3 Gambaran Umum

Rencana Induk Persampahan Kota Depok

3 . GAMBARAN UMUM KOTA D E POK

3.1. Daerah Perencanaan

Kota Depok adalah sebuah kota di propinsi Jawa Barat, Letak Kota Depok sangat   strategis, karna diapit oleh Kota Jakarta dan Kota Bogor. Hal ini menyebabkan Kota  Depok semakin tumbuh dengan pesat seiring dengan meningkatnya perkembangan  jaringan transportasi yang tersinkronisasi secara regional dengan kota-kota lainnya. Kota  Depok sebagai salah satu wilayah termuda di Jawa Barat, mempunyai luas wilayah sekitar 20.029 ha. Peta administrasi kota Depok dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.1: Peta administrasi kota Depok

3.2. Aspek Fisik Kota

3.2.1 Geografi

Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 60 19’00” – 60 28’00” Lintang  Selatan dan 106043’00” – 106055’30” Bujur Timur. Bentang alam Depok dari Selatan ke  Utara merupakan daerah dataran rendah – perbukitan bergelombang lemah, dengan  elevasi antara 50 – 140 meter diatas permukaan laut dan kemiringan lerengnya kurang dari 15 persen. Kota Depok sebagai salah satu wilayah termuda di Jawa Barat,  mempunyai luas wilayah sekitar 20.029 ha. Peta administrasi kota Depok dapat dilihat pada gambar 3.1.

Wilayah Kota Depok berbatasan dengan tiga Kabupaten dan satu Propinsi. Secara lengkap wilayah ini mempunyai batas-batas sebagai berikut :

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Ciputat Kabupaten Tangerang dan Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
  2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Podok Gede Kota Bekasi dan Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor.
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Cibinong dan Kecamatan Bojonggede Kabupaten Bogor.
  4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Parung dan Kecamatan Gunung sindur Kabupaten Bogor.

Letak Kota Depok sangat strategis, diapit oleh Kota Jakarta dan Kota Bogor. Hal ini  menyebabkan Kota Depok semakin tumbuh dengan pesat seiring dengan meningkatnya perkembangan jaringan transportasi yang tersinkronisasi secara regional dengan kota-kota lainnya.

3.2.2 Geologi

Berdasarkan peta geologi regional oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi  Bandung tahun 1992, Lembar Jakarta dan Kepualuan Seribu 1 : 100.00, stratigrafi  wilayah Depok sekitarnya dari tua ke muda disusun oleh batuan perselingan, batupasir dan batu lempung sebagai berikut :

  1. Formasi Bojongmanik (Tmb) : Perselingan konglomerat, batupasir, batulanau, batu lempung
  2. Formasi Serpong (Tpss) : Breksi, lahar, tuf breksi, tuf batu apung
  3. Satuan Batuan Gungung api Muda (Qv) : tuf halus berlapis, tuf pasiran berselingan dengan konglomeratan
  4. Satuan Batuan Kipas Alluvium : Endapan lempung pasir, krikil, kerakal dan
  5. Satuan Endapan Alluvia (Qa)

Struktur geologi di daerah ini merupakan lapisan horizontal atau sayap lipatan dengan  kemiringan lapisan yag hampir datar, sesar mendatar yang diperkirakan berarah utara – selatan.

Menurut Laporan Penelitian Sumberdaya Air Permukaan di Kota Depok, kondisi geologi  Kota Depok termasuk dalam system geologi cekungan Botabek yang dibentuk oleh endapan kuarter yang berupa rombakan gunung api muda dan endapan sungai.

Singkapan batuan tersier yang membatasi cekungan Bogor – Tangerang – Bekasi terdapat  pada bagian barat – barat daya dimana di jumpai pada Formasi Serpong, Genteng dan Bojongmanik.

Secara umum keadaan jenis tanah di Kota Depok adalah sebagai berikut :

  1. Tanah Alluvial, tanah endapan yang masuh muda, terbentuk dari endapan lempung,  debu dan pasir, umumnya tersikap di jalur-jalur sungai, tingkat kesuburan sedang –tinggi.
  2. Tanah Latosol coklat kemerahan, tanah yang belum begitu lanjut perkembangannya, terbentuk dari tufa vulkan andesitis – basalitis, tingkat  kesuburannya rendah – cukup, mudah meresapkan air, tanah terhadap erosi, tekstur halus.

Asosiasi Latosol merah dan laterit air tanah, tanah latosol yang perkembangannya  dipengaruhi air tanah, tingkat kesuburan sedang, kandungan air tanah cukup banyak, sifat fisik tanah sedang – kurang baik.

3.2.3 Topografi

Kondisi wilayah bagian utara umumnya berupa dataran rendah, sedangkan di wilayah  bagian Selatan umumnya merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian 40-140 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lereng antara 2-15 %.

Penyebaran wilayah berdasarkan kemiringan lereng :

  1. Wilayah dengan kemiringan lereng antara 8-15 % tersebar dari Barat ke Timur.
  2. Wilayah dengan kemiringan lereng lebih dari 15 % terdapat di sepanjang sungai Cikeas, Ciliwung dan bagian Selatan sungai Angke.

Kemiringan lereng antara 8-15 % potensial untuk pengembangan perkotaan dan pertanian, sedangkan kemiringan lereng yang lebih besar dari 15 % potensial untuk  dijadikan sebagai benteng alam yang berguna untuk memperkuat pondasi. Di samping  itu, perbedaan kemiringan lereng juga bermanfaat untuk sistem drainase

Permasalahan yang muncul akibat topografi Kota Depok adalah karena adanya perbedaan kemiringan  lereng menyebabkan terjadinya genangan atau banjir, bila penangannya tidak dilakukan secara terpadu.

3.2.4 Klimatogi

Iklim Depok yang tropis mendukung untuk pemanfaatan lahan pertanian ditambah lagi  dengan kadar curah hujan yang kontinu di sepanjang tahun. Permasalahan mendasar  walaupun di satu sisi di dukung oleh iklim tropis yang baik yaitu alokasi tata guna lahan yang harus mempertimbangkan sektor lain terutama lahan hijau dan permukiman.

Kondisi curah hujan di seluruh wilayah di daerah Depok relatif sama, dengan rata-rata  curah hujan sebesar 327 mm/tahun. Kondisi curah hujan seperti diatas, mendukung kegiatan di bidang pertanian terutama pertanian lahan basah di areal irigasi teknis.

Sedangkan untuk daerah tinggi dan tidak ada saluran irigasi teknis akan lebih sesuai  untuk tanaman palawija kombinasi dengan padi/lahan basah pada musim hujan sebagai  pertanian tadah hujan. Selain penting sebagai sumber irigasi, curah hujan juga penting  untuk pemberian gambaran penentuan lahan, terutama lokasi, pola cocok tanam, dan jenis tanaman yang sesuai.

3.2.5 Hidrogologi

Air Permukaan adalah semua air yang terdapat dan berasal dari sumber – sumber air  yang berada di permukaan tanah. Air permukaan yang dimaksud dalam paparan berikut ini adalah air sungai dan air danau.

