Berita 2007

Januari 2007

Depok Tangkap Truk Sampah Jakarta

Sumber: http://ip52-210.cbn.net.id/ 11 Januari 2007

TEMPO Interaktif, Jakarta: Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Kota Depok menangkap basah sebuah truk sampah milik Suku Dinas Kebersihan Jakarta Selatan yang dikemudikan oleh Adi Purwanto saat membuang sampah di RT 02/08, di bantaran Kali Krukut, Kelurahan Cipayung, Pancoran Mas Depok.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Depok, Sariyo Sabani mengatakan truk bercat orange bernomor seri 0757 kepergok olehnya yang sedang meninjau Alfa Mart di wilayah setempat, kemarin, sekitar pukul 10.00 WIB. “Saya lihat mereka sedang membuang sampah dalam puluhan bungkusan plastik hitam,” katanya kepada wartawan di lokasi bantaran Kali Krukut, Kamis (11/1).

Menurut Sariyo, ia menegur supir truk itu. Sebab tindakan supir yang ditemani kondekturnya ini menyalahi peraturan daerah (peda) nomor 14 tahun 2001 tentang Larangan Pembuangan Limbah di Bantaran Kali. Selain itu truk sampah berplat merah dengan nomor polisi B 9885 JQ tersebut bukan milik pemerintah kota Depok.  Endang Purwanti

Februari  2007

TPS Cipayung Diperluas 2 Ha

Koran Sindo – 26 Februari 2007

Sumber: http://digilib-ampl.net/

DEPOK (SINDO) – Tahun ini Pemkot Depok berencana memperluas lahan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Cipayung, Pancoran Mas.Kebijakan ini diambil menyusul meningkatnya volume sampah warga yang sebelumnya hanya 700 m3 per hari menjadi 1.400 m3/ hari.

“Karena peningkatan volume sampah, kami berencana menambah luas TPA,” ujar Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Depok Walim Herwandi,kemarin. Dia akan menambah luas lahan dua hektare (ha) dari luas TPA saat ini 10,1 ha. “Hanya, perluasan itu akan dilakukan secara bertahap.

Tahap awal ini, Pemkot menargetkan penambahan luas lahan sekitar 5.000 m2. Selanjutnya, pada perubahan anggaran tahun ini direncanakan mencapai 2 ha,”paparnya panjang lebar. Dia khawatir jika lahan itu tidak diperlebar,TPS Cipayung kesulitan menampung sampah di Depok.Walim menyadari,perluasan lahan itu memerlukan dana besar karena harus membebaskan lahan warga sekitar.

“Jadi kalau tahun ini sulit terealisasi, setidaknya diharapkan terwujud pada 2008,”tutur Walim. Namun sebelum melakukan pelebaran lahan,Walim berjanji akan melakukan pengkajian analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) terlebih dahulu. “Rencana ini telah diusulkannya kepada Wali Kota Depok Nurmahmudi Ismail belum lama ini.”Terkait program pengadaan 10 unit pengolahan sampah (UPS), Walim mengaku baru dapat terealisasi akhir tahun ini karena akan dikaji terlebih dahulu.

Perlu diketahui,UPS itu akan ditempatkan di beberapa titik di Depok untuk menekan volume sampah yang masuk ke TPS Cipayung.Tetapi meski UPS itu beroperasi, perluasan TPS Cipayung tetap dilakukan.“Kalau penambahan lahan Cipayung tak bisa ditawar-tawar lagi.” Selain itu,dia juga akan membuat jalan masuk alternatif menuju TPA. Sebab, jalan masuk yang ada selama ini sangat sempit dan bersentuhan langsung dengan permukiman. Dana yang dibutuhkan untuk membebaskan lahan untuk jalan alternatif itu sekitar Rp15 miliar.

