Berita 2010-3 (Jul-Sep)

Juli 2010

Dana Pembangunan UPS Diselewengkan Pejabat Depok

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ 28 Juli 2010
Penulis : Kisar Rajaguguk

DEPOK–MI: Miliaran rupiah dana unit pengolahan sampah (UPS) Dinas Koperasi UMKM dan Pasar Kota Depok diduga dikorupsi. Anggaran UPS dikorupsi melalui mark up dan pembentukan kelompok kerja fiktif.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Kota Depok Sofyan Selle mengakui, miliaran dana pembangunan UPS yang dikelola Dinas Koperasi UMKM dan Pasar Kota Depok diduga mengalir ke kantong pejabat Kota Depok. Modus operandinya dengan mark up dan pembentukan kelompok kerja fiktif.

Sejumlah pejabat Pemerintah Kota Depok terkait kasus korupsi UPS kini diperiksa Kejaksaan Negeri. Salah satunya, Asep Sumiardja, Kepala Bidang Kebersihan dan Ketertiban Dinas Koperasi UMKM Kota Depok. Dugaan mark up anggaran UPS terjadi pada 2008. “Dalam kasus ini, Asep diperiksa sebagai saksi,” kata Sofyan.

Namun, Sofyan menambahkan, tidak ada yang tidak mungkin. Saksi bisa jadi tersangka. “Semua bisa berubah, tergantung hasil pemeriksaan,” katanya. Kasus ini ditangani kejaksaan karena dugaan mark up anggaran pembangunan hanggar dan mesin UPS mencapai miliaran rupiah di dua pasar tradisional, yakni Pasar Kemiri Muka, Kecamatan Beji, dan Pasar Cisalak, Cimanggis.

Selain itu, Kejaksaan Negeri melakukan pengumpulan bahan keterangan mark up dana operasional UPS di Pasar Kemiri Muka dan Pasar Cisalak hingga merugikan keuangan daerah mencapai miliaran rupiah periode 2008-2010. “Ini kasus besar. Nilai proyeknya mencapai miliaran,” ujar Sofyan kepada Media Indonesia, Rabu (28/7).

Kasus UPS menjadi perhatian masyarakat. Karenanya, penyidik kejaksaan akan bekerja maksimal, objektif, dan transparan dalam proses penyelidikan dan penyidikannya. Kasus dugaan korupsi pembangunan UPS menyeret banyak pejabat pemerintah daerah. Selain melibatkan pejabat, beberapa non-PNS pemerintah daerah juga terlibat, antara lain koordinator UPS yang mengorganisasi puluhan tenaga kerja di UPS Pasar Kemiri Muka dan UPS Pasar Cisalak.

Berdasarkan data, jumlah buruh yang dikaryakan untuk mengelola sampah UPS di Pasar Kemiri Muka lebih kurang 26 orang dengan upah Rp750 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan. Buruh yang dikaryakan untuk UPS Pasar Cisalak kurang lebih 18 orang dengan upah sama sejak 2008 sampai saat ini.

Untuk diketahui, penyidik Kejaksaan Negeri, hingga saat ini masih terus menyelidiki nilai kerugian daerah dari pembangunan proyek UPS Pasar Kemiri Muka dan Pasar Cisalak. (KG/OL-5)

Diduga Dana Pembangunan UPS Dikorupsi Pejabat Depok

Media Indonesia, 29 Juli 2010
Sumber: http://infokorupsi.com/id/

Depok – Miliaran rupiah dana unit pengolahan sampah (UPS) Dinas Koperasi UMKM dan Pasar Kota Depok diduga dikorupsi. Anggaran UPS dikorupsi melalui mark up dan pembentukan kelompok kerja fiktif. Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Kota Depok Sofyan Selle mengakui, miliaran dana pembangunan UPS yang dikelola Dinas Koperasi UMKM dan Pasar Kota Depok diduga mengalir ke kantong pejabat Kota Depok. Modus operandinya dengan mark up dan pembentukan kelompok kerja fiktif.

Sejumlah pejabat Pemerintah Kota Depok terkait kasus korupsi UPS kini diperiksa Kejaksaan Negeri. Salah satunya, Asep Sumiardja, Kepala Bidang Kebersihan dan Ketertiban Dinas Koperasi UMKM Kota Depok. Dugaan mark up anggaran UPS terjadi pada 2008. “Dalam kasus ini, Asep diperiksa sebagai saksi,” kata Sofyan.

Namun, Sofyan menambahkan, tidak ada yang tidak mungkin. Saksi bisa jadi tersangka. “Semua bisa berubah, tergantung hasil pemeriksaan,” katanya. Kasus ini ditangani kejaksaan karena dugaan mark up anggaran pembangunan hanggar dan mesin UPS mencapai miliaran rupiah di dua pasar tradisional, yakni Pasar Kemiri Muka, Kecamatan Beji, dan Pasar Cisalak, Cimanggis.

