Aspirasi

Tahun 2008

Permata Depok Regency akan jadi Gudang Sampah?!

Sumber: http://dewawisana.blogspot.com/ November 12, 2008

Setelah sempat hanya menjadi rumor selama beberapa bulan, akhirnya judul posting ini akan menjadi kenyataan. Di lingkungan Permata Depok Regency (PDR) akan dibangun Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang akan digunakan untuk menampung seluruh sampah yang dihasilkan oleh Kelurahan Ratu Jaya. Setidaknya, hal tersebut sudah dikonfirmasi melalui dua hal: (1) Sudah dimulainya kegiatan pembangunan di tempat yang rencananya akan menjadi lokasi UPS tersebut, (2) Sudah beredarnya edaran dari RT/RW setempat mengenai berita tersebut dan tanggapan warga.

PDR merupakan perumahan yang dibangun oleh PT Citrakarsa Hansaprima, sebuah pengembang perumahan di wilayah Depok. Sebelumnya, aku pernah memuat posting tentang kinerja (buruk?) dari developer ini dan kali ini tampaknya mereka melakukannya lagi. Dan, mereka kali ini melakukannya dengan jauh lebih fatal dari yang sudah-sudah.

Warga PDR secara prinsip menolak keberadaan UPS tersebut. Bukan hanya karena tidak ada persetujuan sebelumnya dari warga, namun karena UPS tersebut dibangun ditengah-tengah kawasan pemukiman. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat tidak tepat dan sangat merugikan. Mengapa harus membangun tempat penampungan dan pengolahan sampah di tengah-tengah pemukiman? Sebagai analogi saja, apakah Boss pemilik Developer bersedia di belakang rumahnya dibangun sebuah tempat penampungan sampah? Tentu tidak kan!

Dari pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Depok pun setali tiga uang. Pemkot yang Walikota-nya bergaya bak selebriti (karena fotonya terpampang dengan berbagai pose di setiap sudut kota Depok!), sangat tidak menghargai aspirasi rakyatnya dan cenderung berusaha mencari solusi mudah yang asal jadi. Dan, rencana pembangunan UPS tersebut tanpa dikonsultasikan dan mendapatkan ijin dari warga terus dilaksanakan. Rencananya, akan ada sosialisasi pada tanggal 16 November 2008 nanti. Tapi, jika pembangunan UPS tersebut sudah dijalankan, itu namanya bukan SOSIALISASI dong, melainkan PEMBERITAHUAN! Alias PEMAKSAAN! Jadi, beginilah gaya manajemen pemerintahan Kota Depok yang Walikota-nya religius, sangat peduli dengan budaya bangsa. Memaksakan kehendaknya kepada rakyat.

Ok, nantikan posting selanjutnya tentang UPS di PDR ini berikut analisis mengenai gaya manajemen pemerintahan Kota Depok dibawah kepemimpinan Walikota-nya yang narsis tersebut.

2 comments:
alexanderyopisusanto said…

Sebelah mana ya yang mau dibangun UPS tersebut? cluster apa? saya calon penghuni di situ, di Cluster Jade…

embun said…

Halo Bung Alexanderyopisusanto,

Bakal UPS tersebut akan berada diantara cluster Ruby dan Jade, tepatnya di sebelum (bersebelahan) boulevard (tulisan besar) cluster Jade. Posisinya tepat berbatasan dengan wilayah RW06 (kalau lihat, ada jalan ke arah utara menuju perkampungan).

Sebenarnya posisinya cukup baik, asal tidak ada rumah yang tepat bersebelahan dengan UPS tersebut. Saat ini kami sedang menuntut agar ada semacam “zona bebas” untuk menekan dampak negatif pekerjaan UPS.

Kapan mulai bergabung dengan PDR?

Mohon Penjelasan Pembangunan Pengolah Sampah Cinere

Desi Permatasari – suaraPembaca, Kamis, 18/12/2008
Sumber: http://suarapembaca.detik.com/

Jakarta – Kami adalah salah satu warga RT 04 dan RW 12 Kelurahan Limo Kecamatan Limo Depok. Tepatnya di Perumahan Graha Cinere I (bersebelahan dengan Cinere Country).

Beberapa waktu lalu kami dikagetkan dengan adanya pembangunan Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang diprakasai oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Depok. Pembangunan UPS ini tidak pernah disosialisasikan kepada warga setempat, dan proyek ini seolah-olah dibangun secara “diam-diam” dan berkesan sembunyi-sembunyi.