A. Air Sungai

Sistem air sungai besar yang mengalir di kota Depok dan sekitarnya yaitu:  Sungi Angke, Sungi Pesanggrahan, Sungai Grogol, Sungai Krukut, Sungai Ciliwung, Sungai Buaran, dan Sungai Cideng.

1. Sungai

Sungai – sungai tersebut berhulu di bagian selatan, merupakan dataran tinggi  atau pegunungan yang terletak di Kabupaten Bogor seperti Gunung Salak,  Gunung Halimun, Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Selain itu, kota Depok juga mempunyai beberapa saluran irigasi yaitu saluran irigasi Cisadane Empang dan saluran irigasi Kali Baru.

Beberapa sungai yang mengalir melalui kota Depok adalah sebagai berikut:

Sungai Angke

Sungai ini merupakan batas wilayah antara kota Depok dan Kabupaten Tangerang, mengalir kearah utara, Sungi Angke ini mempunyai perbedaan debit yang bear antara musim hujan dan musim kemarau.

Sungai Ciliwung

Sungai Ciliwung digunakan sebagai sumber mata air baku bagi kota Depok  dan Jakarta. Pada perbatasan dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat pada musim kemarau mempunyai debit sebesar 9,06-13,40 m3/detik.

Sungai Pesanggrahan

Sungai ini merupakan sumberdaya air terpenting untuk Sawangan, dan  kondisi air berwarna coklat bercampur Lumpur dan Kotoran. Sungai ini  mempunyai fluktuasi yang tinggi antara musim hujan dan musim kemarau. Bahkan pada musim hujan sering menimbulkan banjir setempat.

Berdasarkan data debit dari Balitbang PU, Pusat Penelitian dan  Pengembangan Pengairan Bandung antara 1992 – 1996 statistik  pengukuran Sawangan debit minimum adalah Qmin =350 lt/detik (sumber RTRW Kota Depok tahun 2000).

2. Saluran Irigasi Kali Baru

Saluran ini juga merupakan saluran irigasi untuk pertanian, sehingga pada  periode tertentu dikeringkan untuk pemeliharaan saluran, berdasarkan  pengukuran debit aliran yang diukur dengan currentmeter, debit sesaat QS=603,36 1/detik. (Sumber RTRW Kota Depok tahun 2000).

3. Saluran Irigasi Cisadane Empang

Saluran ini juga mempunyai fungsi utama untuk pengairan pertanian, sehingga pada periode tertentu dilakukan pengeringan, untuk pemeliharaan saluran.  Data debit dari cabang Dinas PU Pengairan Kabupaten Bogor antara tahun  1992 sampai 197, stasiun pengukuran KP Pecahan Air, debit minimal QS=200 1/detik. (Sumber RTRW Kota Depok tahun 2000).

4. Danau/Situ

Salah satu sumber air permukaan yang ada di kota Depok adalah danau atau
situ. Situ-situ ini berfungsi sebagai irigasi local, perikanan, sanitasi,
pengendali air, air minum, industri dan rekreasi.

Berdasarkan studi literatur saat in terdapat 21 situ di kota Depok, sedangkan
menurut Bagian Lingkungan Hidup sekitar 25 situ. Sementara itu hasil survey
lapangan yang dilaksanakan oleh Innerindo Dinamika terdapat sekitar 30 situ.

B. Air Tanah

1. Air Tanah Dangkal

Di kota Depok banyak ditemukan sumur gali untuk kebutuhan masyarakat.  Pada umumnya kondisi sumur gali baik, tetapi air tawar di sebagian tempat kondisinya keruh dan berbau, kedalaman rata-rata 10 m.

2. Air Tanah Dalam

Di kota Depok banyak ditemukan sumber air tanah dalam. Saat ini air tanah  merupakan sumber penyediaan air yang utama untuk kota Depok. Formasi genteng dan endapan vulkanik mempunyai potensi 3-4 lt/det/km2, alluvium potensi 5-7 lt/det/km2.

Sejalan dengan pengembangan kota Jakarta dan kota-kota sekitarnya termasuk kota Depok, pengambilan air tanah meningkat, sehingga beberapa tempat kelebihan.

3. Informasi Berdasarkan Sumur Bor

Dari survei air tanah Botabek didapatkan tiga system akuifer yang sangat
umum, yaitu :

  • Akuifer dangkal : 0-20 m, preatik semi terikat pada tempat lebih dalam,
  • Akuifer menengah: 20-70 m, semi terikat hingga semi tak tertekan,
  • Akuifer dalam : > 70 m, semi terikat atau tertekan, artesis di lokasi dekat pantai.

Informasi tersebut meliputi informasi tentang kedalaman, lokasi sumur, dan mutu air. Muka air tanah statis di daerah pantai rata-rata 2 meter, di bagian selatan air tanah dangkal 8-10 m dan air tanah dalam 10-30 m. Zona recharge yang baik terdapat pada batuan kipas vulkanik, batuan vulkanik yaitu di  bagian selatan. Di Taman Hutan Rakyat Pancoran Mas Kota Depok masih  terdapat satwa yang dilindungi seperti: ular sanca, ular kobra, biawak dan 47  jenis flora yang dapat dikembangkan menjadi obyek dan daya tarik wisata  alam, selain itu di kawasan kota Depok perlu adanya ruang terbuka hijau untuk rekreasi, wisata alam serta perbaikan iklim mikro.

3.3. Aspek Sosial Ekonomi

3.3.1 Demografi

Sebagai Kota yang berbatasan langsung dengan Ibukota Negara, Kota Depok  menghadapi berbagai permasalahan perkotaan, termasuk masalah  kependudukan. Sebagai daerah penyangga Kota Jakarta, Kota Depok mendapatkan tekanan migrasi permukiman, pendidikan, perdagangan dan jasa.

Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten  Daerah Tingkat II Bogor tanggal 16 Mei 1994 Nomor 135/SK.DPRD/03/1994  tentang Persetujuan Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan  Keputusan dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa  Barat tanggal 7 Juli 1997 Nomor 135/Kep.Dewan 06/DPRD/1997 tentang  Persetujuan Atas Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan untuk  lebih meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintah,  pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat serta untuk lebih  meningkatkan peran aktif masyarakat, maka pembentukan Kota Depok sebagai  wilayah administratif baru di Propinsi Jawa Barat ditetapkan dengan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 15 tahun 1999.

Berdasarkan Undang-undang tersebut, dalam rangka pengembangan fungsi  kotanya sesuai dengan potensinya dan guna memenuhi kebutuhan pada masamasa  mendatang, terutama untuk sarana dan prasarana fisik kota, serta untuk  kesatuan perencanaan, pembinaan wilayah, dan penduduk yang berbatasan  dengan wilayah Kota Administratif Depok, maka wilayah Kota Depok tidak hanya  terdiri dari wilayah Kota Administratif Depok, tetapi juga meliputi sebagian  wilayah Kabupaten Bogor lainnya, yaitu Kecamatan Limo, Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Sawangan dan sebagian wilayah Kecamatan Bojonggede yang terdiri  dari Desa Pondok Terong, Desa Ratujaya, Desa Pondok Jaya, Desa Cipayung dan Desa Cipayung Jaya. Sehingga wilayah Kota Depok terdiri dari 6 Kecamatan. Hal ini mengakibatkan bertambahnya beban tugas dan volume kerja dalam penyelenggaraan pemerintah, pembangunan dan pembinaan serta pelayanan masyarakat di Kota Depok.

