Bank Sampah

Djuniawan Wanitarti

Melawan Arus Penolakan Sampah

Sumber:http://epaper.kompas.com/epaperkompas.php?v=1.0

Menyulap Sampah Jadi Rupiah

Sumber: http://republika.co.id:8080/ 06 April 2011

Sampah bisa menjadi barang berharga di tangan Djuniawan Wanitarti. Berbekal kepedulian sosial dan lingkungan, perempuan 45 tahun ini mengubah sampah yang semula tak berarti bagi masyarakat di sekitar rumahnya menjadi sebuah cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Kebetulan, perumahan yang ia huni dekat dengan salah satu tempat pembuangan sampah (TPS) di Kecamatan Sukmajaya, Depok. Bau tak sedap dari sampah membuatnya berpikir mencari solusi.

Dengan modal dari kas RT, Djuni membagikan keranjang sampah kepada sekitar 35 kepala keluarga. Petugas kebersihan diminta tidak mengambil sampah selama sebulan di kompleks perumahan. Sampah dalam keranjang dibuang di tempat khusus setelah dipilah antara sampah basah, kering, dan pecah belah.

Djuni juga bersiasat, menjadikan tempat sampah permanen di depan rumah warga sebagai pot yang diisi berbagai macam tanaman. Dengan begitu, sampah tidak menumpuk di depan rumah warga. Ibu dua anak ini rutin memantau aktivitas warga.

Mau diapakan sampah yang sudah dipilah? Muncul ide menjadikannya peluang usaha untuk kepentingan bersama. Caranya, sampah kering dijadikan kerajinan dan sampah basah dibuat kompos. Ia pun mengajak ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya untuk lebih kreatif memanfaatkan waktu.

Hasilnya menambah kas RT. Selain mengganti modal awal pembelian keranjang, penjualan kerajinan juga digunakan menambah lampu penerang jalan. “Dari kita untuk kita kembali,” ujar Djuni.

Dalam perjalanan waktu, Djuni akhirnya mendirikan kelompok peduli lingkungan-disebut Pok Lili. Beranggotakan sembilan ibu rumah tangga, kelompok ini kemudian membentuk bank sampah. Kini nasabahnya mencapai 110 orang.

Seperti bank umumnya, bank sampah juga memiliki blanko tabungan. Tabungan biasa ditimbang dan dikumpulkan setiap Jumat. Dengan menerapkan prinsip koperasi, bank sampah dapat mengumpulkan uang hingga Rp 3 juta per bulan. Dari kerajinan tangan terkumpul hingga Rp 5 juta per bulan.

Dari penghasilan ini, 20 persen dikembalikan ke kas Pok Lili, mengganti modal bahan yang digunakan untuk membuat kerajinan. “Sekarang banyak yang nggak malu lagi menenteng sampah,” tuturnya.

Kompos cair biasanya dijual Rp 10 ribu per botol. Kerajinan bervariasi dari Rp 5 ribu hingga Rp 125 ribu. Kerajinan yang dibuat beragam, seperti hiasan rumah tangga, pernak-pernik wanita, atau tempat mukena. “Kebanyakan orang masih gengsi menggunakan barang daur ulang seperti ini. Jadi, kita buat sebagus mungkin sehingga kesannya bukan barang bekas,” tuturnya.

Djuni mengakui, dengan adanya kerajinan, volume sampah yang dibuang menjadi lebih sedikit. Badan Lingkungan Hidup (BLH) pun mendukung adanya bank sampah ini. BLH lalu menjadi langganan tetap barang kerajinan yang dibuat Djuni dan kawan-kawan. “Mereka rajin memesan suvenir dari kita.”

Masyarakat sekitar juga sering memesan berbagai suvenir untuk berbagai acara. Djuni berharap Dinas Kebersihan dapat membantu mempromosikan dan mendistribusikan produk kerajinan yang mereka buat. Selama ini, promosi dilakukan dari mulut ke mulut.

Kini warga perumahan menjadi semakin akrab. Rasa kebersamaan, kejujuran, dan silaturahim semakin erat. “Di sini kita juga belajar menghargai pendapat orang lain dalam berkreasi,” ujarnya. Prestasi Pok Lili tidak sebatas memberi kontribusi positif dalam lingkungan RT 3 RW 24 Kelurahan Abadi Jaya, Depok. Dalam beberapa perlombaan yang digelar Dinas Kebersihan, Pok Lili pernah mendapat juara I lomba pembuatan kompos cair dan juara III untuk produk unggulan kerajinan.

Djuni dan kelompoknya juga sering jemput bola, mendatangi tempat lain menggunakan mobil pribadi. “Saya pengen punya motor bak dengan tulisan Pok Lili. Nanti yang bawa perempuan,” harapnya. Dia juga berencana membuka taman baca yang diisi buku-buku bekas yang mereka kumpulkan. “Mungkin kita akan buka di tempat lain yang lebih membutuhkan,” ucapnya. c04, ed: burhanuddin bella

Menabung Sampah di Bank

Pikiran Rakyat, 14 Februari  2011

Sumber: http://bataviase.co.id/node/568713

SEBAGIAN orang menganggap sampah adalah beban yang harus segera dibuang dan disingkirkan.

Namun tidak bagi Warga Griya Lembah Depok RT 3 RW 24, Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Sampah, khususnya sampah anorganik yang ada di rumah justru dikumpulkan untuk selanjutnya ditabung di bank sampah.

Meskipun demikian, bukan berarti mereka menyimpan sampah tersebut Namun, hasil dari setoran sampah itu oleh bank sampah akan diakumulasikan dengan uang untuk kemudian disimpan dan bisa diambil warga bila suatu saat membutuhkan.

Lalu dikemanakan seluruh sampah yang ditabung oleh warga tersebut? Giliran Kelompok Peduli Lingkungan (Poklili) yang mengelola sampah-sampah itu. Menurut Ketua Poklili Djuni Wanitartd, sebelumnya warga sudah memilah sampah yang akan ditabung.

“Misalnya saja ada sampah koran, karton, gelas, dan plastik, harga sampah itu berbeda-beda sesuai dengan jenisnya,” ujarnya saat ditemui di rumahnya yang dijadikan lokasi bank sampah, Sabtu (12/2).

Sampah dari warga pun dipilah kembali secara kreatif oleh anggota Poklili. Hasilnya, berbagai kerajinan tangan cantik pun dihasilkan, mulai dari tas, vas bunga, sarung bantal, tirai, dan sarung galon air minum.

Barang-barang itu pun dijual dengan kisaran harga mulai dari Rp 5.000 sampai dengan Rp 125.000. Bahkan, kerajinan tangan tersebut pun tidak terlihat berasal dari bahan bekas, melainkan seperti dari bahan baru.

Sementara sisa sampah yang tidak digunakan kemudian disalurkan lagi ke bandar barang bekas. Saat ini Poklili sudah memiliki tiga mitra yang bisa menjadi tempat menyalurkan barang-barang bekas yang tidak digunakan untuk membuat kerajinan.

“Hargajual kepada mitratersebut tentu lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang diberikan pada warga. Selisihnya kita jadikan modal bersama untuk mengelola sampah tersebut,” kata perempuan yang akrab dipanggil Yuni ini.

