2 Gambaran Umum

Review Studi Kelayakan SPA

BAB 2 GAMBARAN UMUM LOKASI KEGIATAN

2.1. GAMBARAN UMUM KOTA DEPOK

Kondisi Geografis

Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6o 19’00” – 6o 28’00” Lintang Selatan dan 106o43’00” – 106o55’30” Bujur Timur. Bentang alam Depok dari Selatan ke Utara merupakan daerah dataran rendah – perbukitan bergelombang lemah, dengan elevasi antara 50 – 140 meter diatas permukaan laut dan kemiringan lerengnya kurang dari 15 persen. Kota Depok sebagai salah satu wilayah termuda di Jawa Barat, mempunyai luas wilayah sekitar 20.029 ha. Peta administrasikotaDepok dapat dilihat pada gambar 2.1.

Wilayah Kota Depok berbatasan dengan tiga Kabupaten dan satu Propinsi. Secara lengkap wilayah ini mempunyai batas-batas sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Ciputat Kota Tangerang Selatan dan Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Podok Gede Kota Bekasi dan Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor.

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Cibinong dan Kecamatan Bojonggede Kabupaten Bogor.

Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Parung dan Kecamatan Gunungsindur Kabupaten Bogor.

Letak Kota Depok sangat strategis, diapit oleh Kota Jakarta dan Kota Bogor. Hal ini menyebabkan Kota Depok semakin tumbuh dengan pesat seiring dengan meningkatnya perkembangan jaringan transportasi yang tersinkronisasi secara regional dengan kota-kota lainnya.

Kota Depok dapat dilihat pada peta berikut ini :

Gambar 2‑1 Wilayah Administrasi


Sumber Daya Alam

Sumber Daya Lahan

Perkembangan Kota Depok dari tahun ke tahun akan sangat jelas terlihat terutama perkembangan fisik kotanya yang ditandai dengan perubahan pemanfaatan lahan di Kota Depok. Sebagai perbandingan, dibawah ini terdapat pemanfaatan lahan Kota Depok tahun 2002 sampai tahun 2007.

Pemanfaatan lahan pada tahun 2002 dan tahun 2007 didominasi untuk kegiatan permukiman dengan bentuk lahan sebagai lahan terbangun. Lahan terbangun ini merupakan pengembangan lahan dimana di atas lahan tersebut ditutupi dengan bangunan. Dalam 5 tahun perkembangan lahan terbangun cukup pesat yaitu seluas 4.043,58 Ha dibangun sebagai permukiman atau menjadi lahan terbangun.

Perubahan lahan menjadi lebih luas yaitu menjadi lahan terbangun. Sedangkan perubahan lahan menjadi sempit paling banyak dari lahan kering/ ladang berubah menjadi lahan terbangun, yaitu  seluas 2.235,04 Ha atau mencapai 11,16% dari total luas wilayah Kota Depok. Dan secara keseluruhan perubahan pengunaan lahan dari lahan non terbangun menjadi lahan terbangun selama kurun waktu lima tahun ( tahun 2002-2007)  meningkat sebesar 20,19% atau sekitar 5,05% pertahun.

Dengan menambahkan luasan  izin pemanfaatan ruang ( IPR) pada tahun 2008 dan tahun 2009 pada pola guna lahan terbangun  tahun 2007 maka dapat di lihat pergeseran penggunaan lahan tidak terbangun menjadi terbangun selama kurun waktu 2002 sampai dengan 2009.

Dari data penggunaan lahan terbangun dan non terbangun tahun 2002 sampai tahun 2009 terlihat bahwa pola penggunaan lahan terbangun dari ketahun-ketahun di Kota Depok bertambah meskipun penambahannya relatif kecil.  Hal ini terlihat dari data tahun 2002 penggunaan lahan terbangun mencapai 6.054,99 ha atau sekitar 30,27% dan selama kurun waktu tujuh tahun yaitu pada tahun 2009 penggunaan lahan terbangun mencapai 10461,89 atau sekitar 52,30% dari luas lahan Kota Depok.

Dengan demikian selama secara keseluruhan perubahan pengunaan lahan dari lahan non terbangun menjadi lahan terbangun selama kurun waktu tujuh tahun ( tahun 2002-2009)  meningkat sebesar 22,03% atau sekitar 3,67% pertahun.

guna Lahan 2002-2007

Tabel 2‑1 Penggunaan Lahan Kota Depok Tahun 2002-2007

Sumber : Penyusunan Naskah Akademis RTRWKotaDepok Tahun 2010 – 2030

JPG Guna Lahan RevisiTabel 2‑2 Pola Guna Lahan Tahun 2009

Sumber : Penyusunan Naskah Akademis RTRWKotaDepok Tahun 2010 – 2030

Penggunaan Lahan di Kota depok dapat dilihat pada gambar berikut ini :

A.1 Topografi dan Kemiringan

Kota Depok  merupakan dataran landai dengan rata-rata ketinggian 121 m dari permukaan lauta (dpl) dan merupakan daerah resapan air bagi DKI Jakarta. Oleh karena itu wilayah ini perlu dikendalikan dan direncanakan pembangunannya sehingga tidak mengancam ketersediaan air bagi wilayah DKI Jakarta.

Kondisi wilayah bagian utara umumnya berupa dataran rendah, sedangkan wilayah bagian Selatan umumnya merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian 40 – 140 meter diatas permukaan laut dengan kemiringan lereng antara 2-15 %.

Gambar 2‑2 Penggunaan Lahan


Wilayah dengan kemiringan lereng antara 8-15 % tersebar dari Barat ke Timur.

Wilayah dengan kemiringan lereng lebih dari 15 % terdapat disepanjang kali Cikeas, Ciliwung dan bagian Selatan sungai Angke.

Kemiringan lereng antara 8-15 % potensial untuk pengembangan perkotaan dan pertanian, sedangkan kemiringan lereng yang lebih besar dari 15 % potensial untuk dijadikan sebagai benteng alam yang berguna untuk memperkuat pondasi. Di samping itu, perbedaan kemiringan lereng juga bermanfaat untuk sistem drainase Permasalahan yang muncul akibat topografi Kota Depok adalah karena adanya perbedaan kemiringan lereng menyebabkan terjadinya genangan atau banjir, bila penanganan terhadap aspek drainase perkotaan tidak dilakukan secara terpadu. Peta Kemiringan Lereng Kota Depok dapat dilihat pada gambar berikut ini.

A.2 Geologi dan Jenis Tanah

Berdasarkan peta geologi regional oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung tahun 1992, Lembar Jakarta dan Kepualuan Seribu 1 : 100.00, stratigrafi wilayah Depok sekitarnya dari tua ke muda disusun oleh batuan perselingan, batupasir dan batu lempung sebagai berikut :

Formasi Bojongmanik (Tmb) : Perselingan konglomerat, batupasir, batulanau, batu lempung

Formasi Serpong (Tpss) : Breksi, lahar, tuf breksi, tuf batu apung

Satuan Batuan Gunung api Muda (Qv) : tuf halus berlapis, tuf pasiran berselingan dengan konglomeratan

Satuan Batuan Kipas Alluvium : Endapan lempung pasir, krikil, kerakal dan

Satuan Endapan Alluvia (Qa)

Struktur geologi di daerah ini merupakan lapisan horizontal atau sayap lipatan dengan kemiringan lapisan yang hampir datar, sesar mendatar yang diperkirakan berarah utara – selatan.

Gambar 2‑3 Kemiringan Lereng


Menurut Laporan Penelitian Sumberdaya Air Permukaan di Kota Depok, kondisi geologi Kota Depok termasuk dalam sistem geologi cekungan Botabek yang dibentuk oleh endapan kuarter yang berupa rombakan gunung api muda dan endapan sungai. Singkapan batuan tersier yang membatasi cekunganBogor– Tangerang – Bekasi terdapat pada bagian barat – barat daya dimana di jumpai pada Formasi Serpong, Genteng dan Bojongmanik.