Sampai dengan tahun 2006 Kota Depok mempunyai 63 Kelurahan, 8.187 Rukun Warga (RW), dan 4.494 Rukun Tetangga (RT). Perkembangan Kota Depok diikuti pula dengan peningkatan jumlah penduduk yang cepat. Pada tahun 1990 Kota  Administratif Depok penduduknya berjumlah 271.134 jiwa dan pada tahun 2000 menjadi 1.143.403 jiwa. Berdasarkan hasil proyeksi BPS, jumlah penduduk Kota Depok pada tahun 2006 mengalami peningkatan menjadi 1.420.480 jiwa dengan laju pertubuhan rata-rata 3,44 persen per tahun.

A. Penduduk

Depok mempunyai potensi sebagai sebuah wilayah penyangga yang menjadi kawasan lalu lintas Jakarta-Depok-Bogor-Tanggerang-Bekasi, satu sisi potensi ini mendukung untuk menjadikan sebagai tempat bermukim, tempat berusaha, dan sebagai daerah pusat Pemerintahan. Secara biogeografis karena kestrategisan Kota Depok yang merupakan bagian dari berbagai daerah aliran sungai yang berpusat di pegunungan di Kabupaten Bogor dan Cianjur, menjadikan curah hujan di Kota Depok cukup tinggi sehingga Depok kaya akan potensi flora dan fauna.

Jumlah penduduk Kota Depok pada tahun 2007 mencapai 1.470.002 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 761.382 jiwa dan penduduk perempuan 708.620 jiwa.

Dengan demikian , sedangkan rasio jenis kelamin di Kota Depok adalah 102. Kecamatan Cimanggis paling banyak penduduknya dibanding Kecamatan lain di Kota Depok, yaitu 403.037 jiwa, kemudian Kecamatan Sukmajaya dengan penduduk 342.447 jiwa. Sedangkan Kecamatan Beji, penduduknya paling sedikit yaitu 139.888 jiwa.

Selama kurun waktu 2000 – 2007, laju pertumbuhan penduduk Kota Depok per tahun rata – rata adalah 4,18 %. Meningkatnya jumlah penduduk di Kota Depok ini terjadi akibat tingginya migrasi penduduk ke Kota Depok akibat pesatnya pengembangan kota dan meningkatnya pengembangan kawasan perumahan.

Di tahun 2007, kepadatan penduduk Kota Depok mencapai 7.339,37 Jiwa/KM2. Kecamatan Sukmajaya merupakan Kecamatan terpadat di Kota Depok, yaitu sebesar 10.033,61 Jiwa/KM2, sedangkan Kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan Sawangan yaitu sebesar 3.634,84 Jiwa/KM2.

B. Iklim

Wilayah Depok termasuk dalam daerah beriklim tropis dengan perbedaan curah
hujan yang cukup kecil dan dipengaruhi oleh iklim musim, secara umum musim
kemarau antara bulan April-September dan musim hujan antara Oktober-Maret.

  • Temperatur : 24,3-33 derajat Celsius
  • Kelembaban rata-rata : 82 %
  • Penguapan rata-rata : 3,9 mm/th
  • Kecepatan angin rata-rata : 3,3 knot
  • Penyinaran matahari rata-rata : 49,8 %
  • Jumlah curah hujan : 2684 m/th
  • Jumlah hari hujan : 222 hari/tahun

3.3.2 Mata Pencaharian

Mata pencaharian warga Depok cukup beragam Berdasarkan jumlah tenaga kerja, industri pengolahan digolongkan menjadi industri besar, sedang dan kecil. Jika  suatu perusahaan industri mempunyai tenaga kerja diatas 99 orang maka perusahaan tersebut diklasifikasikan menjadi industri besar, jika tenaga kerja
antara 20 – 99 orang masuk industri sedang, sedangkan industri kecil mempunyai tenaga kerja 5 – 19 orang.

Jumlah industri besar dan sedang di Kota Depok hasil pendaftaran usaha/perusahaan Sensus Ekonomi 2006 adalah 126 perusahaan. Industri yang paling banyak di kota Depok adalah industri makanan dan minuman ada 26 perusahaan, kemudian industri pakaian jadi ada 20 perusahaan.

Penduduk usia kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 10 tahun ke atas. Penduduk usia kerja terdiri dari “ Angkatan Kerja” dan bukan Angkatan Kerja. Penduduk yang tergolong “ Angkatan Kerja “ adalah mereka yang aktif dalam kegiatan ekonomi. Kesempatan kerja memberikan gambaran besarnya tingkat penyerapan pasar kerja, sehingga angkatan kerja yang tidak terserap dikategorikan sebagai penganggur.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2006, dapat diperoleh gambaran bahwa pada tahun 2006, penduduk Kota Depok yang bekerja 44,63% sedangkan yang menganggur sekitar 9,36%. Jadi penduduk Kota Depok yang tergolong angkatan kerja 53,98%, sisanya merupakan penduduk bukan angkatan kerja.

Dari penduduk yang bekerja sebagian besar bekerja di sektor jasa dan perdagangan dengan persentase masing-masing 27,98% dan 26,92%. Status
pekerjaan didominasi sebagai buruh/karyawan/pegawai 64,84%, kemudian
berusaha sendiri 26,79%.

3.3.3 Pola Penggunaan Lahan dan Status Lahan

Kondisi wilayah Kota Depok Merupakan tanah darat dan tanah sawah. Sebagian besar tanah darat merupakan areal pemukiman sesuai dengan fungsi kota Depok yangdikembangkan sebagai pusat pemukiman, pendidkan, perdaganagn dan jasa.

Secara rinci penggunaan lahan adalah sebagai berikut :

  1. Pemukiman:10.968 Ha
  2. Pertanian: 4.653 Ha
  3. Industri: 344 Ha
  4. Rawa / Setu: 91 Ha
  5. Lain-lain: 3.973 Ha

Berdasarkan Peta Rupa Bumi Digital Indonesia edisi tahun 1999 diperoleh gambaran  kecenderungan perkembangan daerah terbangun di Kota Depok yang mengisi lahan yang pada tahun 1990 masih kosong, adalah sebagai berikut :

  1. Perkembangan daerah terbangun ke arah Selatan relatif lebih lambat dibanding dengan ke arah Utara – Timur.
  2. Perkembangan daerah terbangun di bagian pusat perkotaan (Kecamatan Beji),
  3. Perkembangan daerah terbangun yang relatif dekat dengan pusat kota (Kecamatan Sukma Jaya di bagian Timur Pusat Kota),
  4. Perkembangan daerah terbangun yang memanjang di jalur antara arteri primer Jakarta – Depok dan arteri primer Jakarta – Bogor
  5. Perkembangan daerah terbangun yang pesat pada daerah – daerah perbatasan   dengan wilayah DKI Jakarta, yaitu pada Kecamatan Limo, Kecamatan Beji dan Kecamatan Cimanggis

Dilihat dari peta citra satelit tahun 1994 dan tahun 2001, terlihat telah terjadi perubahan penggunaan lahan terutama daerah terbangun (permukiman) dari 8.300 ha pada tahun 1994, menjadi 8.900 ha pada tahun 2001 (tabel 3.3 dan tabel 3.4).