Belum satu tahun dilaksanakan, adanya bank sampah ini bisa memberikan dampak yang cukup besar bagi warga. Kini tidak ditemukan lagi bak sampah di depan rumah warga, melainkan sudah menjadi pot tanaman.

“Sebelumnya warga sudah terbiasa menjadikan sampah organik menjadi kompos sehingga nyaris tidak ada sampah yang tersisa,” katanya.

Tak hanya itu, warga pun mendapatkan penghasilan tambahan dari tabungan sampah itu. Besarnya bervariasi, ada yang sampai loo.ooo per bulan. Namun, menurut Yuni, yang paling penting adalah rasa kebersamaan dan silaturahmi yang terjalin antarawarga setelah adanya gerakan ini. (Tia Ko-malasari/”PR”)**

Di Bogor Ada Bank Sampah

Sumber: 2http://www.poskota.co.id/ 5 April 2010

Di Bogor Ada Bank Sampah

BOGOR (Pos Kota) – Bank sampah ! Mungkin mendengar ini Anda tidak akan percaya. Sebab, jika mendengar nama bank, selama ini identik urusannya dengan uang.

Tapi di Kota Bogor ada Bank Sampah dan siap menerima setoran sampah.  Bank Sampah mulai dikembangkan di Sekolah Alam Jalan Pangeran Ashogiri Tanah Baru Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor.

Bank Sampah, nasabahnya adalah ratusan siswa sekolah tersebut. Setiap hari mereka menyetorkan sampah ke bank sampah yang dibawanya dari rumah. Sampah–sampah yang disetorkan beragam.

Setiap menyetorkan sampah, siswa mendapat coin yang telah disiapkan oleh penanggung jawab Bank Sampah. Coin ini nantiyang didapatkan oleh para siswa setiap bulan ditukarkan dengan uang.
“Uang yang didampatkan siswa akan berbeda nilainya sebab harga jenis sampah berbeda,“ ujar Direktur Sekolah Alam Bogor, Agus Gusnul Yakin usai acara peluncuran Bank Sampah  oleh Staf Ahli Walikota Bogor Bidang Hukum dan Politik Rafinus Syukri.

Agus  menjelaskan, harga sampah yang diterima oleh Bank Sampah ada nilai kursnya, sehingga besaran uang yang diterima siswa setiap bulannya tidak sama nilainya. “Misalnya, harga bekas kemasan minuman, nilainya kursnya akan berbeda dengan harga kertas koran, “ ujar Agus.

Menurut Agus, Bank Sampah yang dibangun di Sekolah Alam Bogor untuk membiasakan  siswa tidak membuang sampah sembarangan. Sampah yang disetorkan dimanfaatkan antara lain untuk membuat tas sekolah, kantong, untuk bahan pembelajaran di sekolah dan sebagian lagi dijual ke pengumpul sampah. “ Nasabah Bank Sampah di Sekolah Alam tercatat ada 400 siswa mulai dari TK sampai kelas 6 SD, “ jelas Agus.

Kusna, pembina Yayasan Sekolah Alam Bogor, mengatakan  pembangunan bank sampah  di sekolah alam Bogor merupakan bagian dari upaya  memberikan kontribusi besar dari masyarakat Kota Bogor mengatasi persoalan sampah,“ Proses pengelolaan sampah harus dimulai dari membangun anak didik membiasakan untuk tidak membuang sampah sembarangan, “ kata Kusnan.

Selain itu, kata dia, anak didik juga diajarkan untuk memilah-milah sampah, baik sampah basah maupun sampah kering, untuk selanjutnya dikumpulkan dan dibawa ke sekolah sebagian dijadikan bahan pembelajaran, dan karya seni, dan sisanya yang tidak terpakai dijual kepada pengumpul sampah.

Kusnan menyebutkan, proses pembinaan sampah di sekolah bisa diperluas lagi sehingga diharapkan bisa menyelesaikan sebagian permasalahan sampah di Kota Bogor. “Bisa dibayangkan seandainya semua sekolah di Kota Bogor membangun gerakan yang sama, setiap anak didik membiasakan memilah sampah di rumah dan membawanya ke sekolah untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran dan sebagian lagi dijual, Insya Allah permasalahan sampah di Kota Bogor akan terselesaikan, “ ungkapnya.

Oleh karena itu lanjut Kusnan, pihaknya telah berkerjasama dengan Disdikpora dalam kerangka pengembangan sekolah hijau. “MoU (Memorandum Of Understanding) telah ditandatangani, dan Insya Allah model sekolah hijau akan dikembangkan di seluruh sekolah yang ada di Kota Bogor, “ kata Kusnan.

Staf ahli Walikota Bogor Bidang Hukum dan Politik Rafinus Syukri yang mewakili walikota Bogor mengakui, bahwa masalah sampah di kota Bogor cukup kompleks. Ini antara lain tergambar dari terus meningkatnya jumlah sampah. Sebagai gambaran tahun 2009 jumlah timbunan sampah 2.294 meter kubik per hari atau naik sebesar 3,13 persen dibandingkan kondisi tahun 2008 yang mencapai 2.224 meter kubik per hari.

Dari jumlah timbunan sampah itu pemerintah Pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang harus mampu mengangkut 1.602 meter kubik per hari atau baru mencapai 69,83 persen dari total timbunan sampah per hari.

Melihat kondisi ini, lanjut Rafinus pihaknya memandang perlu adanya partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat terutama lingkungan rumah tangga yang memang memberikan kontribusi relatif besar terhadap jumlah timbunan sampah di Kota Bogor.

Partisipasi aktif itu menurut Rafinus, bisa dilakukan dalam bentuk upaya pemilahan sampah anorganik dan sampah organik  atau upaya bersama-sama mendaur ulang sampah anorganik.
Jika kondisi dapat direalisasikan dengan baik Insya Allah, tidak tergantung lagi dengan seberapa luas lahan TPA yang harus disediakan. (yopi/B)

Sampah Hilang, Uang Datang di Bank Sampah

Vera Farah Bararah – detikHealth

Sumber: http://www.detikhealth.com/ 24/07/2010

imgJakarta, Sampah seringkali disia-siakan sebagai barang kotor yang tak berguna. Padahal sampah yang tidak bernilai itu bisa menjadi uang dengan cara ditukarkan di bank sampah seperti yang didirikan Nanang Suwardi.

Bank sampah yang didirikan Nanang ini berada di Kampung Beting Indah Jl. Beting Indah No.2 RT 5/9 Kelurahan Semper Barat Kecamatan Cilincing Jakarta.

Bank sampah ini bekerja layaknya seperti bank yang melakukan simpan pinjam, setoran, penarikan dan tabungan. Semua transaksi itu bisa dilakukan asal ada sampahnya.

Di bank sampah ini, masyarakat bisa menukar sampah rumah tangga atau sampah lain dengan uang. Gambarannya seperti ini, masyarakat datang membawa sampah ke bank sampah, kemudian sampah itu dipilah-pilah mana yang sampah kaleng, plastik, kertas atau bekas makanan atau tumbuhan.

Setelah dipilah sampah akan ditimbang, misalnya sampah kaleng dihargai Rp 1.500 per kilogram, sampah kertas atau plastik Rp 800 per kg.

