Berita 2011-5 (Sep-Okt)

September 2011

Buang Sampah Sembarangan di Depok Bakal Didenda Rp50 Juta

Sumber: http://news.okezone.com/  24 September 2011  

DEPOK- Wakil Wali Kota Depok Idris Abdul Somad bersama Badan Lingkungan Hidup Kota Depok terjun langsung ke Sungai Ciliwung yang mengaliri jalan Tole Iskandar, Depok, untuk membersihkan sampah sungai.

Puluhan tim Satgas banjir dan anggota Pramuka diturunkan untuk langsung membersihkan sampah yang menyangkut di sungai Ciliwung. Sedikitnya terdapat dua truk sampah yang berhasil diangkut dari sungai Ciliwung. Sampah yang diangkut pun didominasi oleh sampah rumah tangga seperti bambu, kayu, sampah plastik, hingga kasur.

Idris mengatakan, kegiatan tersebut merupakan program kali bersih (Prokasih) untuk mengantisipasi banjir di Depok dan Jakarta. Sebab, Sungai Ciliwung akan mengalir ke Ibu Kota apalagi memasuki musim hujan deras yang diprediksi akan datang pada Oktober mendatang.

“Kegiatan ini diagendakan untuk dapat Adipura, antisipasi hujan deras pada bulan Oktober, dan kegiatan ini akan rutin dilakukan, sekarang titiknya di jembatan Panus Sungai Ciliwung ini, sebagai salah satu ikon kota Depok,” katanya di lokasi, Sabtu (24/09/11).

Sementara itu Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok Rahmat Subagyo mengatakan, sampah yang dibuang di Sungai Ciliwung memang didominasi oleh sampah limbah warga.

Karena itu, kata dia, mulai tahun 2011 ini pihaknya sosialisasi Perda larangan membuang sampah sembarangan.

“Kita tegakkan Perda, kalau membuang sampah akan dikenakan Tindak Pidana Ringan (Tipiring) yakni kurungan penjara tiga bulan atau denda maksimal Rp 50 juta,” tegas Rahmat.
(ugo)

Oktober 2011

NUR MAHMUDI : PEMKOT DEPOK KELOLA SAMPAH BERSAMA UI 

Sumber: http://www.bandungnewsphoto.com/, 5 Oktober 2011

DEPOK – Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail memberikan keterangan pada wartawan terkait pengelolaan sampah bersama UI di Balai Kota Depok, Rabu (5/10/2011). Pemkot telah bekerjasama dengan pihak kampus Universitas Indonesia dalam pengolahan sampah yang berasal dari kampus maupun masyarakat sekitar Kelurahan Pondok Cina dan Kukusan, Depok. Langkah tersebut diwujudkan dalam pembangunan Unit Pengolahan Sampah (UPS). Menurut Nur Mahmudi, UI dapat dijadikan contoh etika dan pengelolaan sampah yang baik. BNP/Praminto Moehayat.

Sampah Dituding Penghambat IPM

Sumber:http://www.rintisyanto.com/  5 Oktober 2011 

MARGONDA – Persoalan sampah di Kota Depok, ternyata sudah bukan persoalan ringan, namun sudah menjadi masalah krusial. Bahkan hal itu diduga sebagai salah satu penghambat peningkatan Indeks Pembangunan Manusia di Kota Depok.

Hal itu disampaikan Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan Kemiri Muka, Iskandar, di hadapan Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail, saat berlangsungnya talk show ‘Gebyar Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan’ yang berlangsung di Hotel Bumi Wiyata, kemarin.

“Bagaimana IPM bisa naik kalau sampah tidak ditangani,” ujar Iskandar di hadapan undangan yang hadir.

Menurut Iskandar, pada 2007 IPM Kota Depok pernah menjadi peringkat pertama di Jawa Barat dan peringkat ketiga di Indonesia. “Seingat saya, saat itu IPM Kota Depok, mencapai 78,10,” tandas Iskandar.

Iskandar beralasan, karena sampah itu berkaitan dengan masalah kesehatan, dan kesehatan itu salah satu variabel IPM. “Masalah ini (kesehatan), kami di bawah sangat susah di koordinasikan dengan pihak terkait,” terang pria yang juga merupakan ketua RW itu.

Untuk itu ia mempertanyakan, jika perumahan terus dibangun, mal pun berdiri, namun tidak ada penanganan sampahnya. “Setiap hari perumahan selalu bertambah dan tentunya sampahnya bertambah, terus mau dibuang ke mana,” tanyanya.

Menjawab hal itu, Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail di hadapan undangan bersama Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan dan Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Budi Wiyono, menjawab, kalau Pemkot Depok terus menerus membangun fasilitas pengelolaan sampah. Sebagai bentuk intervensi pemerintah dalam peningkatan kapasitas pengelolaan sampah.

“Selain itu, kami minta kesadaran masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah. Dan meminta untuk membentuk satgas kebersihan,” jawabnya.

2013, Pemkot optimis boyong piala Adipura

Sumber:  http://www.dprd-depokkota.go.id/ 7 October 2011 

Kerap gagal meraih predikat kota terbersih di Indonesia, tidak membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menyerah.

Pemkot Depok justru tengah menyusun berbagai persiapan agar Piala Adipura dapat singgah di kota warisan Cornelis Castellein ini.

