Berita TPA 2013

Februari 2013

PU Bangun Instalasi Pengolahan Sampah di Depok

Marieska Harya Virdhani – Okezone
Sumber: http://jakarta.okezone.com/ 7 Februari 2013  

DEPOK – Jumlah kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Depok saat ini sudah dalam kondisi penuh atau overload. Sebab, lebih dari empat ribu meter kubik sampah harus diangkut kesana setiap hari.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan tahun ini Kementrian Pekerjaan Umum (PU) akan membangun, Unit Pengolahan Sampah (UPS) di kawasan TPA. Instalasi tersebut diyakini akan mampu mengurangi jumlah kapasitas sampah di TPA.

“Di TPA kita kan ada kolam ABC, Kementrian PU melalui Dirjen Cipta Karya akan membangun kolam di kawasan C, yakni berupa instalasi pengolahan kurangi daya tampung sampah,” ungkapnya kepada wartawan di Balai Kota, Depok, Kamis (07/02/2013).

Instalasi tersebut nantinya akan menghasilkan energi listrik bagi satu kelurahan. Anggarannya menelan dana ratusan milyar. Selain itu, kata Nur Mahmudi, pihaknya akan memperluas TPA untuk meningkatkan daya tampung sampah di tahun 2014.

“Tentu ada pembebasan lahan delapan hektare. Nanti akan ada pengolahan, 2014 kami membangun. Sekarang sudah mulai pembebasan. Kita siapkan lahan saja, operasinya kita ikutin. Proyeknya pemerintah pusat,” ungkapnya.

Sebab sebelumnya, diprediksi tahun 2013 TPA Cipayung Depok akan overload dan tak mampu menampung sampah. “Kita akan meningkatkan kapasitas, memperluas TPA, supaya kapasitas cukup,” imbuhnya.

Maret 2013

TPA menargetkan penambahan 15 point Adipura

Sumber: http://www.depok.go.id/ 01 Maret 2013 

Kota Depok terus berupaya untuk mendapatkan penghargaan Adipura, segala aspek kebersihan dan lingkungan terus dibenahi oleh pemerintah Kota Depok. Salah satu kategori penilaian dari Adipura adalah sampah dan pengolahannya. Tempat Pembuangan Akhir Cipayung, Depok pun terus melakukan pembenahan agar bisa mendapatkan nilai yang lebih baik pada penilaian tahap kedua ini.

R.Agung Hilman, selaku Kasubag Tata Usaha UPT Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menargetkan penambahan 15 point dalam penilaian kedua ini. “Kami berharap TPA bisa memberikan kontribusi yang tinggi dalam penilaian Adipura ini.Kami sudah melakukan pembenahan di segala titik penilaian untuk TPA, ” ujarnya.

Untuk meningkatkan nilai, pengelola sudah melakukan pembenahan antara lain, kolam instalasi pengolahan air limbah (IPAL), jembatan timbang, cover soil (penutupan sampah dengan tanah) dan peningkatan Unit Pengelolaan Sampah. Khusus untuk cover soil, Agung menjelaskan bahwa saat ini masih terdapat kendala dalam penanganannya karena keterbatasan stok tanah. Namun pihak TPA menyiasatinya dengan melakukan cover soil secara periodik.

Sebagai Aparatur Kota Depok, Agung sangat berharap meraih Adipura,karena itu adalah penghargaan tertinggi terhadap jerih payah masyarakat dan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan. “Namun jangan berhenti setelah Adipura selesai, selanjutnya warga Depok dan Pemerintah juga harus menjadikan Kota Depok menjadi kota yang bersih dan hijau, sesuai visi dan misi Kota Depok dan DKP,” lanjutnya. (Diskominfo/rysko)

Mei 2013

Overload, Pemkot Depok perluas TPA Cipayung

Sumber:  Marieska Harya Virdhani
Sumber: http://metro.sindonews.com/ 22 Mei 2013  

Sindonews.com – Tahun depan, kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Depok, akan melebihi kapasitas (overload). Hal itu membuat kapasitas volume sampah tak akan tertampung di Depok, dan akan membuat TPS liar semakin menjamur.

Karena itu, Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan kini tengah melakukan pembebasan lahan. Dinas Kebersihan dan Pertamanan, akan memperluas lokasi TPA Cipayung seluas 8 hektar.

Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok Rahmat Hidayat mengatakan, saat ini pemerintah kota masih melakukan proses pembebasan lahan dan akan mulai memperluas UPS tahun depan. Prosesnya, kata Rahmat, bekerjasama dengan pihak ketiga atau swasta.

“Masih pembebasan tanah, masih studi kelayakan kerjasama pengolahan dengan pihak swasta, investor. 2014 pembangunan oleh investor. Lelang investasi pihak ketiga, kita pembebasan tanahnya dulu. Pembebasan 8 hektar, lahan kosong,” ungkap Rahmat kepada wartawan di Depok, Rabu (22/05/2013).

Rahmat menambahkan, nantinya pengolahannya akan dilakukan oleh swasta, sementara Pemkot berperan dalam hal penyediaan lahan. Hal itu dilakukan untuk memperpanjang umur TPA, dengan jumlah sampah di Depok mencapai 4200 meter kubik per hari.

“Itu nanti untuk yang dikelola pihak swasta. Kami juga terus optimalisasi pemanfaatan Unit Pengolahan Sampah (UPS) untuk memperpanjang usia TPA,” tegasnya.  (stb)

September 2013

2 kolam penampungan sampah TPA Cipayung overload

Marieska Harya Virdhani
Sumber: http://metro.sindonews.com/ 19 September 2013  

Sindonews.com – Dua dari tiga kolam Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Depok yang berfungsi untuk menampung sampah kini dalam kondisi penuh. Sehingga hanya satu kolam saja yang saat ini dapat dimanfaatkan untuk menampung sampah di TPA Cipayung.

“Dua kolam penampungan yakni kolam A dan C saat ini sudah tidak dapat digunakan sama sekali karena sampah sudah penuh,” ujar Kepala UPT TPA Cipayung Iyay Gumilar, Rabu (18/9/2013).

Iyay menambahkan, saat ini pihaknya hanya mampu menggunakan kolam B. Padahal setiap hari kolam-kolam tersebut harus menampung sampah sebanyak kurang lebih 1.500 kubik atau setara 350 ton.

“Kolam A luasnya mencapai kurang lebih 2,1 hektar dengan kedalaman 12 meter dan tinggi mencapai 10 meter. Sedangkan kolam C luasnya mencapai 6 ribu meter dengan kedalaman 12 meter dan tingginya saat ini telah mencapai 15 meter,” paparnya.

Sedangkan kolam B yang saat ini masih difungsikan untuk menampung sampah. Iyay menyebutkan luas kolam B hanya 2,4 hektare dengan kedalaman dan ketinggian hampir sama dengan kolam A.

“Memang, perluasan TPA sangat kami butuhkan saat ini mengingat sampah yang masuk setiap hari nya semakin bertambah. Kami tidak mempersoalkan mau ke a rah mana, namun yang jelas memang sudah saatnya diperluas,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Kasubag TU UPT TPA Cipayung, Agung. Ia menjelaskan perluasan TPA saat ini memang dirasa sudah sangat mendesak mengingat dua kolam peampungan yang ada tak dapat difungsikan.

“Idealnya luas TPA untuk skala perkotaan mencapai 20-30 hektar, saat ini TPA Cipayung luasnya hanya 11,2 hektare. Karena sampah yang masuk bukan dari rumah tangga saja, melainkan sampah pasar yang ada di Depok dan beberapa sampah kali dibuang ke sini,” tandasnya. (mhd)

Demo, Warga Lempari Sampah ke Kantor Walikota Depok

Warga menolak perluasan tempat pembuangan akhir sampah.

Sumber: http://metro.news.viva.co.id/ 26 September 2013

223592_warga-lempari-sampah-ke-kantor-walikota-depok_663_382

Warga lempari sampah ke Kantor Walikota Depok. (VIVAnews/ Zahrul Darmawan (Depok))

VIVAnews – Aksi unjuk rasa ratusan warga Pasir Putih, Sawangan Depok yang menuntut pembatalan perluasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, berlanjut di depan kantor Walikota Depok, Kamis, 26 September 2013.

Aksi yang semula berjalan damai mendadak berubah menjadi ajang baku hantam antara pengunjuk rasa dengan sejumlah petugas Satpol PP. Warga yang merasa aksi mereka tidak ditanggapi, melempari sampah ke halaman kantor walikota.

