Berita 2011-1 (Jan-Feb)

Januari 2011

TPA Overload, Depok Bangun 19 UPS Baru

Sumber: http://news.okezone.com/ 2 Januari 2011
Marieska Harya Virdhani – Okezone

DEPOK – Tahun 2011, Pemerintah Kota Depok siap membangun 19 Unit Pengolahan Sampah (UPS) baru untuk menambah jumlah 18 UPS yang sudah dibangun di tahun 2009.

Pembangunan UPS tambahan tersebut sebagai langkah antisipasi volume sampah yang terus meningkat dan nyaris melebihi kapasitas di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Cipayung, Depok.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan, untuk mengurangi volume sampah, terobosan andalan yang masih dijalankan pemerintah kota adalah dengan UPS. Langkah lainnya, kata dia, yakni dengan membuat lubang-lubang komposter di sekolah ataupun di rumah setiap warga.

“Evaluasinya, 18 UPS yang sudah ada. Ada sebagian yang sudah optimal, ada juga yang belum. Tahun ini kami sudah siap dengan 19 UPS lagi, penyebarannya di mana saja saya belum tahu,” katanya kepada wartawan, Minggu (2/1/2011).

Saat ini, lanjutnya, pihaknya terus memaksimalkan daya kerja tiap UPS untuk mampu mengolah sampah menjadi kompos. Jika dijumlah dengan UPS baru, sedikitnya 600 meter kubik sampah di Depok bisa diolah dan dikurangi.

“Di TPA kan juga ada UPS, itu akan terus dioptimalkan untuk mengurangi sampah yang menggunung, setelah itu sampah yang sisa dari tiap UPS diangkut ke TPA,” jelasnya.

Sesuai data Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok, jumlah volume sampah setiap hari mencapai 3 ribu meter kubik. Sampah tersebut harus diangkut setiap hari oleh 54 truk sampah.
(lsi)

Pemkot Depok akan Bangun UPS di UI

Sumber:  http://www.mediaindonesia.com/ 04 Januari 2011

DEPOK–MICOM: Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan membangun Unit Pengolahan Sampah (UPS) di lingkungan kampus Universitas Indonesia (UI).

“Pihak UI telah menyiapkan lahannya, pembangunan UPS atas dasar permintaan pihak UI sendiri,” kata Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok, Ridwan, Selasa (4/1).

Ia mengatakan, sampah yang dihasilkan di lingkungan UI cukup banyak. Karenanya UI meminta Pemkot Depok membuatkan UPS khusus untuk warga lingkungan UI. Nantinya, kata dia, UPS UI hanya menampung sampah-sampah dari warga UI sendiri, tidak termasuk warga di luar UI.

Ia mengakui dari 18 UPS yang sudah dibangun pada 2009, masih ada beberapa UPS yang tidak beroperasi karena berbagai macam kendala seperti UPS di Jalan Merdeka, Sukmajaya yang selalu mendapat protes dari warga sekitar. Namun demikian, lanjut Ridwan, pihaknya selalu berupaya melakukan pendekatan-pendekatan kepada masyarakat dengan memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa keberadaan UPS adalah demi kepentingan bersama dari masyarakat untuk masyarakat.

“Kita terus melakukan sosialisasi agar masyarakat menyadari pentingnya UPS tersebut,” katanya. Dikatakannya pada 2011 pihaknya berencana membangun sebanyak 15 hanggar Unit Pengolahan Sampah yang tersebar di lima kecamatan, yaitu kecamatan Sawangan, Bojongsari, Cimanggis, Cipayung, dan Tapos.

Ia menjelaskan untuk pembangunan setiap hangar telah dianggarkan sebesar Rp500 juta hingga Rp600 juta. Nilai anggaran tersebut, kata Ridwan, belum termasuk untuk pengadaan mesin pencacah sampah. Menurut dia, meningkatnya sampah di Depok karena bertambahnya jumlah penduduk dalam satu hari Depok menghasilkan sampah sekitar 3.400 kubik. Jumlah sampah di Depok terus meningkat karena pertambahan penduduk yang semakin cepat.

Sementera itu, Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan dari 18 UPS yang sudah ada, ada sebagian yang sudah optimal ada juga yang belum. “Kita akan terus mengoptimalkan penggunaan UPS tersebut,” katanya. Dia mengatakan, pihaknya terus memaksimalkan daya kerja setiap UPS untuk mampu mengolah sampah menjadi kompos. Jika dijumlah dengan UPS baru, sedikitnya 600 meter kubik sampah di Depok bisa diolah dan dikurangi. (Ant/rn/OL-01)

Kota Depok Siap Bangun 15 UPS di Lima Kecamatan

Sumber: http://www.depoknews.com/05 Januari 2011

”Saat ini kami sedang mempersiapkan lahan UPS yang kondusif,” kata Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok, H Ridwan saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (4/1).

Menurut Ridwan, untuk pembangunan setiap hangar telah dianggarkan sebesar Rp.500 hingga 600 juta. Nilai anggaran tersebut, kata Ridwan, belum termasuk untuk pengadaan mesin pencacah sampah,”Itu hanya untuk hanggarnya saja,”jelasnya.

Untuk pembangunan UPS dilingkungan Universitas Indonesia, kata Ridwan, pihak UI telah menyiapkan lahannya, dan pembangunan UPS itu atas dasar permintaan pihak UI sendiri. Menurut Ridwan sampah yang dihasilkan di lingkungan UI cukup banyak, karenanya UI meminta Pemkot Depok membuatkan UPS khusus untuk warga lingkungan UI.”UPS UI hanya menampung sampah-sampah dari warga UI sendiri, tidak termasuk warga di luar UI,”katanya.

Ridwan juga mengakui dari 18 UPS yang sudah dibangun ditahun 2009, masih ada beberapa UPS yang tidak beroperasi sebagaimana mestinya. Salah satunya adalah UPS di Jalan Merdeka, Sukmajaya yang selalu mendapat komplain dari warga sekitar. Namun demikian, lanjut Ridwan, pihaknya selalu berupaya melakukan pendekatan-pendekatan kepada masyarakat dengan memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa keberadaan UPS adalah demi kepentingan bersama dari masyarakat untuk masyarakat,”Diperlukan kesadaran masyarakat bahwa keberadaan UPS merupakan salah satu solusi untuk mengurangi debit sampah dengan cara mengolah sampah.”tuturnya.

Ia menjelaskan, meningkatnya sampah di Depok karena bertambahnya jumlah penduduk. Per harinya, Depok menghasilkan sampah sekitar 3.400 kubik. “Setiap orang itu menghasilkan 2,5 liter sampah per hari. Jumlah sampah di Depok terus meningkat karena pertambahan penduduk yang semakin cepat.”ungkapnya

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Depok Rintis Yanto mengatakan, Pemkot Depok diminta untuk melakukan evaluasi kembali dalam hal pembangunan UPS. Pasalnya, pembangunan UPS selama ini tidak sesuai dengan program Pemkot Depok untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Cipayung, Kecamatan Cipayung, Kota Depok.|prlm/mt|

Depok Siap Bangun 15 UPS Rp7,5 Miliar

Pelita,  05 Januari  2011

Sumber: http://bataviase.co.id/

Untuk memperpanjang usia Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Cipayung, Pemerintah Kota Depok akan membangun sebanyak 15 hanggar Unit Pengolahan Sampah yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Sawangan, Bqjongsari, Cimanggis, Cipayung, dan Tapos.

Bahkan UPS juga akan dibangun di lingkungan Kampus Universitas Indonesia (UI). “Saat ini kami sedang mempersiapkan lahan UPS yang kondusif,” kata Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok, H Ridwan saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (4/1).

Menurut Ridwan, untuk pembangunan setiap hangar telah dianggarkan sebesar RpSOO juta hingga Rp600 juta. Nilai anggaran tersebut, kata Ridwan, belum termasuk untuk pengadaan mesin pencacah sampah, Itu hanya untuk hanggamya saja,” jelasnya.

Untuk pembangunan UPS di lingkungan Universitas Indonesia, kata Ridwan, pihak Ul telah menyiapkan lahannya, dan pembangunan UPS itu atas dasar permintaan pihak Ul sendiri. Menurut Ridwan sampah yang dihasilkan di lingkungan Ul cukup banyak, karenanya Ul meminta Pemkot Depok membuatkan UPS khusus untuk warga lingkungan U1.”UPS Ul hanya menampung sampah-sampah dari warga UI sendiri, tidak termasuk warga di luar Ul,” katanya.

Ridwan juga mengakui dari 18 UPS yang sudah dibangun di tahun 2009, masih ada beberapa UPS yang tidak beroperasi sebagaimana mestinya. Salah satunya adalah UPS di Jalan Merdeka, Sukmajaya yang selalu mendapat komplain dari warga sekitar.