Secara umum keadaan jenis tanah di Kota Depok adalah sebagai berikut (Rosnila, 2004) :

Tanah Alluvial, tanah endapan yang masuh muda, terbentuk dari endapan lempung, debu dan pasir, umumnya tersikap di jalur-jalur sungai, tingkat kesuburan sedang – tinggi.

Tanah Latosol coklat kemerahan, tanah yang belum begitu lanjut perkembangannya, terbentuk dari tufa vulkan andesitis – basalitis, tingkat kesuburannya rendah – cukup, mudah meresapkan air, tanah terhadap erosi, tekstur halus.

Asosiasi Latosol merah dan laterit air tanah, tanah latosol yang perkembangannya dipengaruhi air tanah, tingkat kesuburan sedang, kandungan air tanah cukup banyak, sifat fisik tanah sedang – kurang baik.

Jenis Tanah di Kota Depok dapat dilihat pada gambar berikut :

A.3 Klimatologi dan Curah Hujan

Depok mempunyai potensi sebagai sebuah wilayah penyangga yang menjadi kawasan lalu lintas Jakarta – Depok – Bogor – Tangerang – Bekasi, satu sisi potensi ini mendukung untuk menjadikan sebagai tempat bermukim, tempat berusaha, dan sebagai daerah Pemerintahan. Secara biogeografis karena kestrategisan Kota Depok yang merupakan bagian dari berbagai daerah aliran sungai yang berpusat di pegunungan di Kabupaten Bogor dan Cianjur, menjadikan curah hujan di Kota Depok cukup tinggi sehingga Depok kaya akan potensi flora dan fauna.

Wilayah Depok termasuk dalam daerah beriklim tropis dengan perbedaan curah hujan yang cukup kecil dan dipengaruhi oleh iklim musim, secara umum kemarau antara bulan April – September dan musim hujan  antara Oktober – Maret. Iklim Depok yang tropis mendukung untuk pemanfaatan lahan pertanian ditambah lagi dengan kadar curah hujan yang kontinu di sepanjang tahun. Permasalahan mendasar walaupun di satu sisi di dukung oleh iklim

Gambar 2‑4 Peta Jenis Tanah DiKota Depok


tropis yang baik yaitu alokasi tata guna lahan yang harus mepertimbangkan sektor lain terutama lahan hijau dan permukiman. Perlu dipertimbangkan juga banyaknya penetrasi penggunaan lahan hijau untuk perdagangan dan permukiman pada lahan pertanian dan lahan terbuka hijau.

Temperatur            : 24,3 – 33 derajat celcius

Kelembaban rata- rata         : 82%

Penguapan rata – rata         : 3,9 mm/th

Kecepatan angin rata- rata: 3,3 knot

Penyinaran matahari rata – rata         : 49,8 %

Jumlah curah hujan              : 2684 mm/th

Jumlah hari hujan: 222 hari/th

Kondisi curah hujan di seluruh wilayah di daerah Depok relatif sama, dengan rata – rata curah hujan sebesar 327 mm/tahun. Kondisi curah hujan seperti diatas, mendukung kegiatan di bidang pertanian terutama pertanian lahan basah di areal irigasi teknis. Sedangkan untuk daerah tinggi dan tidak ada saluran irigasi teknis akan lebih sesuai untuk tanaman palawija kombinasi dengan padi / lahan basah pada musim hujan sebagai pertanian tadah hujan. Selain penting sebagai sumber irigasi, curah hujan juga penting untuk pemberian gambaran penentuan lahan, terutama lokasi, pola cocok tanam, dan jenis tanaman yang sesuai.

Sumber Daya Air

B.1 Air Permukaan

Air Permukaan adalah semua air yang terdapat dan berasal dari sumber – sumber air yang berada di permukaan tanah. Air permukaan yang dimaksud dalam paparan berikut ini adalah air sungai dan air danau.

Air Sungai

Sistem air sungai besar yang mengalir dikotaDepok dan sekitarnya yaitu: Sungai Angke, Sungai Pesanggrahan, Sungai Grogol, Sungai Krukut, Sungai Ciliwung dan Sungai Sunter.

Sungai – sungai tersebut berhulu di bagian selatan, merupakan dataran tinggi atau pegunungan yang terletak di Kabupaten Bogor seperti Gunung Salak, Gunung Halimun, Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Selain itu,kotaDepok juga mempunyai beberapa saluran irigasi yaitu saluran irigasi Cisadane Empang dan saluran irigasi Kali Baru.

Beberapa sungai yang mengalir melaluikotaDepok adalah sebagai berikut:

Sungai Angke

Sungai ini merupakan batas wilayah antarakotaDepok dan Kabupaten Bogor, mengalir kearah utara, Sungai Angke ini mempunyai perbedaan debit yang besar antara musim hujan dan musim kemarau.

Sungai Ciliwung

Sungai Ciliwung digunakan sebagai sumber air baku bagi kota Depok dan Jakarta. Pada perbatasan dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat pada musim kemarau mempunyai debit sebesar 9,06-13,40 m3/detik.

Sungai Pesanggrahan

Sungai ini merupakan sumberdaya air terpenting untuk Sawangan. Kondisi air berwarna coklat bercampur lumpur dan kotoran. Sungai ini mempunyai fluktuasi yang tinggi antara musim hujan dan musim kemarau. Bahkan pada musim hujan sering menimbulkan banjir setempat.

Berdasarkan data debit dari Balitbang PU, Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengairan Bandung antara 1992 – 1996 statistik pengukuran Sawangan debit minimum adalah Qmin =350 lt/detik (sumber RTRW Kota Depok tahun 2010-2030)

Saluran Irigasi Kali Baru

Saluran ini merupakan saluran irigasi untuk pertanian, sehingga pada periode tertentu dikeringkan untuk pemeliharaan saluran. Berdasarkan pengukuran debit aliran yang diukur dengan currentmeter, debit sesaat QS=603,36 1/detik. (Sumber RTRW Kota Depok tahun 2010-2030).

Saluran Irigasi Cisadane Empang

Saluran ini mempunyai fungsi utama untuk pengairan pertanian, sehingga pada periode tertentu dilakukan pengeringan, untuk pemeliharaan saluran. Data debit dari cabang Dinas PU Pengairan Kabupaten Bogor antara tahun 1992 sampai 1997, stasiun pengukuran KP Pecahan Air, debit minimal QS=200 1/detik. (Sumber RTRW Kota Depok tahun 2010-2030).

Danau/Situ

Salah satu sumber air permukaan yang ada di kota Depok adalah danau atau situ. Situ-situ ini berfungsi sebagai irigasi lokal, perikanan, sanitasi, pengendali air, air minum, industri dan rekreasi.

Berdasarkan dari data resmi yang dikeluarkan oleh Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air terdapat 26 situ di Kota Depok.

B.2 Air Tanah

Air Tanah Dangkal

                Di kota Depok banyak ditemukan sumur gali untuk kebutuhan masyarakat dengan kedalaman rata-rata 10 m. Pada umumnya kondisi sumur gali baik,  tetapi air tawar di sebagian tempat kondisinya keruh dan berbau.

Air Tanah Dalam

                                Di kota Depok banyak ditemukan sumber air tanah dalam. Saat ini air tanah merupakan sumber penyediaan air yang utama untuk kota Depok. Stratigraf Depok yang tersusun dari Formasi genteng dan endapan vulkanik mempunyai potensi air tanah dalam 3-4 lt/det/km2, sedangkan alluvium memiliki potensi 5-7 lt/det/km2.