Persiapan tersebut bukan cerita dongeng belaka. Duet Nur Mahmudi Ismail-Idris Abdul Shomad sebagai walikota/wakil walikota kabarnya sedang meracik ‘amunisi’ mematikan yang dua tahun lagi tepatnya tahun 2013, bakal ‘meledak.
Meski cukup lama, rencana besar itu diharapkan mampu menghapus kutukan kota ini yang selalu gagal memboyong Piala Adipura.

Saat ini, Pemkot Depok baru mencanangkan pembentukan Lembaga Pengolahan Sampah (LPS) di tingkat kota sampai RT.

LPS ini nantinya akan baru terbentuk pada tahun 2012, sehingga tidak ada target untuk merebut Piala Adipura tahun depan. “ tahun 2012 baru menargetkan pembentukan LPS tingkat kota sampai RT. Tahun 2013 Depok baru memiliki target meraih Adipura,” kata Wakil Walikota Depok, Idris Abdul Shomad, kemarin.

Ia mengemukakan, target tersebut berdasarkan kemampuan Kota Depok yang baru bisa menangani sampah sebanyak 1.650 m3 atau sekitar 38%, mengingat pertumbuhan penduduk di Depok yang mencapai 3,5% per tahun.

“Jumlah sampah untuk tahun 2011 mencapai 4.250 m3. Untuk itu, kami (Pemkot Depok-red) baru bisa menangani sampah sebanyak 38%,” katanya.

Sementara itu, anggota DPRD Depok, Selamet Riyadi, menyayangkan target merebut Piala Adipura yang diagendakan Pemkot 2 tahun mendatang. Ia melihat, Adipura sejatinya dapat diaraih tahun depan. Selamet pun beasumsi bahwa kepedulian Pemkot Depok terhadap Adipura masih minim.

“Sebenarnya tahun 2012, kita juga bisa mendapatkannya. Cuma karena kurang peduli saja. Ini tinggal kesungguhan pihak eksekutif dalm menggerakkan semua elemen dan stakeholder yang ada untuk bahu- membahu meraih Adipura. Kalau target 2013 itu terlalu lama,” papar nya.

Anggota DPRD dari Fraksi Gerindra-Bangsa ini optimis, jika seluruh elemen masyarakat dan stakeholder satu pandangan, bukan mustahil Piala mau mampir ke Kota Depok. “Kalau ini terjadi, tidak menutup kemungkinan kapan saja kita bisa mendapat Adipura. Jangan menunggu 2013, kelamaan..,” pungkas kader PKB Depok ini. (tdr)monde,03-10-2011

Kejar Adipura! Dewan : Target 2013 terlalu lama

Sumber:  http://www.dprd-depokkota.go.id/7 October 2011

P E M K O T Depok selama ini selalu gagal meraih Adipura, penghargaan bergengsi bagi kota yang mampu memanaje kebersihan dengan sejumlah prasyarat lainnya. Harapan untuk mendapatkan Adipura pada 2012 dinilai anggota Dewan sebatas impian belaka. Pasalnya, dalam rencana kerja tim Adipura Depok 2012, tahap pembentukan lembaga pengolahan sampah (LPS) baru sampai ditingkat kota sampai RT.

Anggota DPRD Komisi C Kota Depok, Slamet Riyadi mengatakan, seharunya Adipura bisa diraih tahun depan. Namun, menurut dia, kepedulian Pemkot terhadap peraihan Adipura masih kurang. “Sebenarnya, pada 2012 Depok bisa mendapatkannya. Hanya saja, pemerintah kurang peduli saja. Ini tinggal kesungguhan pihak eksekutif dalam menggerakkan semua elemen dan stakeholder yang ada untuk bersama meraih Adipura. Target 2013 terlalu lama,” kata Slamet kepada wartawan, kemarin.

Slamet mengatakan kegagalan Depok meraih Adipura itu menunjukkan kurang pedulinya Pemkot dalam menggerakkan masyarakat untuk menjaga kebersihan dan mengolah sampah. “Yang terpenting bisa bekerjasama dengan semua pihak, baik dari tingkat atas sampai bawah agar bisa meraih Adipura. Kalau syarat ini terpenuhi, tidak menutup kemungkinan kapan saja Depok bisa mendapat Adipura, seperti yang diinginkan masyarakat. Jangan tunggu 2013, kelamaan,” katanya.

Sebelumnya, Wakilwali Kota Depok Idris Abdul Shomad menuturkan bahwa pada 2012 pihaknya baru menargetkan pembentukan LPS tingkat kota sampai dengan RT. Pada 2013, Depok menargetkan mendapat Adipura. “Kami targetkan pada 2013 mendapatkan Adipura,” ujarnya.

Idris menuturkan, Kota Depok baru bisa menangani sampah sebanyak 1.650 meterkubik atau baru 38persen. Menurut dia, pertumbuhan penduduk Kota Depok mencapai 3,5 persen pertahun. Ia menambahkan, setiap waraga Depok dalam sehari menghasilkan sampah sebanyak 1,6 liter/hari dan jumlah sampah pada 2011 mencapai 4.250 meterkubik. “Kami baru bisa menangani sampah sebanyak 38persen jadi, dalam menjaga kebersihan dan mengelola sampah adalah tugas besama,” tuturnya.