Ia menjelaskan, meningkatnya sampah di Depok karena bertambahnya jumlah penduduk. Per harinya, Depok menghasilkan sampah sekitar 3.400 kubik. “Setiap orang-itu menghasilkan 2,5 liter sampah per hari. Jumlah sampah di Depok terus meningkat karena pertambahan penduduk yang semakin cepat,” ungkapnya

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Depok Rintis Yanto mengatakan, Pemkot Depok diminta untuk melakukan evaluasi kembali dalam hal pembangunan UPS. Pasalnya, pembangunan UPS selama ini tidak sesuai dengan program Pemkot Depok untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Cipayung, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, (ck-26)

Depok gencar bangun UPS

Pos Kota, 06 Jan 2011

Sumber: http://www.bataviase.co.id/

PEMERINTAH Kota Depok terus menambah Unit Pengelolaan Sampah (UPS) di wilayahnya.

Hal ini dilakukan untuk mengatasi volume sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Kelurahan Cipayung.

Menurut Ridwan, bagian Sarana dan Prasarana Sampah Kota Depok, Rabu (5/1), UPS yang akan dibangun tahun 2011 nanti sebanyak 15 unit. Sebelumnya sudah dibangun 20 unit yang tersebar di beberapa kelurahan.

Ridwan menambahkan TPA Cipayung sudah tak sanggup menampung sampah. Selain itu juga sulitnya mencari lahan untuk tempat pembuangan sampah akhir membuat pemkot gencar membangun UPS.

Warga Kota Depok diharapkan mengerti tentang kebijakan pembangunan UPS di setiap kelurahan karena penggunaannya hanya untuk pengelolaan sampah menjadi pupuk. Sehingga sampah warga dapat ditangani petugas di setiap RT/RW untuk dikirim ke UPS yang ada di masing -masing kelurahan.

Biaya pembangunan satu UPS antara Rp500 juta Rp600 juta. Sampah tidak mungkin dibakar karena sudah dilarang. Sampah hanya boleh dibuang di dalam lubang yang sudah disedia warga. Namun, umumnya pembuangan sampah di dalam lubang sulit karena warga tidak mempunyai lahan yang luas.

Di Depok, misalnya warga kebanyakan hanya memiliki rumah dan sumur istilah warga mahmur. Untuk pembangunan UPS di Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, warga diharapkan bisa memahami karena tujuannya untuk mengatasi sampah, (nasrul/si/g)

13 Motor Sampah Pemkot Depok tidak Bisa Beroperasi

Sumber: http://bataviase.co.id/ Pelita, 12 Jan 2010

Depok. Pelita.  Sebanyak 13 unit motor sampah milik Pemkot Depok tertunda beroperasi. Pasalnya 13 unit motor sampah tersebut hingga sampai saat ini belum memiliki izin operasional dari kepolisian.”Kendaraannya sudah ada sejak 2008. Tapi memang belum bisa beroperasi. Masih menungu surat izin dari kepolisian. Saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan kepolisian.” kata Pit Kepala Dinas Kerbersihan dan Pertamanan (DKP). Sri Utomo. Senin (11/1).

Menurutnya pengadaan motor sampah dilakukan untuk menunjang alat transportasi sampah yang minim. Terutama, kata dia. untuk mengangkut sampah pada lokasi perumahan. Pembelian motor sampah juga dilakukan untuk meminimalisir peran gerobak sampah.Dengan motor sampah ini. kata Sri. pengangkutan sampah dapat dilakukan lebih cepat dan jangkauannya pun dapat lebih luas. Motor sampah ini berkapasitas dua meter kubik. Merupakan kendaraan roda tiga, rencananya dioperasionalkan oleh dua petugas. Setiap motor sampah ini bekerja sesuai kondisi sampah di lokasi masing-masing.” katanya.

Kepala Bidang Pengendalian Operasi. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok. Yusamanto mengakui telah memberikan dukungan penuh atas operasionalnya motor sampah itu. Surat permohonan yang disampaikan DKP juga sudah dilampirkan. “Kendaraan bermotor tersebut akan bergerak di jalan raya, makanya harus ada izin khusus dari kepolisian.” kata dia.Kendaraan tersebut. lanjut dia. secara prinsip tidak ada persoalan. Izin yang diterbitkan biasanya bersifat khusus, karena memang

fungsinya bukan untuk komersil, jadi berbeda dengan motor sejenis yang sudah mendapatkan izin. “Masalahnya, motor ini kalau dalam aturan hanya dapat beroperasi di desa-desa.” katanya.Sementara Ketua Komisi C DPRD Kota Depok. Edi Sitorus mengatakan, bila kendaraan motor sampah tersebut tidak dapat digunakan lantaran terbentur aturan kepolisian berarti DKP tidak mengkonsep program pengadaan motor sampah ini dengan baik. Ini murni kesalahan konsep. Mengapa sebelum mengkonsep program itu mereka tidak melihat aturan mainnya.” kata dia.Edy mengatakan, sebaiknya sebelum mengkonsep sebuah program DKP harus melihat aturan mainnya terlebih dahulu. “Jangan sampai kendaraan telah dibeli tapi tidak dapat digunakan. Mubazir.” katanya, (ck-26)

Warga Bulak Barat Minta Perbaikan Infrastruktur

Sampah di TPA Cipayung Sudah Melebihi Kapasitas

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 21/01/2011

DEPOK, (PRLM).- Warga RW 7 Kelurahan Bulak Barat Kecamatan Cipayung Kota Depok meminta pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Cipayung. Mereka menganggap sampah yang ada di TPA Cipayung sudah melebihi kapasitasnya sehingga mengganggu kesehatan masyarakat.

Ketua Forum Masyarakat Tolak TPA Cipayung, Asnawi, mengatakan mereka sebelumnya sudah menyampaikan surat mengenai tuntutan tersebut kepada Wali Kota Depok, Senin (17/1). Forum tersebut terdiri dari Ketua RT, RW, dan tokoh masyarakat setempat. “Kami memberi batas waktu kepada walikota sampai hari ini (Jumat, 21/1),” ujarnya di pertemuan antara warga di lokasi TPA Cipayung, Jumat (21/1).Menurut Asnawi, dalam surat tersebut warga menuntut kejelasan mengenai TPA Cipayung pada wali kota. Warga menganggap keberadaan TPA tersebut sudah mengganggu masyarakat karena menyebarkan bau yang tidak sedap. “Ibarat air dalam gelas, airnya sudah penuh dan meluber ke mana-mana,” kata dia.

Selain itu, Asnawi berkata, mereka juga meminta perhatian khusus dari pemerintah mengenai infrastruktur di sekitar TPA Cipayung. Infrastruktur tersebut meliputi bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. “Apalagi mobil kami sering dilewati truk pengangkut sampah, sehingga jalan menjadi sering bolong,” tuturnya.

Dia menambahkan, pemerintah juga seharusnya mulai memikirkan cara pengolahan sampah dengan profesional. Selama ini, pengolahan sampah di TPA masih dikerjakan secara amatir sehingga tidak optimal. Masalah TPA Cipayung sudah lama terjadi yaitu sejak tahun 1994. Saat itu, Depok masih menjadi kota administratif. Namun sampai saat ini masalah tersebut belum terselesaikan. (A-185/A-147)***

TPA Cipayung Depok Ditutup Warga

Sumber: http://news.okezone.com/22 Januari 2011

Marieska Harya Virdhani – Okezone

DEPOK – Sejak kemarin, Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) di Cipayung, Depok tak lagi berfungsi. Sebab, ratusan warga sekitar telah menutup TPA tersebut yang berlokasi di tengah pemukiman warga.Warga sudah tak tahan dengan kondisi lingkungan di sekitar TPA Cipayung yang sudah 10 tahun beroperasi. Warga pun menghalau dan menutup gerbang TPA dengan dinding batu dan melarang setiap truk sampah yang hendak membuang.

Koordinator Aksi yang juga warga Cipayung, Asnawi meminta pemerintah kota untuk memperhatikan nasib dan kesehatan warga yang setiap hari selama bertahun – tahun menghirup bau sampah yang tak sedap. Selain itu warga juga mengeluhkan kondisi jalan yang rusak parah di sekitar lingkungannya.

“Kami menunggu janji dan sikap wali kota, harusnya kami diperhatikan dan diutamakan karena tiap hari dilalui ratusan truk sampah. Kami ingin jalan diperbaiki, sarana kesehatan dilengkapi, sarana pendidikan juga,” katanya kepada wartawan, Sabtu (22/1/2011).