Selain itu, Kejaksaan Negeri melakukan pengumpulan bahan keterangan mark up dana operasional UPS di Pasar Kemiri Muka dan Pasar Cisalak hingga merugikan keuangan daerah mencapai miliaran rupiah periode 2008-2010. “Ini kasus besar. Nilai proyeknya mencapai miliaran,” ujar Sofyan kepada wartawan, Rabu (28/7).

Kasus UPS menjadi perhatian masyarakat. Karenanya, penyidik kejaksaan akan bekerja maksimal, objektif, dan transparan dalam proses penyelidikan dan penyidikannya. Kasus dugaan korupsi pembangunan UPS menyeret banyak pejabat pemerintah daerah. Selain melibatkan pejabat, beberapa non-PNS pemerintah daerah juga terlibat, antara lain koordinator UPS yang mengorganisasi puluhan tenaga kerja di UPS Pasar Kemiri Muka dan UPS Pasar Cisalak

Berdasarkan data, jumlah buruh yang dikaryakan untuk mengelola sampah UPS di Pasar Kemiri Muka lebih kurang 26 orang dengan upah Rp 750 ribu hingga Rp 1,5 juta per bulan. Buruh yang dikaryakan untuk UPS Pasar Cisalak kurang lebih 18 orang dengan upah sama sejak 2008 sampai saat ini.

Untuk diketahui, penyidik Kejaksaan Negeri, hingga saat ini masih terus menyelidiki nilai kerugian daerah dari pembangunan proyek UPS Pasar Kemiri Muka dan Pasar Cisalak. (KG/OL-5)

Agustus 2010

Mark Up Hanggar Pengolahan Sampah Capai Miliaran Rupiah

Sumber: http://www.rakyatmerdeka.co.id/02 Agustus 2010
Laporan: Ferry Sinaga

Jakarta, RMOL. Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok mensinyalir dugaan mark up dana pembangunan hanggar Unit Pengelolaan Sampah (UPS) di dua lokasi pasar tradisional, yakni di Pasar Kemirimuka, Beji dan Pasar Cisalak, Cimanggis, Depok mencapai miliaran rupiah.

Namun demikian, Kejari hingga kini belum dapat mengungkapkan total nilai kerugian keuangan daerah yang ditimbulkan dari pembangunan dan pengelolaan ke dua UPS tersebut selama 2 tahun, yakni dari tahun 2008 hingga 2010 ini.

Hal ini diungkapkan Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Depok, Sofyan Selle, pada Senin (2/8).

Dari informasi yang dihimpun Rakyat Merdeka Online, buruh yang dipekerjakan untuk mengelola sampah UPS di Pasar Kemirimuka, Beji sekitar 26 orang dengan upah bervariasi, yakni berkisar Rp 750 ribu sampai Rp 1,5 juta per bulan.

Sementara, buruh yang di pekerjakan di UPS Pasar Cisalak, Cimanggis sekitar 18 orang dengan kisaran upah yang sama sejak 2008 hingga saat ini.

Diberitakan sebelumnya, modus operandi yang dilakukan dalam kasus ini adalah dengan melakukan mark up dana pembangunan dua hanggar UPS dan pembentukan kelompok kerja (kerja) fiktif.
[oct]

Usut Tuntas Mark-up Hanggar Pengelolaan Sampah, Jangan Tebang Pilih

Sumber: http://www.rakyatmerdeka.co.id/ 03 Agustus 2010
Laporan: Ferry Sinaga

Jakarta, RMOL. Dugaan mark up pembangunan hanggar dan penggunaan dana operasional untuk pengelolaan Unit Pengelolaan Sampah (UPS) di dua pasar tradisional, yakni Pasar Kemirimuka Beji dan Pasar Cisalak Cimanggis saat ini sedang diselidiki Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok. Masyarakat Depok mendesak agar dalam penanganannya bisa dilakukan dengan transparan dan tidak tebang pilih.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, Kejaksaan Negeri Depok mensinyalir adanya dugaan mark up dana pembangunan hanggar dan pengelolaan dana operasional Unit Pengelolaan Sampah (UPS) di dua lokasi pasar tradisional yang nilai kerugiannya ditaksir mencapai miliaran rupiah selama dua tahun terakhir (2008-2010).

Informasi yang berhasil dihimpun Rakyat Merdeka Online, menyebutkan bahwa untuk pembangunan hanggar dan pengelolaan dana operasional UPS di dua pasar tradisional tersebut, ditangani oleh Dinas Koperasi, UKM dan Pasar Kota Depok.