“Saat ini kami sedang menyiapkan desainnya,”ujarnya. Anggota Komisi C DPRD Depok Muttaqin mengatakan,perluasan TPA dan pembangunan jalan masuk alternatif harus dilakukan guna memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap tempat pembuangan sampah. Apalagi, DKLH sendiri hingga kini belum mampu sepenuhnya mengangkut sampah di Kota Depok. “Kalau rencana ini terealisasi, diharapkan problem persampahan bisa teratasi. Setidaknya, itu dilakukan sambil menunggu diterapkannya sistem UPS,” ungkapnya. (adam prawira)

Maret 2007

Lagi, TPA Cipayung dipersoalkan, Truk sampah jam 5 sore masih operasi

Monitor Depok, 1 Maret 2007

CIPAYUNG, MONDE: Warga di dua RW, yakni RW 04 dan RW 07 Kelurahan Cipayung Pancoran Mas kembali mengeluhkan keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di wilayah mereka.

Menurut tokoh masyarakat setempat HM Anan, warga sudah lama mengeluhkan keberadaan TPA tersebut. Namun hingga kini tidak ada respons dari Pemkot Depok. “Masyarakat Cipayung sebenarnya cukup sadar dan memahami keberadaan TPA tersebut, tapi kepedulian Pemkot ternyata tidak ada,” ujarnya.

Selama ini, menurut Anan, Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Depok memberikan santunan yatim dan pendidikan kepada masyarakat sekitar tiap bulannya sebagai kompensasi atas keberadaan TPA Cipayung. Namun dalam beberapa bulan terakhir santunan tersebut tidak pernah diberikan lagi.

“Kami meminta DKLH agar jam empat sore setiap harinya kegiatan mobil kuning (truk sampah) dihentikan. Selama ini mobil-mobil tersebut masih beroperasi sampai jam lima atau jam setengah enam sore. Ini sangat mengganggu ketenangan warga,” ujarnya.

Aroma tak sedap

Selain itu, menurut Anan, truk-truk sampah itu juga tidak pernah dibersihkan sehingga menimbulkan bau tak sedap. Tempat pencucian mobil yang sudah dibangun juga tidak pernah dimanfaatkan.

Dari pantauan Monde, kemarin, truk-truk sampah milik DKLH berlalu-lalang dengan rutin. Dan itu menimbulkan aroma tak sedap yang mengganggu indera penciuman.

Anan juga menyoroti soal pengadaan fasilitas penerangan di sekitar TPA, tapi hingga sekarang belum berfungsi. “Itu hanya memboroskan uang. Padahal uang untuk pembangunan lampu bisa diberikan kepada warga sekitar, dan itu akan lebih bermanfaat,” ujarnya menambahkan.

Senada dengan itu, Ketua RW 07 Endang Sasmita meminta agar pembangunan jalan alternatif dari ruas Jl Raya Cipayung menuju TPA dipercepat. “Ini akan mengurangi keluhan warga terhadap keberadaan truk-truk sampah tersebut,” ujarnya.

Prioritas

Endang juga mengharapkan agar jalan lingkungan yang ada di RW 04 dan 07 sebagai lokasi yang sering dilalui truk sampah supaya diselesaikan, sebagai kompensasi pembangunan TPA.

“Pemerintah seharusnya memprioritaskan pembangunan di Cipayung, khususnya jalan lingkungan ini, karena kami bersedia menampung sampah warga Depok,” katanya menambahkan.

Di saat yang sama Lurah Cipayung Zainal Abidin Mubarok meminta agar Pemkot mau memperbaiki kantor Kelurahan Cipayung yang dinilai memprihatinkan. “Dulu pernah dilakukan pengukuran untuk perbaikan tersebut, tapi hingga sekarang tidak pernah ada realisasinya,” ujar Zainal.

Ketika Monde mencoba mengkonfirmasi masalah ini kepada Kepala DKLH Depok Walim Herwandi, dirinya tidak berada di ruang kerja karena mengikuti rapat di Balaikota Depok.(m-5)

DKLH janji tutup TPA liar Limo

Monitor Depok, 19 Maret 2007

BALAIKOTA, MONDE: Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Depok menegaskan akan menutup Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ilegal yang berlokasi di Jl Benda RT 07/02 Kelurahan Limo.Dalam kaitan itu, DKLH telah berkoordinasi dengan Kecamatan Limo. “keberadaan TPA di daerah [Limo] tersebut adalah liar. Kami akan menindak tegas,” ujar Kepala DKLH Depok Walim Herwandi kepada pers kemarin.

