah maka perlu diadakan penyiapan lahan agar kegiatan pembuangan berikut dapat berjalan dengan lancar. Penutupan lapisan kedap air dengan lapisan tanah setempat yang dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kerusakan lapisan tersebut akibat operasi alat berat di atasnya. Umunya diperlukan lapisan tanah setebal 50 cm yang dipadatkan di atas lapisan kedap air tersebut.

Persediaan tanah penutup perlu disiapkan di dekat lahan yang akan dioperasikan untuk membantu kelancaran penutupan sampah; terutama bila operasional dilakukan secara sanitary landfill. Peletakan tanah harus memperhatikan kemamapuan operasi alat berat yang ada. Beberapa kegiatan penyiapan lahan tersebut meliputi:

A. Tahap Operasi Pembuangan

Kegiatan operasi pembuangan sampah secara berurutan akan meliputi :

  1. Penerimaan sampah di pos pengendalian; dimana sampah diperiksa, dicatat dan diberi informasi mengenai lokasi pembongkaran.
  2. Pengengkutan sampah dari pos penerimaan ke lokasi sel yang dioperasikan; dilakukan sesuai rute yang diperintahkan.
  3. Pembongkaran sampah dilakukan dititik bongkar yang telah ditentukan dengan manuver kendaraan sesuai petunjuk pengawas.
  4. Perataan sampah oleh alat berat yang dilakukan lapis demi lapis agar tercapai kepadatan optimum yang diinginkan. Dengan proses pemadatan yang baik dapat diharapkan kepadatan sampah meningkat hampir dua kali lipat.
  5. Pemadatan sampah oleh alat berat untuk mendapatkan timbunan sampah yang cukup padat sehingga stabilitas permukaannya dapat diharapkan untuk menyangga lapisan berikutnya.
  6. Penutupan sampah dengan tanah untuk mendapatkan kondisi operasi controll atau sanitary landfill.

B. Pengaturan lahan

Seringkali TPA tidak diatur dengan baik. Pembongkaran sampah di sembarang tempat dalam lahan TPA sehingga menimbulkan kesan yang tidak baik; disamping sulit dan tidak efisiennya pelaksanaan pengerjaan peralatan, pemadatan dan penutupan sampah tersebut. Agar lahan TPA dapat dimanfaatkan dengan efisien, maka perlu dilakukan pengaturan yang
baik yang mencangkup :

1. Pengaturan sel

Sel merupakan bagian dari TPA yang digunakan untuk menampung sampah  satu periode operasi terpendek sebelum ditutup dengan tanah. Pada  sistem sanitary landfill, periode operasi terpendek adalah harian; yang  berarti bahwa satu sel adalah bagian dari lahan yang digunakan untuk  menampung sampah selama satu hari. Semantara untuk control landfill  satu sel adalah untuk menaampung sampah selama 3 hari, atau 1 minggu,  atau periode operasi terpendek yang dimungkinkan. Dianjurkan periode  operasi adalah 3 hari, berdasarkan pertimbangan waktu penetasan telur  lalat yang rata – rata mencapai 5 hari; dan asumsi bahwa sampah telur  berumur 2 hari saat ada di TPS sehingga belum menetas perlu ditutup tanah agar telur/larva muda segera mati.

Untuk pengaturan sel perlu diperhatikan beberapa faktor :

  • Lebar sel sebaiknya berkisar antara 1,5 – 3 lebar blade alat berat agar manuver alat berat dapat lebih efisien.
  • Ketebalan sel sebaiknya antara 2 – 3 meter. Ketebalan terlalu besar akan menurunkan stabilitas permukaan, semantara terlalu tipis menyebabkan pemborosan tanah penutup.
  • Panjang sel dihitung berdasarkan volumesampah padat dibagi dengan lebar dan tebal sel. Dianjurkan panjang sel tidak
  • Sebagai contah bila volume sampah padat adalah 150 m3/hari, tebal
    sel direncanakan 2 m, lebar direncanakan 3 m, maka panjang sel adalah 150/(3X2) = 25 m.
  • Batas sel harus dibuat jelas dengan pemasangan patok – patok dan tali agar operasi penimbunan sampah dapat berjalan dengan lancar.

2. Pengaturan Blok

Blok operasi merupakan bagian dari lahan TPA yang digunakan untuk penimbunan sampah selama periode operasi menengah misalnya 1 atau 2  bulan. Karenanya luas blok akan sama dengan luas sel dikalikan perbandingan periode operasi menengah dan pendek.

Sebagai contoh bila sel harian berukuran lebar 3 meter dan panjang 25 meter maka blok opersi bulanan akan mencapai 30 X 75 m2 = 2. 250 m2.

3. Pengaturan Zona

Zona operasi merupakan bagian dari lahan TPA yang digunakan untuk  jangka waktu panjang misal 1 – 3 tahun, sehingga luas zona operasi akan  sama dengan luas blok operasi dikalikan dengan perbandingan periode operasi panjang dan menengah.

Sebagi contoh bila blok operasi bulanan memiliki luas 2.250 m2 maka zona operasi tahunan akan menjadi 12 X 2.250 = 2,7 ha.

5.5.2 Persiapan Sel Pembuang

Sel pembuangan yang telah ditentukan ukuran panjang, lebar dan tebalnya perlu
dilengkapi dengan patok – patok yang jelas. Hal ini dimaksudkan untuk membantu  petugas/operator dalam melaksanakan kegiatan pembuangan sehingga sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

Beberapa pengaturan perlu disusun dengan rapi diantaranya :

1. Peletakan tanah tertutup
2. Letak titik pembongkaran sampah dari truk
3. Manuver kendaraan saat pembongkaran

5.5.3 Pembongkaran Sampah

Letak titik pembongkaran harus diatur dan diinformasikan secara jelas kepada  pengemudi truk agar mereka membuang sampah pada titik yang benar sehingg proses  berikutnya dapat dilaksanakan dengan efisien. Titik bongkar umumnya diletakan di tepi sel yang sedang diopeasikan dan berdekatan dengan jalan kerja sehingga  kendaraan truk dapat dengan mudah mencapainya. Beberapa pengalaman menunjukan bahwa titik bongkar yang sulit dicapai pada saat hari hujan akibat licinnya jalan kerja.

Hal ini perlu diantisipasi oleh penanggung jawab TPA agar tidak terjadi.

Jumlah titik bongkar pada setiap sel ditentukan oleh beberapa faktor :

1. Lebar sel
2. Waktu bongkar rata – rata
3. Frekuensi kedatangan truk pada jam puncak

Harus diupayakan agar setiap kendaraan yang atang dapat segera mencapai titik
bongkar dan melakukan pembongkaran sampah agar efisien kendaraan dapat dicapai.