Kami sebagai warga di sekitar pembangunan UPS merasa heran karena proyek Pemda yang sedemikian besar (memakan kurang lebih Rp 450,000,000) tidak berdasarkan prosedur UPL dan UKL yang benar. Proyek tersebut berada di pemukiman padat penduduk dengan ratusan kepala keluarga. Terdiri dari beberapa RT dan RW.

Rencananya UPS tersebut akan digunakan sebagai pengelolaan sampah untuk satu kelurahan yaitu Limo (berdasarkan keterangan dari Kepala Desa/ Lurah setempat). Kami yakin di dalam satu kelurahan tersebut banyak tempat lain yang jauh dari pemukiman penduduk. Tetapi, mengapa proyek tersebut malah ditempatkan di tengah pemukiman padat penduduk?

Penjelasan dari Lurah dan Camat Limo menurut kami kurang informatif dan tidak sesuai dengan hasil kunjungan atas proyek serupa di daerah Cimanggis (bersebelahan dengan Komplek Kopasus) yang telah kami survei pada tanggal 13 Desember 2008.

Keterangan yang kami peroleh bahwa UPS yang dibangun tidak akan menimbulkan bau, kotor, dan tidak ber-efek pada kesehatan pada kenyataannya adalah bohong belaka. Pada saat survei ke UPS Cimanggis di radius 500 meter sudah tercium bau yang menyengat dan suara bising mesin pengolah sampah yang terus menerus memekakkan telinga.

Kami mohon penjelasan dari Pemda Depok. Apakah Proyek UPS di sekitar kami sudah melalui prosedur yang benar? Apakah sudah dipertimbangkan dampak-dampaknya yang akan terjadi di kemudian hari? Bagaimana kaitannya dengan pencemaran lingkungan sekitar (dengan banyaknya sampah yang menumpuk untuk diolah akan banyak tikus, lalat, dan binatang lainnya) yang akan menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit.

Desi Permatasari
Jl Bangau A2/12 Graha Cinere I Depok
desy.ps@medcogroup.co.id
08568993478

Keterbatasan Mengelola Sampah

Sumber: http://cetak.kompas.com/ 17 Januari 2009

Menanggapi surat Saudari Desi Permatasari di Kompas (6/1), ”Pengolahan Sampah di Cinere”, dengan ini disampaikan, berdasarkan hasil kajian, produksi sampah warga Kota Depok mencapai 3.455 m>sup<3>res<>res< per hari dengan asumsi setiap orang menghasilkan 2,4-2,6 liter per hari dengan komposisi 65 persen organik dan 35 persen nonorganik. Pada umumnya, penghasil sampah tidak mau dekat dengan produk yang dihasilkannya.

Pemerintah Kota Depok dalam mengelola persampahan memiliki berbagai keterbatasan, antara lain sarana angkutan, personel, serta sarana tempat pembuangan akhir (TPA). Khusus kondisi TPA seluas 10,6 hektar, sampai akhir tahun 2008 sudah mencapai 95 persen dari kapasitas volume yang tersedia dan diperkirakan pada tahun 2009 akan penuh. Untuk perluasan diperlukan luas lahan yang tidak sedikit dengan pembiayaan sangat besar.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Depok Nomor 2 Tahun 2006 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Pemerintah Kota Depok diwajibkan membangun unit pengelolaan sampah (UPS) mulai tahun 2007 sampai dengan 2011 sebanyak 60 unit di daerah-daerah yang potensial menjadi timbulan sampah, seperti pasar, tempat permukiman skala kawasan, TPA, dan lain-lain.

Badan Lingkungan Hidup Kota Depok telah menyusun dokumen pengelolaan lingkungan hidup yang di dalamnya termuat upaya pemantauan lingkungan (UPL) dan upaya pengelolaan lingkungan yang wajib dilaksanakan pengelola UPS.

Masalah sampah merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat (penghasil sampah) dan pemerintah (fasilitator). Tidak ada salahnya, dalam menanggulangi persoalan bersama ini dilakukan inovasi yang kreatif demi kesejahteraan kita semua.
WALIM HERWANDI Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok

Tahun 2009

PT.Industri Sampah UI vs PTn.Science Park UI

Oleh: Budi Rahayu; fasilkom/ilmu komputer/2007
Sumber: http://www.anakui.com/ 17.06.09, 10:29

Sampah? ya…sampah, siapa sih yang tidak kenal dengan makhluk jenis ini. Ternyata makhluk ini sudah ikut meramaikan dunia kampus kita. tengok saja danau kenanga, jika teman-teman lihat banyak sekali sampai yang ada, mulai dari bangsa plastik, suku kertas sampai negara botol ada disana. kalau teman-teman perhatikan ternyata gejala sampah ini juga terjadi d danau-danau lainnya, baik danau salam,agathis,Ulin, Puspa sampai Mahoni. bahkan yang lebih parah adalah danau antara pusgiwa dengan MIpa, sungguh memprihatinkan untuk kampus sebesar universitas indonesia.