Anggota tim Adipura Depok, Sahroel Polontalo menyatakan, saat ini penilaian Adipura semakin ketat, dan berbeda dengan tahun sebelumnya. Titik pantaunya dilakukan pada semua wilayah. Tim menilai dengan cara persilangan, seperti tim dari daerah Sumatera sebagi juri di Jawa, begitu juga sebaliknya. 030-10-2011 , Jurnal Depok

PNJ Dukung Pengolahan Sampah UI

Sumber: http://www.jurnas.com/ 10 Oktober 2011

MESKI pembangunan Unit Pengolahan Sampah (UPS) di lingkungan kampus Universitas Indonesia (UI) berada tidak jauh dari kampus Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Direktur PNJ Prof Dr Ir Johny Wahyuadi M menyatakan siap mendukung keberadaan UPS tersebut. UPS tersebut akan menampung dan mengolah sampah di lingkungan UI Depok.

UPS yang dibangun oleh Pemkot Depok itu kini sudah hampir selesai. Meski kerja sama yang dilakukan hanya dengan UI dan Pemkot Depok, namun pihak PNJ menyatakan dukungan penuh. UPS ini berada di lingkungan PNJ, tepatnya di dekat ruang belajar mahasiswa. “Kita dukung kebijakan tersebut meski kami (PNJ) tidak dimintai izin soal lokasi. Kita lihat dulu nanti prosesnya seperti apa. Yang pasti kita tanggapi secara positif,” ujar Direktur PNJ, Johny Wahyuadi usai acara wisuda mahasiswa di Balairung UI, Depok, Sabtu (8/10).

Bentuk dukungan tersebut, kata Johny, merupakan bagian dari bentuk pengabdian kepada anak bangsa. Sebelumnya, PNJ juga telah mengelola dan mendaur sampah menjadi barang yang lebih bermanfaat. Dengan konsep zero waste, lanjutnya, keberadaan UPS tentu akan membantu mengurangi sampah yang diproduksi lingkungan UI. “Perlu kami ingatkan, kami juga sudah melakukan pengolahan sampah secara mandiri. Jika ada UPS tentu akan lebih membantu. Prinsipnya, bagi saya jangan meributkan hal-hal yang belum tentu terjadi,‘ ujar Johny.

Keberadaan UPS di area PNJ memang sempat menimbulkan keresahan lantaran kegiatan belajar-mengajar (KBM) mahasiswa akan terganggu. Selain suara bising yang ditimbulkan mesin pencacah, tumpukan sampah yang tak terolah nantinya akan menimbulkan bau tak sedap. Terlebih hangar UPS berada sangat dekat dengan kelas belajar. “Jangan terlalu pesimistis. Kita lihat saja dulu bagaimana prosesnya nanti. Dari sampah bisa diolah menjadi pupuk kompos. Kita bisa numpang buang sampah sekalian,‘ katanya.

Terpisah, Rektor UI, Gumilar R Somantri menuturkan, produksi sampah di lingkungan kampus kuning itu mencapai empat truk setiap hari. Sampah-sampah tersebut diangkut oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok. Tak jarang pula sampah menumpuk pada hari libur panjang. Dengan begitu, jika UPS selesai dibangun tentu dapat mengurai masalah sampah di UI. “Pengelolaan sampah yang baik akan menjadikan sampah barang bernilai tinggi. Kuncinya, pada pemilihan sampah,” tutur Gumilar.

Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana DKP Kota Depok, Ridwan menjelaskan, pihaknya melakukan kerjasama dengan pihak UI dalam pembangunan hangar UPS. Pihak UI menyediakan lokasi, sedangkan Pemkot Depok membangun fisik hanggar.

“Pihak UI telah menyiapkan lahannya, pembangunan UPS atas dasar permintaan pihak UI sendiri. Sampah yang dihasilkan di lingkungan UI cukup banyak. Karenanya UI meminta Pemkot Depok membuatkan UPS khusus untuk warga lingkungan UI,‘ ungkap Ridwan. n Iskandar Hadji

Audiensi Antara Walikota Depok Dan Mr.Mortensen Aikan (Perusahaan Pengolahan Sampah) Dari Denmark

Sumber: http://www.depok.go.id/ 14 Oktober 2011

Setelah mengikuti seminar penanganan daur ulang sampah skala kota dengn teknologi dry anaerobic destigation and composting,di Candi Singosari, Hotel Sahid Jakarta kemarin, hari ini Jum’at (14/10) Walikota Depok lakukan Audiensi dengan Mr. Hendrik Mortensen dari Aikan (Perusahaan Pengolahan Sampah) dari Kopenhagen Denmark.

Kedatangan Mr. Mortensen bertujuan untuk mempresentasikan perusahaan pengolahan sampah dan juga sistemnya. Yaitu membuat sampah lebih bernilai dengan cara yang lebih mudah. Di Indonesia yang banyak dihasilkan adalah sampah basah yang tidak dapat dibakar, sistem ini sangat pragmatis, kokoh, fleksible, karena sistemnya moduler. Bio organik dapat dirubah menjadi energi listrik.

Sampah adalah sesuatu terus menerus diproduksi tiap harinya, sistem ini sangat realibility untuk dapat digunakan di Indonesia. Khususnya sampah organik dan sangat cocok utk wilayah di Perkotaan. Walikota Depok dan Dinas-Dinas terkait diperlihatkan prosesnya, dari sampah datang, kemudian ada mesin pemilah khusus, sampah organik dan plastik dipisahkan, sampah organik dicampur ranting dan daun untuk campuran, kemudian setelah itu dimasukan ke modul, tempat/ruangan kedap, modul-modul itu seperti baskom , air dari pembusukan/lipid menghasilkan gas yang dapat dipergunakan untuk bahan bakar. Suhu, PH kelembaban di atur sedemikian rupa menggunakan sistem komputer. Modul-modul tersebut terbuat dari Beton sangat kuat, ketika proses pengolahan dari awal sampai akhir semua dalam keadaan tertutup sehingga minim bau, dan kalau pun ada bau yang dihasilkan adalah bau organik.