Jika dibandingkan antara penggunaan lahan eksisting dengan Rencana Penggunaan Lahan menurut RTRW Depok 2010, terlihat bahwa :

Pada penggunaan lahan eksisting yang seharusnya menjadi penggunaan lahan semapdan, ternyata saat ini masih digunakan untuk penggunaan perumahan.

Penggunaan lahan eksisting situ, pariwisata, olah raga, hutan kota, kawasan khusus dan  garis sempadan yang mempunyai luas 679 ha merupakan penggunaan lahan yang dapat  dipertahankan di penggunaan lahan rencana, tetapi penggunaan lahan eksisting sawah  teknis, non teknis, tegalan, rumput, tanah kosong yang mempunyai luas 6.079 ha  merupakan penggunaan lahan terbuka hijau tidak dapat dikendalikan dalam rencana  karena merupaan penggunaan lahan milik rakyat, sehingga dalam rencana luasnya dapat berubah (pada RTRW 2010, seluas 4.227).

3.3.4 Pendapatan Regional

Penerimaan pemerintah daerah merupakan salah satu faktor utama untuk membiayai  pembangunan. Penerimaaan pemerintah daerah bersumber dari pendapatan asli daerah  berupa pajak daerah dan bantuan pemerintah pusat. Dengan terbatasnya penerimaan  daerah maka bantuan pusat berupa dana perimbangan masih cukup dominan dalam  APBD Kota Depok. Tolak ukur meningkatnya kegiatan pembangunan suatu daerah dapat  diamati daari realisasi pengeluaran pemerintah daerah, yang terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.

Realisasi anggaran pendapatan Kota Depok tahun 2007 berdasarkan anggaran perubahan  adalah Rp. 749.346.265.979,95 , dengan rincian pendapatan asli daerah sebesar Rp.  75.457.361.773,64 dana perimbangan Rp. 504.052.499.829,00 dan pendapatan lain-lain  yang sah sebesar Rp. 169.836.404.377,31. Realisasi anggaran pengeluaran kota Depok pada tahun 2007 sebesar Rp. 892.250.553.148,24.

Adanya sektor perbankan juga menambah roda perekonomian Kota Depok. Bank sebagai lembaga financial akan menarik dunia bisnis sebagai mitra untuk meningkatkan  investasinya sehingga saling memperoleh keuntungan. Posisi dana simpanan rupiah dan  valuta asing pada bank umum dan BPR di Kota Depok bulan September 2007 sebesar  3.327.433 juta rupiah. Sementara itu posisi pinjaman pada Bank Umum dan BPR di Kota  Depok bulan September 2007 berdasarkan jenis penggunaannya Rp. 2.826.703 juta  untuk konsumsi, Rp. 1.143.981 juta untuk modal kerja, dan Rp. 483.044 juta untuk investasi.

Selain sektor perbankan di Kota Depok juga memiliki koperasi. Jumlah pembentukan  koperasi di Kota Depok tahun 2005 ada 53 koperasi. Koperasi merupakan kegiatan ekonomi yang dapat membantu aktifitas ekonomi rakyat pada tingkat kelurahan.

 

3.4. Sarana Dan Prasarana Kota

3.4.1 Sarana Pendidikan

Tahun Ajaran 2006/2007 jumlah Sekolah Taman Kanak-kanak di Kota Depok sebanyak  314 sekolah, jumlah murid TK 14.053, dan 954 guru TK. Sekolah SD sebanyak 362  sekolah, dengan 125.581 murid, dan 4.656 orang guru. Sekolah SMP berjumlah 137  sekolah dengan jumlah siswa 44.60 1 orang dan jumlah guru 3.023 orang. Di tingkat SMA  terdapat 51 sekolah dengan jumlah murid dan guru masing-masing 14.93 7 orang dan  1.183 orang. Selain itu terdapat 55 sekolah SMK, dengan jumlah murid 18.726 orang dan jumlah guru 1.371 orang.

Pada tahun 2006, penduduk Kota Depok yang berumur 10 tahun keatas yang memiliki  ijazah tertinggi SLTA dan sederajat. 27,67%. Memiliki Ijazah tertinggi SLTA merupakan  persentase terbesar dibanding jenjang pendidikan lainnya. Penduduk Kota Depok yang  berumur 10 tahun keatas yang bisa membaca dan menulis huruf latin 59,99 %, huruf lainnya 1,07 %, huruf latin dan huruf lainnya 37,51 %, dan yang buta huruf 1,43 %.

3.4.2 Sarana Kesehatan

Pembangunan kesehatan harus selalu dilakukan mengingat jumlah penduduk yang selalu  bertambah dari tahun ke tahun, upaya yang dilakukan pemerintah antara lain dengan meningkatkan fasilitas sarana dan prasaran kesehatan, sehingga semua lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, merata, dan murah.

Penyedia layanan kesehatan di Kota Depok sebanyak 27 Puskesmas yang tersebar di 6  kecamatan dan 10 Puskesmas pembantu, ditambah 12 Rumah sakit swasta dan 1 RSUD  /pemerintah. Di Kota Depok ada 2 Puskemas yang memliki fasilitas rawat inap yaitu  Puskesmas Cimanggis dan Puskesmas Sukmajaya. Masyarakat yang menerima pelayanan kesehatan di Puskesmas tidak hanya yang memiliki KTP setempat.

Untuk meningkatkan pemerataan jangkauan pelayanan kesehatan masyarakat telah tersedia sarana kesehatan baik yang dibangun oleh pemerintah atau swadaya masyarakat antara lain Puskesmas, Puskesmas Keliling (pelayanan kesehatan mobile), Polindes, Posyandu, Praktek dokter, dan sarana kesehatan lainnya. Dari hasil  pengumpulan data dapat dikatakan bahwa Kota Depok memiliki 27 puskesmas yang tersebar di setiap kecamatan dan memiliki 12 Rumah sakit dan 1 RSUD Sawangan.

3.4.3 Perdagangan dan Jasa

Sektor perdagangan merupakan sektor ekonomi yang banyak di minati oleh semua kalangan masyarakat dalam kegiatan ekonomi baik itu secara formal maupun informal.

Jumlah perusahaan perdagangan yang mempunyai SIUP tahun 2007 sekitar 1.172  perusahaan yang terdiri dari perusahaan kecil 786 perusahaan, perusahaan menengah 236 perusahaan, perusahaan besar 81 perusahaan, dan perusahaan cabang 69
perusahaan.

Besarnya PAD Kota Depok dapat tercermin melalui besarnya investasi yang ditanamkan di Kota Depok menurut jenis komoditi, jenis investasi dan tenaga kerjanya.