Masyarakat yang menukar sampah disini akan diberi semacam buku tabungan. Semua transaksi akan dicatat di buku tabungan tersebut. Misalnya menjual sampah kaleng Rp 5.000, nanti pihak bank sampah akan menawarkan apakah mau uang kas langsung atau ditabung.

Jika warga minta uang kas langsung diberikan uang kas hasil penjualan sampahnya. Tapi jika ingin ditabung akan dicatat sebagai saldo. Kebanyakan warga biasanya akan menabung dulu uang jual sampahnya sampai hasilnya lumayan baru setelah itu diambil.

Selain itu, lanjut Nanang, bank sampah juga memberikan fasilitas simpan pinjam maksimal Rp 300 ribu. Cara pembayaran kreditnya dengan menyetor sampah hingga nilai sampahnya melunasi pinjaman tersebut. Menariknya, fasilitas simpan pinjam ini tanpa jaminan, tanpa bunga dan bisa dibayar dengan sampah.

“Daripada sampah yang ada dibuang, lebih baik disimpan di bank sampah dan bisa menghasilkan uang,” ujar Nanang dalam acara Family Environmental Edutainment di Bumi Perkemahan Cibubur, Sabtu (24/7/2010).

Nanang menuturkan tak mudah untuk mengajak masyarakat agar mau mengumpulkan sampah yang ada. Dibutuhkan beberapa pendekatan pada masyarakat, salah satunya dengan mengajak masyarakat melihat secara langsung bagaimana kerja dari bank sampah.

Sampah yang dikumpulkan bank sampah ini dimanfaatkan untuk kompos jika sampah berasal dari tumbuhan atau sisa makanan dan dibuat barang lain atau dijadikan berbagai souvenir.

“Diharapkan ini bisa mengubah pola pikir masyarakat agar sampah tidak menjadi sumber bencana dan mulai menjaga lingkungannya,” ujar laki-laki yang juga menjadi ketua RW di lingkungan tempat tinggalnya.

Sampai saat ini bank sampah yang dikelola Nanang sudah punya 500 anggota tetap. Dia berharap model bank sampah ini bisa diterapkan di daerah-daerah lain. (ver/ir)

Pelatihan Sistem Bank Sampah (Recycle Bank Training)

Sumber:   http://www.bplhdjabar.go.id/ 01 April 2009
Acara Pembukaan Pelatihan Pengelolaan Sampah Domestik (Sistem Bank Sampah) 

Pelatihan sistem bank sampah (Recycle Bank Training) yang dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan Asian Institute of Technology (AIT) ini bertujuan membantu indonesia (Jabar khususnya) dalam pengelolaan lingkungan yg berbasis masyarakat. Pelatihan diadakan selama tiga (3) hari pada tanggal 23 Maret-25 Maret 2009 yang bertempat di Hotel Banana Inn Bandung dan kunjungan lapangan pada tanggal 23 Maret 2009 ke bank sendu, daerah pejaten RT 09/02 pasar minggu. Kegiatan ini diikuti oleg 35 peserta yang terdiri dari LSM, PKK, Guru SMP, Guru SD dan Staf Pemerintahan.Pada pembukaan, Bpk setiawan selaku Kepala BPLHD Jabar memaparkan mengenai  contoh perubahan-perubahan di bumi misalnya, 60 ton sampah dibuang setiap detiknya. Peringkat resiko lingkungan terhadap angka kematian bayi akibat water born disease, polusi udara, perubahan iklim, kelangkaan air, dll semakin meningkat. Di Indonesia, hutan di Sumatra dan Kalimantan berkurang 6 Ha/ menit dengan kerugian 35 Tiriliun/ tahun. Pulau Jawa menopang 65% jumlah penduduk di Indonesia, yang menghasilkan 80.000 ton/ hari sampah (asumsi jumlah penduduk 100 juta orang).  Menyadari hal tersebut, perlu dilakukan kegiatan untuk memberdayakan sponsorship dari Asian Institute of Technology, recycle bank adalah salah satu cara untuk mendukung sistem pengelolaan sampah melalui penerapan kelembagaan dengan sistem insentif. Oleh karena itu beliau memandang perlunya sosialisasi melalui kegiatan pelatihan ini (Recycle Bank Training).

Ibu Gubernur saat Memberi Sambutan pada Pembukaan Pelatihan

Selain itu, hadir pula Ibu Gubernur, Netty Heryawan selaku Ketua Tim PKK yang berharap kegiatan seperti ini dapat membawa perubahan main settentang sampah menjadi memiliki nilai lebih untuk menyelamatkan lingkungan hidup. Selain itu, dipaparkan bahwa salah satu visi Pemda Jabar adalah tercapainya masyarakat yang mandiri dengan memperhatikan 3 aspek, yaitu pendidikan, kesehatan dan daya beli. Kesehatan tidak hanya identik dengan layanan kesehatan, 75% kesehatan dibangun oleh pola dan gaya hidup mengenai perilaku hidup yang sehat. Pendidikan ini harus melibatkan 42, 1 juta jiwa untuk membangun kesadaran tentang kesehatan melalui PHBS (Perilaku hidup Bersih dan Sehat). Sasaran kegiatan PHBS tersebut adalah rumah tangga, dinas pendidikan, kesehatan dan perkantoran. Gerakan Sadar PHBS (GERSAD) bekerja sama dengan pemerintah Prov. Jabar agar dapat diterapkan di kantor pemerintahan karena petugas di pemerintahan harus dapat menjadi pelopor/ panutan. Salah satu indikasi PHBS di perkantoran adalah dilakukan pemilahan dan pengelolaan sampah (salah satunya dengan konsep 3R). Pengelolaan sampah secanggih apapun di Tempat Pemrosesan Pengolahan Sampah (TPST) akan mengalami kesulitan bila sampah tidak di pilah dari hulu/ sumber. Sehingga perlu sosialisasi terhadap  sasaran-sasaran PHBS, yaitu dengan dilakukannyapilot project pemilahan dan pengelolaan sampah di pakuan agar menjadi percontohan, sebagai contoh pilot project di daerah pakuan (komplek perumahan gubernur Jabar).

PKK berkonsentrasi pada peningkatan kapasitas di rumah tangga, tantangan yang dihadapi pertama bagaimana mengubah main set mengenai sampah dari bau menjadi sesuatu yang dapat mengehasilkan uang/ berkah. Salah satunya dengan sistem Recycle Bank dengan menabung sampah dapat menghasilkan uang. Tantangan kedua adalah harus dapat membaca situasi sebagai contoh di perkotaan: jumlah wanita karier banyak, sehingga yang melakukan upaya pengelolaan sampah adalah pembantu rumah tangga, sehingga perlu dipikirkan seperti apa sosialisasi yang tepat untuk mereka.
Diharapkan ada solusi berupa strategi terhadap program pengolahan dan prevensi tentang sampah; adanya tag line tentang pengolahan sampah Jabar misal: Jabar yg Hijau (Green Environment) untuk menghasilkan our green earth, dan kita mampu menjadi agent of change. 