Sekitar 300 pengunjuk rasa ini mendapat penghadangan dari petugas Satpol PP. Kericuhan semakin tak terbendung ketika personel Satpol PP melakukan perlawanan.

“Jangan main kasar dong pak, jangan kaya preman,” teriak demonstran.

Kericuhan berhasil diredam setelah sejumlah aparat kepolisian menenangkan kedua belah pihak. Hingga pukul 11.00 WIB, aksi unjuk rasa masih digelar. Massa masih melakukan orasi dan menuntut bertemu dengan perwakilan Pemkot Depok.

Sebelumnya, massa juga sempat menggelar aksi unjuk rasa di kantor DPRD Depok. Mereka puas karena mendapat dukungan atas aksi penolakan mereka terhadap perluasan TPA yang dianggap sebagai biang penyakit.

Pemerintah Kota Depok memang berencana memperluas TPA Cipayung karena kapasitasnya terus membludak. Perluasan akan dilakukan di wilayah Pasir Putih, Sawangan, Depok, yang membutuhkan lahan hingga enam hektare.

Pemerintah Kota Depok masih mengurus masalah admistrasi perluasan tersebut. Pada 2014 ditargetkan perluasan TPA sudah dapat direalisasikan.

Saat ini Pemkot Depok hanya mampu mengangkut sampah 41 persen dari kapasitas TPA yang ada yakni 11 hektare. Dengan perluasan TPA menjadi 17 hektare, sampah yang masuk bisa mencapai lebih dari 60 persen. Setidaknya ada sekitar 59 persen sampah yang ada di masyarakat dan harus dikelola. (eh)

Demo, Warga Buang Sampah di Kantor Wali Kota Depok

 Sumber: http://www.tempo.co/  26 September 2013 

67382_620

Nur Mahmudi Ismail. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

TEMPO.CO, Depok – Sekitar 500 massa menolak perluasan lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Depok. Sebagai protes, mereka membuang sampah depan kantor Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail, di Balai Kota Depok, Kamis, 26 September 2013.

Pembuangan sampah ini dilakukan, kata salah satu pengunjuk rasa, agar Nur Mahmudi merasakan hal yang sama dengan warga. Saat ini setiap hari warga terpaksa menghirup udara kotor akibat gas metan dari tumpukan sampah.

“Kami membawa oleh-oleh untuk Wali Kota dan jajarannya. Ayo, teman-teman kita berikan sampah,” kata koordinator aksi masyarakat, Ade Irza, dalam orasinya di depan Balai Kota Depok, Kamis, 26 September 2013.

Seperti diketahui, Pemerintah Kota Depok akan memperluas lahan TPA Cipayung seluas 6 hektar hingga ke Kelurahan Pasir Putih, Sawangan. Perluasan dilakukan karena TPA Cipayung tidak bisa menampung sampah lagi pada 2014 mendatang.

Ratusan massa yang demo pagi ini adalah kebanyakan warga RT 6 RW 4 Pasir Putih yang merasa paling merasakan dampak dari keberadaan TPA itu. Mereka membawa sampah dengan kain putih yang diikat ibarat mayat siap dikuburkan. Sempat terjadi ketegangan antara Satpol PP Depok saat pendemo merangsek masuk sambil melempar sampah dari balik pagar besi. Setelah massa berhasil masuk pun sempat terjadi perkelahian. Namun, polisi yang sudah berjaga sejak pagi melerai kedua kekuatan massa.

Ketua RT 6 RW 4 Pasir Putih, Haerudin, yang juga menjadi koordinator lapangan aksi itu meminta Nur Mahmudi dan wakilnya, Idris Abdul Somad, menemui mereka. Namun, hingga pukul 11.30, orang nomor satu di kota Depok itu tak muncul. Akhirnya massa ditemui oleh perwakilan pemerintahan. “Pak Nur Mahmudi dan Idris enggak mau nemuin, jadi ketemu sama asisten saja,” katanya.

Menurut Haerudin, tidak ada kesepakatan apa-apa dalam pertemuan dengan perwakilan pemerintah itu. Merasa tak puas, massa pun mengancam pemerintah. “Tadi enggak ada keputusan apa-apa karena mereka tak ada di tempat,” katanya. Mereka memberi waktu satu pekan kepada pemerintah untuk memberikan pernyataan kepada media bahwa TPA tak jadi diperluas.