Saya jadi mempertanyakan kembali tentang tag line “world class university” UI. Apakah pantas title itu didapatkan sementara kondisi lingkungannya tidak terjaga. kata kasarnya adalah menjaga rumahnya saja belum bisa. Apalagi ketika hujan, selain banjir dan pipa tersumbat maka kita akan mudah menemukan makhluk bernama sampah ini bertebaran bahkan sampai kejalan raya. Coba deh jalan2 saat hujan (ada yg mau? ^^) pasti kelihatan banget tuch, misalnya selokan-selokan di depan masjid UI, ikan jenis sampahlah yang banyak. Lihat saja dimuaranya (baca: danau) sangat banyak dan berlimpah ruah. Melihat potensi bahan baku yang berlimpah seperti itulah maka penulis mengibaratkan akan adanya potensi pendirian industri sampah di UI. Mungkin bisa jadi ide tuch buat anak2 yang ikut program “UI Young Smart Entrepreneur”…ayooo…kelola….^^

Bayangkan apa yang akan dipikirkan oleh seorang Profesor (dari luar negeri) yang ketika masuk UI melihat banyak sekali sampah bertebaran. sungguh malu dengan title “world class university”. Rektorat pada kemana nie?? memang kalau kita perhatikan kadang ada petugas air yang membersihkan danau. Namun, apakah itu efektif? TIDAK! sampah datang setiap detik bro..hal ini menyebabkan akan selalu ada pemandangan sampah di UI. notabenenya danau ui yang science park malah jadi rubbish park, TPA! Kenapa penyaringan tidak dari sumber datangnya air? kalaupun mau optimalkan teknologi kawat berdurinya tuch….. akan lebih mudah untuk mengangkat dan memisahkan sampah dari airnya,selain itu menghemat pekerja untuk mungutin sampah didanau karena paling banter hanya butuh 3/4 orang.

saya kembali bertanya, apa memang sengaja ya membiarkan sampah seperti itu???

Tahun  2010

Sampah Menggunung di Permata Cinere Residence Cinere

Triwibowo – suaraPembaca

Sumber:http://suarapembaca.detik.com/ Jumat, 21/05/2010

Jakarta – Sampah menjadi permasalahan nasional yang begitu serius. Karena, dari sampah terdapat banyak penyakit. Begitu pun di Perumahan Permata Cinere Residence di bilangan Cinangka Sawangan. Terdapat segunung sampah Ilegal di atas lahan Perumahan Permata Cinere Residence eks Bukit Permata Indah Cinere.

Pihak developer tidak dapat menyelesaikan permasalahan ini. Kini warga Perumahan sudah tidak nyaman dengan banyaknya lalat yang timbul akibat sampah yang menggunung.

Saya mohon kiranya Bapak Walikota Depok dapat melihat fakta di lapangan. Ironisnya kota Depok kini sedang berjuang untuk memperebutkan Adipura. Dan, diharapkan pihak developer PT Permata Bangun Adipraja dan Bahama Group dapat diberi sanksi.

Terima kasih atas perhatiannya.

Triwibowo
Perumahan Permata Cinere Residence Depok
triwibowo_33@yahoo.com
08111777233

Hentikan TPA Sampah di Area Tranka Kabel Cimanggis Depok

Firman – suaraPembaca
Sumber: http://suarapembaca.detik.com/29 September 2010

Jakarta – Ini merupakan surat terbuka yang kedua kalinya saya kirimkan ke beberapa media cetak maupun online. Perihal keluhan mengenai kondisi lahan kosong PT Tranka Kabel yang beralamat di Jl Raya Bogor Km 29,6 Cimanggis Depok yang dijadikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Rumah Tangga warga RW 01 Palsigunung yang kian hari kian menumpuk hingga menimbulkan bau yang sangat busuk. Padahal besar harapan kami agar para pimpinan Tranka Kabel bertindak lebih tegas untuk segera menutup dan tidak memberi izin lahan kosong tersebut untuk terus dijadikan TPA sampah.

Keluhan ini juga sudah saya sampaikan melalui forum depok.go.id. Namun, juga tidak pernah ada respon tindakan untuk mensegerakan menutup TPA tersebut serta mencarikan solusi untuk masalah ini.