Perdagangan luar negeri digambarkan oleh adanya kegiatan ekspor dan impor. Volume  ekspor Kota Depok tahun 2006 sampai dengan bulan Juni 2006 paling banyak ke Negara  Singapura sebesar 397.772,00 Kgs yang nilainya mencapai 830.366,49 US $, kemudian ke Taiwan sebesar 283.773,00 Kgs yang nilainya 500.085,62 US $ .

Industri kecil mampu menyerap tenaga kerja 19.660 tenaga kerja, paling besar menyerap tenaga kerja dibandingkan dengan industri lainnya. Industri kecil yang paling banyak di Kota Depok adalah industri tekstil, elektronika, dan aneka.

3.4.4 Sarana Permukiman

Kebijakan pembangunan sektor perumahan dan permukiman di kota Depok mengacu  pada visi dan misi kota Depok, antara lain menjadikan Depok sebagai kota permukiman yang nyaman.

Kondisi pembangunan perumahan dan permukiman di Kota Depok mencapai 10.968 ha  (54,76 %) dari keseluruhan luas wilayah di Depok 20.029 ha, hal ini mengakibatkan  meningkatkan tuntutan kebutuhan fasilitas dan utilitas perumahan dan permukiman,  dimana kondisi lingkungan dan perumahan yang ada belum tertata dengan baik. Hanya  40 % yang sudah tertata dengan baik sedangkan 60 % belum tertata dengan baik. Kawasan permukiman terbesar terdapat di Sawangan.

3.4.5 Sarana Peribadatan

Tempat ibadah merupakan salah satu sarana yang penting untuk meningkatkan derajat  keimanan seseorang. Pada tahun 2007, di Kota Depok terdapat 554 masjid, 129 mushola,  995 musholla, 6 gereja katolik, 62 gereja protestan, 1 vihara, dan 2 pura. Jumlah TPA di  Kota Depok 286. Jumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kota Depok tahun 2007 ada 133  sekolah dengan jumlah murid 30.547 orang, dan guru 1.423 orang. Sedangkan jumlah  Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Depok 55 sekolah, dengan jumlah siswa 10.333  orang, dan jumlah guru 1.355 orang. Serta jumlah sekolah Madrasah Aliyah (MA) ada 21 sekolah, dengan jumlah siswa 1.869 siswa, dan 257 guru.

3.4.6 Prasarana Air Minum

Penyediaan air minum di Kota Depok sampai saat ini masih dikelola oleh PDAM Kabupaten Bogor. Jumlah pelanggan PDAM di Kota Depok sampai dengan bulan September tahun 2007 adalah 40.343 pelanggan (SL) dan besarnya pemakaian PDAM adalah 11.952.220 m3.

3.4.7 Prasarana Irigasi

A. Saluran Irigasi Kali Baru

Saluran ini juga merupakan saluran irigasi untuk pertanian, sehingga pada  periode tertentu dikeringkan untuk pemeliharaan saluran, berdasarkan  pengukuran debit aliran yang diukur dengan currentmeter, debit sesaat QS=603,36 1/detik. (Sumber RTRW Kota Depok tahun 2000).

B. Saluran Irigasi Cisadane Empang

Saluran ini juga mempunyai fungsi utama untuk pengairan pertanian, sehingga  pada periode tertentu dilakukan pengeringan, untuk pemeliharaan saluran.  Data debit dari cabang Dinas PU Pengairan Kabupaten Bogor antara tahun  1992 sampai 197, stasiun pengukuran KP Pecahan Air, debit minimal QS=200 1/detik. (Sumber RTRW Kota Depok tahun 2000).
C. Danau/Situ

Salah satu sumber air permukaan yang ada di kota Depok adalah danau atau  situ. Situ-situ ini berfungsi sebagai irigasi local, perikanan, sanitasi, pengendali air, air minum, industri dan rekreasi.

Berdasarkan studi literatur saat in terdapat 21 situ di kota Depok, sedangkan  menurut Bagian Lingkungan Hidup sekitar 25 situ. Sementara itu hasil survey lapangan yang dilaksanakan oleh Innerindo Dinamika terdapat sekitar 30 situ.

3.4.8 Prasarana Listrik

Di Kota Depok ada 3 Unit Pelayanan dan Jaringan (UPJ) PLN antara lain : UPJ  Depok Kota, UPJ Cimanggis, dan UPJ Sawangan. Untuk UPJ Depok Kota daerah  pelayanannya meliputi Kecamatan Sukmajaya, Kecamatan Beji, Kecamatan  Pancoran Mas, dan Kecamatan Limo. Jumlah pelanggan PLN di Kota Depok sampai dengan bulan September 2007 268.104 pelanggan.

3.4.9 Sarana Telekomunikasi

Pada bulan September 2007 jumlah pelanggan Kancatel Depok sebesar 72.476 dengan jumlah kapasitas sentral dan jumlah LIS (Line in service) 80.301 dan 75.529.

3.4.10 Prasarana Jalan

Panjang jalan di Kota Depok tahun 2007 adalah 503,24 km2, jika dirinci menurut status  pemerintah yang berwenang maka panjang jalan negara 14,31 km2, jalan propinsi 19,16 km2, jalan kota 469,77 km2.

3.4.11 Sarana Transportasi

Salah satu potensi Kota Depok adalah di sektor perhubungan. Jumlah angkutan, izin  trayek, jumlah penumpang yang ada di kota Depok merupakan investasi yang menunjang  poembangunan di kota depok dan merupakan salah satu asset dalam penghitungan PAD  Kota Depok. Lalu lintas angkutan kereta api merupakan alat transportasi yang banyak diminati karena biayanya yang relative murah dan cepat sampai di tujuan.

3.5. Rencana Kota

3.5.1 Strategi Pengembangan Sarana Dan Prasarana

Strategi pengembangan wilayah di Kota Depok mencakup bidang pertanian, perdagangan  dan jasa, pendidikan, perumahan, fasilitas umum lainnya, pariwisata, prasarana dan sarana dan sosial budaya masyarakat Kota Depok.

A. Pertanian

Berdasarkan Propeda kota depok, 2002-2006 Kebijakan sektor pertanian di Kota Depok diarahkan pada pengembangan sektor pertanian yang berdaya saing, berwawasan agribisnis dan berbasis pada sumber daya, melalui peningkatan produk unggulan daerah. Kegiatan pertanian dikembangkan pada jasa dan industri pertanian (agribisnis dan pertanian) berbasis teknologi dan masyarakat.

Lahan pertanian tidak hanya diandalkan sebagai areal produksi saja namun untuk pembibitan komoditas, ternak serta pertanian perkotaan. Lokasi kegiatan  pertanian dikembangkan bersama areal perkotaan yang dapat diidentifikasi sebagai ruang terbuka hijau produktif.

B. Perdagangan dan jasa

Saat ini kegiatan perdagangan dan jasa di Kota Depok tersebar dengan pola  ribbon development yang berkembang mengikuti jaringan jalan di beberapa lokasi dibawah ini:

1) Poros pusat Kota (Jalan Margonda Raya)
2) Poros Jalan Arief Rahman Hakim, Nusantara dan Dewi Sartika
3) Jalan Akses UI
4) Jalan Raya Ciogor-Cimanggis
5) Jalan Raya Parung-Sawangan
6) Pusat Cinere-Limo
7) Pusat-pusat lingkungan.