5.5.4 Perataan dan Pemadatan Sampah

Perataan dan pemadatan sampah dimaksudkan untuk mendapatkan kondisi pemanfaatan lahan yang efisien dan stabilitas permukaan TPA yang baik. Kepadatan sampah yang tinggi di TPA akan memerlukan volume lebih kecil sehingga daya tampung TPA bertambah, sementara permukaan yang stabil akan sangat mendukung penimbunan lapis berikutnya. Pekerjaan perataan dan pemadatan sampah sebaikmya dilakukan dengan memperhatikan efisiensi operasi alat berat.

Pada TPA dengan intensitas kedatangan truk yang tinggi,perataan dan pemadatan perlu segera dilakukan setelah sampah dibongkar.Penundaan pekerjaan ini akan menyebabkan sampah menggunung sehingga pekerjaan perataannya akan kurang efisien dilakukan.

Pada TPA dengan frekwensi kedatangan truk yang rendah maka perataan dan pemadatan sampah dapat dilakukan secara periodik,misalnya pagi dan siang.

Perataan dan pemadatan sampah perlu dilakukan dengan memperhatikan kriteria pemadatan yang baik :

  1. Peratan dilakukan lapis demi lapis
  2. Setiap lapis diratakan sampah setebal 20 cm – 60 cm dengan cara mengatur ketinggian blade alat berat.
  3. Pemadatan sampah yang telah rata dilakukan dengan menggilas sampah tersebut 3 – 5 kali.
  4. Perataandan pemadatan dilakukan sampai ketebalan sampah mencapai ketebalan rencana

5.5.5 Penutupan Tanah

Penutupan TPA dengan tanah mempunyai fungsi/maksud :

1. Untuk memotong siklus hidup lalat, khususnya dari telur menjadi lalat
2. Mencegah perkembangan tikus
3. Mengurangi rembesan air hujan yang akan membentuk lindi
4. Mengurangi bau
5. Mengisolasi sampah dan gas yang ada
6. Menambah kestabilan permukaan
7. Meningkatkan estetika permukaan

Frekuensi penutupan sampah dengan tanah disesuaikan dengan metode / teknologi  yang diterapkan. Penutupan sel sampah pada sistem sanitary landfill dilakukan setiap hari, sementara pada control land fill dianjurkan 3 hari sekali.

Ketebalan tanah penutup yang perlu dilakukan adalah :

  1. Untuk penutupan sel (sering disebut dengan penutupan harian) adalah dengan lapisan tanah padat setebal 20 cm
  2. Untuk penutupan antara (setelah 2 – 3 lapis sel harian ) adalah tanah padat setebal 30 cm.
  3. Untuk penutupan terakhir yang dilakukan pada saat suatu blok pembuangan telah terisi penuh, dilapisi dengan tanah padat setebal minimal 50 cm.

5.5.6 Pemeliharaan TPA

Pemeliharan TPA dimaksudkan untuk menjaga agar setiap prasarana dan sarana yang  ada selalu dalam kondisi siap operasi dengan unjuk kerja yang baik. Seperti halnya  program pemeliharaan lazimnya maka sesuai tahapannya perlu diutamakan kegiatan  pemeliharaan yang bersifat preventif untuk mencegah terjadinya kerusakan dengan melaksanakan pemeliharaan rutin.

Pemeliharaan korektif dimaksudkan untuk segera melkukan perbaikan kerusakan – kerusakan kecil agar tidak berkembang menjadi komplek dan besar.

A. Pemeliharaan alat bermesin (alat berat , pompa , dll)

Alat berat dan peralatan bermesin seperti pompa air lindi sangat vital bagi  operasi TPA sehingga kehandalan dan unjuk kerjanya harus dipelihara dengan prioritas tinggi. Buku manual pengoperasian dan pemeliharaan alat  berat harus selalu dijalankan dengan benar agar peralatan tersebut terhindar dari kerusakan.

Kegiatan perawatan seperti penggantian minyak pelumas baik mesin  maupun transmisi harus diperhatikan sesuai ketentuan pemeliharaannya.  Demikian pula dengan pemeliharaan komponen seperti baterai, filter – filter, dan lain – lain tidak boleh dilalaikan ataupun dihemat seperti banyak diakukan.

B. Pemeliharaan Jalan

Kerusakan jalan TPA umumnya dijumpai pada ruas jalan masuk dimana  kondisi jalan bergelombang maupun berlubang yang disebabkan oleh  beratnya beban truk sampah yang melintasinya. Jalan yang berlubang/bergelombang menyebabkan kendaraan tidak dapat melintasinya  dengan lancar sehingga terjadi penurunan kecepatan yang berarti  menurunnya efisiensi pengangkutan;disampimg lebih cepat ausnya beberapa komponen seperti kopling,rem,dan lain-lain.

Keterbatasan dana dan kelembagaan untuk pemeliharaan seringkali menjadi kendala perbaikan sehingga kerusakan jalan dibiarkan berlangsung lama tanpa disadari telah menurunkan efisiensi pengangkutan. Hal ini sebaiknya diantisipasi dengan melengkapi manajemen TPA dengan kemampuan memperbaiki kerusakan jalan sekalipun bersifat temporer seperti misalnya perkerasan dengan pasir dan batu.

Bagian lain yang juga sering mengalami kerusakan dan kesulitan adalah jalan kerja dimana kondisi jalan temporer tersebut memiliki kestabilan yang rendah;khususnya bila dibangun di atas sel sampah. Cukup banyak pengalaman memberi contoh betapa jalan kerja yang tidak baik telah menimbulkan kerusakan batang hidrolis pendorong bak pada dump truck;terutama bila pengemudi memaksa membongkar sampah pada saat posisi kendaraan tidak rata/horizontal.

Jalan kerja di banyak TPA juga memiliki faktor kesulitan lebih tinggi pada saat hari hujan. Jalan yang licin menyebabkan truk sampah sulit bergerak dan harus dibantu oleh alat berat; sehingga secara keseluruhan menyebabkan waktu operasi pengangkutan di TPA menjadi lebih panjang dan pemanfaatan alat berat untuk hal yang tidak efisien. Sekali lagi perlu diperhatikan untuk memperbaiki kerusakan jalan sesegera mungkin sebelum menjadi semakin parah. Pengurugan dengan sirtu umumnya sangat efektif memperbaiki jalan yang bergelombang dan berlubang.