Sekiranya dari para petugas pemerintahan Kelurahan mekarsari Kecamatan Cimanggis mulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan terkait, serta Walikota Depok beserta jajarannya untuk lebih perduli dan memperhatikan lingkungan sosial. Bukan hanya sanggup mengurusi urusan administratif saja dan semoga tidak ada yang berperan menjadi oknum untuk memberikan legalitas keberadaan TPA tersebut. Karena, jika tetap membiarkan kondisi areal Tranka Kabel tetap dijadikan areal TPA Sampah dampaknya pasti akan buruk.

Seharusnya Aparat Pemda Depok dapat memfasilitasi dengan memberi arahan untuk solusi sampah rumah tangga. Dengan mengikuti cara dari wilayah Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Limbah rumah tangga disimpan dalam gerobak-gerobak sampah yang kemudian para petugas dari tiap-tiap wilayah Mampang membawa gerobak sampah tersebut tiap menjelang jam 22 malam ke jalan protokol Mampang Raya pada titik-titik tertentu.

Pada saat jam-jam malam tersebut petugas dari Dinas Kebersihan DKI akan datang dengan truks sampahnya dan kemudian memuat sampah dalam gerobak tersebut ke truk untuk diangkut menuju lokasi TPA sampah yang sudah disediakan Pemerintah. Hal tersebut seharusnya juga bisa diterapkan untuk warga RW 01 Palsigunung dengan membawa gerobak-gerobak sampahnya pada tengah malam ke Jalan Raya Bogor sebagai jalan utama yang bisa dilalui oleh truks sampah.

Sekali lagi kami berharap tindakan tegas pimpinan Tranka Kabel selaku pemilik lahan untuk segera menutup dengan tidak memberi izin arealnya dijadikan TPA sampah dan dari petugas pemerintahan terkait wilayah Mekarsari khususnya, Pemda Depok beserta jajarannya, dan Kepada Badan Lingkungan Hidup baik pusat maupun daerah dapat lebih perduli serta bertindak tegas, dan meninjau ke lokasi langsung dari apa yang telah kami keluhkan.

Firman
Jl Pelangi 5 No 9 Blok 49
Mekarsari Cimanggis Depok
kosovaku@gmail.com
081908198731

Bak Sampah Pemerintah Kota Depok di Atas Tanah Warga

Sumber: http://nasional.kompas.com/   28 Februari 2011  

Sejak dua tahun terakhir ini, tanah yang saya beli dari PT Perumnas seluas 151 meter persegi, yang merupakan tanah sisa di belakang rumah kami, dipakai dan dibangun bak ukuran 6 x 10 meter untuk tempat pembuangan sampah sementara oleh Pemerintah Kota Depok, Jawa Barat.

Sebelum dibangun bak sampah, saya dan suami mengajukan protes keberatan kepada Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il. Sampai sekarang, protes keberatan tersebut belum mendapatkan tanggapan. Awalnya, Pemerintah Kota Depok sempat mengklaim bahwa tanah sisa yang saya beli dari PT Perumnas itu adalah milik Pemerintah Kota Depok, bukan milik PT Perumnas.

Selama dua tahun terakhir, keluarga saya selalu didera berbagai macam penyakit, entah pengaruh keberadaan bak sampah itu atau bukan. Cucu saya dua kali terserang muntaber karena bakteri. Anak bungsu saya menderita TBC kelenjar getah bening, dan belum sembuh. Saya juga menderita kanker payudara, dan sekarang yang bagian kanan sudah diangkat. Rumah yang sebelumnya nyaman dan sudah dihuni sekitar 32 tahun telah berubah menjadi neraka.

Tidak hanya bau busuk, tetapi tikus, lalat, belatung, dan kecoa hilir mudik di dalam rumah. Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok, yang saat itu diwakili oleh Bapak Sul Is, ketika membesuk suami saya (Hamsad Rangkuti) di rumah, setelah dirawat di RS Bhakti Yudha Depok, menyampaikan salam dari Wali Kota Depok bahwa ia tidak tahu ada tempat pembuangan sampah sementara dimaksud. Pada waktu itu Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il lewat stafnya berjanji segera membongkar bak sampah tersebut. Namun, setelah tiga bulan berlalu, sampai sekarang janji pembongkaran bak sampah itu belum terlaksana. Pak Wali Kota, tolong kembalikan tanah kami!