Cara kerja mesin canggih tersebut 60 ton sampah perjam, semua dilakukan dengan sistem komputerisasi, bahkan dapat di kendalikan langsung dari Kopenhagen. Kompos-kompos sudah tahap maturasi, siap dipakai untuk memupuk tanaman. Semua sistem tersebut dapat dihadirkan dan dibangun di Kota Depok. Kota Depok tidak lagi membangun tempat pembuangan sampah tetapi, pabrik sampah, Eco Park yang menghasilkan Kompos, listrik, ERF, dan daur ulang.

Menurut Walikota Depok, presentasi Mr. Hendrik Mortensen tentang sistem pengolahan sampah menjadi beberapa komoditi : kompos, organik auto licid dan gas metan, cukup menarik. Karena penyelamatan gas metan yang di hasilkan dari sampah ini, bisa mengurangi polusi karbondioksida di atmosphere, sedangkan dari licidnya dapat diselamatkan untuk kepentingan pengomposan sampah organik.

UPS yang kita bangun sudah benar, jika saat ini kita menggunakan aerobik bakteri, sedangkan sistem yang dibawa Aikan menggunakan anaerobik bakteri . Dengan pendekatan pengolahan ini merupakan satu step lebih maju dari yang sudah kita bangun, produk yang dihasilkan sama, hanya side effect yang dihasilkan berbeda. Sistem UPS yang sudah ada pada daerah kita, tidak menangkap metannya.

Dalam projek ini pihak pemerintah akan diuntungkan karena tidak mengeluarkan anggaran yang terlalu besar namun proporsional dan lebih efisien. Jumlah modul yang akan dibangun kira-kira sebanyak 90-100 modul, prosesnya harus 1 bulan, untuk 1000 ton kira-kira diperlukan 3 modul. Tahun 2012 akan diadakan proses pembebasan lahan, kerjasama dengan PU dan proses administrasi, jika prosesnya cepat maka sekitar pertengahan Tahun 2012 proses pembangunan akan segera dilakukan di Dekat TPS Cipayung.

Sebelum Mr. Hendrik Mortensen berpamitan, Walikota memberikan buah belimbing serta minuman botol sari buah belimbing yang merupakan ikon dan sebagai tanda terima kasih atas kunjungannya ke Kota Depok.

Perusahaan Denmark Menawarkan Pengolahan Sampah Basah

Sumber: http://www.wartakotalive.com/12 Oktober 2011

Depok, Warta Kota

Perusahaan pengolahan sampah asal Denmark memperkenalkan sistem pengolahan sampah yang dapat menghasilkan nilai lebih dengan cara yang mudah.

“Sistem pengolahan sampah ini realistis untuk diterapkan di Indonesia, khususnya sampah organik, dan cocok untuk wilayah di perkotaan,” kata Managing Director Aikan Hendrik Mortensen di Balai Kota Depok, Jumat (14/10).

Menurut dia, di Indonesia paling banyak dihasilkan sampah basah yang tidak dapat dibakar, sehingga cocok jika menggunakan sistem pengolahan sampah dari Denmark tersebut. “Sistem ini sangat praktis, kokoh, dan fleksibel karena menggunakan sistem moduler,” katanya.

Mortensen menjelaskan proses mulai dari sampah datang, kemudian ada mesin pemilah khusus, sampah organik dan plastik dipisahkan, sampah organik dicampur ranting dan daun untuk campuran.
Selanjutnya sampah tersebut dimasukan ke tempat atau ruangan kedap, air dari pembusukan atau lipid menghasilkan gas yang dapat dipergunakan untuk bahan bakar.

“Suhu, PH, dan kelembaban diatur sedemikian rupa dengan menggunakan sistem komputer,” ujarnya.

Proses pengolahan sampah tersebut terbuat dari beton yang sangat kuat, sehingga ketika proses berlangsung dari awal sampai akhir semua dalam keadaan tertutup sehingga minim bau. Kalau pun ada bau yang dihasilkan adalah bau organik.

Dikatakannya, cara kerja mesin tersebut canggih dan dapat mengolah sampah hingga 60 ton sampah per jam. Semua dilakukan dengan sistem komputerisasi, bahkan dapat dikendalikan langsung dari Kopenhagen.

Hasil dari pengolahan sampah tersebut siap dipakai utntuk memupuk tanaman. Semua sistem tersebut dapat dihadirkan dan dibangun di Kota Depok. Kota Depok tidak lagi membangun tempat pembuangan sampah tetapi membangun pabrik sampah, Eco Park yang menghasilkan kompos, listrik, dan lainnya.

Menanggapi hal tersebut Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang sudah dibangun sudah benar. Jika saat ini menggunakan bakteri aerobik, sistem yang dibawa Denmark menggunakan bakteri anaerobik.

“Pendekatan pengolahan ini merupakan satu langkah maju dari yang sudah kami bangun,” katanya.

Dia mengatakan produk yang dihasilkan dari pengolahan sampah tersebut sama, tetapi efek samping yang dihasilkan berbeda. “Bedanya sistem UPS yang sudah ada tidak menangkap metan,” ujarnya.