C. Pemeliharan Lapisan Penutup

Lapisan penutup TPA perlu dijaga kondisinya agar tetap apat berfungsi dengan baik. Perubahan temperatur dan kelembaban udara dapat  menyebabkan timbulnya rtakan permukaan tanah yang memungkinkan terjadinya aliran gas keluar dari TPA ataupun mempercepat rembesan air  pada saat hari hujan. Untuk itu retakan yang terjadi perlu segera ditutup dengan tanah sejenis.

Proses penurunan permukaan tanah juga sering tidak berlangsung seragam sehingga ada bagian yang menonjol maupun melengkung ke bawah.

Ketidakteraturan permukaan ini perlu diratakan dengan memperhatikan kemiringan ke arah saluran drainase. Penanaman rumput dalam hal ini dianjurkan untuk mengurangi efek retakan tanah melaui jaringan akar yang
dimiliki.

Pemeriksaan kondisi permukaan TPA perlu dilakukan minimal sebulan  sekali atau beberapa hari setelah terjadi hujan lebat untuk memastikan  tidak terjadinya perubahan drastis pada permukaan tanah penutup akibat erosi air hujan.

D. Pemeliharaan Drainase

Pemeliharaan saluran drainase secara umum sangat mudah dilakukan.  Pemeriksaan rutin setiap minggu khususnya pada musim hujan perlu dilakukan untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan saluran yang serius.

Saluran drainase perlu dipelihara dari tanaman rumput atau semak yang  mudah sekali tumbuh akibat tertinggalnya endapan tanah akibat erosi tanah  penutup TPA di dasar saluran. TPA di daerah bertopografi perbukitan juga sering mengalami erosi akibat aliran air yang deras.

Lapisan semen yang retak atau pecah perlu segera diperbaiki agar tidak  mudah lepas oleh erosi air, sementaa saluran tanah yang berubah profilnya  akinat erosi perlu segera dikembalikan ke dimensi semula agar dapat berfungsi mengalirkan air dengan baik.

E. Pemeliharaan Fasilitas Penanganan Lindi

Kolam penampung dan pengolah lindi sering kali mengalami pendangkalan  akibat endapan suspensi. Hal ini akan menyebabkan semakin kecilnya  volume efektif kolam yang berarti semakin berkurangnya waktu tinggal;  yang akan berakibat pada rendahnya efisiensi pengolahan yang berlangsung. Untuk itu perlu diperhatikan agar kedalaman efektif kolam dapat dijaga.

Lumpur endapan yang mulai tinggi melampaui dasar efektif kolam harus  segera dikeluarkan. Alat berat excavator sangat efektif dalam pengeluaran  lumpur ini. Dalam beberapa hal dimana ukuran kolam tidak terlalu besar  juga dapat digunakan truk tinja untuk menyedot lumpur yang terkumpul  yang selnjutnya dapat dibiarkan mengering dan dimanfaatkan sebagai tanah penutup sampah.

F. Pemeliharaan Fasilitas Lainnya

Fasilitas – fasilitas lain seperti bangunan kantor / pos, garasi dan sebagainya perlu dipelihara sebagaimana lazimnya bangunan lainnya seperti kebersihan, pengecatan, dll.

5.6. Pengawasan Pengendalian TPA

5.6.1 Pengawasan Kegiatan Pembuangan

A. Tujuan pengawasan dan pengendalian

Pengawasan dan pengendalian TPA dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa setiap kegiatan yang ada di TPA dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan dan dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan sbb :

  1. Apakah sampah yang dibuang merupakan sampah perkotaan, dan bukan jenis sampah yang lain ?
  2. Apakah volume dan berat sampah yang masuk TPA diukur dan dicatat
    dengan baik ?
  3. Apakah sel pembuangan dan titik bongkar sudah ditentukan ?
  4. Apakah pengemudi sudah diarahkan ke lokasi yang benar ?
  5. Apakah tanah penutup telah tersedia ?
  6. Apakah perataan dan pemadatan dilakukan sesuai dengan rencana?
  7. Apakah penitipan telah dilakukan dengan baik ?
  8. Apakah prasarana dan sarana dioperasikan dan dipelihara dengan baik ?

B. Tata cara pengawasan dan pengendalian

Pengawasan dilakukan dengan kegiatan pemeriksaan/pengecekan yang meliputi :

  1. Pemeriksaan kedatangan sampah
  2. Pengecekan rute pembuangan
  3. Pengecekan operasi pembuangan
  4. Pengecekan unjuk kerja fasilitas
  5. Pengendalian TPA meliputi aktifitas untuk mengarahkan operasional pembuangan dan unjuk kerja setiap fasilitas sesuai fungsi seperti :
  6. Pemberian petunjuk operasi pembuangan bila petugas
    lapangan/operator melaksanakan tidak sesuai dengan rencana.
  7. Pemeriksaan kwalitas pengolahan lindi dan pemberian petunjuk cara pengoperasian yang baik

5.6.2 Pendataan dan Pelaporan

A. Pendataan TPA

Data – data yang diperlukan akan mencakup :

  1. Data kedatangan kendaraan pengangkut sampah dan volume sampah yang diperlukan untuk mengetahui kapasitas pembuangan harian; yang akan digunakan untuk mengevaluasi perencanaan TPA yang telah disusun berkaitan dengan kapasitas tampung dan usia pakai TPA. Data ini dapat dikumpulkan di Pos Pengendali TPA dimana terdapat petugas yang secara teliti memeriksa, mengukur dan mencatat data tersebut dengan bantuan Form Kedatangan Truk.
  2. Data kondisi instalasi pengolahan lindi khususnya kualitas parameter pencemar untuk mengetahui efisiensi pengolahan lindi dan potensi pencemaran yang masih ada. Data ini diperoleh melalui pemeriksaan kualitas air lindi di laboratorium.
  3. Data operasi dan pemeliharaan alat berat yang merupakan data unjuk kerja alat berat dan pemantau pemeliharaannya.

B. Pelaporan TPA

Data-data diatas perlu dirangkum dengan baik menjadi suatu laporan yang dengan mudah memberikan gambaran mengenai kondisi pengoperasian dan  pemeliharaan TPA kepada para pengambil keputusan maupun perencana bagi pengembangan TPA lebih lanjut.

5.6.3 Pengendalian TPA

A. Pengendalian lalat

Perkembangan lalat dapat terjadi dengan cepat yang umumnya disebabkan  oleh terlambatnya penutupan sampah dengan tanah sehingga tersedia cukup waktu bagi telur lalat untuk menjadi larva dan lalat dewasa.