Sedikitnya terdapat 54 truk sampah milik Dinas Kebersihan setiap hari mengangkut sampah ke TPA Cipayung. Untuk mengurangi volume sampah, Pemerintah Kota Depok membangun 19 Unit Pengolahan Sampah (UPS).(ram)

Sumur Kotor, Warga Tuntut TPA Cipayung Ditutup

Sumber: http://id.news.yahoo.com/Liputan 6,  22 Januari 2011

Liputan6.com, Depok:  Sembari menggunakan kayu, besi, dan batu besar, puluhan warga Cipayung, Pancoranmas, Depok, Jawa Barat, baru-baru ini, memblokade akses jalan masuk menuju lokasi tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Cipayung.Hal itu dilakukan lantaran massa marah terhadap Pemerintah Kota Depok yang seolah tutup mata dan tidak peduli dampak pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dari TPA tersebut. Menurut Zainudin, tokoh masyarakat Cipayung, dampak yang ditimbulkan akibat tumpukan sampah selain bau busuk, TPA juga membuat air sumur warga tidak bersih dan berbau.

Kondisi tersebut diakui warga yang tinggal di sekitar TPA Cipayung sudah dirasakan sejak puluhan tahun. Warga menuntut Pemerintah Kota Depok segera menutup TPA tersebut.

Akibat blokade ini, selain truk pengangkut sampah tidak dapat beroperasi seperti biasanya, penumpukan sampah terjadi di sejumlah titik di Kota Depok. Adapun dalam sehari, sampah yang dibuang di TPA ini sebanyak 3.000 kubik. Tidak hanya sampah dari Depok, sampah dari Jakarta dan Bogor sebagian juga dibuang di lokasi ini. Warga mengancam akan terus beraksi hingga pemerintah kota menutup TPA Cipayung.(BJK/ANS)

Warga Tutup Jalan ke TPA Cipayung

Sumber:  http://www.wartakotalive.com/ 23 Januari 2011

Depok, Warta Kota

SEJUMLAH warga Kelurahan Cipayung, Kota Depok, menutup jalan masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Jumat (21/1) sekitar pukul 15.30. Tindakan ini dipicu kekecewaan mereka terhadap sikap Wali Kota Nur Mahmudi Isma’il yang tidak datang pada acara pertemuan hari itu.

Namun sejumlah warga lainnya menyesalkan penutupan jalan ini, karena bagi mereka TPA Cipayung adalah tempat mencari nafkah sehari-hari.

Tadinya warga yang menutup jalan masuk TPA Cipayung itu berharap wali kota datang dalam acara yang digelar di salah satu rumah makan di Jalan Raya Keadilan, Pancoranmas.

Warga yang berjumlah puluhan tersebut menunggu hingga pukul 15.00. Padahal, dalam pertemuan itu hadir jajaran pejabat teras Pemkot Depok, di antaranya, Asisten Pemerintahan Utuh Karang Topanesa, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Ulis Sumardi, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Yayan Ariyanto, Kepala Dinas Perhubungan Dindin Djaenuddin, Kepala Dinas Tata Kota dan Permukiman Rendra Pristoto, Kepala Dinas Kesehatan Hardiono, Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Abdul Haris, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Asep Roswanda, Kepala Dinas Pendidikan Farah Mulyati, Kepala Badan Lingkungan Hidup Rahmat Subagyo, dan Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah, Dody Setiadi.

Karena Wali Kota Depok tidak datang maka warga pun meninggalkan rumah makan tersebut lalu menuju jalan masuk TPA Cipayung untuk menutup jalan. Mereka kemudian menggunakan benda-benda seperti batu, batang pohon, atau besi panjang untuk menutup jalan ke TPA.

“Pak Wali yang menjanjikan pertemuan ini. Tapi Pak Wali tidak datang. Kami kecewa. Kami tidak ingin menutup TPA Cipayung, tapi karena Pak Wali tidak datang maka jalan ini kami tutup,” kata tokoh masyarakat Cipayung yang juga anggota Komisi C DPRD Kota Depok dari Fraksi Partai Golkar, Babai Suhaemi.

Tokoh masyarakat Cipayung lainnya, Zainuddin, menyatakan bahwa tuntutan warga sebenarnya sederhana. Warga menginginkan penataan lingkungan di Kelurahan Cipayung dan sebagian Pasirputih, baik jalan lingkungan, drainase, maupun prasarana lainnya.

Mereka juga meminta adanya pemasangan penerangan jalan di dua wilayah itu, penyediaan klinik khusus, makan gratis empat sehat lima sempurna bagi petugas TPA, penyediaan dua orang petugas pengangkut sampah yang mengangkat sampah di setiap RW, dan masih banyak lagi.

Asisten Pemerintahan Utuh Karang Topanesa menyatakan bahwa Wali Kota Depok tidak hadir karena banyak pekerjaan dan Jumat siang dalam perjalanan, namun terjebak macet. “Kami berharap ada pertemuan untuk lebih tajam membahas keinginan warga. Kami akan penuhi tuntutan warga,” ujarnya.

Sementara itu, pesapon Sayanih menyesalkan tindakan sebagaian warga Kelurahan Cipayung menutup jalan ke TPA itu. Sebab TPA itu merupakan sumber nafkah pesapon yang merupakan warga setempat. “Pesapon itu jumlahnya 100 orang lebih. Kami sangat menyesalkan. Kalau ditutup, kami harus cari uang di mana?” katanyanya.

Dikatakan Sayanih, tiap tahun gaji pesapon naik. Gaji tersebut dirasakan cukup untuk menghidupi keluarga. Tidak hanya gaji, pelayanan kesehatan dan asuransi kecelakaan juga telah diberikan Pemkot Depok.

Ketua Gerakan Masyarakat Peduli TPA Cipayung, Abdul Rosid, meminta agar Babai Suhaimi tidak memolitisasi TPA Cipayung. Sebab, TPA Cipayung merupakan sumber penghasilan warga sekitarnya.

“Kami menyesalkan tindakan anggota dewan itu dan kelompoknya yang menutup TPA,” ucapnya. (Dodi Hasanuddin)

Kesal Walikota Tak Datang, Warga Tutup Jalan TPA Cipayung

Sumber: http://www.republika.co.id/23 Januari 2011

REPUBLIKA.CO.ID,CIPAYUNG – Warga yang telah menanti kedatangan Walikota Depok akhirnya menutup jalan menuju TPA Cipayung karena merasa kesal dengan Walikota yang tidak menepati janjinya. Diskusi yang tadinya akan digelar pada Jumat (21/1) siang akhirnya tidak jadi dilaksanakan karena Walikota berhalangan hadir.

H. Asnawi, ketua forum penolakan TPA Cipayung, mengatakan bahwa warga merasa kecewa dengan sikap Walikota. “Kami sudah datang ke sini sesuai dengan yang diinstruksikan Walikota. Pada waktu dan tempat yang beliau katakan. Namun, kami sudah menunggu hingga pukul tiga beliau tidak datang-datang juga,” ucapnya pada Minggu (23/1). Akhirnya warga memutuskan untuk memblokir jalan menuju TPA Cipayung dengan alat-alat seadanya sampai hari ini.

Pada pertemuan tersebut hadir beberapa kepala dinas yang terkait masalah ini, seperti Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Ulis Sumardi, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Yayan Ariyanto, Kepala Dinas Kesehatan Hardiono, dan Kepala Dinas Tata Kota dan Permukiman Rendra Pristoto. Namun orang yang diharapkan untuk datang tidak terlihat di antara petinggi-petinggi Pemerintah Kota tersebut.

Asnawi mengatakan, masyarakat melihat bahwa TPA seluas 13 hektar ini hanya dipakai sekadar untuk tempat pembuangan saja. Pemerintah tidak memperhatikan kondisi di sekitar TPA. “Di sini bukan hutan, tetapi ada masyarakat yang hidup di sekelilingnya,” ujarnya. “Kalau berbicara dengan dinas saja sudah sering dilakukan, namun tidak ada realisasinya. Sekarang kami ingin berbicara dengan Walikota, tapi beliau tidak mau menemui kami. Masalahnya tidak akan selasai kalau begini,”

Permintaan masyarakat sebenarnya tidak muluk-muluk. Mereka ingin jalan di daerah Cipayung diperbaiki dan daerah di sekitar TPA diperbaiki infrastrukturnya seperti penerangan jalan dan drainase.

Masyarakat juga sudah meminta untuk diberi fasilitas klinik kesehatan gratis, namun tidak ada realisasinya. Begitu juga dengan program beasiswa yang diberikan pemerintah kepada masyarakat Cipayung. “Bagaimana mau menyelesaikan masalah ini, program yang sudah dianggarkan saja tidak dilaksanakan,“ ujarnya lagi.

Masyarakat akan tetap menutup jalan menuju TPA sampai ada kepastian dari Walikota.

Red: Didi Purwadi
Rep: Friska Yolandha

Kado Sampah Sambut Akhir Jabatan Nur Mahmudi

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ 23 Januari 2011
Penulis : Kisar Rajaguguk

DEPOK–MICOM: Empat hari menjelang akhir jabatan Nur Mahmudi Ismail sebagai Wali Kota pada Rabu (26/1), sampah menumpuk di seluruh bagian wilayah Kota Depok. Pasalnya, seluruh truk angkutan sampah mogok beroperasi.