                Sejalan dengan pengembangan kota Jakarta dan kota-kota sekitarnya termasuk kota Depok, dimana pengambilan air tanah meningkat, sehingga perlunya pembatasan terhadap pengambilan air tanah dalam ini.

Informasi Berdasarkan Sumur Bor

Dari survei air tanah Botabek didapatkan tiga system akuifer yang sangat umum, yaitu :

a.             Akuifer dangkal    : 0-20 m, preatik semi terikat pada tempat lebih dalam,

b.             Akuifer menengah               : 20-70 m, semi terikat hingga semi tak tertekan,

c.             Akuifer dalam       : > 70 m, semi terikat atau tertekan, artesis di lokasi dekat  pantai.

Informasi tersebut meliputi informasi tentang kedalaman, lokasi sumur, dan mutu air. Dibagian selatan air tanah dangkal 8-10 m dan air tanah dalam 10-30 m. Zona recharge yang baik terdapat pada batuan kipas vulkanik dan batuan vulkanik yaitu di bagian selatan. Kondisi hidrogeologi Kota Depok dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2‑5 Hidrogeologi


Kondisi Sosial Ekonomi

Pemerintahan

Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor tanggal 16 Mei 1994 Nomor 135/SK.DPRD/03/1994 tentang Persetujuan Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan Keputusan dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah  Tingkat I Jawa Barat tanggal 7 Juli 1997 Nomor 135/Kep.Dewan 06/DPRD/1997 tentang Persetujuan Atas Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan untuk lebih meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat serta untuk lebih meningkatkan peran aktif masyarakat, maka pembentukan Kota Depok sebagai wilayah administratif baru di Propinsi Jawa Barat ditetapkan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 tahun 1999.

Berdasarkan Undang-undang tersebut, dalam rangka pengembangan fungsi kotanya sesuai dengan potensinya dan guna memenuhi kebutuhan pada masa-masa mendatang, terutama untuk sarana dan prasarana fisik kota, serta untuk kesatuan perencanaan, pembinaan wilayah, dan penduduk yang berbatasan dengan wilayah Kota Administratif Depok, maka wilayah Kota Depok tidak hanya terdiri dari wilayah Kota Administratif Depok, tetapi juga meliputi sebagian wilayah Kabupaten Bogor lainnya, yaitu Kecamatan Limo, Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Sawangan dan sebagian wilayah Kecamatan Bojonggede yang terdiri dari Kelurahan Pondok Terong, Kelurahan Ratujaya, Kelurahan Pondok Jaya, Kelurahan Cipayung dan Kelurahan Cipayung Jaya. Sehingga wilayah Kota Depok terdiri dari 6 Kecamatan. Hal ini mengakibatkan bertambahnya beban tugas dan volume kerja dalam penyelenggaraan pemerintah, pembangunan dan pembinaan serta pelayanan masyarakat di Kota Depok.

Berdasarkan Perda 8 tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan di Depok, kecamatan yang ada dimekarkan menjadi 11 Kecamatan. Kota Depok mempunyai 63 Kelurahan, 846 Rukun Warga (RW), dan 4.675 Rukun Tetangga (RT). Perkembangan Kota Depok diikuti pula dengan peningkatan jumlah penduduk yang cepat. Pada tahun 1990 Kota Administratif Depok penduduknya berjumlah 271.134 jiwa dan pada tahun 2000 menjadi 1.143.403 jiwa. Berdasarkan Buku Depok Dalam Angka 2009, jumlah penduduk Kota Depok pada tahun 2009 mengalami peningkatan menjadi 1.536.980 jiwa.

Penduduk

Jumlah penduduk Kota Depok pada tahun 2009 mencapai 1.536.980 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 798.802 jiwa dan penduduk perempuan 738.178 jiwa. Dengan demikian, rasio jenis kelamin di Kota Depok adalah 108.

Kecamatan Cimanggis paling banyak penduduknya dibanding kecamatan lain di Kota Depok, yaitu 421.630 jiwa, kemudian Kecamatan Sukmajaya dengan penduduk 358.110 jiwa. Sedangkan Kecamatan Beji, penduduknya paling sedikit yaitu 146.441 jiwa.

Tabel 2‑3 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Di Kota Depok Tahun 2004 – 2008

No

Kecamatan

2004

2005

2006

2007

2008

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

1

Sawangan

        153,245

        159,543

        166,276

        166,076

169.728

2

Pancoran Mas

        240,904

        247,622

        254,797

        269,144

275.103

3

Sukmajaya

        301,809

        307,753

        314,147

        342,447

350.331

4

Cimanggis

        367,283

        379,487

        392,512

        403,037

412.388

5

Beji

        130,656

        136,899

        143,592

        139,888

143.190

6

Limo

        137,662

        143,218

        149,156

        149,410

152.938

Kota Depok

     1,331,559

     1,374,522

     1,420,480

     1,470,002

1.503.677

Sumber : Kota Depok dalam Angka 2009

Selama kurun waktu 2004 – 2008, laju pertumbuhan penduduk Kota Depok per tahun rata – rata adalah 3,471 %. Meningkatnya jumlah penduduk di Kota Depok ini terjadi akibat tingginya migrasi penduduk ke Kota Depok akibat pesatnya pengembangan kota dan meningkatnya pengembangan kawasan perumahan.

Di tahun 2009, kepadatan penduduk Kota Depok mencapai 7.673,77 orang per kilo meter persegi. Kecamatan Sukmajaya merupakan kecamatan terpadat di Kota Depok, yaitu sebesar 10.492,53 orang per kilo meter persegi, sedangkan Kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan Sawangan yaitu sebesar 3.794,31 orang per kilo meter persegi.

Tabel  STYLEREF 1 \s 2‑ SEQ Tabel \* ARABIC \s 1 4 Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk

Menurut Kecamatan di Kota Depok Tahun 2009

No

Kecamatan

Jumlah

Luas

Kepadatan

Penduduk

Wilayah (Km²)

Penduduk (jiwa/Km²)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

1

Sawangan

173.362

45,69

 3.794,31

2

Pancoran Mas

281.005

29,83

 9.420,21

3

Sukmajaya

358. 110

34,13

 10.492,53

4

Cimanggis

421.630

53,54

 7.875,05

5

Beji

146.441

14,30

 10.240,63

6

Limo

156.432

22,80

 6.861,05

Kota Depok

1.536.980

 200,29

7.673,77

Sumber : Kota Depok dalam Angka 2009

Berdasarkan naskah akademis RTRW, untuk angka pertumbuhan penduduk di Kota Depok diambil angka 3,6 % per tahun. Angka ini yang selanjutnya digunakan untuk perhitungan prediksi pertumbuhan penduduk 10 (sepuluh) tahun ke depan.

Tenaga Kerja

Penduduk usia kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 10 tahun ke atas. Penduduk usia kerja terdiri dari “ Angkatan Kerja” dan bukan Angkatan Kerja. Penduduk yang tergolong “ Angkatan Kerja “ adalah mereka yang aktif dalam kegiatan ekonomi. Kesempatan kerja memberikan gambaran besarnya tingkat penyerapan pasar kerja, sehingga angkatan kerja yang tidak terserap dikategorikan sebagai penganggur.

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional 2008, dapat diperoleh gambaran bahwa pada tahun 2008, penduduk Kota Depok yang bekerja 59,63% sedangkan yang menganggur sekitar 6,70%. Jadi penduduk Kota Depok yang tergolong angkatan kerja 66,33%, sisanya merupakan penduduk bukan angkatan kerja. Dari penduduk yang bekerja sebagian besar bekerja di sector jasa Kemasyarakatan. Status pekerjaan didominasi sebagai buruh/karyawan/pegawai 57,03%, kemudian berusaha sendiri 22,61%.