Karenanya perlu diperhatikan dengan seksama batasan waktu paling lama  untuk penutupan tanah. Semakin pendek periode penutupan tanah akan  semakin kecil pula perkembangan lalat. Dalam hal lalat telah berkembang  banyak, dapat dilakukan penyemprotan insektisida dengan menggunakan  mistblower. Tersedianya pepohonan dalam hal ini sangat membantu pencegahan penyebaran lalat ke luar lingkungan luar TPA.

B. Pencegahan kebakaran/Asap

Kebakaran/asap terjadi karena gas metan terlepas tanpa kendali dan  bertemu dengan sumber api. Terlepasnya gas metan seperti telah dibahas  sebelumnya sangat ditentukan oleh kondisi dan kwalitas tanah penutup.  Sampah yang tidak tertutup tanah sangat rawan terhadap bahaya kebakaran  karena gas tersebar di seluruh permukaan TPA. Untuk mencegah kasus ini perlu diperhatikan pemeliharaan lapisan tanah penutup TPA.

C. Pencegahan pencemaran air

Pencegahan pencemaran air perlu dilakukan dengan menjaga agar lindi yang dihasilkan dari TPA dapat :

  1. Terbentuk sesedikit mungkin; dengan cara mencegah rembesan air
    hujan melalui konstruksi drainase dan tanah penutup yang baik.
  2. Terkumpul pada kolam pengumpul dengan lancar
  3. Diolah dengan baik pada kolam pengolahan; yang kwalitasnya secara periodik diperiksa.

5.7. Evaluasi Dampak Penting

5.7.1 Tahap Pra-Konstruksi

A. Penetapan lokasi

Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan :

Persepsi Masyarakat

Kegiatan penetapan lokasi tapak proyek diperkirakan aan berdampak  terhadap persepsi masyarakat sebagai akibat adanya praduga masyarakat  yang tanahnya terkena pembebasan mengenai ketidaksesuaian ganti rugi  yang diperoleh. Serta adanya perbedaan pendapat masyarakat yang setuju  dan tidak setuju mengenai penetapan lahan yang mereka miliki selama ini  sebagai lokasi pengolahan akhir sampah. Dengan adanya kegiatan  pembebasan lahan dan status kepemilikan memberikan dampak terhadap  sebagian masyarakat, antara lain: mereka menjadi kehilangan mata pencaharian dan tempat tinggal.

Keresahan Sosial

Pada penetapan lokasi tapak lokasi pengolahan akhir sampah ini  diperkirakan akan berdampak terhadap keresahan sosial, yaitu adanya  pemikiran kemana mereka akan pindah dan atau mencari nafkah serta  sebagai akibat persepsi negatif masyarakat terhadap penetapan lokasi proyek

B. Pembebasan Lahan dan Pemindahan Penduduk

Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan :

Kepadatan Penduduk

Kegiatan pembebasan lahan dan pemindahan penduduk diperkirakan akan  berdampak terhadap jumlah dan tingkat kepadatan penduduk. Penduduk yang tanahnya dibebaskan saat ini telah pindah ke daerah lain.

Mata Pencaharian

Pembebasan lahan dan pemindahan penduduk berakibat pula terhadap mata pencaharian. Perubahan daerah sawah/ladang mereka menadi lokasi  pembuangan sampah akan mendorong mereka mencari kerja di sektor non  pertanian. Perubahan mata pencaharian ini bersifat negatif apabila  diantara penduduk tadi yang menjadi pengangguran kalau tenaganya tidak tertampung.

Persepsi Masyarakat

Lahan yang dibebaskan menjadi perhitungan untuk mendapatkan ganti tempat tinggal yang merupakan hal yang sangat mendasar bagi setiap orang.

Kata sepakat atas ganti rugi yang sesuai, ataupun kejelasan batas lahan yang mereka miliki dapat menimbulkan keresahan masyarakat sehingga menyebabkan persepsi yang negatif.

Keresahan Sosial

Kegiatan pembebasan lahan dan pemindahan penduduk telah selesai  seluruhnya dan tidak pernah terjadi keresahan/konflik sosial masyarakat karena proses tersebut dilakukan secara musyawarah mufakat antara pemrakarsa kegiatan dan masyarakat yang tanahnya terkena pembebasan.

5.7.2 Tahap Konstruksi

A. Mobilisasi Tenaga Kerja

Dampak terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan :

Kepadatan Penduduk

Mobilisasi tenaga kerja konstruksi proyek akan berdampak terhadap jumlah dan tingkat kepadatan penduduk sebagai akibat rekrutment tenaga kerja  yang diperkirakan sebagian akan didatangkan dari luar daerah karena untuk keahlian tertentu tidak dapat di penuhi oleh tenaga lokal.

Kesempatan Kerja dan Bekerja

Banyaknya tenaga kerja yang di butuhkan mengakibatkan terbukanya  kesempatan berusaha bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek. Penduduk  setempat dapat memperoleh mata pencaharian tambahan dengan menyediakan tempat tinggal untuk disewakan atau dikontrakan pada  pekerja. Kegiatan-kegiatan lain yang merupakan kesempatan berusaha  adalah berupa pembukaan warung makan dan kios yang menjual keperluan  sehari-hari bagi pekerja proyek, atau menyediakan pelayanan transportasi seperti ojek yang sangat di butuhkan di lokasi tersebut.

Pendapatan Masyarakat

Kegiatan mobilisasi tenaga kerja konstruksi terhadap pendapatan  masyarakat merupakan dampak turunan (sekunder) sebagai akibat  terbukanya kesempatan kerja dan berusaha. Dengan ikutnya masyarakat bekerja di sekitar lokasi proyek sebagai tenaga kerja konstruksi dan terbuka  kesempatan kerja dan berusaha bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek akan mengakibatkan meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat.

Kecemburuan Sosial

Kecemburuan sosial akan muncul apabila tenaga kerja setempat tidak dilibatkan dalam tahap konstruksi pengolahan akhir sampah kota.

Persepsi Masyarakat

Dengan terbukanya kesempatan kerja dan berusaha serta meningkatnya  pendapatan masyarakat di sekitar tapak proyek pada tahap konstruksi ini akan mengakibatkan persepsi masyarakat menjadi positif terhadap proyek.

B. Pembersiahan Lahan dan Pematangan Tanah

1. Dampak Terhadap Fisik kimia :

Iklim Mikro

Pekerjaan pembersihan lahan dan pematangan tanah yang terdiri dari pembukaan, pengurugan dan perataan lahan menyebabkan hilangnya  lapisan penutupan tanah berupa semak belukar dan pepohonan yang  berdampak lanjut terhadap kelembaban udara, akibat kenaikan suhu di lokasi proyek.

