Berita 2004

Februari 2004

TPA Cipayung Jadi Proyek Percontohan TPA se-Jabotabek

Sumber:http://www.suarapembaruan.com/ 03 Februari 2004

DEPOK – Meskipun sering mendapat protes dan keluhan warga sekitar berkaitan dengan pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Cipayung, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Bank Dunia (World Bank) menunjuk TPA Cipayung sebagai proyek percontohan TPA se-Jabotabek.

TPA Cipayung seluas 9,1 hektare itu dimasukkan dalam proyek West Java Environmental Management Program (WEJMP), karena pengelolaannya dianggap profesional. “TPA Cipayung dijadikan proyek demonstration landfill untuk TPA-TPA di wilayah Jabotabek. TPA Cipayung paling baik dan profesional pengelolaannya sebanding dengan TPA Suwung yang dimiliki Kota Denpasar, Bali,” kata Kepala Sie Pemusnahan Sampah Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok, Mulyo Handoyo, Jumat pekan lalu.

Proyek percontohan itu akan dikerjakan sepanjang tahun 2004. Namun, ia tidak mengetahui berapa besar dana yang akan diberikan Bank Dunia untuk menyukseskan program percontohan itu.

Ia mengatakan, anggaran yang dikucurkan itu nantinya akan digunakan untuk membuat turapan di pinggir Kali Pesanggrahan dan perbaikan tanggul TPA. Sekitar akhir Desember lalu, tanggul TPA Cipayung longsor, menimpa sebagian lahan Masyarakat. Tanggul tersebut memang rawan longsor, karena hanya dibuat dengan cara menumpuk tanah di sekitar TPA. “Jadinya tidak kuat menahan beban. Apalagi kalau hujan turun,” ujarnya.

Selain soal longsor, TPA itu sebenarnya belum mampu menampung sampah warga Kota Depok. Dari 2.400 meter kubik sampah warga, TPA ternyata hanya bisa menampung sekitar 1.000 meter kubik. DKP sendiri belum mampu memanfaatkan sampah dengan alasan kesulitan masalah pembiayaan.

“Saya tawarkan kepada warga, sekitar 100.000 meter kubik sampah untuk dijadikan kompos. Itu gratis, silakan ambil, tapi harus pilah dan angkut sendiri. Tahun 2004 ini kita targetkan TPA bisa menampung sampai 60 persen produk sampah warga,” ia menambahkan.

Masalah lain TPA yang akan menjadi proyek percontohan itu adalah serbuan lalat ke permukiman dan bau sampah yang menyengat sampai radius 1 kilometer. Hal itu diakui Kepala DKP Kota Depok Walim Herwandi. Ia mengatakan, keluhan warga berkaitan dengan lalat dan bau segera diantisipasi. Pihak DKP sudah melayangkan surat ke Dinas Kesehatan Kota Depok minta agar penyemprotan segera dilakukan.

Sekretaris Komisi D DPRD Kota Depok Imam Budi Hartono, mengatakan proyek percontohan di wilayah Kota Depok sering kali tidak berjalan dengan semestinya. (W-12). Last modified: 3/2/04

Mei 2004

Guru Mengancam Mogok Mengajar karena Sampah

Media Indonesia – 31 Mei 2004

Sumber: http://digilib-ampl.net/

DEPOK (Media): Sejumlah guru sekolah dasar negeri (SDN) di Kota Depok mengancam akan mogok mengajar karena pemerintah daerah setempat membiarkan sampah menumpuk di sekitar tiga SDN di wilayah tersebut.

Kepala SDN Curug I Sorta Sitorus di Cimanggis, kemarin mengatakan, para pengajar juga mengancam akan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran, sekaligus membawa sampah ke Kantor Pemerintah Kota Depok.

