UPS Grogol

Belajar ke UPS Grogol

Sumber:  http://id-id.facebook.com/27 Juni 2011

Menelusuri jalan beton menyisi pemakaman umum, rombongan tim Panitia Peradaban Bersih (Pandabsih) Surau Baitul Amin (SBA) yang terdiri dari Rhay, Endang Apandi, Pak Warno, Saryono, dan Khaidir dari Divisi Pengelolaan Sampah tiba di Unit Pengolahan Sampah (UPS) Kelurahan Grogol Kecamatan Limo Depok(27/6). Ikut pula, Agus Kukus dan Bardani dari Divisi Sarana Prasarana. Saat tim Pandabsih memasuki pintu bangunan seluas 600 meter persegi, kontan bau khas menyergap hidung. Tampak 10 orang, delapan lelaki dan dua perempuan, sedang sibuk bekerja. Kedatangan tim Pandabsih dari Divisi Pengelolaan Sampah dan Divisi Sarana Prasarana adalah untuk belajar mengolah sampah.


UPS ini setiap harinya. Menanggapi pertanyaan anggota tim, Pak Nasan menjelaskan bahwa proses pertama adalah pemilahan sampah. “Sampah yang baru datang kita pilah-pilah pak,” ujar Pak Nasan ramah. “Terus dimasukkan ke mesin pencacah,” terang Pak Nasan menunjuk mesin di pojok ruangan. Suara bising kontan memenuhi seluruh bangunan ketika mesin dihidupkan. Dengan sekop Pak Nasan memindahkan sampah ke ban berjalan yang lalu menumpahkan sampah ke mesin pencacah. Sampah organik yang keluar dari mesin sudah tercacah halus, sedangkan sampah plastik yang terikut dihembus udara dan mengumpul sepanjang dinding. “Sampah-sampah seperti botol aqua dijual. Plastik-plastik tas kresek ini juga laku dijual,” papar Pak Nasan. Menurutnya, UPS Grogol menghasilkan sampah tas plastik sekitar satu truk setiap bulan.

Pak Warno, anggota tim paling senior, antusias bertanya tentang proses pengomposan. Menurut Pak Nasan, sampah organik yang sudah dicacah bisa diproses jadi kompos dalam waktu 2-3 minggu. “Biar cepat kita beri EM4,” jelas Pak Nasan menyebut merk aktivator kompos.

“Setelah jadi, kompos kita cacah lagi lalu disaring dengan mesin,” kata Pak Nasan, tenaga honorer yang sudah dua tahun bertugas. Sayang, tim tidak dapat melihat contoh hasil akhir kompos karena sudah diangkut sebelumnya.

“Terus dikemanain pak, sisa sampah yang tidak bisa digunakan ini?” tanya Rhay sembari menunjuk tumpukan sampah potongan plastik eks penyaringan kompos. “Kita buang ke tempat pembuangan pak,” jawab Pak Nasan pendek. Sepanjang waktu kunjungan, anggota tim menyebar dan bertanya berbagai hal soal pengolahan sampah. Dari cara mengurangi bau sampah sampai suka duka jadi petugas sampah.

UPS Grogol adalah salah satu dari 46 UPS yang dibangun Pemkot Depok. Menurut Rahmat Hidayat, Kepala Bidang Pelayanan Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kodya Depok, kondisi Tempat Pembuangan Sampah akhir di Cipayung yang hampir penuh, mendorong DKP mencari solusi mengurangi volume sampah. Selain itu, “Volume sampah yang dapat diangkut armada truk DKP baru sekitar 1200 meter kubik dari total 4250 meter kubik sampah penduduk Depok,” papar Rahmat antusias saat berkunjung ke Surau Baitul Amin (26/6) minggu lalu.

“Karena itu, Pemkot membuat program pengelolaan sampah kawasan dengan membangun UPS di berbagai tempat,” jelas alumni STPDN dan UGM ini. Program ini bersifat bottom up. Mengedepankan partisipasi masyarakat, contohnya dalam pembangunan UPS. Masyarakat menyediakan lahan, Pemkot mendukung pembangunan dan biaya operasional untuk waktu tertentu. Selanjutnya, UPS diharapkan mandiri mendanai kegiatannya dari iuran masyarakat.

Perjalanan tim Pandabsih SBA ke UPS Grogol, salah satunya adalah belajar sistem mengelola sampah. Mencari sistem yang cocok untuk diterapkan di SBA adalah tujuannya. Muhibah dari UPS ke UPS adalah awal dari proses belajar itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s