Kualitas Udara

Pada kegiatan ini akan terjadi penurunan kualitas udara akibat debu yang  dihasilkan dari aktivitas pembersihan lahan dan pematangan tanah dan gas buang dari mesin-mesin yang digunakan.

Kebisingan

Kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah juga akan berdampak  terhadap kebisingan sebagai akibat penggunaan mesin-mesin berat yang digunakan dalam pekerjaan tersebut.

Kuantitas Air Permukaan

Kegiatan pembersihan lahan pematangan tanah mengakibatkan daya resap  air ke dalam tanah menjadi berkurang dibandingkan dengan sebelum  dilakukan kegiatan tersebut, sehingga volume air larian akan meningkat.  Kegiatan ini akan menimbulkan peningkatan air larian yang kemungkinan pula akan meningkatkan kuantitas air permukaan.

Kestabilan Lereng dan Erosi

Dampak kegiatan pembersihan lahan pematangan tanah yang potensial  terhadap kestabilan lereng dan erosi adalh pada areal TPA dikarenakan kondisi daya dukung tanah yang relatif jelek.

2. Dampak Terhadap Hayati

Flora Darat

Kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah akan mengakibatkan
hilangnya vegetasi/flora darat yang merupakan habitat (tempat hidup)  bebagai jenis fauna darat sehingga keseimbangan ekosistem akan terganggu.

Fauna Darat

Dampak kegiatan pembersihan lahan terhadap fauna darat merupakan  dampak turunan (sekunder) sebagai akibat hilangnya vegetasi/flora darat  yang merupakan habitat (tempat hidup) berbagai jenis satwa. Selain itu,  pematangan tanah yang menimbulkan bising akibat penggunaan mesinmesin berat akan mengganggu kehidupan satwa di sekitarnya.

Flora Perairan

Dalam kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah terhadap flora  perairan (plankton) merupakan dampak turunan (sekunder) sebagai akibat  menurunnya kualitas air permukaan berupa peningkatan kekeruhan dan  Total Padatan Tersuspensi (TSS) pada saat kegiatan pembersihan lahan dan  pematangan tanah berlangsung. Hal ini mengakibatkan berkurangnya  penetrasi cahaya matahari ke dalam air sehingga proses fotosintesis akan terhambat.

Fauna Perairan

Seperti halnya dampak terhadap flora perairan (plankton), dampak  terhadap flora perairan (benthos dan ikan) juga merupakan dampak turunan  (sekunder) sebagai akibat menurunnya kualitas air permukaan berupa  peningkatan kekeruhan dan Total Padatan Tersuspensi (TSS) pada saat  kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah berlansung. Akibat  peningkatan TSS akan menghambat difusi oksigen kedalam air pada akhirnya akan mengganggu kehidupan fauna perairan (benthos dan ikan).

3. Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan

Kamtibmas

Akibat penurunan kualitas udara, peningkatan debu, kebisingan, erosi dan  pengotoran badan jalan pada saat kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah berlansung.

Kesehatan Masyarakat

Dampak ini sebagai akibat dari penurunan kualitas udara dan peningkatan  kebisingan yang dihasilkan dari kegiatan kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah berlangsung.

C. Mobilisasi Bahan dan Alat

1. Dampak Terhadap Fisik dan Kimia:

Kualitas udara

Kegiatan pengangkutan bahan dan peralatan knstruksi diperkirakan akanberdampak terhadap kualitas udara. Pada kegiatan ini akan terjadi penrunan kualitas udara akibat gas buang kendaraan angkut dan debu.

Kebisingan

Kegiatan pengangkutan bahan dan peralatan konstruksi proyek juga akan  menimbulkan kebisingan dari aktivitas kendaraan pengangkut sampah

2. Dampak Terhadap Hayati

Fauna darat

Dampak yang akan terjadi merupakan dampak turunan dari akibat  kebisingan yang timbul dari kendaraan angkut sehingga kehidupan fauna darat terganggu terutama jenis-jenis burung.

3. Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan

Kamtibmas

Kegiatan pengangkutan bahan dan peralatan konstruksi proyek terhadap Kamtibmas berupa dampak lansung akibat pencurian terhadap bahan dan peralatan konstruksi.

Kelancaran Lalu Lintas

Kegiatan pengangkutan bahan dan peralatan konstruksi proyek diperkirakan  akan berdampak terhadap kelancaran lalu lintas di badan-badan jalan  sekitar tapak proyek, karena pengangkutan bahan menggunakan kendaraan angkut melalui jalan darat.

D. Pembangunan Lokasi Pengolahan Akhir Sampah

1. Dampak Terhadap Fisik Kimia

Kualitas Udara

Kegiatan konstruksi fisik proyek seperti pemasangan pondasi, pembetonan,  pengadukan semen dengan menggunakan alat-alat berat dapat  meningkatkan CO, Nox, Sox, serta debu di udara yang pada akhirnya dapat  menimbulkan dampak lanjutan berupa penurunan kesehatan para pekerja dan kesehatan masyarakat.

Kebisingan

Kegiatan pembangunan pengolahan akhir sampah akan meningkatkan  kebisingan di dalam tapak proyek pada akhirnya akan berdampak pula  terhadap kehidupan fauna darat, kesehatan karyawan, kesehatan  masyarakat di sekitarnya dan peternakan ayam yang terdapat di tapak proyek.

Kuantitas Air Permukaan

Kegiatan pembangunan pengolahan akhir sampah diperkirakan akan  berdampak terhadap kuantitas air permukaan. Adanya bangunan  menyebabkan daerah resapan air akan berkurang. Pada saat hujan turun,  air larian yang timbul akan meningkat dan masuk ke badan air, sehingga menimbulkan peningkatan kualitas air permukaan tersebut.

Kestabilan Lereng dan Erosi

Kegiatan pembangunan pengolahan akhir sampah diperkirakan juga akan  berdampak terhadap kestabilan lereng dan erosi di areal yang dilkukan penimbunan, yaitu badan jalan dan lereng tanggul lahan.

2. Dampak Terhadap Hayati

Fauna darat

Dampak yang akan terjadi merupakan dampak turunan dari akibat  kebisingan yang timbul dari kendaraan angkut sehingga kehidupan fauna darat terganggu terutama jenis-jenis burung.

3. Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan

Sanitasi Lingkungan

Sangat berpotensi dalam Kondisi sanitasi lingkungan akan terkena dampak  pada saat kegiatan pembangunan pengolahan akhir kota. Pada sat itu akan  muncul berbagai macam limbah, baik yang berasal dari sisa-sisa bahan  bangunan dan makanan buruh maupun akibat aktifitas sehari-hari buruh  bangunan yang terjadi pada tapak proyek, seperti aktivitas MCK. Limbah ini  bersifat cair terutama bekas cucian, urinoir dan mandi. Limbah cair dan  padat ini menurunkan kondisi sanitasi lingkungan yang pada akhirnya akan dapat menjadi tempat berkembang biaknya sumber penyakit.