Selain itu, banyak nama-nama pejabat yang di duga terlibat dengan dugaan korupsi sebagaimana dimaksud. Salah satunya adalah Kepala Bidang Kebersihan dan Ketertiban Dinas Koperasi, UKM dan Pasar, Asep Sumiardja yang saat ini masih berstatus sebagai saksi.

Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Depok, Sofyan Selle menegaskan bahwa ada kemungkinan bahwa status Asep Sumiardja yang saat ini masih sebagai saksi bisa juga berubah menjadi tersangka. “Tinggal tunggu hasil pemeriksaannya nanti”, ujar Sofyan.

Menanggapi hal ini, Koordinator LSM Gerakan Masyarakat Membangun Depok (GEMMAD), Kasno dan Presidium Gerakan Lokomotif Pembangunan (Gelombang) Depok, Cahyo Putranto mendesak agar dalam hal ini, Kejari bisa bekerja secara profesional dan tidak tebang pilih dalam penanganannya.

“Pengungkapan dugaan kasus korupsi UPS ini harus tuntas, transparan dan tidak tebang pilih. Siapapun pelakunya, jika terbukti telah melakukan tindak pidana korupsi, maka Kejaksaan harus tegas memberikan sanksi hukum yang setimpal”, harap Kasno dan Cahyo, sesaat lalu, Selasa (3/8). [arp]

Depok Jadi Kota Sampah

Media Indonesia – 12 Agustus 2010

Sumber: http://digilib-ampl.net/

SAMPAH menumpuk di ber bagai tempat di Kota Depok. Mulai dari badan jalan hingga pinggir sungai, sampah tampak menggunung. Bahkan di beberapa tempat berserakan karena tumpukan sampah itu tak cepat diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA).Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok sudah gontaganti, tapi masalah sampah tidak juga bisa diatasi. Masyarakat setempat sudah tidak nyaman dan mengkhawatirkan sampah yang menimbulkan bau busuk itu menjadi sumber penyakit.

Penumpukan sampah terjadi di RW 03, RW 05, dan sepanjang Sungai Cipinang, Kelurahan Sukmaju Baru, Kecamatan Cimanggis. Bahkan di depan Mal Ramayana, Jalan Raya Jakarta-Bogor, terlihat tumpukan sampah.

Di RW 03, RW 05, dan sepanjang Sungai Cipinang, tampak deretan tumpukan sampah sepanjang 20 meter masing-masing. Tumpukan sampah itu menimbulkan bau busuk.

Tumpukan sampah juga terlihat di sekitar Pasar Cisalak, tepatnya di areal bekas gedung SD Negeri Cisalak Pasar I, dan III serta SD Negeri Curug I. Sampah di sana menumpuk di lima ruang bekas kelas yang berada di atas tanah seluas 3.000 meter persegi. Sampah yang dikerumuni lalat dan ulat menimbulkan bau busuk. Dari ruang-ruang kelas itu, mengalir limbah cair menghitam.

Ramelan, 42, warga Kelurahan Sukamaju baru RT 003 RW 05, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, mengatakan penimbunan sampah telah terjadi sejak Januari 2010. “Kami sudah mengusulkan agar dibangun unit pengelolaan sampah, tapi sampai saat ini usulan warga tidak pernah direspons,” ujar Ramelan kepada Media Indonesia di Kota Depok, Jawa Barat, kemarin.

Persoalan sampah di Kota Depok bahkan telah mengganggu arus lalu lintas. Di unit pengolahan sampah (UPS) yang berada di Kelurahan Abadi Jaya, Sukma Jaya, Jalan Merdeka, Kota Depok, sampah yang berserakan hingga ke badan jalan terutama setiap Senin mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Bahkan banyaknya sampah yang berserakan di badan jalan mengakibatkan kendaraan tak bisa lewat.

Keluhan masalah sampah juga disampaikan anggota Komisi C DPRD Kota Depok Nurhasim (F-Partai Gol kar). Dia kecewa terhadap Pemerintah Kota Depok yang tak mampu mengelola sampah, padahal anggaran untuk pengelolaan sampah sudah dinaikkan setiap tahun. “Sampah-sampah kok tak diangkut. Padahal, DPRD Kota Depok tiap tahun menyetujui penaik an anggaran untuk pengelolaan sampah. Tadinya, anggaran pengelolaan sampah Rp49,91 miliar pada 2008, dinaikkan menjadi Rp51,30 miliar pada 2009. Kemudian pada 2010 dinaikkan lagi menjadi Rp52,78 miliar,” ujarnya dengan nada kesal di Kota Depok, kemarin.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok Ulis Sumardi mengakui masalah pengelolaan sampah di Kota Depok belum dapat diatasi. Masalah sampah, ujar Ulis, semata-mata karena sebagian besar pengangkut sampah libur pada Sabtu dan Minggu. Ulis hanya bisa berjanji akan segera membersihkan tumpukan-tumpukan sampah di beberapa tempat di Depok. “Kami akan segera mengangkutnya (sampah-sampah) ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Cipayung, Pancoran Mas, dengan menggunakan truk,” kata Ulis.

