Anonim

UPS Wujudkan Depok Bersih Dan Ramah Lingkungan

Sumber: http://beritadaerah.com/  11 Maret 2009

(Berita Daerah – Jawa) – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok terus berupaya agar kota yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta tersebut, menjadi daerah yang bersih dan ramah terhadap lingkungan sekitar, salah satu caranya adalah dengan menangani permasalahan sampah melalui program Unit Pengolah Sampah (UPS).

Walikota Depok, Nur Mahmudi Isma`il mengatakan masalah pengelolaan sampah sebaiknya sudah merupakan prioritas pembangunan yang sejajar dengan pembangunan lainnya.

Menurut dia, dengan penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, berarti Depok secara teoretis menghasilkan sampah sekitar 3.000 meter kubik per hari, walaupun dalam kenyataan timbuan sampah yang muncul diperkirakan jauh di bawah angka di atas.

Permasalahan pengelolaan persampahan perkotaan saat ini merupakan akibat dari berbagai perubahan yang cepat, baik dalam hal tatanan kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

“Perubahan yang cepat itu mengakibatkan beban tempat pembuangan akhir (TPA) sampah menjadi semakin berat,” katanya.

Beban TPA yang semakin berat ditambah lagi dengan keterbatasan sarana dan prasarana pengolahan mengakibatkan konflik antara TPA dan masyarakat sekitar semakin meruncing.

Beberapa kota besar sudah merasakan dampak dari penolakan itu, yaitu Jakarta (kasus TPA Bantar Gebang), Surabaya (TPA Seputih), dan Bandung (TPA Leuwigajah).

Melihat kecenderungan itu, maka opsi reduksi sampah perlu diketengahkan. Reduksi sampah atau bahkan sampai menyelesaikannya dapat dilakukan dari sumbernya, yaitu pada skala kawasan.

Pengolahan dan pengelolaan dengan skala kawasan ini merupakan implementasi dari prinsip-prinsip baru 4R-P, yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur ulang), replace (mengganti barang berpotensi sampah ke arah bahan recycle), participation (pelibatan masyarakat), dan mengolah sampah untuk dijadikan bahan yang lebih bermanfaat, seperti kompos, briket, dan energi listrik.

Program yang dilakukan dengan pendekatan skala kawasan ini merupakan upaya untuk mengubah paradigma pengelolaan sampah yang lama, yaitu kumpul-angkut-buang menjadi kumpul-olah-manfaat.

Program- program yang dilakukan adalah membangun unit pengolahan sampah (UPS) dalam skala kawasan di berbagai kawasan perumahan, kawasan permukiman penduduk, kawasan industri, pasar, dan berbagai areal publik lainnya.

Masyarakat terus dididik untuk menjalankan fungsi pemilahan sampah, bahkan dapat dimotivasi untuk melakukan pembuatan kompos dalam skala kecil secara mandiri.

Nur Mahmudi mengharapkan dengan adanya UPS tersebut maka permasalahan sampah yang ada di Kota Depok bisa tertangani dengan baik, dan menjadi Kota Depok menjadi kawasan yang bersih dari sampah dan ramah lingkungan.

“Dengan penanganan sampah yang baik, maka lingkungan menjadi nyaman dan udara menjadi bersih,” jelasnya.

Dua puluh UPS

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Dinas Kerbersihan dan Pertamanan, Kota Depok, Yusmanto menjelaskan untuk tahun 2008 ini Pemkot Depok menyiapkan 20 UPS, yaitu pembangunan empat UPS di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Kecamatan Pancoran Mas, dengan luas masing-masing mencapai 540 meter per segi.

Keduapuluh UPS tersebut adalah di Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, dengan luas 560 meter per segi, satu UPS di Jalan Jawa Kelurahan Beji, pembangunan UPS di Perumahan Permata Regency, Kelurahan Pondok Jaya, kecamatan Pancoran Mas.

Selanjutnya UPS di Jalan Sadewa Raya Kelurahan Mekar Jaya Kecamatan Sukmajaya, UPS di Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Pancoran Mas, UPS di Jalan Merdeka satu Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya, UPS di Jalan Merdeka dua Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya.

Berikutnya UPS di Perumahan Tamansari Puri Bali, Kecamatan Sawangan Kota Depok, UPS di Keluarahan Cilangkap, Kecamatan Cimanggis, UPS di Perumahan Bukit Rivaria, Kecamatan Sawangan, UPS di Kelurahan Cimpauen, Kecamatan Cimanggis, UPS di Kelurahan Bulak Timur, Cipayung, Kecamatan Pancoran Mas.

Pembangunan UPS di Cilobak, Kelurahan Pangakalan Jati Lama, Kecamatan Limo, pembangunan UPS di Jalan Al Hidayah keluarahan Pangkalan Jati Baru, Kecamatan Limo. UPS di Kampung Sasak RT 03/06 Kelurahan Limo, Kecamatan Limo, dan pembangunan UPS di keluarahan Bojongsari Kecamatan Sawangan.