Kamtibmas

Kegiatan pengangkutan bahan dan peralatan konstruksi proyek terhadap  Kamtibmas berupa dampak lansung akibat pencurian terhadap bahan dan peralatan konstruksi.

Kesehatan Karyawan

Seperti halnya dampak terhadap kesehatan karyawan, dampak terhadap  kesehatan masyarakat merupakan dampak turunan (sekunder) sebagai  akibat debu dan kebisingan yang dihasilkan dari kegiatan pembanguanan pengolahan akhir sampah.

E. Pembuatan Bufferzone

1. Dampak Terhadap Fisik Kimia

Ikim Mikro

Kegiatan penanaman pohon peneduh dan penghijauan di dalam tapak  proyek akan berdampak terhadap kelembaban suhu udara dalam tapak proyek.

Kualitas Udara dan Kebisingan

Pembuatan bufferzone pada tahap konstruksi diperkirakan akan berdampak  terhadap peningkatan kualitas udara di dalam dan sekitar tapak proyek. Penanaman jenis tumbuhan akan meningkatkan kadar oksigen (O2) di

udara. Selain itu juga dapat mengurangi kadar debu dan tingkat kebisingan disekitarnya.

Kestabilan Lereng dan Erosi

Kegiatan pembuatan bufferzone berupa penanaman jenis jenis pohon untuk  lokasi pengolahan akhir sampah di dalam tapak proyek terutama pada areal  yang berbatasan dengan danau (eks galian oasir). Penanaman enis pohon  pelindung yang memiliki sistem perakaran yang kuat akan meningkatkan  kestabilan lereng dan meningkatkan kemampuan tanah untuk menahan erosi.

2. Dampak Terhadap hayati

Flora Darat

Kegitan penghijauan/landscaping pada tahap konstruksi proyek diperkirakan  akan berdampak terhadap peningkatan keanekaragaman jenis flora darat di dalam tapak proyek.

Fauna Darat

Kegiatan penghijauan/landscaping pada tahap konstruksi proyek akan  diperkirakan akan berdampak terhadap peningkatan keanekaragaman fauna  darat di dalam tapak proyek, khususnya jenis-jenis hewan yang  memanfaatkan flora darat sebagai habitatnya seperti jenis-jenis serangga (insekta) dan burung (aves).

3. Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan

Estetika Lingkungan

Penanaman jenis-jenis tumbuhan peneduh/pelindung dan tanaman hias akan meningkatkan nilai estetika lingkungan di dalam tapak proyek

5.7.3 Tahap Operasional

A. Mobilisasi Tenaga Kerja

Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan:

Kepadatan Penduduk

Rekrutment tenaga kerja pada saat pengolahan akhir sampah berperasi  diprairakan akan berdampak terhadap kepadatan penduduk sekitar tapak proyek .

Kesempatan Kerja dan bekerja

Banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan mengakibatkan terbukanya  kesempatan berusaha bagi masyarakat disekitar lokasi proyek. Penduduk  setempat dapat memperoleh mata pencaharian tambahan dengan  menyediakan tempat tinggal untuk disewakan atau dikontrakan pada  pekerja. Kegiatan-kegiatan lain yang merupakan kesempatan berusaha  adalah berupa pembukaan warung makan dan kios yang menjual keperluan  sehari-hari bagi pekerja proyek, atau menyediakan pelayanan transportasi seperti ojek yang sangat dibutuhkan di lokasi tersebut.

Pendapatan Masyarakat

Terbukanya kesempatan kerja dan peluang berusaha bagi masyarakat  disekitar tapak proyek akibat rekrutmen tenaga kerja pada tahap operasi proyek diprakiakan meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat.

Kecemburuan Sosial

Kecemburuan sosial akan muncul apabila tenaga kerja setempat tidak dilibatkan dalam tahap konstruksi pengolahan akhir sampah .

Persepsi Masyarakat

Adanya kegiatan rekrutmen tenaga kerja/karyawan pada tahap operasi  proyek disertai dengan terbukanya peluang berusaha di sekitar tapak  proyek akan mengakibatkan persepsi masyarakat menjadi positif terhadap proyek.

B. Kegiatan Pengoperasian dan Pengolahan Akhir Sampah

1. Dampak Terhadap fisik Kimia

Kualitas Udara

Kegiatan pengoperasian TPA sampah kota Ranai, apabila tidak dikelola  dengan baik akan menyebabkan penurunan kualitas udara di dalam dan  sekitar tapak proyek. Emisi kendaraan bermotor menuju lokasi akan  mengeluarkan gas CO2, CO, Sox, HC dan Pb dapat menyebabkan  menurunnya kualitas udara.

Kegitan operasional pengolahan akhir sampah yang berdampak terhadap  penurunan kualitas udara adlah konsentrasi dan enis gas di lkasi landfill  selama penimbunan. Gas-gas utama yang dihasilkan adalh metan dan CO2.  Gas metan bila terakumulasi akan mengakibatkan terjadinya ledakan, sedangkan gas CO2 akan menyebabkan perubahan suhu lingkungan mikro.

Kualitas Air Permukaan

Kegitan pengoperasian pengolahan akhir sampah akan berdampak terhadap  kualitas air permukaan yang berada di sekitar tapak proyek akibat air  leachate yang dihasilkan dari timbunan sampah yang mengandung bahanbahan  organik akan di buang ke sungai/parit. Menurunnya kualitas air  sungai ini pada akhirnya akan berdampak lebih lanjut terhadap kesehatan  masyarakat, menurunnya keanekaragaman flora dan fauna perairan  gangguan kamtibmas dan persepsi negatif masyarakat yang berada dihilir lokasi proyek.

2. Dampak Terhadap Hayati

Flora Perairan (Plankton)

Akibat penurunan kualitas air permukaan yang disebabkan oleh air leachate  yang di hasilkan oleh kegiatan pengolahan akhir sampah parameter utama  Amoniak (NH3), Nitrit (NO2), Nitrat (NO3), COD, BOD dan DO akan berdampak terhadap flora perairan (Plankton).

