Wahyudin Munawir

Sebuah Tantangan Bagi PKS

Sampah Problem Keimanan?

Oleh: Ir. Wahyudin Munawir,  Anggota Komisi VII DPR Fraksi PKS Dapil Jawa Barat VIII

Sumber: http://fpks-dpr.or.id/

Fraksi-PKS Online: Berbicara tentang sampah sesungguhnya kita berbicara tentang kebersihan. Kebersihan adalah hajat hidup manusia, maka mengelola sampah agar hidup kita bersih juga hajat hidup kita. PKS yang telah mendeklarasikan diri sebagai partai berbasis Islam bahkan kemudian menyatakan diri sebagai Partai Dakwah sudah menjadi keniscayaan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masalah sampah.

Judul di atas mungkin ada yang mengatakan “berlebihan!”. Apakah memang demikian? Berbicara tentang sampah sesungguhnya kita berbicara tentang kebersihan. Kebersihan adalah hajat hidup manusia, maka mengelola sampah agar hidup kita bersih juga hajat hidup kita. Tidaklah aneh bagi sebagian dari masyarakat kita, ketika akan membuang ‘sampah’ suka minta izin untuk buang hajat. Oleh karenanya Rasululloh SAW bersabda bahwa “Annadhofatu minal iman (Kebersihan itu bagian dari Iman)”. Ini artinya bahwa iman yang menjadi pondasi utama eksistensi seorang Muslim diidentifikasikan oleh performa kebersihannya. Dengan kata lain tingkat kebersihan; termasuk dalam mensikapi sampah adalah karakteristik dasar dari seorang atau suatu komunitas Muslim. Ini berarti bahwa kualitas atau kesempurnaan keimanan seseorang atau suatu komunitas dapat dilihat dari kebersihan dan pola penanganan sampah di lingkungannya.

PKS yang telah mendeklarasikan diri sebagai partai berbasis Islam bahkan kemudian menyatakan diri sebagai Partai Dakwah sudah menjadi keniscayaan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masalah sampah. Sebagaimana dinyatakan dalam slogan utama dalam Pemilu Legislatif tahun 2004 yang lalu yaitu “Bersih dan Peduli”. Bersih di sini memang tidak selalu berkonotasi tampilan fisiknya saja tetapi bersih dalam berbagai aspek seperti bersih hati (ikhlas), bersih fikiran (objektiv tidak subjektif) dan bersih dalam amal (ihsan).

Bagi kader-kader PKS itu sendiri; terutama kader-kader intinya nilai semacam ini sudah menjadi prinsip utama dalam beraktivitas. Nilai keimanan dan keislaman adalah nilai-nilai awal yang ditanamkan dan disemaikan dalam jiwa, hati, dan akal seorang kader PKS. Nilai-nilai ini terus dipantau oleh pengkader (murobbi) nya sampai tampak jelas interaksi antara nilai-nilai tersebut dengan jiwa, hati dan akal seorang kader dalam bentuk penampakan sikap (khuluq) dan interaksinya dengan masyarakat umum.

Untuk mewujudkan nilai-nilai keimanan dan keislaman yang diyakini sempurna dan menyeluruh ini dilakukan melalui pembinaan dan pembangunan pribadi-pribadi Muslim yang sholeh, kemudian pembentukan keluarga yang sakinah dan diakhiri dengan mewujudkan masyarakat yang madani. Dengan nilai-nilai seperti inilah PKS maju ke dalam kancah perpolitikan Nasional, dan dengan mengkristalkan nilai-nilai tersebut dalam bentuk slogan “Bersih dan Peduli”. Slogan ini dibuktikan oleh kripahnya dalam menjaga kebersihan di dalam kancah legislasi dan dalam setiap demontrasi-demontrasi yang diselenggarakan PKS. Juga demikian PKS mampu membuktikan “kepedulian”nya dalam bentuk munashoroh-munashoroh (pertolongan-pertolongan) terhadap berbagai musibah di berbagai belahan bumi ini (dalam negeri atau pun luar negeri).

Korelasi PKS dengan Sampah?

Akhir-akhir ini problema sampah di Ibu Kota Jawa Barat, Bandung telah menarik perhatian banyak pihak. Dua Mentri Negera yaitu Meneg Ristek dan Meneg Lingkungan Hidup telah terjun ke Bandung untuk berpartisipasi menyelesaikan masalah sampah. Hingga Presiden dan Wapres RI (Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla) telah menyempatkan diri untuk menelepon dan mengultimatum Gubernur Jawa Barat untuk segera menyelesaikan masalah sampah ini. Demikian juga Mahasiswa di kota Bandung bersama jajaran Pangdam III Siliwangi terjun bahu-membahu mengawal penyelesaian masalah sampah yang menggunung di berbagai tempat di kota Bandung. Secara signifikan jajaran TNI telah menyediakan sebagian lokasi latihannya di Rajamandala-Cianjur untuk dijadikan tempat pembuangan sampah.