Mogoknya truk angkutan sampah dikarenakan warga menutup Tempat Pembuangan Akhir Sampah Cipayung, yang selama ini menjadi andalan pemerintah kota. Akibat penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Cipayung, Pancoran Mas, Kota Depok, bau menyengat ke mana-mana.

Kepala Bidang Kebersihan dan Ketertiban Dinas Koperasi UMKM Pasar Kota Depok Asep Sumiharja mengaku, tiga hari terakhir ini, sejak Jumat (21/1) hingga Minggu (23/1), 14 unit truk angkutan sampah tidak bisa beroperasi karena ditutupnya TPA sampah Cipayung. Akibatnya, 708 meter kubik atau 177 ton sampah tidak bisa dibuang.

“Sekarang, ratusan kubik sampah parkir di halaman pasar,” kata Asep kepada Media Indonesia di Depok, Minggu (23/1).

Beberapa pasar dijejali sampah telantar itu. Pasar Cisalak sebanyak 180 meter kubik sampah, Pasar Tugu (45 meter kubik), Pasar Sukatani (18 meter kubik), Pasar Agung (90 meter kubik), Pasar Musi (75 meter kubik), dan Pasar Kemiri Muka (300 meter kubik sampah).

Asep sangat khawatir, kalau TPA Sampah Cipayung terus ditutup, sampah-sampah tersebut akan menutupi halaman pasar. “Hal ini dikarenakan halaman pasar dijadikan sebagai tempat penampungan sampah sementara. Sedangkan, halaman pasar tidak luas, sehingga nantinya tidak mampu untuk menampung volume sampah yang meningkat tiap hari,” ucapnya.

Penutupan TPA Sampah Cipayung, kata dia, juga berdampak terhadap warga pedesaan dan perkotaan di 63 kelurahan, 11 kecamatan. Sampah-sampah di pedesaan dan perumahan saat ini pun menumpuk di tong sampah, lantaran puluhan truk angkutan sampah milik Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok itu berhenti beroperasi

Penutupan TPA sampah Cipayung berawal dari protes warga di lingkungan RW 007 Kelurahan Bulak Barat, Kecamatan Cipayung, Kota Depok. Protes itu dilakukan terkait buruknya kinerja pemerintah kota dalam hal penanganan sampah TPA Cipayung.

Ketua Forum Masyarakat Tolak TPA Cipayung Asnawi mengatakan mereka sebelumnya sudah menyampaikan surat mengenai tuntutan tersebut kepada Wali Kota Depok, Senin (17/1). Forum tersebut terdiri dari Ketua RT, RW, dan tokoh masyarakat setempat meminta tanggung jawab Nur Mahmudi atas kerusakan lingkungan yang ditimbulkan sampah TPA Cipayung. (*/OL-11)

Kasus TPA Hambat Pelantikan

Sumber: http://www.wartakota.co.id/24 Januari 2011

Warta Kota/Dodi Hasanuddin

Depok, Warta Kota

HINGGA Minggu (23/1), jalan masuk menuju TPA Cipayung masih ditutup warga. Besi panjang, batu-batuan, batang pohon, batang bambu masih terlihat berdiri dan melintang kokoh di jalan masuk ke satu-satunya TPA di Kota Depok itu.

Anggota Komisi C DPRD Kota Depok dari Fraksi PKS, Muttaqin menduga kasus penutupan jalan ke TPA Cipayung berindikasi disengaja untuk menghambat rencana pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok terpilih pada 26 Januari 2011.

“Saya mendengar penutupan jalan TPA itu sudah direncanakan sejak sebulan yang lalu. Ini upaya menghambat pelantikan,” katanya, kemarin.

Dikatakan Muttaqin, dengan membuat jalan TPA ditutup maka masyarakat kesusahan membuang sampah, sehingga warga resah. Akhirnya masyarakat menyalahkan Pemkot Depok karena tidak bisa menangani masalah sampah.

Namun tuduhan itu dibantah tokoh masyarakat Cipayung, Zainuddin. Ia menyatakan bahwa tidak ada unsur politik dari penutupan jalan TPA. Penutupan itu dilakukan karena Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il tidak datang pada saat pertemuan yang dilakukan Jumat (21/1)

Pantauan Warta Kota, penutupan ruas jalan ke TPA Cipayung bukan hanya terjadi di mulut gerbang TPA, namun terlihat juga dibeberapa ruas jalan menuju lokasi TPA. Ada warga yang meletakkan bongkahan batu besar dan bambu. Ada juga yang melintangkan kandang ayam dan sofa tak terpakai.

Penutupan jalan itu membuat puluhan truk pengangkut sampah terpaksa parkir di dalam TPA. “Penutupan jalan masuk akan kami lakukan hingga Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il mau menemui kami untuk membahas tuntutan warga,” kata tokoh masyarakat Cipayung, Zainuddin.

Menurut Zainuddin, hanya itulah satu-satunya cara agar warga mau menyingkirkan bongkasan batu, besi panjang dan batang bambu di jalan masuk TPA. “Kalau saja Pak Wali datang walaupun hanya 10 menit dan memerintahkan bawahannya untuk mengimplementasikan tuntutan warga maka penutupan tidak akan terjadi,” paparnya.

Zainuddin menyesalkan sikap Wali Kota Depok tersebut. Padahal ia mempunyai peran dalam terciptanya jalan TPA Cipayung tersebut. Bahkan ia harus merelakan tanahnya dibeli Pemkot Depok untuk jalan itu.

“Saya kurang apa lagi. Tuntutan warga itu relistis. Contohnya tidak adanya PJU. Itu menyebabkan di sepanjang jalan TPA itu banyak yang menggunakan narkoba. Padahal mereka itu warga pendatang, tapi yang jadi jelek kampung di sini,” tandasnya.

Sementara itu, sejumlah warga Blok Rambutan dan Blok Sawo, Kampung Bulak Barat, Cipayung, Pancoranmas, menyesalkan tindakan sejumlah warga Cipayung yang menutup jalan masuk TPA Cipayung, apalagi hingga menutup TPA tersebut.

“Saya warga di sekitar TPA menyesalkan penutupan jalan masuk. Untuk apa ditutup, yang untung dari penutupan itu orang-orang yang punya kepentingan,” kata Sujadi (40) warga Blok Sawo, di TPA Cipayung, pekan lalu.

Menurut Sujadi, warga di sekitar TPA umumnya sudah terbiasa dengan kondisi tempat pembuangan akhir itu. Bahkan sampah tersebut menjadi mata pencaharian warga. “Peristiwa penutupan itu dilakukan sedari dulu dan dari berbagai kelompok. Kami ini warga kecil sepertinya menjadi alat saja. Setelah ada kompromi ya sudah tidak ada gerakan lagi,” paparnya.

Marhamah (45), warga Blok Sawo, justru tidak mengetahui adanya pemblokiran jalan masuk TPA. “Saya tidak tahu ada penutupan itu. Paling dibuka lagi. Dulu juga begitu, ditutup, terus dibuka lagi. Gak aneh deh,” tandasnya.

Pengganti

Mantan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Cipayung, Pedro John, juga menyesalkan penutupan jalan ke TPA. Sebab TPA memiliki banyak arti bagi warga setempat dan warga Kota Depok. “Saya mendukung tuntutan sejumlah warga itu. Saya juga setuju jika TPA Cipayung ditutup. Tapi kalau mau ditutup harus ada dulu TPA pengganti atau yang baru,” ujarnya.

Komandan Pasukan Inti Pemuda Pancasila (PP) Kota Depok itu juga menyesalkan sikap sejumlah warga itu. Apalagi peristiwa itu didalangi oleh anggota Komisi C DPRD Kota Depok dari Fraksi Golkar, Babai Suhaimi. Seharusnya warga dan anggota dewan itu menyampaikan aspirasinya secara elegan. Terutama Babai, sebagai anggota Badan anggaran, jika dia mengaku sebagai wakil rakyat maka hal itu bisa disampaikan dalam rapat komisi dan badan anggaran, sehingga tuntutan warga cepat terealisasi dengan dimasukkannya ke dalam APBD 2011.

“Saya ini sekolah di bahwa pohon bambu, tapi saya tahu cara menyampaikan aspirasi yang benar. Pada saat pertemuan itu, semua kepala dinas hadir, kurang apalagi. Harusnya anggota dewan itu mencarikan solusi,” imbuhnya.