Fauna Perairan (Bentos dan Ikan)

Dampak kegiatan pengoperasian pengolahan akhir sampah kota terhadap  fauna perairan (bentos dan ikan ) disebabkan pula oleh air leachate yang  dihasilkan oleh kegiatan pengolahan sampah dengan parameter utama  Amoniak (NH3), Nitrit (NO2), Nitrat (NO3), COD, BOD dan DO

3. Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Hidup

Kesempatan Kerja dan Berusaha

Pengoperasian pengolahan akhir sampah (TPA) akan menyerap tenaga kerja  yang yang cukup banyak. Selain itu timbul kesempatan berusaha bagi  penduduk sekitar lokasi proyek yang mampu memanfaatkan peluangpeluang  berusaha yang ada. Pada tahap ini juga diperkirakan timbulnya  pemulung yang memanfaatkan kesempatan berusaha dengan adanya  pengoperasian pengolahan sampah. Kehadiran pemulung ini perlu  penanganan sendiri, yaitu dapat dimanfaatkan sebagai mitra kerjasama yang terkendali.

Pendapatan Masyarakat

Terbukanya kesempatan kerja dan peluang berusaha bagi masyarakat  disekitar tapak proyek akibat kegiatan pengoperasian pengolahan akhir  sampah diperkirakan pada akhirnya akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat.

Kamtibmas

Dampak negatif terhadap masyarakat sekitar apabila tidak dikelola baik dapat menimbulkan gangguan kamtibmas di sekitar proyek.

Pengembangan Wilayah

Kegiatan pengoperasian pengolahan akhir sampah (TPA) akan berdampak  terhadap pembangunan dan pengembangan wilayah Kota, sehingga pada akhirnya akan memacu pembangunan dan pengembangan wilayah Kabupaten Depok.

Kegiatan Sekitar

Kegiatan pengoperasian pengolahan akhir sampah (TPA) akan berdampak  terhadap kegiatan sekitar. Pengoperasian pengolahan akhir sampah  melibatkan aktivitas kendaraan pengangkut sampah pada saat kegiatan loading dan unloading serta penggunaan genset yang sewaktu-waktu apabila  suplai listrik PLN terganggu. Dampak yang terjadi intensitasnya rendah (< 60 dBA).

Kesehatan Karyawan dan Masyarakat

Kegiatan pengoperasian pengolahan akhir sampah apabila tidak dikelola  dengan baik akan menyebabkan bau busuk, tempat berkumpulnya lalat  sehingga akan menimbulkan penyakit hama penyakit. Selain itu juga akan  mengakibatkan berkembangnya organisme vektor penyakit seperti lalat,  tikus dan nyamuk, juga gas dan air leachate yang dihasilkan akan menimbulkan gangguan kesehatan karyawan.

Estetika Lingkungan

Kegiatan pengoperasian pengolahan akhir sampah yang tidak saniter akan  berdampak terhadap penurunan estetika lingkungan akibat ceceran-ceceran  sampah. Selain itu, pengoperasian yang tidak sesuai dengan kaidah sanitary  landfill (mengarah pada sistem open dumping) akan mengundang lalat sehingga menurunkan estetika lingkungan.

C. Mobilisasi Kendaraan Pengangkut Sampah

1. Dampak Terhadap Fisik Kimia

Kualitas Udara

Kegiatan mobilisasi kendaraan pengangkut sampah akan berdampak  terhadap penurunan kualitas udara ambient di sekitar badan-badan jalan  yang dilaluinya. Kendaraan bermotor tersebut akan menghasilkan emisi gasgas  seperti CO2, CO, SOx, NOx, HC dan Pb sehingga kadarnya akan meningkat di udara.

Kebisingan

Kegiatan mobilisasi kendaraan pengangkut sampah akan berdampak terhadap kebisingan di sekitar badan jalan yang dilaluinya.

2. Dampak terhadap Sosekbud dan Lingkungan Hidup

Estetika Lingkungan

Mobilisasi kendaraan pengangkut sampah tersebut dapat menimbulkan  ceceran-ceceran sampah dan air leachate sehingga dapat mengakibatkan menurunnya estetika lingkungan.

Kelancaran Lalu Lintas

Arus lalu lintas badan-badan jalan yang dilalui oleh kendaraan pengangkut  sampah akan mengalami peningkatan. Selain itu kegiatan pengangkutan sampah juga dapat mengakibatkan pengotoran dan kerusakan badan jalan.

Kamtibmas

Kegiatan mobilisasi kendaraan pengangkut samah tersebut dapat  menimbulkan dampak-dampak negatif seperti kebisingan, penurunan  kualitas udara, gangguan kelancaran lalu lintas, pengotoran dan kerusakan  badan jalan, penurunan estetika lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak terhadap gangguan kamtibmas.

D. Pengoperasian Bangunan Pengolahan Leachate (BPL)

1. Dampak Terhadap Fisik Kimia

Kualitas Air Permukaan dan Air Tanah

Beroperasinya pengolahan akhir sampah yang secara kontinyu dan jangka  waktu yang cukup lama membuang leachate yang meresap kedalam dasar  lahan dapat menurunkan kualitas air permukaan dan air tanah. Sistem  pengolahan mencegah penurunan kualitas air sungai sekitar lahan dan air  tanah leachate hasil dekomposisi sampah dan rembesan sampah akan dibangun pengolahan leachate.

2. Dampak Terhadap Hayati

Flora Perairan

Kegiatan pengoperasian BPL akan berdampak terhadap kehidupan biota  perairan (plankton). Dengan dioperasikannya BPL, maka kemungkinan  penurunan kualitas air permukaan akibat limbah cair akan berkurang sehingga tingkat gangguan terhadap kehidupan biota perairan akan berkurang.

Fauna Perairan (Bentos dan Ikan)

Seperti halnya dampak terhadap flora perairan, dampak pengoperasian BPL  terhadap fauna perairan (bentos dan ikan) juga merupakan dampak tidak  lansung akibat berkurangnya kemungkinan penurunan kualitas air permukaan akibat limbah cair.

5.7.4 Tahap Pasca Operasi

Pada tahap pasca operasi, walaupun pengolahan akhir sampah sudah tidak  menerima sampah lagi, namun proses pembusukan sampah yang telah ada  tetap berlansung sehingga tetap terjadi emisi gas metan dan karbondioksida serta terbentuknya cairan leachate.

1. Dampak Terhadap Fisik Kimia.

Kualitas Udara

Gas metan dan CO2 serta gas-gas lain yang dihasilkan dari proses  pembusukan akan tersebar ke lingkungan sekitar. Walaupun kosentrasinya  sudah dalam kecendrungan menurun namun tetap menjadi peningkatan  yang berarti dibanding kosentrasi rona awal sebelum adanya pengolahan  sampah, bahkan sampai 20-35 tahun sekalipun (pada jarak kajian 500 meter dari batas lahan).