“Aksi mogok mengajar dan berunjuk rasa merupakan pilihan terakhir karena Wali Kota Depok Badrul Kamal, Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Depok Tutun Sufyan, dan Camat Cimanggis Rumanul sudah tidak peduli lagi dengan sampah yang bertumpuk di samping tembok pagar tiga SDN di wilayah ini,” kata Sorta kepada Media.

Menurut Sorta, guru SDN yang mengancam mogok itu meliputi guru SDN Curug I, SDN Cisalak Pasar II, dan SDN Cisalak Pasar III, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok.

Pada aksi unjuk rasa tersebut, mereka akan mendesak Badrul Kamal mengundurkan diri dari jabatannya karena dinilai tidak mampu mengatasi sampah yang bermasalah sejak lima tahun lalu.

Menurut Sorta, sampah yang menumpuk dan sudah berulat itu tingginya mencapai sekitar lima meter, dan berada di lahan sepanjang 60 meter dan lebar 30 meter. Sampah tersebut tepat berada di samping gedung SDN I Curug.

Bertumpuknya sampah tersebut sangat mengganggu proses belajar-mengajar di tiga SDN di kawasan tersebut karena para siswa dan guru terpaksa menghirup udara berbau busuk. Akibatnya, dalam sebulan terakhir beberapa siswa dan guru tiga SDN menderita sesak napas, batuk, dan pusing kepala. Penyakit tersebut diperkirakan timbul akibat sampah di samping gedung SDN I Curug.

Murid dan guru SDN Curug I paling banyak menderita sesak napas, batuk, dan pusing kepala, dan mereka terpaksa berobat ke dokter akibat polusi bau sampah yang menyebar.

Guru dan siswa SDN Cisalak Pasar II dan III menderita sakit, namun sakit mereka tidak separah yang diderita guru dan siswa SDN Curug I. “Saya sudah dua minggu berobat jalan ke Rumah Sakit (RS) Tugu Ibu Cimanggis di Jalan Raya Bogor,” kata Sorta.

Walau demikian, lanjutnya, hingga saat ini belum ada siswa dan guru di tiga SDN tersebut yang dirawat inap di rumah sakit karena terpaksa menghirup bau sampah.

Sampah tersebut berupa sisa-sisa makanan seperti ikan, tulang sapi, ayam, sayur-sayuran, dan buah-buahan yang dibuang pedagang dan warga sekitar Pasar Cisalak, Cimanggis.

Berdasarkan Rencana Umum Tata Ruang Daerah (RUTRD) lahan yang pembuangan sampah itu untuk Terminal Angkutan Kota Jurusan Kampung Rambutan-Cisalak.

Terminal dan Pasar Cisalak dibangun oleh PT Piranti Harum Lestari (PHL) pada 1996, yang tujuannya untuk mengurangi kemacetan di Jl Raya Bogor, tepatnya di depan Pasar Cisalak.

Selesai pembangunan Terminal dan Pasar Cisalak, oleh Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Depok dioperasikan sesuai fungsinya. Saat itu, semua angkutan kota yang datang dari Kampung Rambutan melalui simpangan Radar AURI, Kelurahan Mekarsari, Cimanggis masuk kawasan tersebut. Namun, tak lama kemudian angkutan kota tidak lagi mau masuk terminal tersebut.

Selain itu, pembangunan terminal dibuat dengan tujuan mengurangi kemacetan di kawasan itu dengan menempatkan pedagang yang selama ini berjualan di pinggir jalan bisa berdagang di kios.

Namun, karena terminal tersebut tidak difungsikan akhirnya warga dan pedagang Pasar Cisalak memanfaatkan lahan tersebut untuk menjadi area pembuangan sampah.

Dari pantauan Media, hingga kini banyak kios di Pasar Cisalak yang tidak terisi, akibatnya rolling door-nya raib dicuri penjahat.

Dengan kondisi tersebut, Sorta meminta Wali Kota Depok Badrul Kamal memindahkan gedung SDN Curug I, Cisalak Pasar II dan III ke tempat lain jika lahan terminal tetap digunakan tempat pembuangan sampah.