Tabel  STYLEREF 1 \s 2‑ SEQ Tabel \* ARABIC \s 1 5 Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas Menurut

Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Kota Depok Tahun 2008

No

Status Pekerjaan Utama

Laki-laki

Perempuan

Laki-laki +

Perempuan

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

1

Berusaha Sendiri

24,38

19,59

22,61

2

Berusaha dibantu buruh tidak

8,77

7,92

8,46

tetap/tidak dibayar

3

Berusaha dibantu buruh tetap/dibayar

6,67

2,53

5,14

4

Buruh/Karyawan/Pegawai

56,20

58,45

57,03

5

Pekerja Bebas di Pertanian

0,46

0,01

0,29

6

Pekerja Bebas di Non Pertanian

2,26

1,88

2,12

7

Pekerja tidak dibayar

1,25

9,62

4,35

Jumlah

100,00

100,00

100,00

Sumber : Kota Depok dalam Angka 2009

Pendidikan

Pada tahun 2008, penduduk Kota Depok yang berumur 10 tahun keatas memiliki ijazah tertinggi SLTA dan sederajad 21,70%. Memiliki Ijasah SLTA merupakan presentase terbesar disbanding jenjang pendidikan lainnya. Penduduk Kota Depok yang berumur 10 tahun keatas yang bisa membaca dan menulis huruf latin 36,79%, huruf lainnya 25,21%, bisa huruf latin dan huruf lainnya 62,00% dan yang buta huruf 1,21%.

Tabel  STYLEREF 1 \s 2‑ SEQ Tabel \* ARABIC \s 1 6 Persentase Penduduk 10 Tahun Keatas Menurut Ijasah Tertinggi

dan Jenis Kelamin di Kota Depok Tahun 2008

No

Ijasah Tertinggi

Laki-laki

Perempuan

Laki-laki +

yang dimiliki

Perempuan

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

1

Tidak punya

 10,90

 12,90

 11,90

2

SD/MI/sederajat

18,90

22,20

20,50

3

SLTP/MTs/sederajat

17,50

22,10

19,70

4

SMU/MA/sederajat

22,80

20,50

21,70

5

SMKejuruan

15,40

10,20

12,90

6

Diploma I/II

0,60

1,50

1,00

7

Diploma III

4,70

3,50

4,10

8

Diploma IV/Sarjana

8,10

6,20

7,20

9

S2/S3

0,90

0,90

0,90

Jumlah

100,00

100,00

100,00

Sumber : Kota Depok dalam Angka 2009

Sarana dan Prasarana

Fasilitas Transportasi

Salah satu potensi Kota Depok adalah di sektor perhubungan. Jumlah angkutan, izin trayek, jumlah penumpang yang ada di kota Depok merupakan investasi yang menunjang pembangunan di kota Depok dan merupakan salah satu asset dalam penghitungan PAD Kota Depok. Lalu lintas angkutan kereta api merupakan alat transportasi yang banyak diminati karena biayanya yang relatif murah dan cepat sampai di tujuan.

Tabel 2‑7 Jumlah Penumpang Kereta Api Menurut Stasiun

di Kota Depok Tahun 2009

No

Stasiun

Jumlah

(1)

(2)

(3)

1

Pondok Cina

1.326.244

2

Depok Baru

7.089.566

3

Depok Lama

3.596.290

4

UI

2.041.035

5

Citayam

4.896.668

Kota Depok

18.949.803

                 Sumber : Kota Depok dalam Angka 2009

Sementara itu kondisi jalan di Kota Depok sampai tahun 2005 yang sudah dibeton sepanjang 27.227 meter, yang diaspal hotmixed 245.377 meter, yang diaspal penetrasi 47.719 meter dan yang masih dalam tahap perkerasan 6.200 meter.

Tabel 2‑8 Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan di Kota Depok tahun 2006

No

Kecamatan

Jenis Jalan

Jumlah

Perkerasan

Penetrasi

Hotmixed

Beton

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

1

Sawangan

3,300

9,000

12,800

25,100

2

Pancoran Mas

2,300

36,043

3,100

41,443

3

Sukmajaya

18,608

59,844

1,100

78,452

4

Cimanggis

2,900

68,530

2,750

72,530

5

Beji

17,011

70,360

20,227

90,121

6

Limo

800

21,077

Kota Depok

6,200

47,719

247,577

27,177

328,723

Sumber : Kota Depok dalam Angka 2006

Fasilitas Pendidikan

Tahun ajaran 2007/2008 di Kota Depok terdapat sekolah SD sebanyak 373 sekolah, dengan jumlah murid 140.068 murid dan jumlah guru sekitar 5.451 orang. Sekolah SMP berjumlah 160 sekolah dengan jumlah siswa 47.841 orang dan jumlah guru 2.147 orang. Di tingkat SMA/SMK terdapat 127 sekolah dengan jumlah murid dan guru masing-masing 39.481 orang dan 1.696 orang.

Tabel 2‑9 Jumlah Sekolah Menurut Kecamatan

di Kota Depok Tahun Ajaran 2007/2008

No

Kecamatan

SD

SMP

SMA/SMK

(1)

(2)

(4)

(4)

(5)

1

Sawangan

59

29

22

2

Pancoran Mas

77

45

40

3

Sukmajaya

87

29

26

4

Cimanggis

91

31

14

5

Beji

33

12

10

6

Limo

26

14

15

Kota Depok

373

160

127

                  Sumber : Kota Depok dalam Angka 2009

Fasilitas Peribadatan

Pada tahun 2009, di Kota Depok terdapat 768 masjid, 851 langgar, 895 musholla, 6 gereja katolik, 62 gereja protestan, 2 vihara dan 2 pura. Jumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kota Depok tahun 2009 adalah 132 sekolah dengan jumlah murid 30.401 orang, dan guru 1.513 orang. Sedangkan jumlah Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Depok 63 sekolah, dengan jumlah siswa 11.735 orang, dan jumlah guru 836 orang. Serta julah sekolah Madrasah Aliyah (MA) ada 20 sekolah, dengan jumlah siswa 2.029 siswa, dan 294 guru.

Tabel 2‑10 Banyaknya Tempat Ibadah Menurut Jenisnya di Kota Depok tahun 2009

No

Kecamatan

Masjid

Langgar

Mushola

*) Gereja

Vihara

Pura

Katolik

Protestan

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

1

Sawangan

152

177

177

2

20

-

-

2

Pancoran Mas

149

175

175

2

22

1

-

3

Sukmajaya

175

135

135

-

4

-

-

4

Cimanggis

156

106

106

-

6

-

1

5

Beji

48

67

159

1

5

1

-

6

Limo

88

191

143

1

5

-

1

Kota Depok

768

861

895

6

62

2

2

Sumber : Kota Depok dalam Angka 2009

Fasilitas Kesehatan

Di Kota Depok tahun 2009 tersedia 30 puskesmas yang tersebar di 6 Kecamatan. Sarana pelayanan kesehatan antara lain rumah sakit juga tersedia di Kota Depok. Sampai dengan tahun 2009 rumah sakit umum yang ada di Kota Depok berjumlah 12, rumah sakit ibu dan anak berjumlah 4 rumah sakit, Balai Pengobatan 137, Rumah Bersalin 19 buah.