Menurut dia, proyek ini menggunakan pendekatan kerja sama tiga pihak, jadi pemerintah akan diuntungkan karena tidak mengeluarkan anggaran yang terlalu besar namun proporsional dan lebih efisien.

Wali Kota berharap pada 2012 akan diadakan proses pembebasan lahan, kerja sama dengan Pekerjaan Umum (PU) dan proses administrasi, jika prosesnya cepat sekitar pertengahan 2012 proses pembangunan dilakukan di dekat TPA Cipayung. (Antara/ink)

Pengolah Sampah Denmark Kunjungi Depok

Sumber: http://www.radaronline.co.id/ 15 Oktober 2011

Depok,Radar Online
Aikan perusahaan pengolahan sampah Kopenhagen Denmark yang diwakili Mr. Hendrik Mortensen, Jum`at (14/10/2011) berkesempatan mempresentasikan perusahaan pengolahan sampah dan juga sistemnya di Kota Depok . Yaitu membuat sampah lebih bernilai dengan cara yang lebih mudah.

Dalam kesempatan itu Mr.Hendrik memaparkan bahwa di Indonesia yang banyak dihasilkan adalah sampah basah yang tidak dapat dibakar, sistem ini sangat pragmatis, kokoh, fleksible, karena sistemnya moduler. Bio organik dapat dirubah menjadi energi listrik,”ujarnya.

Diungkapkan Hendrik, sampah adalah sesuatu terus menerus diproduksi tiap harinya, sistem ini sangat realibility untuk dapat digunakan di Indonesia. Khususnya sampah organik dan sangat cocok utk wilayah di Perkotaan.

Terkait masalah sampah Mr Hendrik memperlihatkan proses, dari sampah datang, kemudian ada mesin pemilah khusus, sampah organik dan plastik dipisahkan, sampah organik dicampur ranting dan daun untuk campuran, kemudian setelah itu dimasukan ke modul, tempat / ruangan kedap, modul- modul itu seperti baskom , air dari pembusukan /lipid menghasilkan gas yang dapat dipergunakan untuk bahan bakar.

Suhu, ph kelembaban di atur sedemikian rupa menggunakan sistem komputer. Modul-Modul tersebut terbuat dari Beton sangat kuat , ketika proses pengolahan dari awal sampai akhir semua dalam keadaan tertutup sehingga minim bau , dan kalau pun ada bau yg dihasilkan adalah bau organik.

Cara kerja mesin canggih tersebut 60 ton sampah perjam, semua dilakukan dengan sistem komputerisasi, bahkan dapat di kendalikan langsung dari Kopenhagen. Kompos- Kompos sudah tahap maturasi, siap dipakai utntuk memupuk tanaman.

“ Semua sistem tersebut dapat dihadirkan dan dibangun di Kota Depok. Kota Depok tidak lagi membangun tempat pembuangan sampah tetapi, pabrik sampah, Eco Park yang menghasilkan Kompos, listri, ERF, dan daur ulang,”papar Mr Hendrik.

Sementara Walikota Depok Nurmahmudi Ismail yang ikut dalam presentasi tersebut mengatakan,presentasi Mr. Hendrik Mortensen tentang sistem pengolahan sampah menjadi beberapa komoditi : kompos, organik auto licid,dan akan diselamatkan gas metannya, dengan tujuan untuk mengurangi polusi karbon dioksida di atmosphere, penangkapan dari licid dapat diselamatkan untuk kepentingan yang lain.

Kata Walikota, UPS yang kita bangun sudah benar, jika saat ini kita menggunakan aerobik bakteri, Sistem yang dibawa Aikan menggunakan anaerobik bakteri.

“ Dengan pendekatan pengolahan ini merupakan satu step lebih maju dari yang sudah Kita bangun, produk yang dihasilkan sama, hanya side effect yang dihasilkan berbeda,” demikian Walikota. (Asep Nasrudin)

Walikota Depok Lakukan Audensi Dengan Perusahaan Pengelola Sampah

Sumber: http://www.metropuncaknews.com/ 16 October 2011 

Laporan : Abd. Mutholib/Hms

Depok, metropuncaknews.com – Setelah mengikuti seminar penanganan daur ulang sampah skala kota dengan teknologi dry anaerobic destigation and composting di Jakarta, Jum’at (14/10), Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail lakukan Audiensi dengan Mr. Hendrik Mortensen dari Aikan (Perusahaan Pengolahan Sampah) dari Kopenhagen Denmark.

Pada kesempatan tersebut, Walikota, menyediakan dan mengenalkan makanan lokal, yang bahan bakunya tidak mengandung terigu.

Kedatangan Mr. Mortensen bertujuan untuk mempresentasikan perusahaan pengolahan sampah dan juga sistemnya. Yaitu membuat sampah lebih bernilai dengan cara yang lebih mudah.

Di Indonesia yang banyak dihasilkan adalah sampah basah yang tidak dapat dibakar. Sistem ini sangat pragmatis, kokoh, fleksible, karena sistemnya moduler. Bio organik dapat diubah menjadi energi listrik.

Sampah adalah sesuatu terus menerus diproduksi tiap harinya, sistem ini sangat realiblelity untuk dapat digunakan di Indonesia. Khususnya sampah organik dan sangat cocok untuk wilayah di perkotaan.