“Soalnya, Pak Idris (wakil wali kota) menyatakan sudah sosialisasi ke masyarakat pada 16 September. Di mana sosialisasinya, kok, kami enggak tahu,” katanya. (Baca : Massa Tolak Perluasan TPA Depok

Sebelum membuang sampah di Balai Kota, massa juga menebarkan sampah di DPRD Kota Depok. Mereka diterima anggota DPRD. Menurut Haerudin, anggota DPRD Depok mendukung tuntutan mereka. “DPRD sudah mendukung,” katanya.

Dalam pertemuan di DPRD, persetujuan penolakan itu dituangkan dalam sebuah surat yang ditandatangani sejumlah anggota Dewan, yakni, Naming Bothin dari Partai Golkar, Enthy Sukarti dari PAN, Otto Leander dari PDIP. “Isi draftnya menerima penolakan warga untuk tidak ada perluasan TPA di Kelurahan Pasir Putih, Sawangan,” kata Naming.

Menurut Naming, dia berjanji tidak akan menggelontorkan dana yang digembar-gemborkan mencapai Rp 25 miliar untuk perluasan itu. “Sampai kapan pun tidak akan dianggarkan jika masyarakat menolak,” katanya.

Sementara, anggota Komisi C DPRD Depok, Enthy Sukarti, mengatakan adanya penolakan disebabkan tidak adanya sosialisasi pada masyarakat. Padahal, konsep perluasan itu dilengkapi dengan buffer zone sehingga TPA tidak menghasilkan udara yang bau. Hanya saja, kata dia, konsep itu tidak diketahui masyarakat.

“Tidak transparan dalam sosialisasi sehingga ada penolakan seperti ini. Kalau pun direlokasi, maka harus ada kajian dan sosialisasi yang baik,” kata Enthy.

Tolak perluasan TPA, warga Sawangan datangi DPRD

R Ratna Purnama
Sumber: http://metro.sindonews.com/ 26 September 2013  

GSOk61458YWarga Sawangan mendatangi DPRD Depok untuk menolak perluasan TPA di wilayahnya. (Ratna Purnama/Koran Sindo)

Sindonews.com – Ratusan massa yang tergabung dalam Forum Peduli Lingkungan Sehat (FPLS) tolak rencana perluasan tempat pembuangan akhir (TPA) Cipayung, Depok.

Massa menolak dengan alasan perluasan lantaran diduga mengganggu kesehatan warga sekitar.

Menurut rencana, tahun depan akan ada perluasan lahan dengan membuat satu kolam baru di Kecamatan Sawangan. Pasalnya, kolam yang ada saat ini sudah tidak dapat lagi menampung sampah.

Massa yang menolak mengepung gedung DPRD Kota Depok. Dalam orasinya warga meminta agar rencana tersebut dibatalkan. Massa membawa beberapa spanduk yang isinya semua menolak perluasan TPA. Misalnya “Kami Tolak Perluasan TPA”.

Massa meminta agar berdialog dengan anggota dewan. Dengan harapan perluasan itu tidak dilaksanakan. Hingga saat ini massa masih memenuhi DPRD Depok.

Belum ada perwakilan massa yang berhasil menemui anggota dewan. “Kami ingin aspirasi kami didengar. Kami menolak perluasan TPA,” kata salah satu orator.

Warga Sawangan hadiahi dewan dengan sampah

R Ratna Purnama
Sumber:http://metro.sindonews.com/  26 September 2013  

TrR8LMWuVtWarga Sawangan, Depok berdialog dengan anggota dewan terkait penolakan perluasan TPA. (Ratna Purnama/Koran Sindo)

Sindonews.com – Massa yang menolak perluasan TPA Cipayung menghadiahi sampah pada anggota DPRD Depok. Mereka menebar sampah kering di halaman gedung sebagai simbol kecewanya warga.

Mereka menginginkan agar anggota dewan merasakan hal yang sama dengan warga. Pasalnya setiap hari warga sekitar TPA selalu merasakan udara yang kotor akibat gas metan yang dihasilkan tumpukan sampah.

Saat ini sejumlah perwakilan sudah diterima anggota dewan yaitu Naming Bothin, Enthy Sukarti dan Otto Leander. Dalam forum diskusi itu massa menuturkan bahwa penolakan disebabkan tidak adanya sosialisasi.