Tabel 2‑11 Jumlah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di Kota Depok Tahun 2009

No

Kecamatan

Puskesmas

(1)

(2)

(3)

1

Sawangan

5

2

Pancoran Mas

4

3

Sukmajaya

7

4

Cimanggis

9

5

Beji

3

6

Limo

2

Kota Depok

30

                 Sumber : Kota Depok dalam Angka 2009

Listrik

Di Kota Depok ada 3 Unit Pelayanan dan Jaringan (UPJ) PLN antara lain : UPJ Depok Kota, UPJ Cimanggis, dan UPJ Sawangan. Untuk UPJ Depok Kota daerah pelayanannya meliputi Kecamatan Sukmajaya, Kecamatan Beji, Kecamatan Pancoran Mas, dan Kecamatan Limo. Jumlah pelanggan PLN di Kota Depok sampai dengan bulan Desember 2009 adalah 326.830 pelanggan.

Tabel 2‑12 Jumlah Pelanggan, Daya Tersambung, Energi Listrik Terjual &

Pendapatan Menurut UPJ di Kota Depok Tahun 2009

No

UPJ-UPJ

Daya

Tersambung (VA)

Jumlah

Pelanggan

Energi

Terjual (Kwh)

Pendapatan

(Rp. 000)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

1

UPJ Depok Kota

   3.294,680,150

          167,936

  537,964,044

  379,220,914

2

UPJ Cimanggis

   119,252,416

            50,300

  248,220,154

  168,667,248

3

UPJ Sawangan

     123,214,680

            108,594

  21,656,669

  10,849,391,303

Total

   3.537,147,246

          326,830

  843,840,867

  11,397,279,465

Sumber : Kota Depok dalam Angka 2009

Air Minum

Penyediaan air minum di Kota Depok sampai saat ini sebagian besar masih dikelola oleh PDAM Kabupaten Bogor. Jumlah pelanggan PDAM di Kota Depok sampai dengan bulan September tahun 2009 adalah 41.080 pelanggan (SL) dan besarnya pemakaian PDAM adalah 12.550.279 m3.

Rencana Pemanfaatan Lahan kota Depok

Rencana penggunaan lahan di kota Depok bertujuan agar dapat ditentukan yang diperuntukan bagi kawasan terbangun dan kawasan Terbuka Hijau. Rencana pemanfaatan ruang kota Depok dapat dilihat pada tabel 2.13 berikut :

Tabel 2‑13 Rencana Pemanfaatan Ruang Kota Depok Tahun 2010 – 2030

pola guna lahan.jpg

Sumber : Naskah Akademis RTRW Kota Depok 2010 – 2030

Kebijakan Penataan Ruang Kota Depok adalah sebagai berikut :

Memantapkan peran Kota Depok sebagai  Pusat Kegiatan Nasional (PKN Jabodetabek-Punjur) dan sebagai pusat kegiatan local (PKL).

Pengembangan kawasan pusat-pusat kegiatan utama guna meningkatkan produktifitas dan daya saing Kota Depok sesuai dengan daya dukung dan daya tampung serta fungsi kegiatan dominannya.

Pengendalian perkembangan kegiatan perkotaan di wilayah Selatan Kota Depok untuk menjaga lingkungan yang berkelanjutan.

Penataan dan pengembangan infrastruktur wilayah yang dapat menjadi pengarah, pembentuk, pengikat, pengendali dan pendorong pengembangan wilayah untuk terwujudnya sistem pusat-pusat pelayanan  di Kota Depok

Peningkatan ketersediaan dan kualitas pelayanan prasarana serta fasilitas pendukung kegiatan perkotaan di Wilayah Kota Depok yang meliputi:

Pengembangan sistem energi dan kelistrikan yang dapat memantapkan fungsi  Kota Depok sebagai PKN dan PKL

Peningkatan ketersediaan dan kualitas prasarana sumber daya air berbasis DAS untuk menunjang kegiatan perkotaan dan pertanian.

Pengembangan sistem Tempat Pengolahan Sampah Akhir (TPA) regional sesuai dengan proyeksi pertumbuhan penduduk, perkembangan kegiatan perkotaan dan ekonomi.

Pengembangan sistem telekomunikasi yang merata terutama untuk menunjang kegiatan ekonomi yang dikembangkan di wilayah Kota Depok

Peningkatan pelayanan ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan budaya terutama di pusat-pusat pelayanan, untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk serta mengurangi mobilitas dan migrasi ke pusat-pusat kegiatan utama (Pusat Kota Margonda)

Gambar rencana pola pemanfaatan ruang Kota Depok 2010 – 2030 dapat dilihat dibawah ini.


Gambar 2‑6 Rencana Pola Ruang Kota Depok 2010 – 2030


KONDISI EKSISTING PENGELOLAAN PERSAMPAHAN KOTA DEPOK

Umum

Saat ini pengelolaan persampahan Kota Depok dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan yang merupakan unsur pelaksana teknis di bawah Walikota Depok yang berfungsi sebagai pelaksana pelayanan kebersihan (Operator) dan juga berfungsi melaksanakan pengaturan/pengendaliaan (Regulator).

Skala pengelolaan sampah yang dilakukan di kota Depok saat ini meliputi : 1).Skala Individual, 2).Skala Kawasan/Lingkungan melayani 200-2000 Kepala Keluarga, 3). Skala Kota/TPA.

Secara teknis operasional pengangkutan sampah dari tempat penampungan  sementara (TPS) sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dilaksanakan/dikoordinasikan  oleh Koordinator Kecamatan pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Sebagian masyarakat Kota Depok membuang sampah di TPS (berupa kontainer dan bak sampah) dan lahan persil sampah yang telah ditentukan. Persil sampah merupakan TPS tanpa kontainer dan tanpa bak sampah, masyarakat diharapkan membuang sampah ke persil dalam keadaan tertutup dan rapi serta pada waktu malam hari sehingga pada siang hari tidak ada kesan kotor.

Retribusi pelayanan kebersihan kota dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Pendapatan dan Pengelola Keuangan (DPPK) yang dipungut melalui petugas sampah dan melalui PDAM .

Berikut ini akan diuraikan secara rinci komponen–komponen bagian pengelolaan persampahan Kota Depok, yaitu:

Sub sistem kelembagaan dan organisasi

Sub sistem teknik operasional

Sub sistem pembiayaan

Sub sistem peraturan /hukum

Komponen peran serta masyarakat

Sub Sistem Teknik Operasional

Pada dasarnya daerah pelayanan meliputi semua jalan utama dan disekitar jalan utama tersebut  yang ada dalam wilayah Kota Depok yang meliputi Kecamatan Cimanggis, Sukmajaya, Pancoran Mas, Sawangan, Beji, Limo, Tapos, Cilodong, Cipayung, Bojongsari, Cinere serta kawasan disekitar jalan utama tersebut.

Timbulan Sampah

Berdasarkan Standar SK. SNI S – 04 – 1991 – 03 Spesifikasi Timbulan Sampah untuk kota kecil dan sedang di Indonesia adalah antara 2,75 – 3,25 lt/org/hari dan berdasarkan asumsi bahwa produksi sampah per orang per hari 2,9 liter (skala kota) maka pada tahun 2009 dapat dihitung timbulan sampah total dengan jumlah penduduk kota Depok  adalah 1.573.099 jiwa diperkirakan jumlah timbulan sampah perhari rata-rata adalah 4.609 m3/hari.

Berdasarkan besarnya timbulan sampah tersebut di atas, maka jumlah timbulan sampah yang dihasilkan 4.609 m3/hari, dan sampah yang terangkut  1281 m3/hari, sampah yang tidak terangkut 2.483 m3/hari.