Ia berharap penutupan jalan masuk TPA ditelaah kembali oleh sejumlah warga tersebut. Sebab ini menyangkut kepentingan luas masyarakat Depok. Kota Depok saat ini sudah kondusif. Tindakan itu telah membuat masyarakat Depok resah. (Dodi Hasanuddin)

Upaya Penutupan TPA Cipayung Berlanjut

Penulis: Andy Riza Hidayat | Editor: Glori K. Wadrianto
Sumber:  http://megapolitan.kompas.com/ 24 Januari 2011

DEPOK, KOMPAS.com – Pagi ini, (Senin, 24/1/2011) penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Kota Depok masih berlangsung. Penutupan satu-satunya TPA di Depok ini terjadi sejak Jumat lalu.

Warga marah karena gagal berdialog dengan Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail. Sesungguhnya, tokoh masyarakat Cipayung Zulkarnain, hingga pagi ini masih membuka kesempatan berunding dengan Pemerintah Kota Depok.

“Kalau Pemerintah sepakat dengan 12 tuntutan kami, jalan ke TPA Cipayung akan kami buka. Kalau saja Wali kota mau berdialog dengan kami mengenai soal ini Jumat lalu, warga tidak akan menutup akses jalan ke TPA,” tutur Zainudin.

Warga menutup akses jalan TPA Cipayung dengan besi, kayu, botol kosong, batu, dan ban bekas. Warga juga mendirikan poskos di akses jalan ke TPA Cipayung. “Dari semalam, pagi ini, sampai siang, terus berkomunikasi dengan kami. Warga juga tidak ingin persoalan ini berlarut-larut,” katanya.

Februari 2011

Sampah Bikin Resah Warga BSI

Sumber: http://www.wartakota.co.id/ 1 Februari 2011

Depok, Warta Kota/Dodi Hasanuddin

SAMPAH di kompleks Perumahan Bumi Sawangan Indah (BSI), Pengasinan, Sawangan, Kota Depok, tak diangkut petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok selama sebulan. Kondisi ini membuat warga setempat resah.

“Sudah hampir sebulan sampah tidak diangkut, sehingga terus menumpuk. Perumahan jadi terlihat kotor. Biasanya truk sampah suka datang ngambil sampah,” kata Ny Basir (36), warga BSI, Senin (30/1).

Dia mengatakan, sampah terlihat menumpuk di tempat-tempat sampah di depan setiap rumah. Penumpukan sampah itu membuat banyak lalat beterbangan dan menebarkan bau tak sedap.

Hal senada disampaikan Jono (45). Dia menambahkan, awalnya sampah diangkut seminggu dua kali, lalu berubah menjadi seminggu sekali.

“Dalam kurun tiga tahun ini sampah diangkut seminggu sekali. Tapi hampir sebulan belakangan ini truk sampah-tak datang-datang. Memang ada pemberitahuan bahwa truk sampah rusak sehingga tidak bisa digunakan. Jangan-jangan ini dampak dari penutupan TPA Cipayung,” katanya.

Dikatakan Jono, semua warga BSI membayar iuran bulanan. Di dalamnya termasuk iuran sampah. “Iuran bulanan itu bervariasi. Ada yang membayar Rp 50.000, ada juga yang Rp 60.000. Untuk (pengangkutan) sampah, iurannya Rp 20.000-Rp 25.000,” ujarnya.

Kepala Bidang Kebersihan pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok, Rahmat Hidayat, menyatakan belum mengetahui bahwa sampah di BSI tidak diangkut selama hampir sebulan. “Kami akan mengecek dulu. Perumahan BSI itu itu merupakan tanggung jawab wilayah Sawangan,” ujarnya. (Dodi Hasanuddin)

Sampah di Maharaja Diurus Warga

Republika, 01 Februari  2011 
Sumber: http://bataviase.co.id/node/552835

SAWANGAN – Masalah penumpukan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) Kompleks Depok Maharaja, Sawangan, mendapat tanggapan dari pihak developer. Mereka menyatakan telah menyerahkan kewenangan untuk mengurus sampah kepada warga Kompleks Maharaja.

“Sebenarnya masalah sampah sudah kami serahkan kepada warga masing-masing,” ujar Yayan Herya-na, salah satu staf di Kantor Pemasaran Depok Maharaja, Senin (31/1).

Penyerahan tersebut adalah dalam bentuk tanggung jawab pengumpul dari rumah warga menuju TPS kompleks yang terletak tak jauh dari blok G. “Kami membayar orang untuk mengangkut sampah dari rumah ke TPS. Barulah developer yang men-gurus pengangkutan dari TPS ke Cipayung,” ungkap Novel, warga Blok D.

Menurut Yayan, untuk pengangkutan dari TPS, memang masih diserahkan kepada developer yang bekerja sama dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Ketika TPA Cipayung ditutup warga, sampah menumpuk di TPS kompleks selama beberapa hari.

“Masalahnya TPS tidak hanya menampung sampah dari warga saja, melainkan juga dari warga yang tinggal di luar kompleks. Makanya setiap hari sampahnya menumpuk,” kata Yayan lagi.

Pihak developer sebenarnya sudah bertemu dengan warga. Mereka sudah bertemu untuk mencari solusi, yaitu dengan membangun bak sampah di setiap RT. “Sekarang tinggal realisasi-nya saja seperti apa. Apakah pembangunan bak sampah ini akan dilakukan oleh kami atau oleh warga.”

Sejak ditutupnya TPA Cipayung oleh warga, sampah-sampah di Kompleks Maharaja, sempat terbengkalai. Sampah yang menumpuk menimbulkan bau menyengat yang sangat mengganggu warga.

Karena penumpukan sampah di TPS, maka angin membawa bau tak sedap itu ke rumah-rumah, khususnya Blok F dan G. “Kadang-kadang kalau sampah menumpuk, baunya suka sampai ke rumah,” ujar seorang warga blok G.

“Kadang-kadang kalau hujan, baunya sampai ke rumah,” ujar Ruswanti, seorang warga di blok G, yang terletak tidak jauh dari TPS.

TPA Cipayung ditutup se-jak Sabtu (22/1). “Selain bikin bau, sampah yang menumpuk juga menghalangi jalan,” ujar Soleh, salah seorang pegawai Dinas Kebersihan dan Pertamanan yang bekerja mengankut sampah dari TPS Kompleks Depok Maharaja.

Rojak, pengangkut sampah lain menambahkan, sampah-sampah yang ditampung di TPS ini bukan hanya dari kompleks. Tetapi, juga dari warga kampung yang terletak bersebelahan dengan kompleks. “Kalau hanya sampah-sampah dari kompleks, tidak akan sebanyak ini,” ujar Rojak.

Rojak berkata, seharusnya di setiap kompleks ada bak penampungan sampah agar sampah dapat dengan mudah diangkut dan tidak menumpuk di satu tempat. cO2 wt maghdroh yenny

Warga Kembali Tutup TPS di Depok

Kompas – 02 Februari 2011
Sumber: http://digilib-ampl.net/ 

Depok, Kompas – Setelah penutupan Tempat Pembuangan Akhir Cipayung, warga kembali menutup tempat pembuangan sementara atau TPS di Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Warga menutup TPS di Kelurahan Sawangan Baru dengan kayu dan spanduk dari plastik bertuliskan ”Tempat Pembuangan Sampah Ditutup, Kesepakatan Masyarakat Sawangan Baru”.

”Persoalan ini terjadi karena warga kesulitan mencari lahan untuk pendirian unit pengolahan sampah atau UPS. Warga Sawangan Baru ingin memanfaatkan area sekitar TPS milik warga Perumahan Bukit Rivaria Sawangan. Namun, sebagian warga perumahan tersebut menolaknya,” tutur Syamsudin, Lurah Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, Selasa (1/2) di Depok, Jawa Barat.

Perundingan antara warga Perumahan Rivaria dan warga Kelurahan Sawangan Baru tidak dapat mencapai titik temu. Akhirnya warga marah dan menutup TPS Sawangan Baru.

Kesulitan warga mencari lahan untuk pendirian UPS, kata Syamsudin, terjadi karena tidak ada warga yang mau menjual tanahnya. Warga masih beranggapan keberadaan UPS akan mengotori lingkungan mereka.

Fuad (40), warga Perumahan Rivaria, mengatakan, TPS tersebut sudah digunakan sejak tahun 1990-an dan sejauh ini tidak ada persoalan. Namun, persoalan muncul ketika ada keinginan warga Kelurahan Sawangan Baru hendak mendirikan UPS.

Ahmad Masroni Wijaya (30), warga Perumahan Rivaria, mengaku, persoalan ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Warga Perumahan Rivaria sempat menolak pendirian UPS di belakang perumahan. Menurutnya, belum ada sosialisasi kepada warga untuk menerima pembangunan UPS.

Selama penutupan beberapa hari ini, kata Roni, belum ada persoalan sampah di rumahnya. Petugas pengangkut sampah secara rutin tetap mengangkut sampah.