Kualitas Air Permukaan dan Air tanah

Air leachate yang terbentuk memiliki kandungan COD dan BOD yang tinggi  sehingga akan menyebabkan penurunan kualitas air sungai dan air tanah bila tidak dikelola dengan baik.

2. Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan.

Kesehatan Masyarakat

Proses pembusukan sampah tahap pasca operasi tetap menghasilkan gas  metan yang bila terakumulasi dalam konsentrasi tinggi dapat terjadi  ledakan yang membahayakan lingkungan sekitarnya terutama di lingkungan permukaan lahan bekas pengolahan sampah.

5.8. Sistem Organisasi Dan Manajemen

5.8.1 Bentuk Institusi

Adapun bentuk kelembagaan yang dianjurkan untuk berbagai kategori kota adalah sebagai berikut :

1. Kota Raya dan Kota Besar (> 1.000.000 jiwa).

a. Perusahaan Daerah atau
b. Dinas tersendiri.

2. Kota Sedang 1 (250.000 – 500.000 jiwa) atau Ibukota Propinsi.

Dinas tersendiri.

3. Kota Sedang 2 (100.000 – 250.000 jiwa) atau Kotip/Kodya.

a. Dinas/Suku Dinas.
b. UPTD/PU.
c. Seksi/PU.

4. Kota Kecil (20.000 – 100.000 jiwa).

a. UPTD/PU.
b. Seksi/Dinas.

5.8.2 Struktur Kelembagaan

Struktur kelembagaan harus dapat menggambarkan aktivitas utama dalam sistem  pengelolaan yang dikehendaki, pola kerja yang jelas, dan mempunyai fungsi perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian/ pengawasan terutama untuk bentuk Dinas dan Perusahaan Daerah tersendiri.

5.8.3 Personalia

Kualitas personil pada tingkat pimpinan menunjukkan tingkat kemampuan manajemen dan teknik.

Perbandingan jumlah personil pengelola terhadap penduduk :

1. Pengumpulan, minimum 1 : 1000 penduduk.
2. Pengangkutan dan Pembuangan Akhir, minimum 1 : 1000 penduduk.

5.8.4 Tata Laksana Kerja

Dalam penyusunan tata laksana kerja, hal yang harus diperhatikan dan dilaksanakan:

1. Perlu diciptakan pengendalian kelembagaan secara otomatis.
2. Pembebanan yang merata dan selaras untuk semua personil dan unit.
3. Pendelegasian tugas dan wewenang yang proporsional dan berimbang.
4. Perlu dicari birokrasi yang singkat.
5. Keteraturan dan kejelasan penugasan perlu ditumbuhkan.

5.9. Sistem Pembiayaan

Penjabaran mengenai sistem pembiayaan adalah :

A. Sumber Dana.

Dana untuk pengelolaan persampahan/kebersihan suatu kota besarnya 5- 10% dari APBD. Diusahakan agar biaya pengelolaan sampah dapat diperoleh  dari masyarakat (± 80%), dan Pemerintah Daerah menyediakan ± 20% untuk pelayanan umum antara lain penyapuan jalan, pembersihan saluran dan
tempat-tempat umum.

B. Struktur Pembiayaan.

Biaya pengelolaan sampah berkisar antara Rp. 8.500,- s/d Rp. 15.000,-  /m3/hari.

Dengan struktur biaya operasional sebagai berikut:

1) Pengumpulan : 30% – 40%.
2) Pengangkutan : 45% – 50%.
3) Pembuangan Akhir : 10% – 15%.

C. Retribusi.

Besarnya retribusi yang layak ditarik dari masyarakat adalah ± 1% dari penghasilan per rumah tangga. Pengelolaan sampah diarahkan dapat mencapai Self Financing (mampu membiayai sendiri) apabila perhitungan besar retribusi dilakukan dengan cara klasifikasi dan prinsip “subsidi silang”.

D. Pelaksanaan Penarikan Retribusi.

Pelaksanaan penarikan retribusi diatur dalam suatu dasar hukum yang memenuhi prinsip sebagai berikut:

  1. Disusun sistem pengendalian yang efektif, antara lain bersama-sama
    rekening air minum.
  2. Dibagi dalam wilayah penagihan.
  3. Didasarkan pada target (terutama yang sulit dikendalikan).
  4. Penagihan mulai dilaksanakan setelah pelayanan berjalan teratur.
  5. Struktur tarif dalam Perda perlu dipublikasikan secara luas kepada
    masyarakat.

5.10. Sistem Pengaturan

Untuk pelaksanaan pengelolaan sampah diperlukan dasar hukum yang mengatur antara lain :

  1. Peraturan Daerah tentang ketentuan-ketentuan pembuangan sampah/kebersihan termasuk buangan industri.
  2. Peraturan Daerah tentang pembentukan badan pengelolanya.
  3. Peraturan Daerah tentang tarif retribusi sampah.

Dasar hukum disusun berdasarkan kendala teknis sebagai berikut :

  1. Mempunyai jangka waktu yang terbatas.
  2. Kesiapan terhadap upaya penegakannya.
  3. Mempunyai keluwesan tetapi tegas/tidak bermakna ganda.
  4. Setelah itu perlu dilaksanakan usaha-usaha untuk penyebarluasan dan penerapan Perda yang telah ada.

5.11. Aspek Peran Serta Masyarakat

Peran serta masyarakat yang telah ada perlu ditingkatkan karena hal ini akan memudahkan dalam teknis operasional dan akan menurunkan biaya pengelolaan kebersihan. Untuk itu diperlukan suatu program secara terpadu, teratur dan terusmenerus serta bekerja sama dengan organisasi masyarakat. Upaya yang dilakukan antara lain penerangan/ penyuluhan akan pentingnya pengelolaan kebersihan yang akan meningkatkan kesehatan, serta menggugah peran serta masyarakat dan organisasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pola pendekatan untuk masyarakat di kota kecil dapat dilakukan dengan pendekatan oleh tokoh masyarakat, sedangkan semakin besar kota perlu adanya pendekatan institusi/hukum.

4 responses to “5 Kriteria TPA

  1. mhon tidak bingung-bingung mengatasi soal sampah,cara yg.mudah tidak sulit dan pasti berhasil,buka teknologi pemusnah sampah,cara ini adalah temuan baru yg.betul-betul dapat dan telah dapat berhasil dlm.mengatasi sampah berapa sajakondisi basah ataupun busuk tanpa bahan bakar apapun.

  2. maaf kalau boleh tahu , SNI nomor berapa yg mengatur tentang lebarminimum jalan? terima kasih

  3. Pingback: Persyaratan Lokasi TPA | Hendy Kurniawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s