Selain dihadiri oleh Bpk Setiawan dan Ibu netty, dalam pelatihan ini turut mengundang Ir. Sri Bebassari, Bpk. Danar A., Lya TK, Ir.MT, Ibu Etty Sumiati, Ibu Dience Siti Hapsah, SH,  Anny Andaryati dan Sobirin Supardiyono sebagai narasumber yang menyampaikan materi berkaitan dgn pelatihan  tersebut.  (Nova/Poppy)

Jakarta Baru Miliki 94 Bank Sampah

Sumber: http://www.republika.co.id/ 09 November 2010

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Pemprov DKI Jakarta baru memiliki 94 bank sampah. Dari lima wilayah yang ada, Jakarta Timur dan Jakarta Pusat memiliki jumlah bank sampah terbanyak.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Eko Bahruna, mengatakan bank sampah di Jakarta Timur dinilai yang sudah berjalan paling baik. Begitu pula bank sampah di Rawa Sari, Jakarta Pusat yang juga sudah berfungsi. “Bank sampah itu merupakan aspirasi dari masyarakat, Dinas Kebersihan DKI hanya membina,” katanya, Selasa (9/11).

Bank sampah sendiri tak berbeda jauh dengan bank pada umumnya. Warga atau yang disebut nasabah mengumpulkan sampah organik atau non-organik untuk dikumpulkan. Dalam jangka waktu tertentu ada petugas atau teller yang keliling dan datang ke rumah para nasabah. Sampah yang masuk ke bank ini akan dipilah mana yang bermanfaat. Nantinya, sampah akan diolah menjadi kompos ataupun kerajinan.

Menurutnya, keberadaan bank sampah di tengah masyarakat masih dikampanyekan. “Sifatnya baru penyuluhan belum merata diseluruh wilayah dan harus bertahap,” katanya.

Ia mengakui pembentukan bank sampah di tingkat kelurahan tidak mudah karena harus benar-benar menjangkau masyarakat. Apalagi tak ada upah dari pekerjaan social ini. “Gak ada istilah dibayar, betul-betul aspirasi masyarakat,” katanya.

Ia menargetkan pada tahun mendatang, jumlah bank sampah di DKI Jakarta bisa meningkat. Kalau hal tersebut berhasil dilakukan, akan ada ratusan titik bank sampah.

DKI Gencar Kampanyekan Bank Sampah

Rabu, http://megapolitan.kompas.com/ 10 November 2010

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

JAKARTA, KOMPAS.com — Berbagai upaya terus dilakukan Pemprov DKI dalam upaya penanggulangan sampah yang ada di Jakarta. Tercatat, hingga saat ini jumlah sampah DKI diperkirakan mencapai 6.000 ton tiap tahun.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bahruna mengatakan, salah satu upaya yang saat ini tengah dijajaki Pemprov DKI dalam menangani persoalan sampah adalah dengan menyediakan bank sampah yang merupakan buah aspirasi warga Jakarta.

Saat ini, Pemprov DKI mengaku telah memiliki 94 bank sampah yang tersebar di lima wilayah Jakarta. Eko menjelaskan, Jakarta Timur dan Jakarta Pusat adalah wilayah yang memiliki jumlah bank sampah terbanyak dibanding wilayah lainnya. Walau demikian, secara keseluruhan, program tersebut mulai berjalan dengan baik di semua wilayah DKI.

“Bank sampah itu merupakan aspirasi dari masyarakat. Dinas Kebersihan DKI hanya membina. Ini sifatnya baru penyuluhan, belum merata di semua wilayah dan harus bertahap,” ujarnya.

Adapun bank sampah tak berbeda jauh dengan bank yang bergerak dalam dunia ekonomi pada umumnya. Warga atau yang disebut nasabah mengumpulkan sampah organik atau non-organik. Dalam jangka waktu tertentu, ada petugas atau teller yang keliling dan datang ke rumah para nasabah.

Nantinya, sampah yang masuk ke bank ini akan dipilah, mana yang bermanfaat. Baik sampah organik maupun non-organik akan diolah menjadi kompos ataupun kerajinan lainnya.

Eko berharap, sampah Jakarta setiap tahunnya bisa dikurangi sebanyak satu persen per tahun atau sekitar 60 ton. (Tribunnews/Alie Usman)

BAMBANG SUWERDA

Bank Sampah Gemah Ripah

Rabu, http://megapolitan.kompas.com/ 3 November 2010

OLEH ENY PRIHTIYANI

Aktif mengajar sebagai dosen di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan di Yogyakarta tak membuat Bambang Suwerda terjebak rutinitas. Ketika ide itu muncul, langsung dia berusaha mewujudkannya. Maka, lahirlah Bank Sampah Gemah Ripah yang kini sudah diterapkan di 20 desa di Bantul, DI Yogyakarta.

Sebagai dosen tentang kesehatan masyarakat, dia menginginkan masyarakat di sekitar rumahnya hidup sehat. Begitu demam berdarah dengue (DBD) menyerang kampungnya, Bambang resah. Dia lantas menggagas pembentukan bengkel kesehatan lingkungan. Dalam benak Bambang, dengan membentuk bengkel kesehatan lingkungan, ia bisa mengajak warga untuk lebih peduli pada kebersihan lingkungan. Dengan kepedulian itu, kasus DBD otomatis akan turun jumlahnya.

”Saya mulai dari hal sederhana, yakni membuang sampah, seperti kaleng bekas, pada tempatnya agar tidak menampung air. Masyarakat saya ajak untuk mengumpulkan sampah dan memilahnya. Awalnya respons masyarakat tidak terlalu bagus karena mereka menilai sampah adalah urusan cetek yang tak perlu dibuat serius,” kata Bambang.

Respons warga yang tidak menggembirakan itu membuat dia harus berpikir keras. Sampai suatu saat ia melihat tayangan televisi yang menceritakan aktivitas sebuah komunitas dalam membangun bank sampah.

”Namun, konsep mereka baru sebatas mengumpulkan, lalu mengolahnya menjadi produk yang lebih bermanfaat,” katanya.

Istilah bank sampah membuat dia langsung teringat pada aktivitas perbankan. Meski latar belakang pendidikannya adalah teknik lingkungan, Bambang mencoba mengadopsi konsep bank konvensional pada bank sampah yang digagasnya. ”Waktu itu saya kepikiran bagaimana mengelola sampah seperti mengelola uang di bank. Gagasan itu kemudian saya lontarkan kepada anggota kelompok dan mereka menerima,” katanya.

Butuh proses

Setelah digagas cukup matang, momentum peringatan dua tahun gempa yang melanda Yogyakarta pada 2008 dimanfaatkan untuk meluncurkan gerakan bank sampah. Pada masa awal banyak warga yang masih bingung dengan konsep tersebut sehingga gerakan bank sampah kurang berjalan efektif. Baru sekitar sebulan kemudian, masyarakat bisa menerimanya.

Para peserta bank sampah disebut nasabah. Setiap nasabah datang dengan tiga kantong sampah yang berbeda. Kantong pertama berisi sampah plastik; kantong kedua adalah sampah kertas; dan kantong ketiga berisi sampah kaleng dan botol.

Setelah ditimbang, nasabah akan mendapatkan bukti setor dari petugas yang diibaratkan sebagai teller bank. Bukti setoran itu menjadi dasar penghitungan nilai rupiah sampah yang kemudian dicatat dalam buku tabungan nasabah.