Masalah sampah ini sesungguhnya bukan milik Bandung saja, tetapi juga kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Surabaya, Ambon dan terutama di Ibu Kota Negara Republik Indonesia; DKI Jakarta. Di DKI Jakarta masalah sampah ini telah mendatangkan konflik antara Pemda DKI dengan masyarakat dan Pemkot Bekasi terkait TPA Bantargebang, juga dengan masyarakat dan Pemkab Bogor terkait TPST Bojong. Bahkan di TPST Bojong ini sempat terjadi kerusuhan sehingga beberapa orang dari masyarakat setempat ditahan, dan telah mengundang perhatian DPR RI untuk turut menyelesaikannya.

Menariknya, munculnya permasalahan sampah ini seirama dengan naik panggungnya PKS (Partai Keadilan Sejahtera); yang sebelumnya diwakili oleh PK (Partai Keadilan), ke kancah perpolitikan Nasional. PKS hadir dengan membawa slogan “Bersih dan Peduli”. Dengan slogan itulah PKS mengail simpati masyarakat sebanyak 7,7% suara pemilih Indonesia atau 8,3% kursi di DPR RI. Tentu saja ini bukan berarti ada korelasi positif antara munculnya masalah sampah dengan kemunculan PKS. Namun dari penomena ini mestinya kader PKS mengambil ibrah yang besar.

Fakta menunjukkan bahwa daerah-daerah rawan sampah ini adalah daerah-daerah dimana PKS sebagai pemenang Pemilu Legislatif 2004, setidaknya pemenang 2 besar. Ini artinya apa? Sepertinya Allah SWT hendak menguji kesungguhan kader-kader PKS dalam membuktikan bahwa mereka sungguh-sungguh “Bersih dan Peduli”. Allah SWT hadirkan problema sampah di kota-kota dimana mereka memenangkan Pemilu Legislatif. Ini artinya mereka harus berfikir serius dan memiliki kontribusi positif dalam menyelesaikan masalah sampah ini.

Tidak ada alasan bagi mereka untuk menghindari masalah ini. Mengapa? Isu utama masalah sampah ini adalah masalah bersama bagi masyarakat yang mayoritas Muslim. Secara politik, power legislatif; sesuai persantase yang dimilikinya, dimana ini sesungguhnya dapat terus diperbesar untuk menekan Pemerintahan Daerah dalam pengelolaan sampah secara serius. Kader-kader PKS harus mampu mendorong kerjasama (ta’awwun) dan menghambat “ta’assyub” antara masyarakat dan Pemda suatu kota dengan kota lainnya. Oleh karenanya dalam hal “per-sampah-an” ini PKS harus dapat berperanan lebih besar dan lebih nyata, sesuai dengan slogan yang dimilikinya.

Secara khusus di Kota Depok dimana Walikotanya adalah dari PKS yaitu Dr. Ir. Nurmahmudi Ismail, M.Sc.; yang mantan Menteri Kehutanan di era Gusdur (1998-2000). Kekuatan Legislatif dan Eksekutif di kota Depok ini berada pada tangan PKS. Maka, menjadi suatu kemestian untuk mengejawantahkan “Bersih dan Peduli” dalam implementasi kebijakan-kebijakan publiknya; kususnya dalam mengatasi masalah sampah. Tekad pertama yang dipancang oleh Walikota Depok ini adalah menjadikan Kota Depok sebagai kota yang bersih sekarang kita tunggu hasilnya.

Mengelola sampah tidak hanya sekedar aspek teknis, tetapi multi-aspek; multi dimensional. Adakah kemampuan kader PKS mengelola sampah mulai dari dirinya sendiri, kemudian mengelola sampah pada tingkat rumah tangga, selanjutnya mengelola sampah di tengah masyarakat melalui kekuatan Legislatif dan Eksekutrif yang dimilikinya? Bila berhasil kita akan dapat mengatakan bahwa “kebersihan” benar telah menjadi salah satu parameter dari kualitas dan kesempurnaan keimanan dari seorang atau komunitas Muslim; khususnya kader-kader PKS. Wallahu ‘alam bis showab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s