Belakangan ini, beberapa ruangan kelas I hingga kelas VI kosong karena siswa yang belajar di sekolah itu banyak yang dipindahkan orang tua mereka ke sekolah lain. Orang tua murid tidak mau lagi memasukkan anaknya ke sekolah tersebut karena terkesan jorok.

Saat ini jumlah siswa di SDN Curug I sekitar 270 orang. SDN Cisalak II sekitar 200 orang dan SDN Cisalak III sekitar 120 orang.

“Kami sudah meminta kepada Camat Cimanggis Rumanul dan Kepala Dinas Pasar Kota Depok Tutun Sufyan untuk membuang sampah secepatnya. Kami juga sudah mengirimkan surat kepada Badrul Kamal tapi belum membuahkan hasil,” kata Sorta. (KG/J-4)

Juni 2004

Dekat Pembuangan Sampah, Pemkot Depok Pindahkan 3 SDN

Media Indonesia – 01 Juni 2004

Sumber: http://digilib-ampl.net/

DEPOK (Media): Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan memindahkan Sekolah Dasar Negeri (SDN) I Curug, SDN Cisalak Pasar II dan III, Kota Depok, ke tempat lain yang tidak jauh dari lokasi semula. Sementara hasil pemantauan Media kemarin, kondisi ketiga SDN tersebut telah bersih dari sampah.

Hal tersebut merupakan respons Pemkot Depok terhadap ancaman sejumlah guru di tiga SDN di Kota Depok yang akan mogok mengajar karena pemerintah daerah setempat membiarkan sampah menumpuk di sekitar lokasi mereka mengajar (Media, 31/5).

Camat Cimanggis Rumanul Hidayat, kemarin, di ruang kerjanya mengatakan, ketiga SDN yang berada di dekat pembuangan sampah tersebut dalam waktu dekat akan dipindahkan ke tempat lain yang lokasinya tidak jauh dari lokasi SDN yang sekarang. Dipindahkannya gedung SDN karena sampah menumpuk di dekat SDN tersebut.

Rumanul mengatakan, pihaknya sedang mencari lahan yang luasnya sekitar 2.000 meter persegi. “Wali Kota Depok Badrul Kamal sudah memerintahkan saya untuk mencari lahan pengganti untuk pembangunan gedung tiga SD. Sekarang, saya sedang bernegosiasi dengan pemilik tanah,” katanya.

Menurut dia, sudah ada warga di wilayah itu yang menawarkan tanah seluas 6.000 meter persegi, namun jaraknya agak jauh dari sekolah yang ada sekarang. Tawaran tersebut ditolak oleh Pemkot Depok.

Menurut Rumanul, pembangunan tiga SDN yang baru diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp700 juta, dan dana tersebut direncanakan menggunakan pinjaman dari Bank Jabar.

Menanggapi tuntutan guru tiga SDN di Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Rumanul mengatakan bahwa tuntutan tersebut agar dilakukan percepatan pemindahan gedung SD.

Pada kesempatan terpisah, Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Depok Tutun Sufiyan mengatakan, menumpuknya sampah di dekat tiga SDN di Cimanggis tersebut karena armada angkutan sampah terbatas, hanya enam truk.

Dua dari enam truk yang tersedia mengalami kerusakan. “Pemerintah Kota Depok sudah menyediakan lagi dua truk sampah untuk mengangkut sampah di dekat tiga SDN. Sampah-sampah yang tadinya menumpuk sudah diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan di Depok.” (KG/J-4)