Prasarana dan sarana yang ada untuk mengangkut Sampah yang telah dimiliki oleh Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Depok dengan serta jumlah ritasi setiap kendaraan adalah sebagai berikut :

bd10267_            Diangkut dengan dump truk

Volume dump truk                =              6 M3

Volume efektif       =              10 m3

Jumlah dump truk=              54 unit

Jumlah Transfer Depo         =              2 unit

Jumlah TPS           =              38 unit

Bak sampah           =              19 unit

Gerobak sampah   =              37 unit

Ritasi dump truk   =              2-3 rit/hari/unit

  bd10267_           Diangkut dengan Arm Roll

Volume kontainer=              6 M³

Volume efektif       =              8 M3

Jumlah kontainer  =              24 unit

Jumlah Arm Roll   =              6 unit

Ritasi Arm Roll     =              2 – 3 rit/hari/unit

Tingkat Pelayanan

Jumlah timbulan sampah yang sudah dikelola/diangkut adalah 1.281 m³/hari atau ekivalen dengan jumlah penduduk 483.396 jiwa. Tingkat pelayanan persampahan untuk total penduduk Kota Depok adalah = 483.396/1.420.480 = 34.03%.

Pola Pelayanan

Pada saat ini, ada tiga pola pelayanan persampahan yang diberlakukan untuk melayani daerah permukiman, komersil, perkantoran, jalan dan pasar yaitu pola individual langsung, pola komunal langsung dan pola penyapuan.

Untuk daerah permukiman

Masyarakat membuang sampah ke TPS ( pasangan batu bata dan beton) dan titik yang ditentukan atau dikumpulkan di suatu tempat tertentu berupa kontainer selanjutnya sampah-sampah tersebut akan dipindahkan ke dump truck dan dibuang ke TPA sampah. Di beberapa lokasi Kota Depok masih terdapat tumpukan sampah dan begitu juga kondisi sungai yang mengalir di tengah wilayah perkotaan masih terlihat sampah yang dibuang ke badan sungai tersebut. Hal ini karena kurangnya armada pengangkutan sampah serta kesadaran masyarakat terhadap sampah.

Daerah Pasar

Sampah-sampah disapu oleh petugas kebersihan dan dikumpulkan dengan gerobak kemudian  dikumpul di TPS/kontainer atau ditumpuk di suatu tempat, selanjutnya sampah–sampah pasar tersebut diangkut dan dibuang langsung ke TPA sampah dengan dump truck dan arm rool truk.

Daerah Pertokoan dan Rumah Makan

Untuk pertokoan dan rumah makan yang terletak dalam suatu kelompok pertokoan/jalan utama akan membuang sampahnya ke kontainer/bak sampah yang telah disediakan atau diangkut langsung dengan dump truck oleh petugas kebersihan dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan.

Bangunan Institusi dan Hotel

Untuk sampah kantor dan hotel sampah diangkut oleh petugas kebersihan yang selanjutnya akan dipindahkan ke dump truk oleh petugas pengangkutan sampah.

Jalan Protokol, Taman dan Selokan

Sampah jalan, selokan dan sekitar taman, akan dilakukan penyapuan yang selanjutnya ditempatkan di TPS yang terdekat atau ditumpuk di tempat tertentu dan selanjutnya dipindahkan ke dump truck untuk dibuang ke TPA sampah.

Daerah-daerah yang saat ini dilayani pengangkutan sampahnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Pewadahan

Wadah/tempat sampah yang digunakan bervariasi, sebagaimana dapat digolongkan :

Pemukiman teratur :             bin/tong plastik, tong sampah dari kayu, kantong plastik, drum bekas, bekas kaleng cat.

Pemukiman tak teratur : kantong plastik, dos karton, tong plastik tanpa pewadahan.

Daerah komersil : bin plastik, keranjang plastik.

Daerah institusional            : bak sampah dari kayu, bin plastik.

Daerah pasar : kantong plastik, dus bekas dan kontainer.

Pengumpulan

Pengumpulan dilakukan dengan 2 cara yaitu pola komunal dan individual.  Pengumpulan individual dilakukan khusus untuk penghasil sampah sampah besar seperti pasar dan gedung/kantor besar, sebagian besar (pemukiman, komersil dan perkantoran) pengumpulan dilaksanakan dengan cara komunal.

Daerah permukiman             :               pengumpulan dilakukan dengan pola individual dan Komunal

Daerah komersil                    :               pengumpulan dilakukan dengan pola komunal dan   individual.

Daerah institusional            :               pengumpulan dilakukan dengan pola komunal.

Daerah pasar         :               disapu dan  dikumpulkan  dengan keranjang atau   kardus  oleh   petugas kebersihan dan   ditempatkan untuk dipindahkan ke kontainer.

Daerah protokol   :               disapu dan dikumpulkan di TPS atau bin plastik.

Gambar 2‑7 Pelayanan Persampahan


Pemindahan

Yang dimaksud dengan pemindahan disini adalah tempat pertemuan antara Dump Truck dengan TPS sampah ( Pasangan batu bata  atau beton) atau tumpukan sampah, kemudian sampah tersebut dipindahkan dari TPS sampah ke Dump Truck yang selanjutnya dibuang ke TPA sampah. Saat ini Kota Depok  telah memiliki transfer depo tipe I yaitu tempat pertemuan antara gerobak dan Dump Truck, sekaligus terjadinya pemindahan sampah dari gerobak ke Dump Truck.

Pengangkutan

Sistem pengangkutan sampah di Kota Depok dilaksanakan dengan pemindahan langsung dari TPS–TPS sampah yang ada, kontainer atau lokasi tertentu yang belum ada TPS atau langsung dari rumah ke rumah  atau dari toko/bangunan ke took/bangunan dengan dump truk yang selanjutnya dibuang atau dibawa ke TPA sampah. Jenis kendaraan yang digunakan adalah dump truk sebanyak 54 unit dan kontainer 24 unit dilengkapi dengan arm roll sebanyak 6 unit dengan  kondisi layak operasional.

Tempat Pembuangan Akhir

TPA Cipayung dioperasionalkan dengan sistem controlled Landfill pada areal seluas 9,1 ha terletak pada kelurahan Cipayung kecamatan Pancoran Mas Kota Depok,  dengan batas-batas sebagai berikut :

Sebelah Utara & Timur : berbatasan dengan Kampung Bulak Kel. Cipayung

Sebelah Selatan & Barat : berbatasan dengan S. Pesanggarahan,

TPA Cipayung dioperasikan sejak tahun 1992 dengan volume sampah harian yang dibuang bervariasi dari awalnya 69,6 m3/hari hingga kini 1.200 m3/hr. TPA ini diperluas hingga 11,2 ha dengan kapasitas diperkirakan sekitar 1.261.740 m3 pada tahun 2010. Pengelolaan system pembuangan sampah TPA Cipayung ditingkatkan dari semula open dumping menjadi sanitary landfill yang dibangun atas dana bantuan luar negeri (ADB), meskipun dalam pelaksanaannya Controlled Landfill. Menurut kajian optimalisasi pengelolaan TPA Cipayung (2009), umur operasional TPA diperkirakan berakhir di 2015 akhir, itupun bila dapat mengoptimalkan pemulung dan pengolahan organik sampah.

Spesifikasi TPA sampah saat ini :

Letak lokasi           =  Kelurahan Cipayung Kecamatan Cipayung

Luas areal              = 11,1 ha

Jarak terhadap pemukiman= 0.5 km

Jarak terhadap sungai Pesangrahan= 0,2 km

Jarak terhadap pusat kota                   = 10 km

Disamping TPA resmi di atas, masyarakat yang belum mendapat pelayanan persampahan membuang sampah-sampah yang dihasilkan dibuang secara liar, antara lain :

Ke sungai

Ke jalan-jalan serta tanah kosong

Ditimbun  dalam tanah,

Dibakar, dan lain-lain

Daur Ulang  dan  Pengomposan

Daur ulang atau pemanfaatan kembali dari sampah ( seperti botol, gelas plastik bekas dan gardus bekas) yang telah dibuang telah dilakukan di Kota Depok. Pemulungan sampah yang dapat didaur ulang dilakukan mulai dari TPS ( tempat penampungan sementara)  sampai ke TPA (Tempat pembuangan akhir) sampah dengan memungut/mengambil antara lain : plastik, botol, besi, tembaga, kuningan, kaleng, aki, kertas, karton, dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan. Sedangkan pelaksanaan pengomposan belum dilakukan pada skala  TPA, tetapi telah dilaksanakan pada skala kawasan.