”Iuran bulanan tetap saya bayar, petugas juga mengangkut sampah setiap hari. Saya tidak tahu mereka membuang ke mana,” katanya.

Tangerang

Terkait dengan kemungkinan bertambahnya volume sampah yang dihasilkan warganya, Pemerintah Kota Tangerang secara bertahap akan memperluas kawasan TPA dari 13 hektar menjadi 32 hektar.

”Perluasan ini menambah daya tampung sampah yang dihasilkan warga dan industri di Kota Tangerang,” kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemerinah Kota Tangerang Mayoris Namaga.

Lahan seluas 32 hektar itu, kata Mayoris, tak sepenuhnya digunakan menampung sampah, tetapi akan dimanfaatkan untuk lahan penghijauan. ”Konsep yang akan dibangun adalah TPA ramah lingkungan. Sekaligus TPA akan menjadi taman dan hutan kota,” tutur Mayoris.

Selanjutnya, pengolahan sampah mendaur ulang sampah organik menjadi kompos. (NDY/PIN)

Puluhan Miliar APBD Kebersihan Depok Terbuang Sia-Sia

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ 13 Februari 2011

DEPOK–MICOM: Puluhan miliar dana APBD Kota Depok untuk pembangunan 30 unit pengelolaan sampah (UPS) terbuang sia-sia. Pasalnya, UPS yang dibangun Pemerintah Kota Depok dengan dana APBD sebesar Rp30 miliar itu tak dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Hal itu ditegaskan anggota Komisi Infrastruktur Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok Selamet Riyadi dari Fraksi PKB, dan Nurhasim Fraksi Partai Golkar, Minggu (13/2).

“Proyek UPS telah menyimpang dari pekerjaan yang semestinya harus dioperasikan untuk tempat pemprosesan dan pengolahan akhir sampah sangat jauh dari yang harapkan, mesin UPS untuk produksi sampah semuanya rusak,” kata dia kepada Media Indonesia di Depok, Minggu.

Menurut dia, keadaan 30 UPS semakin semrawut dan sampah semakin banyak bertumpuk. Hal itu disebabkan banyaknya sampah pasar dan rumah tangga yang sudah tidak dapat diolah lagi.

Contoh, pembangunan UPS Pasar Cisalak, Cimanggis. UPS ini bagaikan barang rongsokan tak berharga.

Tiga buah mesin penggiling, pencacah sampah, karatan dan beberapa hilang. Selain itu, konstruksi UPS ukuran 10×8 meter yang terletak di ujung timur Pasar Cisalak itu juga sudah rusak dan ‘bahkan ‘tidak berbentuk lagi.

Contoh lainnya, UPS Jalan Merdeka I, Kelurahan Abadi Jaya, Sukma Jaya. Selain rusak parah, keberadaan UPS yang dibangun Dinas Kebersihan Pertamanan Kota Depok tahun 2008 ini sangat merusak kesehatan karena lokasi pembuangan sampah sangat dekat dengan lingkungan perumahan sekitar.

“Warga sekitar menolak dijadikan tempat pembangunan tempat pembuangan sampah karena rumah mereka dekat dengan tempat sampah tersebut,” katanya.

Lebih lanjut, Selamet mengatakan pembangunan UPS ini merupakan salah satu alternatif untuk mengantisipasi keterbatasan lahan yang semakin kritis di TPA Cipayung, Pancoran Mas.

Pembangunan UPS juga berdasarkan Undang–Undang nomor 18 tahun 2008 yang isinya kota atau kabupaten di Indonesia harus punya tempat pengolahan sampah. “Namun, pemerintah daerah tidak boleh seenaknya membangun UPS dengan asal-asalan,” tukasnya.

Senada dengan Selamet Riyadi, Nurhasim yang juga dari komisi infrastruktur DPRD Kota Depok. Ia menuding sejumlah pejabat Dinas Kebersihan Pertamanan Kota Depok membangun gurita korupsi hingga merugikan keuangan negara sebesar Rp30 miliar. (KG/OL-11)

Kreasi Rumah Sampah Pelajar SMA Negeri 5 Depok yang Menuai Pujian Peneliti Jepang

Indo Pos,  21 Februari  2011

Sumber: http://bataviase.co.id/node/575339  

Mampu Redam Panas dan Suara dengan Atap Sabut Kelapa

Sekilas rumah sampah initak nyaman. Bentuknyaterlalu sederhana. Tapisekejap pemikiran itupupus, saat merasakankenyamanan berada dalamrumah sampah ini. Bagaimana rasanya?

DARI sudut pandang arsitektur, rumah sampah ini dipastikan masuk kategori unik. Bukan sekedar bentuknya yang tidak lazim. Namun bahan-bahannya terbilang sangat sederhana. Dengan dimensi rumah 4,8 meter, panjang sisi dinding 1,70 meter dan tinggi tiang 2,15 meter, sekilas terasa tidak nyaman. Relatif sempit untuk menampung 5 orang lebih.

Apalagi tanpa ventilasi yang cukup, bisa terasa panas. “Kalau masuk terasa berbeda. Coba saja masuk. Tidak seperti yang dirasakan tadi,” tantang M Aqil Mustaq-bal, pengasuh Kelompok Ilmiah Remaja SMA 5 Kota Depok ini. Suasana nyaman itu, ujar dia, bukan sekedar dari penataan sirkulasi udara ruangan yang baik. Ada penambahan bahan baku pada bagian atapnya yang berbahan utama kaleng minuman bekas.

Pada bagian atap itu dilemparkan sabut kelapa dengan ketebalan sekitar 5 cm lebih. Sabut kelapa ilu efektif meredam panas mataharisekaligus menekan noise dari suara hujan. Sabut kelapa itu pun, lanjut Aqil, bukan sekedar peredam panas dan suara. Bermanfaat pula sebagai pengatur aliran air yang jatuh di bagian atap. Sehingga tidak merembes ke bagian dalam dan mengalir ke luar bangunan. “Pada bagian tengah atapnya diberikan ketebalan sabut lebih dari yang lainnya. Makanya dari kejauhan tidak terkesan miring atapnya,” tuturnya.

Lebih rinci Aqil menyebutkan, bahan baku rumah ini mayoritas adalah kaleng minuman bekas. Ditambah kayu bekas dan triplek bekas. Semua berasal dari lingkungan sekolah dan rumah warga. Untuk tiangnya menggunakan kayu-kayu bekas yang diambil dari kursi dan meja sekolah. Sedangkan tripleknya berasal dari alternit bangunan sekolah yang tidak terpakai. “Ini benar-benar rumah sampah. Bukannya rumah berbahan baku pabrikan atau lainnya.” ucap pendamping pelajar saat semilokadi Jepang beberapa waktu lalu itu.

Proses terumit dari pembangunan rumah sampah ini adalah melakukan penyesuaian terhadap lokasi bangunan. Karena secara teknis bentuk rumah ini segilima dengan atap yang juga bersegi sama. “Kalau bahasa ilmiahnya bentuk isokahedron. Artinya segilima yang terpotong,” ungkap mahasiswa teknik metalurgi UI ini.

Atap kaleng bekas itu dirangkil menggunakan lem. Disambung satu persatu lembaran kaleng minumnan yang sudah dipotong-potong. Penyusunan mengikuti bentuk media yang bakal ditempelkan kaleng tersebut. “Jikadinominalkan rumah ini hanya menghabiskan sekitar Rp S juta. Dengan tiga pintu yang engselnya dari kayu sapu ijuk,” celetuknya lantas tertawa. Rencananya bangunan yang sudah berdiri dan teruji tahan lingkungan itu digunakan sebagai kantor KIR SMA 5 Kota Depok. Dengan melakukan peraikan pada sebagian sisinya, untuk lebih nyaman. ()

Depok Kampanye 3R di Tiap Sekolah

Marieska Harya Virdhani

Sumber: http://kampus.okezone.com/  21 Februari 2011 

DEPOK – Istilah 3R, atau Recycle, Reduce, dan Reuse, saat ini sudah tak asing lagi didengar. Hal itulah yang dimanfaatkan Pemerintah Kota Depok untuk menggalakkan semboyan tersebut di masyarakat.

Tahap awal, dimulai dari setiap sekolah di Depok. SMAN 5 Sawangan Depok pun ditunjuk sebagai pilot project. Sebab, siswa ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 5 Depok berhasil mengharumkan nama Depok di Negeri Sakura, yakni Jepang, dengan masuk seleksi perlombaan mengolah sampah. Dengan mendaur ulang kaleng–kaleng bekas, SMAN 5 Sawangan Depok berhasil membuat rumah kaleng berbentuk segi lima yang akan digunakan sebagai Lab Station, atau tempat diskusi.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail bercita–cita, setelah sekolah berhasil melaksanakan 3R, maka akan dibentuk satuan tugas (satgas) pemilahan sampah oleh para pelajar. Sehingga, tak satu pun sampah dibuang ke luar, namun dimanfaatkan sepenuhnya di dalam sekolah menjadi nilai ekonomis.