Walikota dan dinas-dinas terkait tehnik pengelolaan sampah. Dari sampah datang, kemudian ada mesin pemilah khusus, sampah organik dan plastik dipisahkan. Sampah organik dicampur ranting dan daun untuk campuran, kemudian setelah itu dimasukan ke modul, tempat / ruangan kedap. Modul- modul itu seperti baskom, air dari pembusukan /lipid menghasilkan gas yang dapat dipergunakan untuk bahan bakar. Suhu, ph kelembaban diatur sedemikian rupa menggunakan sistem komputer.

Modul-Modul tersebut terbuat dari beton yang sangat kuat. Saat proses pengolahan dari awal sampai akhir semua dalam keadaan tertutup. Sehingga minim bau dan kalau pun ada bau yang dihasilkan adalah bau organik.

Cara kerja mesin canggih tersebut 60 ton sampah perjam. Semua dilakukan dengan sistem komputerisasi, bahkan dapat dikendalikan langsung dari Kopenhagen. Kompos- kompos sudah tahap maturasi, siap dipakai untuk memupuk tanaman. Semua sistem tersebut dapat dihadirkan dan dibangun di Kota Depok. Hingga Kota Depok tidak lagi membangun tempat pembuangan sampah tetapi, pabrik sampah, Eco Park yang menghasilkan Kompos, listrik, ERF, dan daur ulang.

Sebelum Mr. Hendrik Mortensen pergi, Walikota memberikan buah belimbing serta minuman botol sari buah belimbing yang merupakan icon Kota Depok.

Mengenai masalah tersebut, Walikota mengatakan, sistem pengolahan sampah menjadi beberapa komoditi sangat baik. Karena kompos, organik auto licid akan diselamatkan gas metannya. Tujuannya untuk mengurangi polusi karbon dioksida di atmosphere dan penangkapan dari licid dapat diselamatkan untuk kepentingan yang lain.

Menurut Walikota, Unit Pengelola Sampah (UPS) yang dibangun sudah benar. Jika saat ini menggunakan aerobik bakteri, sistem yang dibawa AIKAN menggunakan anaerobik bakteri . Dengan pendekatan pengolahan ini merupakan satu step lebih maju dari yang sudah bangun. Produk yang dihasilkan sama, hanya side effect yang dihasilkan berbeda. Sistem UPS yang sudah ada di Depok, tidak menangkap metannya.

Karena projek ini pendekatannnya kerjasama 3 pihak, maka pihak pemerintah akan diuntungkan. Karena tidak mengeluarkan anggaran yang terlalu besar namun proporsional dan lebih efisien. Jumlah modul yang akan dibangun kira-kira sebanyak 90- 100 modul, prosesnya harus 1 bulan dan untuk 1000 ton kira-kira diperlukan 3 modul.

Untuk itu, pada tahun 2012 akan diadakan proses pembebasan lahan, kerjasama dengan PU dan proses administrasi. Jika prosesnya cepat maka sekitar pertengahan tahun 2012, proses pembangunan akan segera dilakukan di dekat TPS Cipayung.

TPA Over Kapasitas, Depok Bangun Pabrik Sampah

Sumber:  http://news.okezone.com/  17 Oktober 2011  

DEPOK – Guna mengurangi beban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Depok, Jawa Barat, yang kini semakin kelebihan kapasitas (overload), Pemerintah Kota Depok akan membangun pabrik sampah atau Eco-park. Pabrik itu dibangun di dekat TPA Cipayung dengan luas 8-10 hektar yang akan menghasilkan gas metan guna menghasilkan listrik.

“Dapat menghasilkan listrik dan bahan bakar daur ulang untuk pabrik semen. Pembebasan lahannya dimulai tahun 2012. Jika proses pembebasan lahannya cepat maka pertengahan tahun 2012 sudah bisa dibangun,” kata Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail di Balai Kota Depok, Senin (17/10/11).

Menurut Nur Mahmudi, Pemkot Depok akan bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan pihak swasta dalam pembangunan itu. Nur Mahmudi menjelaskan, pengolahan sampah di pabrik sampah itu menggunakan teknologi dry anaerobic destigation dan composting.

“Sistem ini sangat pragmatis, kokoh, dan fleksible karena sistemnya menggunakan moduler. Proses pengolahannya dimulai dari sampah datang. Sampah itu kemudian dipilah oleh mesin pemilah khusus. Sampah organik dan anorganik dipisahkan. Lalu sampah organik dicampur dengan ranting dan dedaunan. Mesin itu mampu mengolah 60 ton sampah per jam. Semua dilakukan dengan sistim komputerisasi bahkan bisa dikendalikan dari jarak jauh,” paparnya.

Nur Mahmudi menambahkan Unit Pengolahan Sampah (UPS) dibangun menggunakan bakteri aerobik. Sedangkan pengolahan sampah skala kota model AIKAN (perusahaan pengolahan sampah asal Kopenhagen,Denmark) menggunakan bakteri anaerobik.

“Produk yang dihasilkan sama hanya efek samping yang dihasilkan berbeda. Sistem UPS tidak menangkap gas metan,” tandasnya.

Gas metan yang dihasilkan nantinya akan menghasilkan 2 megawatt listrik untuk menjangkau satu kelurahan. Jumlah sampah yang dihasilkan Kota Depok setiap hari mencapai 3 ribu meter kubik. (abe)

Wali Kota Depok Wajibkan PNS Bikin Komposter

Marieska Harya Virdhani – Okezone
Sumber:http://news.okezone.com/ 18 Oktober 2011  

DEPOK- Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail kembali melakukan terobosan program kerja di wilayah kekuasaannya. Setelah mengeluarkan kampanye makan dengan tangan kanan.