Berdasarkan RTRW kota depok 2010, lokasi pusat-pusat perdagangan dan komersial diarahkan pada :

1) Pusat perdagangan utama Kota di Jalan Margonda Raya, dengan jenis  kegiatan termasuk Kegiatan informal dengan skala pelayanan lokal dan wilayah

2) Sub pusat perdagangan dan jasa di 5 wilayah dikembangkan sesuai dengan  arahan untuk melayani bagian wilayah kota dengan tujuan untuk lebih meratakan jangkauan fasilitas Kota.

Terdapat rencana pemindahan terminal tipe B ke Daerah Jatijajar dan dibukanya Akses ke Jalan Tol jagorawi yang melewati daerah kompleks perumahan emeralda. Diperkirakan di kawasan kompleks perumahan emeralda akan berkembang kegiatan perdagangan dan jasa, serupa dengan kawasan Cibubur Junction. Oleh karenanya akan dibuat sub pusat baru dikawasan kompleks perumahan tersebut.

C. Pendidikan

Kegiatan pendidikan di Kota Depok sejalan dengan visi Kota sebagai Kota  Pendidikan, maka pengembangan kawasan pendidikan diarahkan di Kecamatan –  Pancoran Mas yaitu di daerah Citayam, sebagai Kawasan Pendidikan Terpadu.  Pada awalnya diharapkan kampus-kampus dengan luas lahan kecil dapat  menempati area dan memanfaatkan fasilitas secara bersama di daerah tersebut.  Namun ternyata daerah citayam tidak berkembang sebagai kawasan pendidikan  tinggi, hanya setingkat pendidikan menengah. Hal ini disebabkan karena  kurangnya akses dan pembangunan prasarana jaringan jalan menuju daerah  citayam. Kawasan yang berkembang sebagai kawasan pendidikan tinggi justru  daerah Kelapa Dua. Padahal dengan ditetapkannya daerah citayam sebagai  Kawasan Pendidikan Terpadu diharapkan akan dapat mendorong terciptanya  persaingan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan tinggi agar diarahkan  perkembangan ruangnya ke arah selatan. Saat ini akan dibangun prasarana  transportasi secara bertahap dalam bentuk pengembangan jaringan jalan dan interkoneksinya dengan moda KRL melalui stasiun citayam yang sudah ada.

D. Permukiman

Arah pengembangan kawasan permukiman di Kota Depok cenderung ke arah  Barat, Timur dan Selatan (Kecamatan Sawangan dan Cimanggis). Hal ini disebabkan karena masih luasnya areal yang dapat dikembangkan dan mengingat lahan keterbatasan lahan yang berada di pusat Kota. Pengembangan kegiatan permukiman di pusat kota perlu mempertimbangkan upaya pembangunan perumahan secara vertikal yang mulai dilakukan di Jalan Margonda dengan dibangunnya apartemen yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan. Namun kehadiran jenis tempat tinggal tersebut tidak dapat dijangkau oleh semua lapisan ekonomi masyarakat, karena itu perlu adanya kebijakan pembangunan Rusun (Rumah susun) sehat yang sederhana dan terjangkau oleh masyarakat terutama di daerah permukiman kumuh dan padat.

Potensi dari sarana dan prasarana penunjang permukiman meliputi penyediaan air bersih, pengelolaan persampahan dan pengelolaan limbah cair adalah:

  1. Besarnya jumlah penduduk Kota Depok
  2. Kegiatan pembangunan Kota Depok yang sangat pesat
  3. Rendahnya cakupan pelayanan sistem sehingga perlu segera ditingkatkan
  4. Sistem tertentu seperti IPLT masih tertunda sehingga potensi untuk
    pemanfaatan masih cukup tinggi.
  5. Keterlibatan swasta terkait CSR (Corporate Social Responsibility) merupakan peluang untuk dibuat kerjasama.

Sedangkan permasalahan dalam sarana dan prasarana permukiman yang meliputi   penyediaan air bersih, pengelolaan persampahan dan pengelolaan limbah cair adalah:

  1. Rendahnya tingkat pelayanan sistem.
  2. Rendahnya kualitas pelayanan karena belum sesuai SOP (standar operasi dan prosedur).
  3. Perencanaan lintas sektor yang tidak terpadu.
  4. Keterbatasan dana pembangunan.
  5. Masih rendahnya partisipasi masyarakat dan swasta dalam pembangunan sarana dan prasarana permukiman.

3.5.2 Program-Program Pengembangan Sarana Dan Prasarana

A. Air bersih

Arahan pengembangan prasarana sumber air bersih adalah sebagai berikut :

  1. Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan air bersih jaringan pipa
  2. Meningkatkan peran serta masyarakat
  3. Meningkatkan cakupan pelayanan
  4. Memelihara kelestarian sumber-sumber air baku guna menjaga kesinambungan pasokan air baku yang akan diolah.

Berdasarkan kondisi eksisting, telah terjadi penurunan jumlah pelanggan air  bersih sebesar 10,91% pada tahun 2002-2003 dan pada tahun 2004 terjadi penambahan jumlah pelanggan air minum di sebanyak 5,51% (2003-2004).

Dalam   kurun waktu 3 tahun tersebut terjadi penurunan volume pemakaian air bersih   rata-rata pertahunnya 17,69%, penurunan jumlah pemakaian ini disebabkan oleh menurunnya jumlah pemakaian air bersih untuk RSS, rumah sederhana dan kegiatan niaga kecil.

B. Air Limbah

Arahan kebijakan pengelolaan air limbah yaitu meminimumkan pencemaran air tanah dangkal dan badan air permukaan serta meningkatkan kualitas sanitasi perkotaan yang dilakukan dengan upaya-upaya sebagai berikut :

  1. Mewajibkan setiap kegiatan industri, rumah sakit, perhotelan, dan  pertokoan besar yang menghasilkan air limbah membuat prasarana dan sarana pengolahan disesuaikan dengan baku mutu air limbah
  2. Meningkatkan pengernbangan sistem pengolahan air limbah komunal untuk limbah rumah tangga dan perdagangan
  3. Meningkatkan sarana dan prasarana yang telah ada.

Sistem pengolahan air limbah yang ada di Kota Depok menggunakan sistem perpipaan (off-site) yang dilakukan di Kecamatan Beji dan sistem setempat (onsite).

Instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT) yang tersedia hanya satu yang berlokasi di Kelurahan Kalimulya (21,328 ha) dengan kapasitas 73 m3/hari.

C. Persampahan

Arahan pengelolaan persampahan di kota depok dilakukan dengan mendayagunakan Badan Usaha Swasta dan masyarakat untuk berperan serta aktif dalam hal :

  1. Meningkatkan kualitas pelayanan persampahan hingga daerah yang lebih  luas.
  2. Penyediaan sarana-sarana tempat pembuangan sampah yang memadai pada tiap-tiap kawasan fungsional
  3. Mengembangkan pengelolaan sampah dengan sistem daur ulang
  4. Meningkatkan kualitas lingkungan kota termasuk pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah.