“Tidak ada sosialisasi ke masyarakat. Kami jelas kecewa ketika ada rencana tersebut,” kata salah satu perwakilan, Kamis (26/9/2013).

Anggota DPRD Kota Depok Naming Bothin mengatakan, tidak setuju dengan rencana tersebut. Dirinya juga merasakan apa yang warga rasakan saat ini.

“Saya juga setuju (menolak). Untuk apa disetujui kalau warga menolak. Saya juga enggak mau warga menderita karena saya juga enggak mau diperlakukan seperti itu,” aku Naming.

Politisi Partai Golkar itu menambahkan, aspirasi warga diterima dengan baik. Dia berjanji akan membela warga yang menolak perluasan. “Saya bantu. Akan kita sampaikan nanti,” tutupnya.

(ysw)

Anggota dewan dukung penolakan TPA

R Ratna Purnama
Sumber: http://metro.sindonews.com/ 26 September 2013  

gbYf9QKIgpSindonews.com – Anggota DPRD Depok mendukung tuntutan warga Kelurahan Pasir Putih, Sawangan, Depok untuk menolak perluasan TPA Cipayung.

Persetujuan itu dituangkan dalam sebuah surat yang ditandatangani sejumlah anggota dewan, yaitu Naming Bothin (Partai Golkar), Enthy Sukarti (PAN), Otto Leander (PDIP).

“Isi draftnya menerima penolakan warga untuk tidak ada perluasan TPA di Kelurahan Pasir Putih, Sawangan,” kata Naming di Gedung DPRD Depok, Kamis (26/9/2013).

Menurut Naming, dia berjanji tidak akan menggelontorkan dana yang digembar-gemborkan mencapai Rp25 miliar untuk perluasan.

“Sampai kapanpun tidak akan dianggarkan jika masyarakat menolak,” janji dia.

Anggota Komisi C DPRD Depok Enthy Sukarti menambahkan, adanya penolakan disebabkan tidak adanya sosialisasi pada masyarakat.
Padahal, konsep perluasan itu dilengkap dengan buffer zone sehingga TPA tidak menghasilkan udara yang bau. Hanya saja, kata dia, konsep itu tidak diketahui masyarakat.

“Tidak transparan dalam sosialisasi sehingga ada penolakan seperti ini. Kalaupun direlokasi, maka harus ada kajian dan sosialisasi yang baik,” kata Enthy.

Dia juga menyayangkan mengapa Pemkot Depok hanya fokus pada penambahan sarana dan prasarana tapi tidak diimbangi dengan pendidikan karakter masyarakat. Artinya, kata dia, seharusnya masyarakat dididik untuk melakukan pemilahan sampah sehingga yang dibuang ke TPA hanya residunya saja. Dengan demikian, beban TPA hanya sedikit. (ysw)

DKP Adakan Sosialisasi Perluasan TPA yang tidak Mencemari Lingkungan

Sumber: http://www.depok.go.id/27 September 2013

DKP1-595x343

Sekitar 20 orang yang merupakan perwakilan warga dari Kelurahan Pasir Putih mendatangi Kantor Kecamatan Sawangan. Mereka mengikuti sosialisasi yang diadakan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) terkait adanya penolakan mengenai rencana perluasan tempat pembuangan akhir (TPA) Cipayung, Depok, Jumat (27/9/2013).

“Bila perluasan tetap dijalankan oleh pemerintah, jika ada hal negatif menimpa warga sekitar, kami tidak bertanggung jawab. Lurah dan camat setempatlah yang harus menangani semua,” ujar Berton selaku ketua kelompok dari Kelurahan Pasir Putih.

Ia mengaku lokasi perluasan TPA hanya berjarak 100-200 meter dari kediaman warga. Hal itu pasti akan merugikan orang yang tinggal di sekitarnya. Seluruh warga termasuk tokoh masyarakat dan ustad setempat menolak permasalahan ini.

Kepala DKP Kania Parwanti menanggapi bahwa permasalahan ini sudah ditetapkan oleh dewan. “DKP hanya menjalankan amanah. Semua ini dapat dibuktikan dengan adanya dokumen perencanaan dan Perda APBD yang isinya mengenai pembebasan lahan,” tutur Kania.