Kini Nur Mahmudi menginstruksikan setiap Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pejabat di lingkungan Kota Depok untuk membuat komposter di rumah mereka. Jika tidak maka PNS dan pejabat tersebut dinilai indispliner.

“Kami meminta PNS dan pejabat membuat komposter di rumah mereka masing-masing. Untuk PNS saya kasih waktu dua minggu mulai saat ini dan para pejabat seminggu. Saya akan sidak, jika tidak maka mereka indisipliner,” katanya kepada wartawan, Selasa (18/10/11).

Untuk diketahui, komposter adalah alat berupa tong plastik yang digunakan untuk memproses sampah basah menjadi kompos di rumah.

Menurutnya, hal itu merupakan gerakan kampanye terhadap PNS Depok agar menjadi contoh bagi masyarakat di lingkungan rumahnya dalam melakukan pemilahan sampah dan membuat komposter. Baik PNS warga Depok ataupun di luar Depok.

“Pemilahan sampah itu dimulai dari diri sendiri. Para PNS Depok harus menjadi contoh,” tandasnya.

Nur Mahmudi menambahkan, selain para PNS ia juga mengimbau kepada masyarakat Depok membuat komposter. Ukurannya bisa 50 cm X 50 cm dengan kedalaman satu meter.

“Warga Depok diminta untuk membuat lubang biopori dan perumahan untuk membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Camat dan lurah agar terlibat langsung agar masyarakat dapat membuat sumur resapan, pemilahan sampah dan pembuatan komposter,” tegasnya.
(ugo)

2012, Depok Bangun Pabrik Sampah

Berita Kota 18 Oktober 2011 
Sumber: http://bataviase.co.id/node/840286

Pabrik sampah itu akan dibangun di atas lahan seluas 8 hingga 10 hektar. Diharapkan, bisal menghasilkan gas metan untuk listrik dan bahan bakar daur ulang untuk pabrik semen.

RENCANA pendirian pabrik sampah ini disampaikan Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail di Balaikota Depok, Senin (17/10). “Ya kami akan membangun pabrik sampah yang bisa membuat sampah menjadi bernilai dan bermanfaat,” ujarnya. Pembebasan lahan untuk pabrik sampah atau ceo park itu, ujarnya, akan dimulai 2012 dan berada tak jauh dari tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Cipayung Depok. Jika proses pembebasan lahan berjalan cepat dan mulus, pertengahan 2012 pabrik sampah itu sudah bisa dibangun. “Pembangunan pabrik sampah ini untuk mengurangi beban TPA Cipayung. Lokasinya pun berada di sekitar Cipayung,” ujarnya.

Mcnurut Nur Mahmudi, pembangunan penanganan daur ulang sampah skala kota itu bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan pihak swasta.

Teknis pengolahan sampah di pabrik sampah itu menggunakan teknologi dry anaerobic destiga-tion dan composting.

Sistem ini, jelas Nur Mahmudi, sangat pragmatis, kokoh, dan fleksible karena sistemnya menggunakan moduler. Proses pengolahannya, dimulai dari sampah itu datang, di mana akan dipilah oleh mesin pemilah, khusus untuk membedakan sampah organik dan anorganik. Lalu, sampah organik dicampur dengan ranting dan dedaunan. Sampah-sampah itu kemudian dimasukkan ke modul (ruang seperti baskom yang kedap udara). Kelembaban suhu di modul itu, diatur dengan sistem komputer isi.

Modul-modul itu, ujar mantan Menteri Kehutanan ini, terbuat dari beton yang sangat kuat. Karena itu, proses pengolahan dari awal sampai akhir semuan).) dalam keadaan tertutup. Dengan begitu, polusi baunya minim dan kaku pun ada bau, yang dihasilkan adalah bau organik. Sementara air dari pembusukan atau lipid, menghasilkan gas yang dapat dipergunakan untuk bahan bakar. Kompos-kompos sudah masuk tahap maturasi, siap dipakai untuk memupuk tanaman.

Sementara itu, bio organik yang dihasilkan dapat diubah menjadi energi listrik dan bahan bakar daur ulang yang dapat digunakan pabrik semen. “Mesin itu mampu mengolah 60 ton sampah perjam. Semuadilakukan dengan sistem komputerisasi bahkan bisa dikendalikan dari jarak jauh, ujarnya.

Mcnurut Nur Mahmudi, Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang dibangun sudah benar karena menggunakan bakteri aerobik. Sedangkan pengolahan sampah skala kota model AIKAN (perusahaan pengolahan samp.ih asal Kopenhagen, Denmark) menggunakan bakteri anacrobik. Produk wing dihasilkan sama, hanya efek samping yang dihasilkan berbeda.

Sementara itu, penyelesaian dan pengoperasian Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Cipcucang, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dipastikan molor dari waktu yang ditentukan akhir November 2011 karena pembebasan lahan masih belum tuntas. “Melihat dan kondisi di lapangan tentunya rencana pengoperasian TPST Cipeucang bakal mundur,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Tangsel Tb Mardani, akhir pekan kemarin.