Mengenai sampah di Pasar Cisalak, Pasar Agung, Pasar Kemiri Muka, Pasar Tugu, dan Pasar Sukatani, Ulis berjanji akan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil, dan Menengah (UMKM) dan Pasar Kota Depok Herman Hidayat. “Kewenangannya (penuntasan masalah itu) berada di tangan Dinas Koperasi UMKM dan Pasar,” kilahnya.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi mencopot Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok Sri Utomo. Posisi itu kemudian dijabat sementara oleh Ulis. Walau pejabat yang menangani sampah diganti, kota yang berpenduduk sekitar 1.386.000 jiwa ini belum mampu mengatasi masalah sampah. Kisar Rajagukguk

Tiga Pejabat Depok Diperiksa Kejari

Sumber: http://metrotvnews.com/13 Agustus 2010

Metrotvnews.com, Depok: Tiga pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Depok diperiksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Depok dalam dugaan kasus korupsi dana operasional Unit Pengelolaan Sampah (UPS) yang merugikan keuangan daerah Rp 1,262 miliar.

Tiga pejabat itu adalah Kepala Bidang Kebersihan dan Ketertiban Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Pasar kota Depok Asep Sumihardja, Kepala Bidang Kebakaran Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok Dani Kondani yang sebelumnya menjabat Kepala Bidang Sarana Prasarana Dinas Koperasi UMKM dan Pasar kota Depok, dan Kepala Seksi Pengelolaan Pasar yang sekaligus Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Koperasi UMKM dan Pasar kota Depok Jayadi.

Selain itu, Kejaksaan Negeri Kota Depok juga memeriksa lima pegawai UPS yang sehari-hari beroperasi di Pasar Kemiri Muka, Kecamatan Beji. Tiga pejabat Pemkot Depok diperiksa di ruang seksi tindak pidana khusus dipimpin Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri kota Depok Sofyan Selle. Pemeriksaan dilakukan mulai pukul 10.00 sampai pukul 17.00 WIB.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Kota Depok Sofyan Selle, Kamis (12/8), mengatakan status Asep Sumihardja, Dani Kondani, Jayadi, dan lima pegawai UPS belum tersangka. “Status mereka masih sebagai saksi,” katanya kepada Media Indonesia.

Sofyan mengakui miliaran dana pembangunan UPS yang dikelola Dinas Koperasi UMKM dan Pasar Kota Depok diduga mengalir ke kantong pejabat Kota Depok. Modus operandinya melalui mark up dan pembentukan kelompok kerja fiktif.(MI/ICH)

Selama Puasa, Volume Sampah di Depok Naik 10 Persen

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 15/08/2010

DEPOK, (PRLM).- Volume sampah di Kota Depok selama bulan Puasa ternyata mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Setidaknya tercatat peningkatan volume sampah meningkat hingga mencapai 10 persen dibandingkan hari biasa.

Menurut Kepala Bidang Kebersihan, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Rachmat Hidayat. Volume sampah selama bulan puasa meningkat menjadi 5.060 kubik sampah per hari. Terjadi peningkatan sebanyak 460 kubik sampah dalam setiap harinya. Padahal volume sampah pada hari biasa sebanyak 4.600 kubik per hari. Peningkatan itu banyak dihasilkan dari sampah rumah tangga.”Selama puasa tingkat konsumsi masyarakat meningkat. Makanya sampahnya pun ikut meningkat,”ujar Rahmat saat meninjau Unit Pengelolaan Sampah, Minggu (15/8).

Rachmat menuturkan, lonjakan sampah lebih mudah terlihat di lokasi pasar tradisional. Sedangkan sampah rumah tangga tidak terlalu kelihatan lonjakannya. Dapat dipastikan, kata dia, sampah yang berasal dari pasar merupakan sampah organik. Berupa potongan sayur, buah, makanan dan daging serta sejenisnya. “Sampai saat ini memang belum merepotkan. Yang lebih rumit nanti saat lebaran,” tambahnya.