November 2004

Dinas Kebersihan Depok Kurang Dana Atasi Sampah Lebaran

Republika – 12 Nopember 2004

Sumber: http://digilib-ampl.net/

DEPOK — Keterbatasan anggaran sebabkan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok hanya menyiagakan petugas kebersihan di lokasi tertentu pada malam takbiran dan Idul Fitri. Menurut keterangan Komaruddin, Kepala Seksi Kebersihan Jalan dan Lingkungan DKP Depok kepada Republika, pada malam takbiran pihaknya hanya menerjunkan petugas di beberapa jalan protokol seperti Jl Margonda Raya, Jl H Juanda, dan Jl Dewi Sartika, termasuk sepanjang Jalan Raya Bogor dari Auri hingga Cibinong. Sedangkan pada hari Lebaran, petugas kebersihan hanya beroperasi di tiga kecamatan, yaitu, Sukma Jaya, Pancoran Mas dan Beji.

”Karena anggaran yang tersedia sedikit, pada malam takbiran kami hanya menempatkan petugas kebersihan di jalan-jalan protokol. Pada hari H hanya bertugas di tiga kecamatan,” kata Komaruddin. Hari H yang dimaksud oleh Komaruddin adalah hari raya pertama. Lebih lanjut dia mengatakan, lokasi-lokasi tersebut dipilih karena berdasarkan pengalaman merupakan lokasi penyumbang sampah terbanyak. Jalan-jalan protokol, pada malam takbiran akan banyak dilalui warga.

Sedangkan di Jl Dewi Sartika, lanjutnya, pada malam takbiran akan banyak ditempati para pedagang kaki lima hingga sampah di sana akan menumpuk. Sedangkan di tiga kecamatan tersebut, lanjutnya, warga yang melaksanakan sholat ied di pinggir jalan atau di mesjid lebih banyak di banding daerah lain. Petugas kebersihan yang terdiri dari pengemudi dan kernet truk sampah serta pesafon, tukang sapu jalan, tersebut, menurut Komaruddin, akan bertugas membersihkan sampah di jalan sejak pukul 23.00 hingga selesai sholat ied.

Iis Aisah Ismail, Kabag TU DKP Depok, mengatakan, keterbatasan anggaran itu juga terkait dengan besar upah khusus yang diberikan kepada petugas kebersihan yang membersihkan sampah warga selama libur lebaran. Besar upah mereka untuk tahun ini tak jauh beda dengan upah tahun lalu. Untuk pengemudi truk sampah diberikan upah sebesar Rp 60 ribu, kernet sebesar Rp 55 ribu dan pesafon sebesar 50 ribu. Sedangkan pada tahun lalu untuk pengemudi sebesar Rp 60 ribu, kernet sebesar Rp 50 ribu, dan pesafon sebesar 40 ribu.”Upah tersebut di luar gaji bulanan dan THR,” kata Iis.

Di Bekasi, Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman Kota Bekasi akan menggelar Operasi Ketupat. Rencananya, operasi akan digelar mulai 14 hingga 21 November 2004. Menurut Kepala Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman (Kadis Bertaman) Kota Bekasi, Drs H Dedi Djuanda, operasi bertujuan untuk mengantisipasi tingginya volume sampah akibat aktivitas warga Kota Bekasi menghadapi Idul Fitri. ” Saya termasuk yang tidak dicutikan selama lebaran,” tandas Dedi, Rabu (10/11).

Kegiatan Operasi Ketupat ini ditempatkan pada 12 titik, antara lain Jl Ir H Juanda, Terminal Bekasi, Jl Cut Mutia dan titik-titik rawan sampah yang tersebar diseluruh Kota Bekasi. ” Biasanya sampah-sampah selama lebaran kebanyakan berasal dari sampah wilayah, termasuk sampah-sampah pasar, ”jelas Dedi. Menurut Dedi jumlah sampah tersebut bisa mencapai 140 kubik.

Disbertaman juga menyiagakan petugas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu dan pelayanan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) untuk mengantisipasi apabila ada yang meninggal dunia saat Idul Fitri.”Saat ini Disbertaman telah menyiapkan beberapa lubang untuk pemakaman,” ujar Dedi.

Laporan : c27/c26

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s