“Para pelajar, OSIS, ataupun KIR, bisa bermitra dengan pengumpul sampah atau pemulung, nanti mereka yang mengambil sampah, satgas tugasnya memilah sampah, nanti bisa dijadikan kompos, atau produk daur ulang,” ujarnya kepada wartawan, Senin (21/02/2011).

Nur Mahmudi dengan tegas mengatakan, pembentukan sistem untuk mengatasi masalah persampahan bukan untuk meraih Piala Adipura, melainkan murni mengajak masyarakat membudayakan tidak membuang sampah sembarangan.

“Dalam kurikulum lokal pun, kita sudah memasukkan pemilahan sampah kedalam mata pelajaran sendiri, yakni mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PELH),” katanya.

Nur Mahmudi mencontohkan, sampah dari sekolah dapat dibuat kerajinan tangan atau suvenir seperti bunga, becak, pesawat, pigura foto, dan lain-lain. Penggunaan kembali barang organik dapat membantu mengurangi permasalahan sampah.

“Saya sedang berupaya sekuat tenaga membangun sistem pengelolaan sampah dari dasar. Sehingga kita tidak perlu lagi ketakutan kalau sampai TPA Cipayung Depok ditutup kerena overload,” kata Nur Mahmudi menandaskan. (rfa)(rhs)

Kepergok Buang Sampah, Ditangkap

Sumber: http://www.wartakota.co.id/ 21 Februari 2011  

Depok, Warta Kota

PEMERINTAH Kota Depok akan memberlakukan tindakan tegas bagi warga yang membuang sampah sembarangan. Tindakan tegas itu berupa penangkapan warga yang ketangkap tangan melakukan perbuatan tercela tersebut.

“Sesuai dengan Perda K3 maka pembuang sampah dapat ditangkap. Sanksinya ada dua pilihan, yakni proses hukum atau menjadi sukarelawan memilah sampah,” kata Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il di SMAN 5 Depok, Sabtu (19/2).

Menurut Nur, sukarelawan tersebut akan bergabung dalam satuan tugas (satgas) sampah yang akan dibentuk di setiap rukun warga (RW). Mereka bertugas menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah sesuai dengan kategorinya, yakni sampah organik dan an organik.

Kemudian juga membuat kompos untuk sampah organik serta lubang biopori. Selain hal itu, satgas sampah dan sukarelawan menjalin kerjasama dengan pemulung. Dengan begitu sampah anorganik dapat dimanfaatkan oleh pemulung tersebut. Contohnya sampah plastik dan beling bisa diberikan kepada pemulung.

“Bila metode itu berhasil maka konsep sampah nol di setiap lingkungan dapat berjalan. Sehingga diharapkan sedikit sampah yang dibuang ke Unit Pengelolaan Sampah (UPS) maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” imbuhnya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Depok dari Fraksi PKS, Mutaqin mendukung upaya Pemkot Depok membiasakan membuang sampah pada tempatnya. “Menjaga kebersihan lingkungan juga merupakkan tanggungjawab masyarakat. Karena itu peran serta masyarakat harus dipacu,” ujarnya. (Dodi Hasanuddin)

Wawali Imbau Masyarakat Dilarang Bakar Sampah

Sumber: http://www.harianpelita.com/ 21 Februari 2011  

Depok, Pelita

Wakil Walikota Depok, Idris Abdul Shomad mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah karena akan mengurangi penilaian adipura,Jangan pernah sekalipun membakar sampah karena akan mengurangi penilaian. Buanglah sampah pada tempatnya. tegas Idris Abdul Shomad saat melakukan kunjungan ke beberapa tempat yang menjadi lokasi penilaian Adipura di Pasar Cisalak, Cimanggis bersama Kepala BLH Depok, Rahmat Subagyo, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Ulis Sumardi, Kepala Dinas Pasar & UKM, Herman Hidayat dan Camat Cimanggis Agus Gunanto, Sabtu (19/2).

Wakil Walikota juga meminta kepada para pedagang untuk selalu menjaga kebersihan demi mendukung peraihan Adipura.Saya minta dukungan masyarakat untuk selalu membersihkan saluran air dan membuang sampah pada tempat. Tampa adanya dukungan dari semua pihak, Depok tidak bisa meraih Adipura,ujar Idris.

Peninjauan dilanjutkan ke SDN Jalan Nangka, Cimanggis dan SDN Sukmajaya. Di dua sekolah ini Wakil Walikota sempat menguji siswa dengan memberikan makanan ringan untuk melihat apakah sampahnya di buang ke tempat sampah atau dibiarkan tercecer dihalaman sekolah.Terima kasih kepada para siswa yang telah sadar untuk membuang sampah ke tempatnya serta telah bisa memilah sampah tersebut. Semoga dengan telah tumbuhnya kesadaran membuang dan memilah sampah, Adipura dapat kita raih. Tetapi hal yang perlu kita ingat bahwa adipura bukanlah tujuan utama tapi sasaran bagi kita. Tujuan utama kita adalah menciptakan Depok yang teduh, tidak ada sampah dan banyak penghijauan. Dengan terwujudnya tujuan utma kita maka secara otomatis sasaran dapat kita genggam ujar Wakil Walikota.(ck26)

Warga Tutup UPS Sawangan

Sumber:  http://iskandarhadji.blogspot.com/ 23 Februari 2011

DEPOK, Warga Komplek perumahan Bukit Rivaria, Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat (Jabar) menutup paksa hanggar Unit Pengelolaan Sampah (UPS) di wilayah komplek perumahan tersebut. Penutupan sudah berlangsung selama dua minggu. Warga menganggap UPS tersebut sudah tidak layak digunakan karena sampah yang diolah melebihi kapasitas. “Kita dengan berat hati menutup UPS ini. Sebab, UPS tidak mampu mengelah sampah secara tuntas sehingga masih banyak sampah tersimpan dalam hanggar. Sampah yang tersimpan tersebut menimbulkan bau tak sedap,” kata Ketua RT003/RW04, Saiful Bahri, Rabu (23/2).

Penutupan UPS merupakan keputusan final yang diambil secara musyawarah antara tokoh masyarakat dan warga. Warga tidak akan membuka UPS tersebut sebelum ada kesepakatan dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan PT Abadi Mukti sebagai pengembang perumahan. “Penutupan ini tidak memiliki tenggat waktu. Selama belum ada kesepakatan mengenai pengadaan UPS baru di Rivaria penutupan akan terus dilakukan. Sekarang tinggal tunggu keputusan dari pengembangnya PT Abadi Mukti,” terang Saiful.

UPS yang berokasi di komplek Bukit Rivaria ini hanya memiliki luas 280 meter. Namun, dipaksa mengolah sampah dengan kapasitas lebih banyak. Saiful menuturkan, keberadaan UPS sangat mengganggu warga Sawangan Baru. Sebab, hampir setiap hari warga dipaksa menghirup udara yang keluar dari UPS. “UPS ini sudah sangat menggangu warga. Sudah lama beroperasi tapi keadaannya begitu-begitu saja,” kata dia.

Menurutnya, pengelolaan dan penataan UPS di komplek Bukit Rivaria tidak maksimal. Terlebih lagi, kata dia, warga yang membuang sampah di UPS bukan hanya warga Sawangan Baru. “Yang membuang sampah ke UPS bukan hanya warga Sawangan Baru,” tutur Saiful.

Saiful mengatakan, warga menyetujui adanya pembangunan UPS baru. Namun lokasinya jauh dari lokasi perumahan. “Kayaknya dari pihak developer cukup kooperatif. Warga mendukung pengadaan UPS baru itu,” kata dia.

Terpisah, anggota Komisi C, DPRD Kota Depok, Selamet Riyadi mendukung upaya pembangunan UPS baru di lokasi baru. Pasalnya, pengadaan UPS di komplek Bukit Rivaria dapat mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA Cipayung. “Saya mendukung keinginan warga. Lokasi UPS harus jauh dari perumahan warga,” kata dia.

Ia menambahkan, mengenai developer yang belum memberikan jawaban pasti atas kehendak warga tersebut, ia meminta semua pihak berkoordinasi lebih lanjut. “Kalau developer belum ngasih jawaban, ya tinggal negosiasi saja. Yang terpenting semua pihak sudah mendukung keinginan warga,” kata dia.

Dia meyakini pihak divloper tidak akan menentang keinginan warganya sendiri. Mereka pun pasti sadar kalau sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan penyakit. “Mereka sudah pasti tidak mau menanggung biaya rumah sakit warga. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan itu sebaiknya pihak divloper menyetujui keinginan warga,” kata kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).Sementara itu, pengembang Komplek Bukit Rivaria Sawangan atau PT Abadi Mukti tidak dapat dihubungi.