Dia mengaku, lonjakan volume sampah itu bakal meningkat jadi 70 hingga 100 persen pada hari Lebaran. Namun itu terjadi hanya pada H-1 sampai H+2. Setelah itu sampah relative menurun. “Kalau Lebaran kita full team. Semua personel dikerahkan. Bekerja sejak H-1, jadi begitu Lebaran sudah bersih,” paparnya.

Namun, kata Rahmat, peningkatan volume sampah tersebut dinilai masih wajar dan tidak perlu dikhawatirkan. Hal itu dibuktikan dengan masih normalnya semua lokasi penampungan sampah dan mengelolanya dengan baik. Selain itu, Rahmat menegaskan pihaknya tidak akan menambah jumlah personel selama bulan Puasa. Sebanyak 350 personel yang mengatur sampah di Depok dinilai masih cukup untuk mengatasi sampah di Depok. ”Jumlah itu termasuk pesapon, sopir truk sampah dan kenek sampai petugas sampah di lokasi UPS dan TPA Cipayung,” tuturnya.

Ketua komisi C, DPRD Kota Depok, Edi Sitorus meminta penanganan sampah dapat dikelola baik. Hindari tumpukan sampah di pemukiman dan keramaian. Karena dapat menjadi pemicu penyebaran penyakit. Intansi terkait, kata Edi harus mengantisipasi segala kemungkinan. Termasuk peluang turunnya hujan yang dapat menambah beban sampah semakin berat. (A-163/das)***

Ramadhan Datang, Volume Sampah Melonjak

Repbulika, 16 Agustus  2010
Sumber:  http://bataviase.co.id/

DEPOK – Ramadhan tidak hanya membuat seluruh harga kebutuhan bahan pokok meroket, tapi membuat produksi sampah domestik sedemikian tinggi. Data Dinas Kebersihan Depok menunjukan selama bulan puasa, produksi sampah di Kota Depok naik 10 persen dibanding bulan biasanya. Produksi sampah Kota Depok saat ini mencapai 5.060 kubik per hari.

Rahmat Hidayat, kepala Bidang Kebersihan, Dinas Kebersihan dan Pertamananan (DKP) Depok, produksi sampah Kota Depok rata-rata naik 460 meter kubik per hari. “Pada hari biasa, kami hanya mengangkut 4.600 kubik per hari,” katanya saat memantau Unit Pengelolaan Sampah (UPS) di Jalan Margonda, Ahad (15/8). Peningkatan, katanya, terjadi di beberapa titik. Diantaranya, di pasar tradisional; Pasar Cisalak , Pasar Musi, dan Pasar Kemiri Muka. Biasanya, yang terbanyak adalah sampah organik pedagang sayur mayur, buah-buahan, serta sisa-sisa daging atau lemak tak terjual.

Untuk perkantoran dan perumahan, sampah yang dihasilkan masih dalam taraf wajar. Sehingga, menurut Rahmad, pihaknya belum berencana menambah personel kebersihan yang ada. Hingga kini, personel kebersihan di Depok mencapai 350. Mereka terdiri dari penyapu jalan, supir truk sampah, kenek, hingga personil kebersihan di UPS dan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPS).

“Penambahan personel baru akan dilakukanmenjelang H-l dan H+2, karena pada saat itu kenaikan produksi sampah bisa mencapai 70 hinggalOO persen per hari,” jelasnya. Untuk menangani sampah, Pemkot Depok membangun 18 UPS dan TPS Cipayung. Di tahun 2010 ini, pemerintah berencana membangun 15 UPS lagi. Selain itu, dibentuk pula kerjasama dengan Kabupaten Bogor untuk mendirikan TPS bersama di wilayah Nambo.

Ketua Komisi C DPRD Depok, Edi Sitorus, meminta sampah dapat dikelola dengan sebaik mungkin. Instansi terkait harus mampu mengantisipasi segala kemungkinan akibat naiknya volume sampah. Sementara itu. untuk mengurangi sampah di Kali Ciliwung dan Kali Cipinang, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Depok segera melakukan pembersihan di badan dan bantaran kali. Menurut Kepala BLH Depok, Rahmat Subagyo, pencemaran kali akibat pembuangan sampah sudah sangat memprihatinkan.

“Ini terjadi karena banyak masyarakat belum memiliki kesadaran dan masih membuang sampah sembarangan,” ujarnya.

Rencananya kegiatan pembersihan sungai akan dilakukan di lima kecamatan di Depok, yakni Sukmajaya, Pancoran Mas, Cimanggis, Beji, dan Sawangan. Di Sukmajaya misalnya, program ini akan dilakukan di beberapa titik seperti Perumahan Depok Timur, Perumahan Depok Tengah, Jalan Raya Bogor. Jalan Juanda, Jalan Tole Iskandar, Jalan Bahagis, dan pertokoan di sekitar Jalan Proklamasi.! C2i. ed teguh setiawan

BLH Depok:  Adipura Masih Bisa Diraih.