Setelah sampah yang terkumpul cukup banyak, petugas bank sampah akan menghubungi pengumpul barang bekas. Pengumpul barang bekas yang memberikan nilai ekonomi setiap kantong sampah milik nasabah. Catatan nilai rupiah itu lalu dicocokkan dengan bukti setoran, baru kemudian dibukukan.

Harga sampah dari warga itu bervariasi, tergantung klasifikasinya. Kertas karton, misalnya, dihargai Rp 2.000 per kilogram dan kertas arsip Rp 1.500 per kg. Sedangkan plastik, botol, dan kaleng harganya disesuaikan dengan ukuran.

Setiap nasabah memiliki karung ukuran besar yang ditempatkan di bank untuk menyimpan sampah yang mereka tabung. Setiap karung diberi nama dan nomor rekening masing-masing nasabah. Karung-karung sampah itu tersimpan di gudang bank yang terletak tak jauh dari rumah Bambang.

Tak jauh berbeda dengan bank konvensional umumnya, bank sampah juga menerapkan sistem bagi hasil dengan memotong 15 persen dari nilai sampah yang disetor individu nasabah. Sedangkan sampah suatu kelompok dipotong 30 persen. Dana itu digunakan untuk biaya operasional bank sampah.

Tak konsumtif

Jika nasabah bank konvensional bisa mengambil dananya setiap saat, nasabah bank sampah hanya bisa menarik dana setiap tiga bulan sekali. Tujuannya agar dana yang terkumpul bisa lebih banyak sehingga uang tersebut bisa dimanfaatkan sebagai modal kerja atau keperluan yang sifatnya produktif.

”Kalau dibebaskan (nasabah bisa mengambil kapan saja), mereka bisa jadi konsumtif. Dana baru terkumpul Rp 20.000-Rp 30.000, mereka sudah tergiur mengambilnya. Dengan aturan sekali dalam tiga bulan, mereka bisa menarik dananya Rp 100.000-Rp 200.000, tergantung banyaknya sampah yang ditabung,” kata Bambang.

Tak semua sampah nasabah disetorkan kepada pengumpul barang bekas. Sebagian di antaranya, seperti sampah plastik bekas pembungkus makanan dan gabus, diolah sendiri oleh bank sampah. Plastik diolah menjadi aneka produk, seperti tas, dompet, dan rompi.

Kesuksesan Bank Sampah Gemah Ripah di Dusun Bandegan, Bantul, Yogyakarta, itu menginspirasi daerah lain. Kini, bank sampah telah diterapkan di 20 desa di Bantul, melibatkan sekitar 1.000 keluarga.

Dengan moto ”menabung sampah, hidup lebih bersih dan hari esok lebih baik”, bank sampah menjadi solusi penanganan sampah yang selama ini menumpuk. Sebagai daerah yang memiliki tempat pembuangan akhir (TPA), setiap hari Bantul menerima 350-400 ton sampah.

”Gerakan bank sampah ini seharusnya menjadi gerakan kolektif penanganan sampah. Tak bisa masing-masing kita bergerak sendiri-sendiri,” ujar Bambang yang tengah sibuk menjadi relawan bagi para korban letusan Gunung Merapi.

Menabung di Bank Sampah

Rabu,   http://megapolitan.kompas.com/2 Juni 2010
Yogyakarta, Kompas – Masyarakat Dusun Badegan, Bantul, tidak mau kalah dengan bank yang begitu gencar mengajak masyarakat menabung. Mereka juga terus berkampanye ke warga agar gemar menabung. Namun, bukan uang yang ditabung, tetapi sampah. Jumlah nasabahnya kini mencapai ratusan orang dengan omzet Rp 500.000 per bulan.

Direktur Bank Sampah Panut Siswanto, Selasa (1/6), mengatakan, awalnya nasabah sebatas warga di Dusun Badegan, tetapi kini sudah berkembang hingga keluar desa. “Sebagian besar adalah kalangan sekolah. Jumlah nasabah individu mencapai 180 orang, sedangkan nasabah kelompok ada 22,” katanya.

Beberapa sekolah di Kecamatan Jetis, Dlingo, dan Bantul telah terdaftar sebagai nasabah. Sekolah menjadi nasabah potensial karena mereka sudah memiliki bak sampah masing-masing. Selama ini sampah- sampah tersebut hanya dibuang begitu saja. Padahal, masih ada nilai ekonomi yang tersisa.

Bank Sampah Gemah Ripah, karya warga Dusun Badegan, bisa menerima segala bentuk sampah seperti plastik, kertas, beling, dan sampah organik. Untuk plastik, kertas, dan beling, pihak bank akan menjualnya kembali ke tukang rosok. Untuk sampah organik, mereka mengolahnya menjadi kompos yang dijual kembali ke masyarakat.

Aktivitas bank sampah biasanya menggeliat saat sore hari. Setiap nasabah datang dengan empat kantong sampah berbeda sesuai jenisnya. Ketika menimbang sampah, nasabah akan mendapat bukti setoran dari petugas teller. Bukti setoran itu menjadi dasar penghitungan nilai rupiah sampah yang kemudian dicatat dalam buku tabungan. Untuk membedakan, warna buku tabungan tiap RT dibuat berbeda.

Setelah sampah terkumpul banyak, petugas bank menghubungi tukang rosok. Tukang rosok memberi nilai ekonomi tiap kantong sampah milik nasabah. Catatan nilai rupiah itu lalu dicocokkan dengan bukti setoran dan kemudian dibukukan.

Harga sampah bervariasi bergantung pada klasifikasinya. Kardus dihargai Rp 1.200 per kilogram, kertas arsip Rp 2.300 per kg, dan kertas koran seharga Rp 1.300 per kg. Botol dan gelas plastik dihargai Rp 2.000 per kg, sedangkan plastik kresek Rp 700 per kg.

Tiap nasabah memiliki karung ukuran besar yang tersimpan di bank untuk menyimpan seluruh sampah yang mereka tabung. Tiap karung diberi nama dan nomor rekening tiap nasabah. Hal ini bertujuan agar setiap tukang rongsok datang, petugas bank tidak kebingungan memilah tabungan sampah tiap nasabah. Karung- karung sampah itu tersimpan rapi di gudang bank.

Tidak semua sampah dijual ke tukang rosok. Sampah plastik saset bekas pembungkus dimanfaatkan untuk membuat aksesori rumah tangga. Misalnya, plastik bungkus minyak goreng, kopi, atau susu dipakai untuk melapisi tas, dompet, atau perkakas rumah tangga lainnya.

Bank sampah memotong dana 15 persen dari nilai sampah yang disetor nasabah. Dana itu digunakan untuk membiayai kegiatan operasional, seperti fotokopi, pembuatan buku tabungan, dan biaya lainnya. “Selama ini tidak ada nasabah yang keberatan. Kami harus melakukan pemotongan karena bank ini memang dikelola bersama-sama,” katanya.

Bank sampah awalnya diprakarsai oleh Bambang Suwerda, dosen Politeknik Kesehatan Yogyakarta. Meski sibuk mengajar, ia masih aktif mengelola bank sampah. Sebagai dosen kesehatan masyarakat, awalnya ia hanya ingin daerahnya bebas demam berdarah. Oleh karena itu, sampah-sampah harus diminimalkan. Dari situlah inspirasi bank sampah muncul.