Menurut catatan DKLH, sedikitnya ada enam TPA di wilayah Depok. Lokasinya di Kec Beji, Cimanggis dan Limo. Dari enam TPA itu, tiga diantaranya telah ditutup. Walim menjelaskan, upaya penertiban TPA liar terus dilakukan.Secara terpisah, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Depok Sariyo Sabani juga menegaskan, jajarannya akan menindak tegas TPA liar. “Untuk memastikan hal itu, kami akan melakukan pengecekan.

Setelah itu bertindak.”Sariyo menjelaskan, bangunan, lahan atau TPA yang tidak berizin akan ditertibkan lantaran melanggar aturan. Jika ini dibiarkan maka keberadaan TPA tersebut akan semakin menjamur dan meresahkan masyarakat.

Untuk menindaklanjuti TPA liar di Limo, Satpol PP terus berkoordinasi dengan kecamatan setempat. “Jangan sampai daerah kita ini dijadikan tempat pembuangan sampah oleh daerah lain yang tidak bertanggung jawab,” tegas Sariyo.Untuk menindak tegas pelaku di TPA, Pemkot membutuhkan peran aktif masyarakat. Setiap warga harus peduli lingkungan sehingga segala bentuk kegiatan yang merusak lingkungan dapat segera dicegah.

Masyarakat berperan besar untuk mencapai lingkungan Depok menjadi bersih dan nyaman. “Harus disadari dengan lingkungan kotor, segala bentuk penyakit dapat timbul.”(m-8)

Mei 2007

Depok Kabulkan Kompensasi Pencemaran Sampah

Sumber:http://www.tempo.co.id/ 27 Mei 2007

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah Kota Depok mengabulkan permintaan kompensasi ratusan warga di lima rukun tetangga yang ada di Rukun Warga (RW) 04 dan RT 4/2 di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Depok, yang terkena pencemaran udara dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Cipayung, Pancoran Mas, Depok.

Kompensasi terdiri dari pengobatan gratis, dibangunnya Puskesmas di Kelurahan Pasir Putih, penanaman pohon bambu untuk menghilangkan bau, pengasapan, pemberian susu gratis sebulan sekali, dan pembangunan jalan disekitar wilayah yang dirugikan.

“Sudah dibicarakan masing-masing Dinas terkait. Tinggal koordinasi secara internal dinas kembali dan penerapannya,” kata Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Depok, Walim Herwandi saat dihubungi Tempo melalui telepon selulernya, Jumat lalu. Kompensasi terhadap warga ini dibicarakan pada Kamis (24/5). Endang Purwanti

Oktober 2007

DKLH turunkan 425 petugas kebersihan

Monitor Depok, 11 Oktober 2007

DEPOK, MONDE: Menghadapi Hari Raya Idul Fitri, Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Depok akan menurunkan 425 petugas kebersihan untuk penanganan kebersihan di seluruh wilayah Kota Depok.Hal tersebut diungkapkan Kepala DKLH, Walim Herwandi, kemarin.“Kita akan turunkan kekuatan penuh jelang Lebaran kali ini. Sebanyak 425 petugas siap membantu menangani masalah sampah di titik-titik pusat keramaian yang ada di Kota Depok,” ucap Walim.

Ia juga menambahkan, DKLH juga tetap akan menurunkan satgas yang berjumlah 17 orang, dengan ditambah 3 mobil, 2 truk dan 1 mobil pick up. “Tugas mereka tetap berjalan selama selama Lebaran ini, jadi sesuai dengan instruksi Walikota,” jelasnya.Lebih lanjut Walim menuturkan penanganan masalah kebersihan akan dioptimalkan saat malam takbiran dan setelah Sholat Ied, dengan titik sentralnya disekitar jalan protokol, mesjid dan pusat keramaian yang dananya berasal dari Dana Operasi Bersih.