Saat ini sistem pengolahan sampah di Kota Depok menggunakan sistem ingenerator dimana sampah dipilah dahulu (di TPA Cipayung) kemudian untuk sampah organik dijadikan kompos organik, dan sisanya baru diolah lebih lanjut.

D. Drainase

Arahan Pengelolaan dan pengembangan sistem drainase :

  1. Rencana pengembangan sistem drainase diarahkan mengikuti pola sistem Daerah Aliran Sungai (DAS)
  2. Pola daerah aliran sungai, sistem drainase dan genangan diarahkan
    memanfaatkan keberadaan situ-situ beserta arah alirannya.
  3. Pola perencanaan pengembangan pengendalian banjir harus  terintegrasi/terpadu dengan memperhatikan arah dan sistem drainase, pola daerah aliran sungai, keberadaan danau (situ) dan adanya daerah rawan banjir/genangan.
  4. Membuat sumur resapan pada bangunan yang akan dibangun guna menjaga fungsi hidrologis (resapan air) dan kelestarian lingkungan.
  5. Pengendalian banjir adalah menciptakan lingkungan kota bebas banjir dan genangan dengan menata daerah aliran sungai melalui pengendalian sungai yang terpadu dengan sistem drainase wilayah.

Strategi pengendalian banjir di Kota Depok adalah sebagai berikut :

  1. Mengendalikan debit air dan meningkatkan kapasitas sungai dengan cara pengerukan
  2. Membangun, meningkatkan dan mengembalikan fungsi situ-situ dan waduk sebagai daerah penampungan air
  3. Menjaga fungsi lindung dengan ketat sesuai dengan arahan pemanfaatan yang berhubungan dengan tata air
  4. Menjaga pemanfaatan ruang pada Daerah Aliran Sungai (DAS) agar fungsi kawasan tetap terjaga
  5. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam menjaga Kelestarian sungai
  6. Pembuatan sarana pengendali banjir seperti pintu-pintu air untuk
    pengaturan
  7. Pengendalian pembangunan pada bantaran sungai dengan upaya  penghijauan atau pembebasan seluruh daerah bantaran sungai dari kawasan terbangun, disesuaikan dengan garis sempadan sungai yang telah  ditetapkan.

E. Listrik

Sistem pelayanan listrik di Kota Depok sebelum tahun 2004 hanya terdiri dari 4 UPJ yaitu UPJ Depok Kota, Cimanggis, Cibinong dan Sawangan, namun pada tahun 2004 terjadi penambahan satu unit UPJ yaitu UPJ Bojong Gede. Pada tahun 2004 terjadi penurunan jumlah pelanggan sebanyak 1,73% dari tahun sebelumnya, penurunan terbesar berada pada UPJ Depok Kota dan Cimanggis.

Pemakaian listrik di Kota Depok dari didominasi untuk kegiata rumah tangga (RT)   dan kegiatan industri. Pada tahun 2003 pemakaian untuk rumah tangga mencapai 70 % namun pada tahun 2004 terjadi penurunan sebesar 11,78%.
Pengembangan sektor energi listrik diarahkan dengan cara :

  1. Pengembangan jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk
    memenuhi kebutuhan masyarakat
  2. Pemerataan pelayanan Penerangan Jalan Umum (PJU) pada seluruh
    lingkungan permukiman dan peningkatan kualitas penerangan jalan umum pada jalan protokol, jalan penghubung, taman dan pusat-pusat aktivitas masyarakat.

F. Telepon

Pelayanan sambungan telekomunikasi khususnya Telkom di Kota Depok dilakukan   dengan menggunakan 3 buah STO (Sentral Telepon Otomat) yaitu STO Depok,   STO Pancoran Mas dan STO Sukmajaya. Kecenderungan segmen pelanggan di   Kancatel Depok adalah segmen residensial (rumah tangga) yang selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2000-2004) mengalami kenaikan sebesar 11,62%.

Strategi pengembangan sarana dan prasarana telekomunikasi, yaitu dengan:

  1. Pengembangan sistem pelayanan telekomunikasi melalui penerapan
    teknologi telekomunikasi yang ada
  2. Penambahan dan pembangunan sentral-sentral teleponn baru
  3. Perluasan pengadaan telepon umum dan peningkatan warung telekomunikasi di permukiman padat penduduk

Bagian Wilayah Kota Beji dan Jalan Akses UI di arahkan menjadi pusat kegiatan pengembangan informasi berbasis teknologi.

3.5.3 Rencana Pemanfaatan Ruang

Rencana Struktur Ruang Kota Depok menggambarkan susunan unsur-unsur pembentuk   rona lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan yang digambarkan secara hirarkis dan berhubungan satu dengan lainnnya membentuk struktur ruang kota.

Rencana struktur ruang Kota Depok antara lain meliputi;

Konsep pengembangan tata ruang wilayah, hirarki pusat pelayanan wilayah seperti   sistem pusat-pusat perkotaan dan perdesaan, pusat-pusat permukiman, hirarki sarana   dan prasarana, dan   Sistem jaringan transportasi seperti sistem jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal dan kelas terminal.

Rencana pengembangan tata ruang Kota Depok dirumuskan berdasarkan kondisi nyata   potensi yang di miliki dan juga berdasarkan kecenderungan pemanfaatan ruang yang   harus diarahkan kepada kondisi ideal yang diharapkan dengan memperhatikan aspekaspek   yang realistis yang dapat terwujud, serta dapat dirasakan manfaatnya baik bagi   Pemda Kota Depok sebagai pengguna rencana tata ruang maupun bagi masyarakat yang terkena dampaknya dari pelaksanaan pembangunan.

Dasar pertimbangan dalam perencanaan tata ruang Kota Depok tidak bisa dilepaskan   dari fungsinya sebagai kawasan penyangga (buffer zone) dan kawasan penyeimbang   (counter magnet), yang diharapkan dapat memacu pertumbuhan kegiatan Kota Depok dan wilayah sekitarnya.

Konsep pengembangan Kota Depok akan mengacu juga kepada aspek eksternal yang   sangat strategis yang karena kedudukan lokasinya berada di antara perbatasan dengan   Kota Jakarta, Kota Bekasi, Kab. Bogor dan Kota Tangerang. Secara lokasional, jarak   tempuh Kota Depok dengan Propinsi DKI Jaya cukup dekat, sehingga penduduk Kota   Depok sebagian besar bekerja di Jakarta, sedangkan secara administrasi Kota Depok   merupakan bagian dari wilayah Provinsi Jawa Barat. Hal ini berakibat terhadap   penggunaan infrastruktur pendukung, yang harus ditanggung oleh Pemda Kota Depok,   sedangkan sebagian besar pengguna infrastruktur tersebut adalah moda angkutan dari Provinsi DKI Jakarta.