Keberadaan pemulung di sekitar TPA Cipayung cukup membantu dalam minimalisasi sampah yang ditimbun di lahan TPA, karena masih banyak material yang dapat di daur ulang yang dapat dimanfaatkan. Karakteristik komposisi sampah yang masuk ke TPA Cipayung didominasi oleh jenis sampah organik  yang mencapai 72,97 %   seperti yang diperlihatkan pada tabel berikut  :

Tabel 2‑14 Karakteristik komposisi jenis sampah TPA Cipayung Depok

No.

Komposisi Jenis Sampah

Prosentase

(%)

Periode Penguraian

(Pelapukan) *)

1

Bahan organik

72,97

2 – 7 minggu

2

Kertas

7,07

3 – 6 bulan

3

Kaca/Beling/Gelas

1,25

1 juta tahun

4

Plastik

3,57

> 100 tahun

5

Logam

1,37

> 100 tahun

6

Kayu

3,65

1 – 13 tahun

7

Kain

2,40

6 bulan – 1 tahun

8

Karet

1,24

-

9

Lain-Lain

6,38

-

Jumlah

100,00

Sumber : Studi ANDAL TPA Cipayung, 2002 & *) : West Java ASER, 2001

UPS (Unit Pengelola Sampah)

Unit Pengolah Sampah (UPS) telah menjadi program unggulan yang dicanangkan Pemerintah Kota Depok pada tahun 2006.

UPS merupakan implementasi dari sebuah cara pandang bahwa masalah dapat diubah menjadi potensi. Dengan masuknya unsur teknologi, SDM, sistem, hukum, sosial dan dana kedalam Unit Pengolah Sampah.

Sampah tidak lagi ditempatkan sebagai sumber masalah tetapi sebaliknya dipandang sebagai sumberdaya yang dapat diolah dan dikelola untuk memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, yaitu menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan produk yang berpotensi rupiah.

Pengolahan dan pengelolaan sampah di Kota Depok diarahkan sebagai implementasi dari prinsip-prinsip 4R-P yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur ulang), replace (mengganti), participation (pelibatan masyarakat) dan mengolah untuk dijadikan bahan yang lebih bermanfaat seperti kompos, briket dan energi listrik

Proses pengolahan sampah yang berlangsung di UPS adalah memilah sampah non organik yang bisa dimanfaatkan kembali (recycle), sampah organik yang bisa dimafaatkan menjadi kompos serta sampah yang tidak bisa dimanfaatkan kembali (residu) yang akan diangkut ke TPA Sampah. Diagram alir proses pengolahan sampah di UPS adalah sebagai berikut :

Saat ini UPS tersebar di seluruh kecamatan di Kota Depok, sedangkan jumlah UPS yang beroperasi sampai dengan Akhir November 2010 adalah 19 unit yang persebarannya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2‑15 Lokasi Unit Pengelolaan Sampah Kota Depok

Sumber : Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok 2010

Sebaran UPS (Unit Pengelola Sampah) Di Kota Depok dapat dilihat pada gambar dibawah  ini:

Gambar 2‑8 Sebaran UPS Kota Depok


Sub Sistem Pembiayaan

Sumber Dana

Sumber utama pembiayaan pengelolaan kebersihan/persampahan  kota Depok adalah APBD kota Depok. Anggaran pengelolaan kebersihan kota Depok  dua tahun berturut-turut adalah sebagai berikut :

Anggaran pengelolaan kebersihan kota Depok tahun 2009 sebesar Rp. 11.820.000.000.- dengan rincian terdiri dari :

 Biaya Operasional pengangkutan    :               Rp   8.510.000.000,-

 Biaya Operasional di TPA:               Rp   3.310.000.000,-

Anggaran pengelolaan kebersihan kota Depok tahun 2010 sebesar Rp. 14.675.410.000.- dengan rincian terdiri dari :

 Biaya Operasional Pengangkutan    :               Rp  10.040.480.000,-

 Biaya Operasional di TPA:               Rp    4.634.930.000,-

Sub Sistem Peraturan/Hukum

Dasar Hukum  Pengelolaan Persampahan/Kebersihan

Produk hukum yang mendasari kewenangan institusi formal pengelola persampahan di Kota Depok adalah Peraturan Daerah Kota  Depok No. 8 Tahun 2008 tentang organisasi Perangkat Daerah yang menetapkan pembentukan Dinas Kebersihan dan Pertamanan serta struktur organisasinya.

Dasar Hukum Retribusi Persampahan

Produk hukum yang terkait dengan retribusi persampahan di kota Depok adalah Peraturan Daerah Kota Depok No. 41 Tahun 2000 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan. Dalam perda ini diatur beberapa hal pokok, antara lain:

Obyek dan subyek retribusi

Golongan retribusi

Cara mengukur tingkat penggunaan jasa

Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif

Struktur dan besarnya tarif

Wilayah pemungutan

Masa retribusi

Tata cara pemungutan

Sanksi administrasi

 Tata cara pembiayaan

 Tata cara penagihan

 Ketentuan pidana

Komponen Peran Serta Masyarakat

Peran serta masyarakat adalah segala tindakan masyarakat, langsung atau tidak langsung yang membantu ataupun mengurangi tugas pengelola kebersihan dalam pengelolaan persampahan. Peran serta masyarakat dalam pengelolaan kebersihan/persampahan  di kota Depok dapat dibagi dalam dua bentuk yaitu peran serta pada pembiayaan dan peran serta pada teknis operasional pengelolaan.

Peran serta pada pembiayaan

Peran serta pada pembiayaan diwujudkan dengan membayar retribusi kebersihan.

Peran serta masyarakat dalam pembiayaan tampaknya cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari realisasi pemungutan retribusi dari tahun 2001 sampai 2005 yang rata-rata hampir mencapai 100%  dari target (lihat Tabel berikut)

Tabel 2‑16 Target Dan Realiasi Retribusi Persampahan Kota Depok 2001-2005

TAHUN

2001

2002

2003

2004

2005

TARGET (Rp)

1,200,000,000

1,500,000,000

1,850,000,000

1,539,264,000

1,694,565,000

REALISASI (Rp)

1,255,921,000

1,363,283,000

1,850,000,000

1,539,400,000

1,715,958,000

%

104.66%

90.89%

100.00%

100.01%

101.26%

Sumber: Rencana Strategis Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok 2007-2011

Peran serta pada teknis operasional

Peran serta masyarakat pada teknis operasional pengelolaan persampahan diwujudkan dalam beberapa bentuk kegiatan seperti keikutsertaan pada sebagian tahap pengelolaan persampahan, seperti  pengumpulan sampah di kontainer/bak sampah  dan menyediakan sendiri pewadahan, serta kegiatan pengolahan sampah skala rumah tangga.

Namun demikian, kualitas peran serta masyarakat dalam kegiatan teknis pengolahan sampah di Kota Depok ternyata masih perlu ditingkatkan mengingat masih rendahnhya kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan. Hasil survey rumah tangga yang dilaksanakan pada bulan November 2007 memperlihatkan bahwa sejumlah sampel rumah tangga yang mendapatkan pelayanan pengangkutan sampah di Kota Depok, hampir seluruhnya (98%) tidak menerapkan pola 3 R. Sedangkan dari sampel rumah tangga yang tidak mendapat pelayanan pengangkutan sampah, 28% di antaranya masih membuang sampah ke jalan atau ke sungai/selokan, 68% membuangnya ke tanah/lahan kosong.