“Saya berharap, bank sampah bisa direplikasi di desa-desa lain di Bantul. Setidaknya kehadiran bank ini bisa menambah penghasilan warga,” ujar Bambang. (ENY)

Gerakan Bank Sampah dari Bantul

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/ 1 Desember 2008
KOMPAS/ENY PRIHTIYANI
Nasabah menabung sampah dalam bungkusan di Bank Sampah Gemah Ripah di Dusun Bandegan Bantul, Oktober 2008.
Setiap pukul 16.00, antrean nasabah bank sampah biasanya sudah panjang. Mereka bukannya menanti giliran menyetor uang seperti di bank pada umumnya, melainkan sampah yang mereka kumpulkan selama dua hari. Meski yang disetorkan wujudnya tidak sama, pengelolaan bank sampah mirip dengan bank pada umumnya.

Setiap nasabah datang dengan tiga kantong sampah berbeda. Kantong I berisi sampah plastik, kantong II sampah kertas, dan kantong III berupa kaleng dan botol. Ketika menimbang sampah, nasabah akan mendapat bukti setoran dari petugas teller. Bukti setoran itu menjadi dasar penghitungan nilai rupiah sampah, yang kemudian dicatat dalam buku tabungan. Untuk membedakan, warna buku tabungan tiap RT dibuat berbeda.

Setelah sampah terkumpul banyak, petugas bank menghubungi tukang rosok. Tukang rosok memberi nilai ekonomi tiap kantong sampah milik nasabah. Catatan nilai rupiah itu lalu dicocokkan dengan bukti setoran dan kemudian dibukukan.

Harga sampah bervariasi bergantung pada klasifikasinya. Kertas karton dihargai Rp 2.000 per kg, kertas arsip Rp 1.500 per kg. Sedangkan plastik, botol, dan kaleng harganya menyesuaikan ukuran.

Tiap nasabah memiliki karung ukuran besar, yang tersimpan di bank untuk menyimpan seluruh sampah yang mereka tabung. Tiap karung diberi nama dan nomor rekening tiap nasabah. Tujuannya agar setiap tukang rongsok datang, petugas bank tidak kebingungan memilah tabungan sampah tiap nasabah. Karung- karung sampah itu tersimpan rapi di gudang bank.

Gemah Ripah

Bank Sampah Gemah Ripah, didirikan masyarakat Dusun Bandegan, Bantul, DI Yogyakarta, tiga bulan lalu. Kini jumlah nasabahnya 41 orang dari 12 RT di dusun tersebut. Pada tahap awal mereka masih membatasi diri untuk warga satu dusun, tetapi bila sudah memungkinkan nasabah tidak akan dibatasi asalnya.

Tidak semua sampah disetor ke tukang rosok. Sebagian di antaranya, yakni jenis plastik sachet dan gabus, diolah sendiri oleh bank sampah. ”Plastik sachet kami hargai Rp 15 per sachet, sementara gabus bergantung pada ukuran,” ujar Ismiyati, koordinator daur ulang sampah.

Plastik-plastik itu lalu diolah untuk membuat aneka aksesori rumah tangga, seperti tas, dompet, hingga rompi. Barang-barang tersebut dijual dengan harga Rp 20.000-Rp 35.000. ”Beberapa pembeli asing minta dikirim contoh barang. Kalau mereka setuju, pesanan yang kami terima akan menumpuk. Karenanya, stok bahan baku harus banyak. Kami sudah meminta warga untuk lebih aktif menabung sampah,” katanya.

Sampah jenis gabus biasanya dibuat menjadi pot bunga, tempat dudukan bendera, atau perlengkapan rumah tangga lainnya. Gabus-gabus itu dicampur dengan pasir dan semen. ”Produksi dari bahan gabus pesananannya masih lokal saja,” kata Ismiyanti

Menurut Panut Susanto, ketua pengelola bank sampah, sampah yang terkumpul tiap minggu mencapai 60-70 kg. Untuk sementara jam layanan bank dimulai pukul 16.00-21.00 tiap hari Senin-Rabu-Jumat. ”Kami baru bisa melayani pada sore hari karena sebagian besar petugas bank harus bekerja pada pagi hari,” katanya.

Belum maksimalnya kinerja petugas karena mereka mengelola bank sampah tanpa dibayar. Artinya, mereka harus tetap bekerja untuk membiayai kehidupan keseharian. ”Apa yang kami kerjakan sifatnya masih sosial. Jadi, kami memang tidak mengharapkan upah karena kondisi bank belum maksimal,” katanya.

Bank sampah memotong dana 15 persen dari nilai sampah yang disetor nasabah. Dana itu digunakan untuk membiayai kegiatan operasional, seperti fotokopi, pembuatan buku tabungan, dan biaya lainnya. ”Selama ini tidak ada nasabah yang keberatan. Kami harus melakukan pemotongan karena bank ini memang dikelola bersama-sama,” katanya.

Berbeda dengan bank tempat nasabah bisa mengambil dana setiap saat, di bank sampah nasabah hanya bisa menarik dana setiap tiga bulan sekali. Tujuannya agar dana yang terkumpul bisa lebih banyak sehingga uang tersebut dimanfaatkan sebagai modal kerja atau keperluan yang bersifat produktif.

”Kalau dibebaskan, mereka bisa konsumtif. Baru terkumpul Rp 20.000-Rp 30.000 sudah tergiur untuk mengambil. Karena hanya tiga bulan sekali, mereka bisa menarik dana sampai Rp 100.000-Rp 200.000 bergantung pada banyaknya sampah yang ditabung,” kata Bambang Suwirda, penggagas bank sampah.

Tersimpan

Menurut Bambang, dana kelolaan yang saat ini tersimpan tinggal Rp 500.000. Sebagian besar nasabah sudah mengambil saat Lebaran lalu. Untuk sementara, dana nasabah disimpan sendiri oleh pengelola bank. Ke depan, pengelola akan menjalin kerja sama dengan Bank Bantul untuk menyimpan dana nasabah.

Para pengelola bank juga bertekad memperluas operasional bank agar tidak terbatas pada penyimpanan, tetapi juga peminjaman. ”Dalam konsep bank sampah, barang jaminan mungkin berupa sampah juga,” katanya.

Fokus sampah yang dikumpulkan saat ini masih sebatas sampah anorganik. Ke depan, sampah organik juga akan diterima, yang selanjutnya diolah menjadi pupuk kompos.

Bagi para nasabah, keberadaan bank sangat membantu. Mereka bisa mendapat penghasilan tambahan sekaligus kebersihan lingkungan sekitar terjaga. ”Lumayanlah tiap bulan ada pemasukan tambahan. Hitung-hitung buat nambah dana belanja dapur,” kata Sutiyani, warga setempat.

Bila gerakan bank sampah bisa meluas ke berbagai desa, masalah sampah bisa tertangani. Tak hanya itu, perekonomian masyarakat juga ikut membaik sehingga angka kemiskinan bisa ditekan.