Sumber: http://www.radar.co.id/ 27 Agustus 2010 Asep [Depok]

Depok, Radar Online
Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok Jawa Barat, Kamis (26/8/2010) melakukan sosialisasi tentang perlunya melestarikan lingkungan hidup, wilayah Depok dengan cara menjaga kebersihan lingungan kita masing-masing. Mulai dari pekarangan sekitar rumah, drenase seta tempat tempat yang perlu di lestarikan. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Beji Depok.

Kepala Kantor Badan Lingkungan Hidup Drs.H Rahmat Subagyo MM, di dampingi Kabid Lingkungan Hidup Dra Kania dalam kesempatan itu mengatakan bahwa, Pemerintah kota Depok tidak akan bisa meraih adipura, tanpa didukung semua lapisan masyarakat Depok.

Masyarakat Depok wajib dan harus ikut serta dalam program kebersihan dan kindahan lingkungan hidup, agar kota Depok bisa meraih kembali Adipura. Peranan atau partisipasi masyarakat sangat kita harapkan untuk meraih Adipura pada bulan Oktober mendatang.

“Kegagalan Depok meraih Adipura yang baru lalu, hanyalah kesuksesan yang tertunda saja. Karena kedepan masih banyak kesempatan untuk merebut kembali Adipura sebagai kota terbersih di Indonesia. Asalkan masyarakat kita mau bekerja keras, untuk membersikan pekarangan rumah, drenase atau saluran air bersih. Insyah Allah Adipura akan jatuh di kota Depok,” ujar Rahmat

Sementara itu Sekretaris Camat Beji Drs. Albert mengatakan kecamatan Beji menjadi pusat perhatian tim penilai Adipura. Karena Beji merupakan pusat perbelanjaan baik pasar tradisional maupun pasar modern di kota Depok.

Karena itu wilayah Beji tidak lepas dengan kotoran sampah, apalagi pasilitas untuk mengangkat sampah terbatas tentu ini akan menjadi kendala tersendiri untuk meraih adipura. Kendati demikian, kata Albert, kalau masyarakat sadar dan peduli kebersihan, pastilah yakin Depok masih berpeluang meraih Adipura,” ujar Albert. ( A.Aziz/Asp)

September 2010

Sampah di Kota Depok Menumpuk

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/13 September 2010

DEPOK,(PRLM).- Sebanyak 230 Petugas Dinas Kebersihan kota Depok terpaksa harus lembur untuk menangani terjadinya lonjakan penumpukan sampah saat hari raya lebaran Mereka terdiri dari supir dan kernet truk sampah serta 80 petugas pengangkut sampah.

Menurut Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Depok Rahmat Hidayat. Penumpukan sampah biasanya terjadi di sejumlah titik seperti pasar tumpah yang muncul pada malam takbiran. Selain itu, kata Rahmat penambahan sampah saat lebaran kebanyakan didominasi oleh sampah rumah tangga.

Untuk itu, tegas Rahmat pihaknya tetap bekerja saat hari raya Idhul Fitri untuk mengantisipasi terjadinya tumpukan sampah,”Kami siap lembur saat hari raya untuk mengangkut tumpukan sampah. 30 truk telah disiapkan untuk mengangkut ke TPA Cipayung,”ujar Rahmat, Senin (13/9).

Rahmat menjelaskan, volume sampah saat malam takbiran bisa mencapai 500 meter kubik. Namun, kata Rahmat volume sampah saat lebaran justru menurun lantaran banyak warga yang pulang ke kampung halaman. “Walaupun tidak banyak tumpukan sampah, petugas tetap mengangkutnya,”tuturnya.

Jumlah volume sampah di Depok setiap hari rata – rata mencapai 4200 meter kubik. Sampah akan diolah di 20 Unit Pengolahan Sampah (UPS) dan sisanya di angkut ke TPA Cipayung Depok. (A-163/A-26).

Sampah Mulai Menjadi Masalah di Depok

Sumber: http://www.wartakota.co.id/ 13 September 2010

Depok, Warta Kota

Memasuki hari kelima Lebaran, sampah mulai menjadi masalah. Sampah-sampah berserakan di beberapa kawasan Kota Depok, seperti di dekat Pasar Agung dan Pasar Musi.

Bahkan di Pasar Agung yang terletak di Jalan Proklamasi, Depok Timur, terdapat genangan air setinggi 30 sentimeter, sehingga aroma bau got merebak mengganggu warga.