Nurwindasari Hamsad Rangkuti

Jalan Bangau 6 Nomor 268 RT 02 RW 08, Depok I, Jabar

2 responses to “Aspirasi

  1. Yth. Bpk Walikota dan Bu Camat Cinere , Saya sangat mendukung dengan adanya UPS di tiap-tiap kelurahan kalau pengelolaannya benar dan pengurusnya bekerja dengan benar pula. Ini Fakta, saya dan warga Cilobak Khususnya RT 02/01 sangat kecewa dengan keberadaan UPS di Cilobak Pangkalan Jati karena dengan adanya UPS lingkungan bukannya bersih dari sampah malah semakin menjadi. ( kotor dan berantakan ) Sampah hasil gilingan yang menggunung dan sampah yang tak tertampung dibuang keselokan yang airnya berasal dari rumah-rumah warga. Akibatnya selokan penuh dengan sampah dan jadi dangkal rata dengan tanah warga ,airnya pun ga bisa ngalir sampah berserakan kemana-mana, apalagi kalau hujan petugas UPS dan karyawannya dibantu pemulung berlomba-lomba dengan air hujan menurunkan/menghanyutkan gundukan-gundukan sampah yang menumpuk/menggunung sehingga selokan jadi banjir sampah . Imbasnya warga yang dirugikan, protes sudah dilakukan bahkan sampai kekelurahan . Ada tiga kesepakatan antara UPS,Pak Lurah dan warga yaitu :
    1. tidak membakar sampah
    2. tidak membuang sampah ke selokan/kali
    3. sampah dari luar Pangkalan Jati tidak boleh masuk
    Tapi semua kesepakan itu dilanggar oleh pihak UPS,
    Tolong Pak Wali dan Bu Camat Cinere ditinjau ulang keberadaan UPS di Cilobak atau mungkin pengurus/pengelolanya yang di ganti dengan orang yang bertanggung jawab,cinta lingkungan bersih dan hijau sesuai dengan motto kota Depok. Sayang uang rakyat digunakan untuk membayar pengelola /petugas yang tak bertanggung jawab. Jangan sampai warga berontak ,Bila perlu di Sidak biar Pak wali /Bu Camat tau keberadaannya dan tanyalah warga sekitar UPS tentang kebenarannya. Warga menunggu tindak lanjut dari Bapak/Ibu Camat. terima kasih

  2. SAMPAH UPS YANG MENGGUNUNG DIBUANG KE SELOKAN
    GIMANA NIH PAK WALI

    Yth. Bpk Walikota dan Bu Camat Cinere , Saya sangat mendukung dengan adanya UPS di tiap-tiap kelurahan kalau pengelolaannya benar dan pengurusnya bekerja dengan benar pula. Ini Fakta, saya dan warga Cilobak Khususnya RT 02/01 sangat kecewa dengan keberadaan UPS di Cilobak Pangkalan Jati karena dengan adanya UPS lingkungan bukannya bersih dari sampah malah semakin menjadi. ( kotor dan berantakan ) Sampah hasil gilingan yang menggunung dan sampah yang tak tertampung dibuang keselokan yang airnya berasal dari rumah-rumah warga. Akibatnya selokan penuh dengan sampah dan jadi dangkal rata dengan tanah warga ,airnya pun ga bisa ngalir sampah berserakan kemana-mana, apalagi kalau hujan petugas UPS dan karyawannya dibantu pemulung berlomba-lomba dengan air hujan menurunkan/menghanyutkan gundukan-gundukan sampah yang menumpuk/menggunung sehingga selokan jadi banjir sampah . Imbasnya warga yang dirugikan, protes sudah dilakukan bahkan sampai kekelurahan . Ada tiga kesepakatan antara UPS,Pak Lurah dan warga yaitu :
    1. tidak membakar sampah
    2. tidak membuang sampah ke selokan/kali
    3. sampah dari luar Pangkalan Jati tidak boleh masuk
    Tapi semua kesepakan itu dilanggar oleh pihak UPS,
    Tolong Pak Wali dan Bu Camat Cinere ditinjau ulang keberadaan UPS di Cilobak atau mungkin pengurus/pengelolanya yang di ganti dengan orang yang bertanggung jawab,cinta lingkungan bersih dan hijau sesuai dengan motto kota Depok. Sayang uang rakyat digunakan untuk membayar pengelola /petugas yang tak bertanggung jawab. Jangan sampai warga berontak ,Bila perlu di Sidak biar Pak wali /Bu Camat tau keberadaannya dan tanyalah warga sekitar UPS tentang kebenarannya. Warga menunggu tindak lanjut dari Bapak/Ibu Camat. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s