DKP memiliki alasan tersendiri terkait perluasan ini. TPA Cipayung tidak akan menampung sampah lagi di pertengahan tahun depan. Jika sampah dibuang ke wilayah luar Depok, biaya yang dibutuhkan semakin besar.

Disamping itu, Kania menegaskan sistem pengolahan sampah yang nantinya akan diterapkan di Pasir Putih berbeda dengan TPA Cipayung. “Saat ini, sistem yang digunakan di TPA Cipayung adalah Sanitary Landfill. Namun, sistem yang nantinya akan diterapkan di wilayah ini adalah inseminator yaitu sampah diolah terlebih dahulu menggunakan mesin dan jika proses sudah selesai akan berubah menjadi energi listrik. Sistem ini belum ada yang menerapkan, kecuali wilayah DKI Jakarta,” sambungnya.

DKP2-595x364

DKP akan menindaklanjuti permasalahan ini agar tidak ada salah paham antara pihak pemerintah Kota Depok dengan warga di Kelurahan Pasir Putih. “Selanjutnya, karena belum terbukanya komunikasi antara pihak kami dengan masyarakat sekitar, maka kami belum dapat memutuskan hasil akhir. Kami akan mengadakan kajian lingkungan mengenai situasi tanah dan lahan yang bersangkutan. Perkiraan dengan metode yang akan diterapkan ini tidak akan mencemari daerah setempat, karena menggunakan mesin dan akan selalu dipantau oleh DKP,” ucap Kania mengakhiri. (Diskominfo/Indri)

TPA overload, ini yang dilakukan DKP Depok

R Ratna Purnama
Sumber:  http://metro.sindonews.com/ 27 September 2013 

Sindonews.com – Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok melakukan rekayasa terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung. Rekayasa dilakukan dengan membuat tebing di sekitar area kolam B yang saat ini masih digunakan. Dengan cara tersebut, diharapkan kolam penampungan sampah masih berfungsi hingga pertengahan tahun 2014.

Pelaksana tugas (Plt) DKP Kota Depok Kania Parwanti mengatakan, saat ini TPA Cipayung memiliki tiga kolam penampungan sampah yaitu A, B, dan C. Namun saat ini kolam yang berfungsi hanya satu yaitu kolam B.

“Memang sistem kolam sampah di TPA Cipayung saat ini kan menggunakan cover soil, jadi sampah ditumpuk, lalu ditutup tanah dan diendapkan. Jadi dua kolam sudah penuh dan harus didiamkan dulu, jadi yang berfungsi hanya satu,” kata Kania, Jumat (27/9/2013).

Meskipun demikian, kata Kania, kolam B yang saat ini digunakan juga sebenarnya sudah melebihi kapasitas. Kolam C sebenarnya sudah ditutup sejak empat tahun lalu sehingga sudah bisa dibuka kembali.
Namun saat ini penggunaan kolam C tersebut mendapatkan kendala penolakan dari warga karena lokasinya paling berdekatan dengan perumahan.

TPA yang akan dibangun itu bentuknya tidak sama dengan sebelumnya. Konsep kolam baru nanti disertakan konsep hijau. Sehingga diharapkan dapat mengurangi polusi udara yang keluar.

Dia menambahkan, saat ini produksi sampah di Kota Depok mencapai 5.000 meter persegi per hari. Meskipun demikian, DKP hanya mampu mengangkut 1.200 m3 sampah ke TPA.

“Namun saat ini sampah yang masuk ke TPA masih banyak yang belum dipilah. Nanti diharapkan sebanyak 1.200 m3 sampah yang masuk, sudah berbentuk residu,” ujar Kania.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPA Cipayung Iyay Gumilar mengatakan, luas TPA Cipayung saat ini 11,2 hektare. Rata-rata ketiga kolam di TPA Cipayung memiliki tumpukan sampah lebih dari 10 meter dari permukaan tanah.

Kolam A memiliki luas 2,1 hektar dengan kedalaman 12 meter dan tinggi 10 hektar dari permukaan tanah. Sementara kolam C memiliki luas 6.000m2, dengan kedalaman 13 meter dan tinggi 15 meter. Kolam B yang masih digunakan saat ini bisa menampung sampah 1.500 m3 atau setara dengan 350 ton.  (ysw)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s