Melebihi Kapasitas Sampah, Warga Komplek Rivaria Depok Tutup UPS 

Sumber: http://www.radaronline.co.id/ 23 Februari 2011

Depok,Radar Online

Karena diangap Unit Pengelolaan Sampah UPS sudah tidak layak digunakan karena sampah yang diolah melebihi kapasitas, warga komplek perumahan Bukit Rivaria Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat telah menutupnya . Aksi penutupan itu telah berjalan selama dua minggu.

Menurut Saiful Bahri Ketua RT003/RW04, kepada wartawan mengatakan,sampah yang tersimpan tersebut menimbulkan bau tak sedap. Penutupan UPS itu merupakan keputusan final yang diambil secara musyawarah antara tokoh masyarakat dan warga.

Kata Saiful, warga tidak akan membuka UPS tersebut sebelum ada kesepakatan dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan PT Abadi Mukti sebagai pengembang perumahan. UPS yang berokasi di komplek Bukit Rivaria ini hanya memiliki luas 280 meter. Namun, dipaksa mengolah sampah dengan kapasitas lebih banyak.

“Keberadaan UPS sangat mengganggu warga Sawangan Baru. Sebab, hampir setiap hari warga dipaksa menghirup udara yang keluar dari UPS. Ini sudah sangat menggangu kenyamanan warga,” tuturnya

Pengelolaan dan penataan UPS di komplek Bukit Rivaria tambah Saiful, tidak maksimal. Terlebih lagi, kata dia, warga yang membuang sampah di UPS bukan hanya warga Sawangan Baru. Warga menyetujui adanya pembangunan UPS baru. Namun lokasinya jauh dari lokasi perumahan.

“Kayaknya dari pihak developer cukup kooperatif. Warga mendukung pengadaan UPS baru itu,” tandas Saiful.

Sementara ditempat terpisah, anggota Komisi C, DPRD Kota Depok, Selamet Riyadi mendukung upaya pembangunan UPS baru di lokasi baru. Pasalnya, pengadaan UPS di komplek Bukit Rivaria dapat mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA Cipayung.

Mengenai developer yang belum memberikan jawaban pasti atas kehendak warga tersebut, ia meminta semua pihak berkoordinasi lebih lanjut.

“Kalau developer belum ngasih jawaban, ya tinggal negosiasi saja. Yang terpenting semua pihak sudah mendukung keinginan warga,” kata dia.

Slamet meyakini pihak developer tidak akan menentang keinginan warganya sendiri. Mereka pun pasti sadar kalau sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan penyakit.

“Mereka sudah pasti tidak mau menanggung biaya rumah sakit warga. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan itu sebaiknya pihak divloper menyetujui,” imbuhnya.(Maulana Said)

Depok Rintis Kerja Sama dengan Jepang Atasi Sampah

Suara Karya, 23 Februari  2011 
Sumber:  http://bataviase.co.id/node/577969

DEPOK (Suara Karya) Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail tidak akan ngotot untuk meraih piala Adipura Bagi Nur Mahmudi, penghargaan pemerintah pusat terhadap pemerintah kota yang berprestasi dalam mewujudkan kebersihan lingkungan itu tidak akan berarti banyak tanpa kesadaran merata para warga kota dalam mengelola sampah dan meningkatkan kualitas lingkungan.

“Toh, Adipura tidak memiliki pengaruh besar,” kata Nur Mahmudi kemarin seusai menyaksikan kreativitas pelajar SMA Negeri V Kota Depok dalam memanfaatkan kembali kaleng bekas minuman. Namun, Nur Mahmudi yang terpilih kembali sebagai Wali Kota Depok dalam pilkada 2010 tidak menjelaskan lebih lanjut tentang pengaruh besar tersebut.

Masalah sampah di Kota Depok hingga kini belum bisa diselesaikan dengan tuntas. Program pembangunan unit pengelolaan sampah (UPS) oleh Pemerintah Kota Depok masih belum diterima se-penuhnya oleh warga. Mereka khawatir lokasi untuk UPS justru berubah menjadi tempat pembuangan sampah yang akan mengganggu warga, khususnya yang bermukim di dekat lokasi UPS.

Keberadaan tempat pembuangan akhir sampah di Kelurahan Cipayung, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, beberapa waktu lalu sempat dipersoalkan oleh warga di sekitarnya. Mereka menutup akses ke tempat pembuangan akhir sampah itu. Akibatnya, sampah nyaris menggunung di beberapa sudut kota karena truk-truk pengangkut sampah tidak bisa masuk ke tempat pembuangan akhir.

Penutupan akses ke tempat pembuangan akhir sampah di Cipayung oleh warga lantaran mereka menuntut Pemerintah Kota Depok memberikan kompensasi berkaitan dengan kekhawatiran masyarakat Bi sekitar akan bahaya pencemaran yang ditimbulkan tempat pembuangan akhir sampah itu. Beruntung, aksi warga bisa segera diredam.

Truk-truk pengangkut sampah bisa kembali membawa sampah ke tempat pembuangan akhir. Namun, bukan berarti persoalan sampah selesai.

Hingga tersiar kabar, baru-baru ini Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail melakukan kunjungan ke Jepang. Menurut Nur Mahmudi, seperti yang dikemukakan kepada pers, Pemerintah Kota Depok tengah menjajaki untuk menjalin kerja sama dengan salah satu pemerintah kota di Negeri Sakura.

“Kami akan menjalin kerja sama yang kelak dikuatkan dengan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan Pemerintah Kota Osaki,” ujar Nur Mahmudi. Alasan rencana bekerja sama dengan Pemerintah Kota Osaki, karena salah satu prestasi kota tersebut adalah dalam pengelolaan sampah. “Kota Osaki paling berprestasi di Jepang dalam mewujudkan kebersihan dan pengelolaan sampahnya,” tutur dia.

(Wtndmrto)

Sekolah Di Depok Wajib Kelola Sampah 

Sumber: http://www.kbr68h.com/  27 February 2011 

Marieska Virdhani

KBR68H, Depok – Seluruh sekolah di Depok diwajibkan memiliki tim pengelolaan sampah untuk mengurangi jumlah volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Depok yang hampir melebihi kapasitas. Tim tersebut dibentuk menjadi satuan tugas sampah yang mampu memilah sampah organik dan anorganik menjadi barang ekonomis. Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail meminta setiap sekolah mampu membangun mitra dengan para pengepul atau pemulung sampah. Tiap sekolah, rata – rata juga sudah memiliki lubang komposter.

“Makanya saya tidak terlalu terobsesi meraih adipura, sebelum terbentuk sistem internalisasi, proses attitude keseluruhan level, kita buat sampai realisasi pelaksanaan kurikulum, realisasi pembentukan karakter, kebiasaan anak – anak mengelola sampah, mitranya siapa yang patut diakukan, penanganan sampah ini akan berlangsung sistemik”

Jumlah volume sampah di Depok setiap hari mencapai tiga ribu meter kubik. Sejak tahun lalu, Dinas Pendidikan Kota Depok juga sudah memasukkan pengetahuan lingkungan hidup ke dalam kurikulum sekolah. Tak hanya itu, setiap camat juga menangkap siapapun yang terbukti membuang sampah di sembarang tempat.

Advertisements

One response to “Berita 2011-1 (Jan-Feb)

  1. Maksud tak lain menginfokan cara tepat dan dipastikan berhasil. Teknologi Pemusnah Sampah, tanpa bahan bakar apapun dapat memusnahkan segala macam sampah, kondisi basah busuk pun bukan kendala,terus terang saya penemu cara ini tidak ada batasan jumlah berapa sampah yg.harus diatasi (bisa 100 s/d 1000 truck sampah)misalnya, tinggal pembuatannya yg.disesuaikan,ya mohon maaf sebelumnya dari membaca diatas, kalo toh warga/secara umum dibebani memilah,mengolah dsb.menurut saya jauh dari keberhasilan, karena warga masy. sudah sangat sibuk dengan aktivitas masing-2, juga yg.terpenting mengatasi sampah-2 yg.tidak bermanfaat (dimusnahkan untuk bisa bermanfaat)dengan Teknologi Pemusnah Sampah, untuk sampah yg.bermanfaat biar aja sudah ada yg.mengurus(hak pemulung)tanpa diundang,tanpa dilibatkan,tanpa dikomndao,itu sudah berjalan dengan mulus.Semoga comentar saya dapat dijadikan pertimbangan mengatasi sampah.Praktek-2 sudah banyak saya lakukan,dengan membantu para penanggung sampah dengan cara tsb.tidak ada satupun yg.tidak berhasil,semuanya berhasil mengatasi sampah.Juga mohon maaf saya penemu cara ini tidak memproduksi,tidak menjual melainkan membantu membuatkan bagi yg.memerlukan. http://teknologitpa.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s