Lahan yang dimiliki Pemda Kabupaten Tangerang seluas 2 hektar dan akan membebaskan lagi lahan dua hektar milik Pemkab Tangerang, ujar Mardani, diprediksi tidak cukup menampung melihat kapasitas sampah di Kota Tangsel yang sangat besar. “Minimal lahan TPST itu sekitar 5 Ha,” tuturnya, dh

Universitas Darmastadt German, Dan UI Kunjungi DKP Kota Depok

Sumber: http://suara-publik.com/19 Oktober 2011

Gaya hidup warga Depok terkait pembuangan limbah sampah sangat menarik minat 2 Peruruan Tinggi Jerman Dan Indonesia untuk menganalisa dan membuat riset. Tentu hal ini sangat berguna bagi warga Depok nantinya. Namun warga Depok harus turut berpartisipasi dalam menciptakan Depok menjadi lebih bersih dari sekarang .

 

Menurut Hengki Ashadi dari Departemen Sipil UI, Kunjungan Profesor Johanes Doger, A.Blum Syain dan Anji Stafani dari Universitas Darmastadt German terkait dengan teknis cara pembuangan sampah yang selama ini di menjadi momok masyarakat.

Mengenai sampah kata Hengki, dampak dari sampah ini sangatlah berbahaya apabila sembarangan dibuang. Sebab siapa saja bisa membuangnya, seperti sampah dari kendaraan, sampah dari pertokoan, perkantoran, pabrik industri, dan paling dominan sampah dari rumah tangga, sehingga dampak dari sampah bisa mencemarkan lingkungan, karena limbahnya yang banyak terkandung zat kimia dan gas pungkasnya.

Namun kata Hengki, sampah apa bila dikelola dengan baik, maka akan menjadi bermaanfaat bagi masyarakat, dengan kehadiran Universitas Darmastadt German ini kata Hengki, mereka membicarakan soal tempat unit pembuangan sampah (UPS) yang dikelola DKP kota Depok, karena mereka sudah melakukan analisa dan riset mengenai permasalahan sampah.

Selanjutnya Rahmat Hidayat selaku Kepala Bidang Kebersihan (Kabid) Dinas Kebersihan Pertamanan (DKP) kota Depok menambahkan, kehadiran tamu Universitas Darmastadt German ke DKP yakni dalam rangka ingin meneliti terkait sampah, dan sudah sejauh mana pengelolaan UPS di Kota Depok.

Selain itu kata Rahmat, kehadiran tamu dari Universitas Darmastadt German adalah meneliti sampah yang mengandung gas metan, yang konon bisa dijadikan tenaga listrik imbuhnya

Lebih jauh Rahmat Hidayat sebagai Kabid Kebersihan di DKP menjelaskan, bahwa pengelolaan UPS di kota Depok sudah sesuai dengan desentralisasi dan kondisi yang ada pada masyarakat. ( Benny Gerungan )

Pemkot Depok Menyerah Urus Sampah

Sumber:  http://www.kbr68h.com/ 23 October 2011 

KBR68H, Depok – Pemerintah Kota Depok mengaku sudah menyerah untuk mengatasi masalah sampah. Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail mengklaim selama lima tahun memerintah Depok sudah berusaha membangun Unit Pengolahan Sampah, akan tetapi belum berhasil. Kata dia, anggaran dan tenaga untuk mengatasi sampah di Depok masih kurang.

Yang jelas dari rencana RPJMD kota Depok, baik penganggaran yang kita miliki maupun tenaga yang ada, masih belum mampu menyelesaikan potensi sampah yang dimiliki kota Depok, sampai lima tahun ke depan, jadi RPJMD yang kami susun saja belum mampu menyelesaikan

Pada saat janji kampanye Pemilukada lalu, Wali Kota Depok Nur Mahmudi mengusung jargon mampu mengatasi masalah sampah. Namun puluhan UPS yang dibangun masih belum mampu mengurangi volume sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Cipayung Depok sebanyak 3 ribu kubik per hari.

Pemkot Depok Menyerah Atasi Sampah

Sumber: http://www.greenradio.fm/ 25 October 2011 

KBR68H – Pemerintah Kota Depok, Jawa Barat mengaku sudah menyerah mengatasi masalah sampah. Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail mengatakan, selama lima tahun memerintah Depok sudah berusaha membangun Unit Pengolahan Sampah (UPS), akan tetapi belum berhasil. Kata dia, anggaran dan tenaga untuk mengatasi sampah di Depok masih kurang.

“Yang jelas dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) kota Depok, baik penganggaran yang kita miliki maupun tenaga yang ada, masih belum mampu menyelesaikan potensi sampah yang dimiliki kota Depok, sampai lima tahun ke depan, jadi RPJMD yang kami susun saja belum mampu menyelesaikan,” kata Nur Mahmudi

Pada saat janji kampanye Pemilukada lalu, Wali Kota Depok Nur Mahmudi mengusung jargon mampu mengatasi masalah sampah. Namun puluhan UPS yang dibangun masih belum mampu mengurangi volume sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Cipayung Depok sebanyak 3 ribu kubik per hari.

One response to “Berita 2011-5 (Sep-Okt)

  1. Admin, kami sudah melaporkan adanya usaha penggilingan dan penjemuran sampah olahan di pemukiman penduduk di wilayah cimpaeun, tapos, Kota Depok. Kami harap pihak pemerintah kota depok dapat menindak-lanjutinya. Karna mungkin melalui media dan internet, admin bisa memberikan masukan dan perhatian akan aspirasi rakyat ini. Trima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s