“Pemkot Depok harus cepat mengantisipasi genangan air di kawasan ini. Airnya hitam legam dan menimbulkan bau tak sedap,” kata Tiara, warga Cipayung, Depok Timur, Senin (13/9).

Menurut dia, bau tak sedap itu juga disebabkan oleh menumpuknya sampah yang belum diangkut petugas Dinas Kebersihan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Depok. “Seharusnya petugas kebersihannya ada yang piket sehingga tidak perlu sampah menumpuk seperti sekarang ini,” ujarnya.

Penumpukan sampah juga terlihat di daerah dekat Pasar Musi. Di sana sampah berserakan ke jalan dan mengganggu keindahan Kota Depok.

“Ini seringkali terjadi setiap Lebaran. Petugas pengangkut sampah tidak ada yang mengangkutnya, sehingga sampah berserakan di jalan, dan akibatnya merusakan keindahan,” ujar Suwarno, warga Jalan Musi.

Lebih lanjut dikatakan, Pemkot Depok dalam belakangan ini khususnya pada saat lebaran kurang mengantisipasi mengangkut sampah. “Apalagi sekarang musim hujan, otomatis air sampah mengalir ke jalan dan menimbulkan bau tak sedap,” imbuh Suwarno. (Adi Kurniawan)

Sampah Depok Menumpuk

Warta Kota, 14 Sep 2010
Sumber: http://bataviase.co.id/

Depok, Warta Kota

Memasuki hari ke-4 Lebaran. Senin (13/9). menyisakan sampah berserakan di beberapa kawasan Kota Depok. Di antaranya di Jajan Proklamasi, dekat Pasar Agung, Depok Timur. Bahkan di daerah tersebut terdapat genangan air setinggi 30 cm, sehingga aroma bau got merebak mengganggu warga sekitar.

“Pemkot Depok harus cepat mengantisipasi genangan air di kawasan Ini. Airnya hitam legam dan menimbulkan bau tak sedap,” kata Tiara, warga Cipayung. Depok Timur, kemarin. Menurut Tiara, bau tak sedap itu juga disebabkan menumpuknya sampah yang belum diangkut petugas Dinas Kebersihan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Depok. “Seharusnya petugas kebersihan ada yang piket sehingga tidak perlu sampah menumpuk seperti sekarang ini.” ujarnya.

Penumpukan sampah juga terlihat di dekat Pasar Musi. Akibatnya sampah berserakan ke jalan dan mengganggu keindahan Kota Depok. “Hal seperti ini seringkali terjadi setiap Lebaran. Petugas pengangkut sampah tidak ada yang piket, sehingga sampah berserakan di jalan dan akibatnya merusak keindahan kota,” ujar Suwarno, warga Jalan Musi.

Menurut Suwarno, Pemkot Depok saat Lebaran kurang mengantisipasi masalah sampah. “Pemkot Depok memang kurang memperhatikan masalah sampah setiap Lebaran. Apalagi sekarang musim hujan, otomatis air sampah mengalir ke jalan dan menimbulkan bau tak sedap,” imbuhnya.

Rekreasi

Sementara itu, sejumlah warga mengharapkan Pemkot Depok segera membangun tempat rekreasi dan tempat hiburan. “Kalau mau rekreasi ataupun cari hiburan, warga Depok harus ke Jakarta atau Bogor,” keluh Rudi, warga Depok Jaya, kemarin. Dia mengatakan, tempat rekreasi bisa menambah pendapatan asli daerah (PAD) melalui pajak. Rudi yang ditemui di Stasiun KA Depok Baru, mengatakan keberadaan tempat rekreasi atau hiburan di Kota Depok sangat penting untuk menghilangkan kejenuhan warga setelah bekerja. Rudi yang bersama keluarganya hendak berekreasi ke Ancol Taman Impian tersebut mengatakan, sejak tinggal di Depok 10 tahun silam, tidak ada tempat rekreasi atau hiburan di wilayah ini. (akn/Ant)

Pascalebaran, Sampah Menumpuk di Depok

Sumber: http://news.okezone.com/ 14 September 2010

DEPOK – Pascalebaran, hampir di tiap–tiap Unit Pengolahan Sampah (UPS) di Depok terdapat tumpukan sampah melebihi hari biasa akibat para petugas Dinas Kebersihan yang masih libur. Sehingga jumlah volume sampah melonjak hingga tiga kali lipat yang didominasi oleh sampah rumah tangga.

Hal itu terlihat dari jumlah truk dan gerobak yang harus bolak–balik dari lingkungan warga ke UPS ataupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung Depok. Biasanya, setiap petugas gerobak sampah hanya satu kali bolak–balik mengangkut sampah di lingkungan warga.