Di Bantul, produksi sampah per hari mencapai 614 meter kubik. Sayangnya, pemerintah daerah setempat belum berpikiran ke arah itu. (ENY PRIHTIYANI)

Program Bank Sampah di Semperbarat Jadi Contoh

Sumber:   http://www.beritajakarta.com/, 11-06-2010

 

regu comot sampah/dok.beritajakarta.com

BERITAJAKARTA.COM — Sedikitnya 40 orang utusan dari 40 kabupaten/kota se-Indonesia belajar mengenai program bank sampah yang tengah dikembangkan warga RW 09 Kelurahan Semperbarat, Cilincing, Jakarta Utara. Ke-40 orang ini juga merupakan peserta Diklat Lingkungan Hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup RI. Mereka antara lain berasal dari Tangerang Selatan, Depok, Brebes, Lampung dan sebagainya. Pengenalan bank sampah dilakukan oleh Wakil Walikota Jakarta Utara, Atma Sanjaya, di ruang Fatahillah, kantor walikota setempat, Jumat (11/6).

Atma menyebutkan, kegiatan bank sampah sebenarnya sepenuhnya dilakukan oleh warga di tingkat RW. Sedangkan pihak Pemkot Administrasi Jakarta Utara hanya sebatas fasilitator. Namun kini seluruh lurah di wilayah itu diminta untuk mengembangkan bank sampah. Sebab hal ini sangat besar manfaatnya karenanya diharapkan membawa dampak positif.Saat ini penduduk Jakarta Utara tercatat 1.176531 jiwa (8.430 jiwa/Km) yang tersebar di 31 kelurahan mencakup 409 RW atau 4.746 RT. Kepadatan jumlah penduduk ini tentu sangat berpotensi menghasilkan sampah, baik sampah rumah tangga maupun pabrik dan sebagainya. Setiap harinya Jakarta Utara mampu memproduksi sampah sekitar 5.200 meter kubik. Dari jumlah tersebut, 71,5 persen merupakan sampah organik dan 28,5 lainnya merupakan sampah non organik.”Selain itu, Jakarta Utara masih menerima sampah dan limbah dari sungai yang mengalir dan sampah yang terbawa oleh arus air laut pasang ke darat,” kata Atma Sanjaya, Jumat (11/6). Diakuinya, bank sampah yang diterapkan warga RW 09 Semperbarat ini mampu memperkecil volume sampah yang dibuang. Bahkan hasilnya bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat khususnya warga RW 09 tersebut.Ketua RW 09 Semperbarat, Nanang Suwandi, mengatakan, program bank sampah semata-mata untuk menciptakan lingkungan yang bersih. Selain itu ada nilai tambah bagi warga, khususnya yang ekonominya lemah dan melatih warga untuk memilah sampah baik organik maupun non organik. “Sampah itu sendiri menjadi tabungan sampah yang mempunyai nilai ekonomi,” ujarnya. 

Saat ini di RW 09 ini terdapat sekitar 1.000 kepala keluarga dari 16 RT. Sejak berdirinya bank sampah pada Januari 2010 hingga sekarang, sedikitnya ada 40 anggota Karang Taruna dan 80 kepala keluarga yang ikut mengelola langsung bank sampah. Setiap bulan bisa mengumpulkan sekitar 800 kilogram berupa sampah jenis plastik, kardus, dan sebagainya.

Sedangkan Ketua RW 02 Kelurahan Pengangsaandua, Kelapagading, Umar Jaya, berencana akan membuat bank sampah seperti dilakukan warga RW 09 Semperbarat. “Kalau semua sudah bisa memahami betapa pentingnya kebersihan, mudah-mudahan semua penyakit yang ditimbulkan dari lingkungan akan berkurang, seperti penyakit DBD dan lainnya, katanya.

Bank Sampah, Mengubah Pandangan tentang Sampah

Sumber:  http://www.dw-world.de/ ; 2 Maret 2009

 

Menyimpan sampah, terdengar paradoks. Sebab sampah adalah sesuatu yang biasanya kita buang. Tapi inilah yang dilakukan warga Badegan, Bantul, Yogyakarta. Mereka mengumpulkan, menyimpan lalu bahkan menabung sampahnya.

Pukul 4 sore, warga terlihat berkerumun di sebuah bangunan sederhana yang berukuran 8 kali 12 meter. Lantainya tanah, tanpa pintu dan jendela. Di tembok tak bercat terpampang spanduk besar bertuliskan Bank Sampah Gemah Ripah. Sedangkan di kiri kanan dinding tertempel tulisan ajakan membuang sampah dan tumpukan puluhan kantong sampah. Mereka yang berkumpul adalah nasabah bank sampah gemah ripah. Bukan bank biasa, tidak ada lantai keramik, perangkat komputer maupun petugas berseragam.

Ismiyati dan beberapa warga menunggu dalam antrian sambil ngobrol di depan meja petugas bank. Tangannya menenteng 2 kantong berisi sampah kertas dan plastik yang sudah dipilah. Ismiyati disambut Galuh dan Sita, dua petugas bank yang biasa disebut teller. Ismiyati lalu menyerahkan tabungannya. Bukan dalam bentuk uang, melainkan sampah yang ditentengnya. Dengan cekatan, Galuh menimbang dan melabeli tas isi sampah itu, sementara Sita mencatat berat sampah di buku tabungan. Hanya butuh waktu  3  menit, Ismiyati sudah menerima bukti penyetoran sampah. Semua pencatatan dilakukan dengan tangan.

Setiap kantong sampah milik nasabah atau penabung diberi label  agar tidak tertukar dengan nasabah lain. Kemudian kantong sampah itu disimpan dalam bilik penyimpanan sampah sesuai jenisnya. Teller mencatat dan mencocokkan lagi semua penyetoran nasabah dalam buku besar yang disebut buku induk.

Lalu apa yang terjadi dengan sampah yang dibawa nasabah ini? Menurut petugas bank Galuh, dalam seminggu sampah yang terkumpul bisa mencapai 70 kilogram. Sampah ini secara berkala disetor ke tukang barang rongsokan. Mereka disebut pengepul rosok. Merekalah nanti yang akan menghitung nilai ekonomis setiap sampah yang ditabung nasabah. Jadi petugas bank tidak menentukan berapa nilai sampah nasabahnya. Demikian dijelaskan Galuh.

Memang yang mengetahui nilai sampah adalah para pengepul rosok. Mereka yang sehari-hari melakukan jual beli sampah, seperti Nasrulloh. Ia memang harus meluangkan waktu datang ke bank sampah untuk menaksir nilai sampah tiap nasabah. Tapi sebagai pedagang, ia juga diuntungkan dengan adanya bank sampah. Baginya, tidak telalu susah mencari barang.

Tak ada batasan berat sampah yang ditabung nasabah. Sampah yang dikumpulkan lebih dulu harus dipilah. Setiap penabung mendapat tiga kantong sampah gratis yang telah diberi nama dan nomor rekening. Kantong 1 untuk sampah plastik, kantong 2 sampah kertas, dan kantong 3 untuk sampah kaleng dan botol. Jadi sebelum ditabung, setiap nasabah diharuskan memilah sampah terlebih dahulu sesuai jenisnya, baik kertas, kaleng dan botol.

Bank Sampah Gemah Ripah dibuka tiga hari seminggu, Senin, Rabu, dan Jumat jam 4 sore hingga  8 malam.