Yusmanto mengatakan bahwa hingga tahun ini sudah 20 UPS dibangun, akan tetapi yang bermasalah hanya satu, yaitu Taman Cipayung. Mengani warga Limo dan warga Bukit Rivaria yang juga sempat melakukan demo, pihak Pemkot ternyata sudah melakukan upaya dialog untuk memperjelas permasalahan ini.

Menurutnya warga kampong Sasak, Limo yang tinggalnya berdekatan dengan UPS justru setuju dengan pembangunan UPS. ?Yang demo itu justru warga yang tinggalnya agak jauh dari UPS, mereka hanya terpengaruh dengan demo di Taman Cipayung?, jelasnya.

Sementara untuk Bukit Rivaria, Yusmanto melihat bahwa warga ingin agar UPS digunakan untuk mengolah sampah warga sekitar saja. ?Masyarakat waktu itu takut kalo UPS nantinya digunakan untuk mengolah sampah se-kecamatan, padahal tidak benar itu?, ujarnya.

Dinas Kebersihan dan Pertamanan kemudian memberikan penjelasan bahwa UPS nantinya hanya akan digunakan untuk mengolah sampah warga Bukit Rivaria dan warga di sekitarnya yaitu warga RW 1.

Lebih lanjut ia menjelaskan Pemkot Depok akan membangun sebanyak 60 UPS hingga 2011 nanti. Untuk tahun 2009 akan dibangun 10 UPS, 2010 akan dibangun 15 UPS dan 2011 akan dibangun UPS sebanyak 15 UPS.

Dengan adanya UPS sebanyak duapuluh unit di tahun 2008 tersebut maka akan terserap tenaga kerja sebanyak 280 orang, dengan masing-masing UPS akan merekrut tenaga kerja sebanyak 14 orang, dengan penghasilan mencapai Rp750 ribu per orang.

“Kami akan merekrut tenaga kerja dari warga sekitar,” jelasnya.

Perekrutan tenaga kerja tersebut kata Yusmanto akan di rekrut melalui seleksi, dan saat ini lurah setempat sedang mengiventarisir tenaga kerja akan melamar menjadi tenaga kerja tersebut.

Yusmanto mengatakan bahwa pihaknya sudah berkali-kali melakukan sosialisasi ke warga, termasuk mengajak warga ke UPS Sukatani. ?Lurah sudah memfasilitasi mereka untuk melihat yang di sukatani dan tanya-tanya ke warga di sana,” jelasnya.

Sementara itu hasil Survei yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Pembangunan Daerah (LKPD) pada Januari 2009 menunjukkan bahwa 57 peren warga Depok yang disurvei menyatakan dukungannya terhadap Unit Pengolah Sampah (UPS).

“Sisanya sebanyak 43 persen menyatakan keberatan dengan pendirian UPS dengan alasan akan menimbulkan bau busuk dan lingkungan yang kotor,” kata Wakil Ketua LKPD, Kholil.

Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa 60 persen dari responden menyatakan memahami bahwa sampah memiliki nilai ekonomis untuk diolah kembali baik menjadi pupuk maupun yang lainnya, tetapi mereka masih belum melakukan tindakan apapun terhadap sampah tersebut, karena tidak mengetahui bagaimana cara mengolah sampah menjadi benda ekonomis.

Sebagian besar responden (80 persen) menyadari bahwa masyarakat harus ikut berpartisipasi dalam pengelolaan sampah, agar bisa menjadikan lingkungannya menjadi bersih.

“Masyarakat menganggap iuran sampah secara rutin bulanan merupakan wujud partisipasinya,” katanya.

Persoalan yang timbul dengan adanya program UPS tersebut adalah adalah menganggap persepsi yang sama antara Tempat Pembuangan Sampah (TPS) dengan UPS. “Masyarakat menganggap UPS sama dengan TPS, mengeluarkan bau tak sedap, padahal tidak seperti itu,” jelasnya.

Untuk itu ia menyarankan agar Pemkot Depok terus melakukan sosialisasi terus dilakukan agar masyarakat bisa menyadari pentingnya pengolah sampah. UPS tidak menyebabkan polusi udara, sumber penyakit dan ketidaknyaman.

Anggota Komisi C DPRD Kota Depok, Muttaqin mengatakan memang pemerintah kota kurang melakukan sosialisasi kepada warga. Selama ini, katanya, yang dilakukan hanya sosialisasi umum saja. Namun sosialisasi khusus tidak dilakukan.

“Inilah yang menjadi permasalahan karena tidak terjadi pemahaman yang sama antara pemerintah dengan warga. Belum adanya kesamaan pandangan antara warga dengan pemerintah,” ujarnya.

Untuk itu lanjut dia, masalah sosialisai kepada warga harus terus dilakukan, sehingga terjadi kesamaan pemahaman anatar warga dan pemeritah kota.

(fb/FB/ant)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s