“Biasanya saat malam takbiran sampah-sampah banyak berserakan, apalagi ditambah dengan adanya pasar tumpah, jadi kita siap untuk penanganan hal tersebut, karena memang sudah menjadi kewajiban kita.”DKLH tidak hanya menurunkan petugas kebersihan, tetapi juga akan menempatkan petugasnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang dikelola pemkot.(m-4)

Sampah mulai numpuk di Depok, Bisa timbulkan bau tak sedap & penyakit

Monitor Depok, 19 Oktober 2007

DEPOK RAYA, MONDE: Sampah selama musim Lebaran belum diangkut dan menumpuk di sejumlah permukiman di Depok. Warga pun memprotesnya.

Hingga kemarin, tumpukan sampah di beberapa permukiman menumpuk dan menimbulkan bau yang menyengat nan tidak sedap. Sejumlah warga mengkhawatirkan timbulnya penyakit dan gangguan kesehatan. Tiga hari menjelang Lebaran, menurut pantauan Monde, sampah tak diangkut secara normal. “Dalam sehari saja jika tidak diangkut sampah sudah menumpuk, apalagi ini sudah beberapa hari,” jelas Putri, warga Beji kepada Monde kemarin. Warga hakekatnya mau melaporkan kejadian ini, tapi mereka tak tahu mesti kemana. Mereka ingin memprotes tak terangkutnya sampah. Selain itu, instansi di Pemkot juga tak mengumumkan, bahwa tak ada pengangkutan sampah selama Lebaran. “Warga berharap keadaan seperti tidak berkepanjangan dan segera diatasi agar tidak menimbulkan penyakit kemudian hari,” kata Putri. Selama ini warga mengandalkan petugas yang secara rutin mengangkut sampah di permukiman warga. Ketika petugas berhenti mengangkut maka sontak saja terjadi penumpukan sampah di setiap rumah. Dengan adanya penumpukan sampah ini cukup mengganggu lingkungan karena baunya yang tidak enak. “Kami hanya berharap agar sampah yang berada di lingkungan kami segera diangkut,” tambah Putri. Apakah petugas sampah tak boleh libur Lebaran? Ia pun menyebutkan boleh saja dan itu hak pekerja, tapi Pemkot Depok seyogianya mengatur jadwal libur.

Hal senada juga disampaikan oleh Andi, warga lainnya. Ia mengaku terpaksa harus menampung sampah pada tempat yang lebih rapi.

“Jika kami sembarangan membuang sampah maka akan diobrak-abrik sama tikus sehingga mengotori lingkungan,” tegasnya.

Andi juga menambahkan setiap bulannya, dirinya telah membayar retribusi, seharusnya dengan retribusi ini pelayanan juga tetap diberikan walau pada saat Lebaran. Karena Lebaran telah lewat diharapkan Pemkot terutama dinas terkait segera melakukan tindakan.

Dari pantauan Monde di sejumlah tempat permukiman terdapat tumpukan-tumpukan sampah di depan rumah-rumah warga sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Bahkan hingga H+4 sampah-sampah tersebut belum juga diangkut.

Sedangkan para petugas yang dikerahkan oleh Dinas Kebersihan hanya mengangkut sampah yang berada di lokasi-lokasi strategis seperti di jalan-jalan utama serta TPS tanpa memasuki pemukiman warga.

Dikelola RT/RW

Terpisah, Walim Herwandi Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Depok, kemarin, menegaskan telah mengerahkan seluruh petugasnya untuk tetap bertugas ketika Lebaran. “Kalau sampah yang berada di pemukiman itu biasanya dikelola oleh RW/RT masing-masing dan ditempatkan di TPS baru kemudian petugas kami yang mengangkut,” jelasnya ketika dihubungi Monde kemarin.

Ia menambahkan petugas DKLH tidak mungkin mampu memasuki permukiman warga yang biasanya terdiri dari gang-gang. Maka dari itu untuk mengangkut sampah dari pemukiman RT/RW mempekerjakan petugas sendiri.

“Kemungkinan petugas angkut sampah tersebut masih libur sehingga sampah warga tidak terangkut,” terang Walim lagi.

Guna mengantisipasi dampak penumpukan sampah lebih banyak, Walim mengimbau kepada seluruh RT/RW agar segera memperkerjakan para petugas pengangkut sampah. “Ini semua untuk kebaikan dan kesehatan seluruh warga.”