Salah satu petugas di UPS Beji Depok, Suwarsa mengatakan jumlah volume sampah memang selalu melonjak pascalebaran. Sebab, kata Suwarsa, 11 pegawai di UPS yang biasa mengolah sampah menjadi kompos saat ini masih libur lebaran.

“Tahun ini lebih baik ketimbang tahun lalu, tapi memang meningkat hingga tiga kali lipat, gerobak jadi lebih sering bolak–balik, meskipun truk dikerahkan, tetap sampah masih menumpuk, sejak malam takbir, mungkin nanti normal lagi kalau hari Rabu, PNS kan sudah pada masuk,” ujarnya kepada Okezone, Senin 12 September.

Sementara itu Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Rahmat Hidayat menuturkan, pihaknya sudah mengerahkan 30 truk sampah dari 54 truk sampah yang lembur dan tetap bekerja pada hari lebaran. Hal itu, kata Rahmat, guna mencegah tumpukan sampah, terutama di jalur protokol.

”Kami kerahkan hampir 300 personel, dan 30 truk, tapi setiap lebaran pasti tingkat konsumsi masyarakat juga banyak, kami sudah seoptimal mungkin,” tandas Rahmat.(//ahm)

Tempat Pembuangan Liar Bertebaran

Kompas – 22 September 2010
Sumber: http://digilib-ampl.net/detail/

Depok, Kompas – Semakin lama tempat pembuangan sampah liar di Depok terus menggunung. Selain mengganggu pemandangan, tumpukan sampah itu juga menimbulkan bau tidak sedap di sekitarnya.

Salah satu tempat pembuangan sampah liar itu terdapat di Jalan Raya Citayam, di tepi Kali Baru. Sampah di tempat ini sebagian memakan badan jalan dan sempadan sungai.

”Sejak saya bekerja di sini (enam bulan lalu) sudah ada tempat pembuangan sampah itu,” tutur Dika (24), tukang cuci motor di Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Depok, Jawa Barat, Selasa (21/9).

Dika mengatakan, hampir setiap hari truk pengangkut sampah melintas Jalan Raya Citayam, tetapi truk itu tidak berhenti. Akibatnya, sampah semakin menggunung di antara Jalan Raya Citayam dan Kali Baru.

Hermawan (50), warga Kelurahan Pondok Jaya, Kecamatan Cipayung, merasa terganggu dengan tempat pembuangan sampah itu. Hermawan yang tinggal 1 kilometer dari lokasi pembuangan mengatakan, gunungan sampah itu sudah ada sejak 2005.

Dirinya heran, mobil pengangkut sampah selalu rutin masuk ke kawasan perumahan di sekitar tempat ini. Namun mobil tersebut tidak pernah mengangkut timbunan sampah di tepi jalan dan sungai. ”Mestinya ada koordinasi agar sampah itu dapat diangkut karena truk sampah juga lewat sini,” katanya.

Jalan Raya Citayam merupakan jalur alternatif Depok-Bogor. Timbunan sampah ini semakin menambah beban persoalan di jalur ini karena jalan yang sempit dan berlubang.

Kepala Bidang Pelayanan Kebersihan Depok Rahmat Hidayat mengatakan, tempat pembuangan sampah di tepi Jalan Citayam itu bukan tempat pembuangan resmi alias ilegal. Menurut dia, tempat ini pernah ditutup tahun 2007, beroperasi lagi hingga sekarang.

”Kami akan mulai tertibkan minggu ini,” kata Rahmat.

Daerah perbatasan

Tempat pembuangan sampah liar seperti ini, kata Rahmat, juga terdapat di Serua dan Cinere. Kedua daerah ini merupakan daerah perbatasan dengan Tangerang Selatan (Serua) dan Jakarta Selatan (Cinere). Begitupun tempat pembuangan sampah liar di Citayam yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor.

”Di Serua dan Cinere sampah berasal dari luar Depok. Kami berkali-kali memergoki mobil pengangkut sampah membuang di wilayah itu. Sekarang sampah itu ada lagi,” kata Rahmat.

Dia mengakui, saat ini masih banyak sampah yang belum mampu terangkut dan diolah petugas kebersihan. Hal ini terjadi lantaran keterbatasan armada pengangkut dan lahan tempat pembuangan sampah.

Produksi sampah di Depok per hari 4.200 meter kubik, yang mampu diolah dan diangkut ke tempat pembuangan akhir di Cipayung 2.000 meter kubik. Pemkot Depok mengandalkan 54 mobil pengangkut sampah dibantu 13 truk milik Dinas Pasar Depok. Sementara dalam pengolahan sampah, Pemkot Depok mengandalkan 19 unit pengolahan sampah (UPS) dengan kapasitas 500 meter kubik per hari. (NDY)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s