Bagaimana pengalaman para nasabah? Ismiyati mengaku senang menjadi nasabah bank sampah. Meski pada awalnya ia merasa malu menenteng sampah untuk ditabung.

Adanya bank sampah menambah kesadaran warga tentang pengelolaan sampah. Kalau dulu warga membuang sampah sembarangan saja, karena kesulitan mencari tempat pembuangan resmi. Kata Ismiyati yang sekarang menjadi nasabah bank sampah.

Gagasan awal pendirian bank sampah ini datang dari Bambang Suwerda, dosen Politeknik Kesehatan Yogyakarta. Ia ingin mengubah pandangan masyarakat tentang sampah, bahwa sampah bisa dimanfaatkan jika dikelola dengan benar.

Pengelolaan bank sampah dilakukan secara sukarela. Petugas teller bank sampah, Galuh dan Sita bekerja tanpa dibayar.

Di bank sampah sekarang ada 10 orang yang sekarang bertugas. Bank sampah memotong dana 15 persen dari nilai sampah yang disetor nasabah. Dana itu digunakan untuk membiayai kegiatan operasional. Berbeda dengan bank biasa, nasabah hanya bisa mengambil tabungan tiga bulan sekali.

Penggagas bank sampah Bambang Suwerda menjelaskan mengapa: “Dengan pertimbangan supaya nilai nominal dari para penabung terutama sampahnya itu besar rupiahnya, kalau diambil tiap hari itu nanti mungkin lama-lama tidak bersemangat untuk menabung karena rupiahnya sangat kecil. Tapi dengan jangka menengah ini, Ternyata bisa mendatangkan income lumayan .”

Di dusun Badegan ada sekitar 600 kepala keluarga. Sampai sekarang nasabah bank sampah baru 60 orang. Tapi Bambang Suwerda yakin, jumlah penabung akan bertambah. Memang kesadaran warga tentang masalah sampah masih rendah. Untuk itu, penjelasan tentang cara kerja dan gagasan bank sampah sekarang dilakukan secara rutin.

Untuk menjangkau warga yang tinggalnya jauh, ada sistem pengumpulan komunal. Petugas bank berkeliling mengambil sampah milik warga dititik yang sudah ditentukan. Tidak semua sampah yang ditabung nasabah disetor ke tukang rosok. Sebagian di antaranya, yakni jenis plastik sachet dan gabus, diolah menjadi aneka aksesori rumah tangga, seperti tas, dompet, hingga rompi, atau pot bunga. Barang-barang tersebut lalu dijual dengan harga 20 ribu Rupiah.

Bank Sampah Gemah Ripah milik warga Badegan adalah salah satu alternatif mengajak warga peduli dengan sampah, yang konsepnya mungkin dapat dikembangkan juga di wilayah lain. (yf)

12 responses to “Bank Sampah

  1. dian rahmawati

    assalamualaikum…….. saya sangat prihatin melihat kebiasaan masyarakat dilingkungan saya yg membuang sampah yg tidak dapat terurai. saya ingin belajar untuk solusi sampah yg telah diterakan di web ini, semoga dapat membantu saya. trimaksih sebelumnya

  2. kami sangat tertarik dengan program pengelolaan sampah di Depok ini, kami berniat untuk mengunjungi Bank Sampah di Depok untuk melihat bagaimana sistemnya. yang menjadi pertanyaan kami adalah bagaimana prosedurnya untuk bisa berkunjung kesana dan siapa yang harus kami hubungi.

  3. budi triyantoro

    Saya prihatin dengan pola pikir kebanyakan warga masyarakat di era modern ini. yang maunya membuang sampah seenaknya.. Bank Sampah memang merupakan salahsatu solusi, meskipun sebagian besar menganggap bahwa kerja yang berkaitan dengan sampah tanpa modal besar kemungkinan saja keberhasilannya hanya sedikit, saya menghimbau para pemilik modal/uang yang sudah sadar dan mau berfikir membantu kesehatan lingkungan. Saya juga punya konsep yang saling mendukung guna menciptakan lingkungan yang bersih tetapi lebih menarik dari pada Bank Sampah yang hebat ini

  4. bagus coba tularkan ke yang lain, berdayakan masyarakat

  5. Saya tinggal disawangan Depok dan sudah mulai membuat bank sampah ala sendiri.tp yg jadi kendala adalah tenaga,sebab banyak org mengerti akan keberadaan sampah,tapi dalam prakteknya sama sekali tidak ada.saya tidak tahu cara ngajak mereka karena saya bukan siapa-siapa.jadi untuk saat ini mulai dari diri sendiri…..TETAP SEMANGAT!!!!

  6. bank sampah sts mandiri

    saya tinggal di penajam mau mendirikan bank sampah tp lagi ngurus surat domisili dari kelurahan sama kecamatan, dalam penjualan hasil sampah yg terkumpul kami juga susah mencari pengepulnya saya pingin bank sampah yg saya dirikan mempunyai dasar hukum tolong beri semangat kepada kami dalam meneruskan bank sampah kami ini.

  7. Kelurahan Beji, kec Beji, alhamdulillah sudah ada bank sampah yang didirikan dari juli 2011…..dibawah naungan yayasan semai karakter bangsa….dan saat ini sudah memiliki nasabah sekitar 300 orang dengan jumlah tabungan sekitar 19 juta rupiah

  8. Insya allah,kami di sekolah alam al fathi kel.Palupi Kec.Tatanga akan memulilai kegiatan bank sampah,kami akan terapkan pada anak didik terlbih dahulu,baru ke warga sekitar sekolah alam.doakan ya semoga rencana ini bisa berjalan……mari kita ciptakan lingkungan yang nyaman bagi masyarakat dunia…….

  9. maaf,sekolah alam al fathi baru kami bentuk 5 bulan yang lalu,lokasi di kel.palupi kec.tatanga kota palu propinsi sulawesi tengah

  10. aulia maghfiroh

    kalau ingin ikut pelatihan bank sampah bagaimana caranya? adakah contact person yang bisa saya hubungi?

  11. YTH.PENGURUS BANK SAMPAH
    DI SELURUH INDONESIA

    Dengan hormat,
    Saya mengenalkan diri saya :

    nama : Supriyanto
    Alamat: DESA SEKAPUK RT.002 RW.004 NO.28 KEC.UJUNGPANGKAH KAB.GRESIK, JAWA TIMUR-INDONESIA
    HP.085 706 213 274, E-MAIL : Satyamanunggal@yahoo.com

    Saya pengurus Bank sampah satya manunggal sekapuk, saya memerlukan bantuan berbagai hal untuk pengembangan bank sampah satya manunggal sekapuk, baik ilmu,hibah pelatihan dan sumber bantuan dana, baik pinjaman CSR atau hibah.Bank sampah satya manunggal sekapuk ini adalah salah satu program karang taruna sekapuk yang mana, karang taruna desa sekapuk memiliki bank sampah yang bertujuan untuk membantu program desa dalam penanggulangan sampah baik sampah anorganik maupun organik. saya berharap semua pihak baik swasta maupun pemerintah mendengar permohonan tolongan kami.
    syukur alhamdulillah.

    HORMAT KAMI

    SUPRIYANTO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s