Aspek internal (kondisi riil) yang perlu diperhatikan adalah terkait dengan potensi yang   dimiliki oleh Kota Depok dan fungsi kota yang akan diemban oleh Kota Depok, sebagai   kawasan perdagangan dan jasa komersial, dengan basis kegiatan pertanian sehingga   kegiatan tersebut perlu didorong pertumbuhannya untuk meningkatkan perekonomian Kota Depok.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, konsep pengembangan Kota Depok memiliki ciri sebagai berikut:

1. Wilayah Utara : memilki kegiatan yang telah berkembang dengan pesat, mempunyai   kepadatan bangunan sedang sampai tinggi, kegiatan pendidikan, perdagangan dan jasa komersial. Sehingga dalam pemanfaatan ruangnya wilayah utara akan   dikendalikan, karena alokasi ruang yang ada telah sangat terbatas, sehingga yang perlu diperhatikan adalah aspek pengendalian lingkungan.

2. Wilayah Selatan : relatif belum berkembang, kepadatan bangunan rendah sampai   sedang, kegiatan yang telah berkembang saat ini adalah perkantoran pemerintah,   kegiatan perdagangan dan jasa, kegiatan pertanian, industri, dan akan diarahkan   juga sebagai kawasan pendidikan terpadu. Wilayah selatan masih mempunyai   banyak areal cadangan untuk pemanfaatan ruang, sehingga wilayah selatan akan lebih dipacu perkembangannya tetapi dengan batasan-batasan tertentu.

3.5.4 Sistem Pusat Pelayanan

Adanya perubahan paradigma visi dan misi Kota Depok dari yang semula kota pemukiman, perdagangan dan jasa, pendidikan dan peribadatan, menjadi kota yang   berorientasi ke perdagangan dan jasa dengan pembatasan kegiatan pemukiman, membawa dampak terhadap arah perkembangan pusat-pusat pelayanan dan perkembangan kawasan terbagun.

Berdasarkan RTRW Depok 2000-2010 terdapat Pusat Kota di Margonda dan 5 (lima) sub   pusat, yaitu Sub Pusat Cinere, Sub Pusat Cisalak, Sub Pusat Sawangan, Sub Pusat Cisalak dan Sub Pusat Citayam.

Berdasarkan perkembangan penggunaan lahan saat ini, pusat kota Margonda telah   berkembang sesuai dengan arahan RTRW, Sub Pusat Cinere telah berkembang (karena   sudah berkembang sebelumnya), Sub Pusat Citayam tidak berkembang seperti yang diarahkan dalam RTRW, arah perkembangannya lebih ke arah kegiatan industri kecil.

Sedangkan Sub Pusat Cimanggis dan Sawangan belum berkembang seperti arahan dalam   RTRW. Selain itu, terdapat sub pusat yang berkembang tidak sesuai arahan RTRW, yaitu    kawasan Cibubur, kawasan Cisalak yang berkembang menyebar dan kawasan lain yang berkembang pita (ribbon development).

Pusat Margonda sudah berkembang dalam koridor yang diinginkan, namun rencana Situ   Rawa Besar sebagai alun-alun (square) Kota Depok masih sulit diwujudkan. Fungsi dan   pemanfaatan ruang yang berkembang juga sudah mencerminkan Margonda sebagai Pusat   Kota Depok. Tetapi saat ini kondisi jalan Margonda telah mengalami beban lalu-lintas   yang cukup tinggi terutama pada jam-jam sibuk (karena lebar jalan Margonda sekitar 8   meter, dan bercampurnya lalu-lintas menerus dan lokal), sehingga arus keluas masuk   orang dan kendaraan dari dan ke kegiatan-kegiatan perdagangan dan jasa yang terdapat   di Margonda terhambat. Hal ini dapat menyebabkan orang enggan menuju ke Margonda,   dan akan mencari alternatif kawasan perdagangan dan jasa lainnya. Selain itu, dengan   berkembangnya kegiatan perdagangan (mal dan pusat perbelanjaan) di Margonda yang demikian pesatnya, dapat mengarah kejenuhan kegiatan, sehingga perlu ada
dikembangkan alternatif sub pusat lainnya.

Tidak berkembangnya Sub Pusat Citayam sesuai dengan arahan dalam RTRW karena   belum adanya perbaikan pola sirkulasi dan jalan sehingga terjadi kemacetan lalu-lintas   yang cukup tinggi. Sub Pusat ini akan tetap dipertahankan lokasinya dan akan diarahkan sebagai kawasan sentra niaga dan budaya.

Belum berkembangnya sub pusat Sawangan di Rangkapan Jaya, diperkirakan belum   adanya dukungan program dari Pemerintah Kota Depok karena dari aspek lokasinya, sub   pusat tersebut cukup strategis. Sub pusat ini akan tetap dipertahankan, untuk melayani wilayah Kecamatan Sawangan dan sekitarnya.

Sub Pusat Cimanggis di Jatijajar belum berkembang disebabkan adanya kendala morfologi dan kesediaan lahan. Dengan akan dikembangkannya Terminal Jatijajar, maka   sub pusat Cimanggis diperkirakan akan berkembang dengan cepat, tetapi lokasinya harus bergeser ke tempat yang lebih datar.

Sub Pusat Cisalak kurang berkembang karena kesulitan lahan. Untuk itu dibutuhkan   dukungan Pemerintah Kota Depok dalam penyediaan lahan untuk berkembangnya sub   pusat ini, karena lokasi sub pusat ini cukup potensial karena terdapatnya jalan kolektor primer sejajar pipa gas dan adanya rencana jalan tol.

Selain itu, di persimpangan Jalan Raya Parung-Jalan Sawangan Raya telah berkembang   kegiatan perdagangan yang cukup besar dengan skala pelayanan wilayah Parung,   Sawangan dan sekitarnya, sehingga di persimpangan ini akan diarahkan sebagai sub   pusat pelayanan agar perkembangan kegiatan yang telah ada sekarang dapat diarahkan sesuai dengan rencana pemanfaatan ruang.

Adanya rencana untuk membuka simpang tol Cimanggis menjadi 2 (dua) arah, sehingga   kemungkinan berkembangnya sub pusat pelayanan baru, yaitu di sekitar kawasan perumahan Emeralda. Saat ini di sekitar kawasan perumahan Emeralda telah berkembang kegiatan perdagangan dan jasa, dengan skala pelayanan Tapos, Leuwinanggung, Kab. Bekasi, Kota Jakarta dan sekitarnya.

Terdapat rencana pembangunan jalan Toll Depok-Antasari yang melintasi wilayah   Kecamatan Limo dan Pancoran Mas, dan akan dikembangkannya koridor bisnis sepanjang   jalan toll tersebut. Berdasarkan hasil studi Pengembangan Kawasan Baru di Sekitar   Koridor Jalan Tol Antasari – Depok Tahun 2005, menyebutkan bahwa dengan dibukanya   pintu toll di Kelurahan Krukut akan menyebabkan daerah tersebut berkembang kegiatan   perdagangan dan jasa. Oleh karenanya untuk mengantisipasi hal tersebut maka di buat   sub pusat krukut yang melayani kegiatan Perdagangan dan Jasa untuk wilayah sekitarnya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s