PERMASALAHAN PERSAMPAHAN KOTA DEPOK

Permasalahan persampahan di Kota Depok saat ini dapat diuraikan sebagai berikut :

Subsistem Teknis Operasional

Pewadahan, seperti bak sampah (TPS) dari batubata perlu diperbanyak penggunaannya dengan lokasi yang layak dan tertutup sehingga mengurangi bau dan lalat.

Belum optimalnya pemanfaatan sarana dan prasarana persampahan.

Sarana dan prasarana yang dimiliki tidak memadai dengan jumlah penduduk kota Depok yang mencapai 1,5 juta jiwa.

Subsistem Kelembagaan

Dari segi kelembagaan, pengelolaan persampahan di Kota Depok ditandai dengan tingginya rasio beban tenaga kerja terhadap penduduk yang dilayani. Ini dapat dilihat dari jumlah penduduk Kota Depok yang sudah mendapat pelayanan sebanyak 483.396 jiwa dengan tenaga operasional 856 petugas, dengan rasio 1 :1.757.  Dengan rasio seperti ini, masih memungkinan memperluas cakupan pelayanan.

Subsistem Pembiayaan

Sumber pembiayaan dari APBD Kota Depok sudah cukup baik, tetapi perlu ditingkatkan saat ini baru mencapai 6,1 % dari APBD kota Depok. Target pemasukan dari penarikan retribusi perlu ditingkatkan ( saat ini baru mencapai 21,18 %) , minimal harus mencapai 50 % dari biaya operasi dan pemeliharaan untuk 2 tahun ke depan, dan akhirnya/diharapkan akan mencapai mencapai 80 % dari biaya operasi dan pemeliharaan.

Sub Sistem Peran Serta Masyarakat

                Dari segi teknis operasional,  peran serta masyarakat dalam pengolahan sampah di kota Depok dapat dikatakan sangat rendah. Ini terlihat dari kenyataan di lapangan yang menunjukkan masih kuatnya kebiasaan untuk membuang sampah begitu saja  dan tanpa terlebih dulu memilah-milah sampah organik dan sampah anorganik serta masih tingginya kebiasaan untuk memakai barang yang sulit terurai serta masih sedikitnya kegiatan daur ulang sampah. Dengan kata lain, kegiatan pengolahan sampah dengan metode 3R yang seharusnya sudah dimulai di tingkat rumah tangga masih belum banyak dilakukan.

                Di samping itu, kebiasaan membuang sampah sembarangan, dalam arti masih adanya sampah-sampah yang menumpuk bukan di TPS atau transfer depo, tetapi di tempat-tempat yang menjadi lokasi timbulan liar, ada persepsi masyarakat yang yaitu yang paling utama/ penting tidak ada sampah didekat mereka tidak ada masalah jika  ada ditempat lain.


Contents

 TOC \o “1-3″ \h \z \u 2  PAGEREF _Toc278300487 \h 2-1 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400380037000000

2.1           GAMBARAN UMUM KOTA DEPOK   PAGEREF _Toc278300488 \h 2-1 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400380038000000

2.1.1        Kondisi Geografis  PAGEREF _Toc278300489 \h 2-1 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400380039000000

2.1.2        Sumber Daya Alam   PAGEREF _Toc278300490 \h 2-2 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400390030000000

2.1.3        Kondisi Sosial Ekonomi PAGEREF _Toc278300491 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400390031000000

2.1.4        Sarana dan Prasarana  PAGEREF _Toc278300492 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400390032000000

2.1.5        Rencana Pemanfaatan Lahan kota Depok  PAGEREF _Toc278300493 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400390033000000

2.2           KONDISI EKSISTING PENGELOLAAN PERSAMPAHAN KOTA DEPOK   PAGEREF _Toc278300494 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400390034000000

2.2.1        Umum   PAGEREF _Toc278300495 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400390035000000

2.2.2        Sub Sistem Teknik Operasional PAGEREF _Toc278300496 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400390036000000

2.2.3        Sub Sistem Pembiayaan  PAGEREF _Toc278300497 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400390037000000

2.2.4        Sub Sistem Peraturan/Hukum   PAGEREF _Toc278300498 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400390038000000

2.3           PERMASALAHAN PERSAMPAHAN KOTA DEPOK   PAGEREF _Toc278300499 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003400390039000000

 TOC \h \z \c “Tabel” Tabel 2‑1 Penggunaan Lahan Kota Depok Tahun 2002-2007  PAGEREF _Toc278300500 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500300030000000

Tabel 2‑2 Pola Guna Lahan Tahun 2009  PAGEREF _Toc278300501 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500300031000000

Tabel 2‑3 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Di Kota Depok Tahun 2004 – 2008  PAGEREF _Toc278300502 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500300032000000

Tabel 2‑4 Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk  PAGEREF _Toc278300503 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500300033000000

Tabel 2‑5 Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas Menurut PAGEREF _Toc278300504 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500300034000000

Tabel 2‑6 Persentase Penduduk 10 Tahun Keatas Menurut Ijasah Tertinggi PAGEREF _Toc278300505 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500300035000000

Tabel 2‑7 Jumlah Penumpang Kereta Api Menurut Stasiun  PAGEREF _Toc278300506 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500300036000000

Tabel 2‑8 Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan di Kota Depok tahun 2006  PAGEREF _Toc278300507 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500300037000000

Tabel 2‑9 Jumlah Sekolah Menurut Kecamatan  PAGEREF _Toc278300508 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500300038000000

Tabel 2‑10 Banyaknya Tempat Ibadah Menurut Jenisnya di Kota Depok tahun 2009  PAGEREF _Toc278300509 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500300039000000

Tabel 2‑11 Jumlah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di Kota Depok Tahun 2009  PAGEREF _Toc278300510 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500310030000000

Tabel 2‑12 Jumlah Pelanggan, Daya Tersambung, Energi Listrik Terjual &   PAGEREF _Toc278300511 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500310031000000

Tabel 2‑13 Rencana Pemanfaatan Ruang Kota Depok Tahun 2010 – 2030  PAGEREF _Toc278300512 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500310032000000

Tabel 2‑14 Karakteristik komposisi jenis sampah TPA Cipayung Depok  PAGEREF _Toc278300513 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500310033000000

Tabel 2‑15 Lokasi Unit Pengelolaan Sampah Kota Depok  PAGEREF _Toc278300514 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500310034000000

Tabel 2‑16 Target Dan Realiasi Retribusi Persampahan Kota Depok 2001-2005  PAGEREF _Toc278300515 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500310035000000

 TOC \h \z \c “Gambar” Gambar 2‑1 Wilayah Administrasi PAGEREF _Toc278300516 \h 2-1 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500310036000000

Gambar 2‑2 Penggunaan Lahan  PAGEREF _Toc278300517 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500310037000000

Gambar 2‑3 Kemiringan Lereng  PAGEREF _Toc278300518 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500310038000000

Gambar 2‑4 Hidrogeologi PAGEREF _Toc278300519 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500310039000000

Gambar 2‑5 Rencana Pola Ruang Kota Depok 2010 – 2030  PAGEREF _Toc278300520 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500320030000000

Gambar 2‑6 Pelayanan Persampahan  PAGEREF _Toc278300521 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500320031000000

Gambar 2‑7 Sebaran UPS Kota Depok  PAGEREF _Toc278300522 \h 2-3 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003200370038003300300030003500320032000000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s