Sebelumnya menghadapi Hari Raya Idul Fitri, Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Depok akan menurunkan 425 petugas kebersihan untuk penanganan kebersihan di seluruh wilayah Kota Depok.

Sebanyak 425 petugas siap membantu menangani masalah sampah di titik-titik pusat keramaian yang ada di Kota Depok. DKLH juga tetap akan menurunkan satgas yang berjumlah 17 orang, dengan ditambah 3 mobil, 2 truk dan 1 mobil pick up.(mas)

November 2007

Sebagian Sampah di Depok tak Terangkut

Pemkot harus mengefektifkan fungsi UPS di tiap wilayah.

Sumber: http://www.infoanda.com/ 01 Nopember 2007

DEPOK — Keterbatasan sarana pengolahan sampah yang tidak sebanding dengan volume sampah harian yang dihasilkan warga Kota Depok, membuat 50 persen lebih sampah menjadi tidak dapat terangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Kondisi ini mengharuskan pemkot mengefektifkan fungsi Unit Pengolahan Sampah (UPS) di tiap wilayah.

Saat ini, volume sampah dari enam kecamatan di Depok sudah mencapai 3.500 kubik per hari. “Dan dari jumlah tersebut, hanya sekitar 1.300 – 1.500 kubik yang dapat terangkut ke TPA Cipayung,” papar Kabag Tata Usaha Dinas Kebersihan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Depok, Lutfi Fauzi, kemarin (31/10).

Menurutnya, kondisi ini terjadi antara lain karena keterbatasan sarana maupun prasarana di TPA Cipayung. Dikatakan, TPA yang memiliki luas keseluruhan mencapai 10,1 hektare tersebut, belum sempurna sistempengolahannya.

Dijelaskan, di Cipayung sekarang ini telah menerapkan system sanitary landfield. Setiap harinya, sampah yang datang lantas ditimbun dengan tanah merah setinggi 10-12 sentimeter. Kemudian, air limbahnya dibuang ke bak penampungan. Sistem ini dikatakan Lutfi, memang sudah berjalan hanya saja belum sempurna.

Karenanya, apabila menilik masalah tersebut, dia memprediksi TPA Cipayung hanya sanggup menampung sampah hingga tiga hingga lima tahun lagi. Oleh sebab itu, beberapa upaya sedang dipersiapkan, seperti memperluas lahan TPA. “Nantinya setiap tahun anggaran, itu akan diupayakan penambahan lahan antara satu sampai dua hektare, sedangkan untuk tahun ini, dibuat beberapa jalan masuk alternatif menuju TPA Cipayung,” ungkapnya.

Lutfi mengatakan, DKLH Depok memiliki 52 unit truk, 25 unit kontainer, enam unit alat berat, 122 unit gerobak sampah-di luar operasional wilayah. Adapun TPS yang harus dilayani sebanyak 120 unit. Dengan jumlah penduduk Depok mencapai 1,4 juta jiwa, tak hanya memperbesar volume sampah, pun jenis sampah yang dihasilkan pun beragam, mulai dari sampah organik hingga nonorganik. Sebagian besar atau 75 persen merupakan sampah rumah tangga.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemkot mencoba untuk mengefektifkan UPS-UPS di wilayah. Nantinya, sampah yang tidak terangkut, diolah di tiap UPS. Sampah organik misalnya, diolah menjadi kompos, sementara limbah sisanya diangkut ke TPA.

Tiap UPS membutuhkan lahan seluas 500 meter persegi dengan melibatkan sekitar 14 pekerja. Depok saat ini sudah memiliki satu UPS di Perumahan Griya Tugu Asri, dua lagi masih dalam proses pembangunan di Kelurahan Sukatani, Cimanggis dan di sekitar kampus Gunadarma, Kelapa Dua, Tugu, Cimanggis.

Dalam waktu dekat, pemkot akan melakukan tender bagi pembangunan 10 UPS lagi yang dananya dari APBD. Untuk masing-masing UPS, diperkirakan membutuhkan dana mencapai Rp 1,3 miliar. yus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s