UPS Bukit Rivaria

Tuntutan Penutupan UPS Depok Akhirnya Dikabulkan

Sumber: http://news.okezone.com/ 30 November 2008
Marieska Harya Virdhani – Okezone

DEPOK-Perjuangan warga Bukit Rivaria, Sawangan, Depok, untuk mendesak pembatalan proyek pembangunan unit pengelolaan sampah (UPS) di sekitar lokasi perumahan, tidak sia-sia.

Setelah berdialog, pihak pengembang perumahan selaku mitra kerja Pemkot Depok bersedia menghentikan proses pembangunan UPS dan melakukan penutupan sementara hingga ada pembahasan lanjutan antara warga Bukit Riveria dengan Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Pemkot Depok.

“Untuk sementara kami tutup hingga ada dialog pada Sabtu pekan depan,” ujar Asisten Manager Developer Bukit Rivaria, Widarto usai berdialog dengan perwakilan pengunjuk rasa di Depok, Jawa Barat, Minggu (30/11/2008).

Atas kesepakatan ini, warga setempat secara simbolik menutup UPS dengan papan triplek dan mengambil cangkul dari pihak kontraktor. “Kalau tetap diteruskan jangan salahkan kami jika bertindak anarkis,” ancam Bahruddin, salah seorang pengunjuk rasa.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, warga Bukit Rivaria Depok pagi tadi menggelar unjuk rasa menuntut penutupan UPS. Pembangunan sarana pengolahan sampah ini dinilai lokasinya terlalu dekat dengan pemukiman. Sehingga menganggu kesehatan dan pemandangan. (ful)

Stop Pembangunan UPS

Sumber: http://matanews.com/ 1 Desember  2008

Untuk kesekian kalinya Unit Pengolahan Sampah (UPS) di Depok mendapat penolakan dari warga. Penolakan itu sangat beralasan mengingat dalam pembangunan UPS sama sekali tidak melibatkan warga untuk musyawarah.

Pada hari Minggu (30/11), warga Bukit Rivaria sawangan menolak pembangunan UPS di lokasi sektor II yang dekat dengan perumahan. Menurut kordinator demo warga Rivaria M. Fuad “Pemerintah daerah tidak melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada warga, padahal untuk lokasi UPS tersebut sudah tersedia didepan pintu gerbang komplek yang biasa untuk tempat pembuangan sampah. Dan itu jauh dari pemukiman warga”

Bila aspirasi warga ini sampai hari kamis(4/12) tidak mendapat tanggapan dari pemerintah dan pengelola UPS terkait, maka warga akan kembali berdemo dengan massa yang lebih besar.

Menuru M. Fuad “kami pada dasarnya mendukung program pemerintah, apalagi ini untuk kepentingan bersama tapi jangan warga tidak dilibatkan dalam menentukan titik UPS, sebaiknya pemerintah daerah koreksi kembali, bahwa harus ada komunikasi yang baik antara warga pemerintah.”

Sebelumnya juga, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok meminta kepada Pemerintah Kota (Pemkot) agar segera menghentikan pembangunan proyek Unit Pengelolaan Sampah (UPS), karena banyaknya penolakan dari warga.

“Kami telah menerima surat dari lima wilayah tentang penolakan titik pembangunan UPS, yakni dari Beji, Cipayung, Cinangka, Ratu Jaya, dan Cimanggis. Untuk itu, pembangunan proyek UPS ini segera dihentikan dan dilakukan evaluasi,” kata Sekretaris Komis C, Babai Suhaimi, di Depok.

Namun ia menyayangkan sikap Pemkot yang tidak melakukan proses sosialisasi pembangunan dan analisa dampak lingkungan pembangunan tidak dilakukan secara baik, sehingga banyak warga menolak lokasi pembangunan tersebut.(AS/ant)

Warga Bukit Rivaria Menolak Pembangunan UPS

Sumber: http://www.metrotvnews.com/ 7 Desember 2008 

Metrotvnews.com, Depok: Ratusan warga Perumahan Bukit Rivaria, Sawangan, Depok, Jawa Barat, mendatangi kantor developer perumahan tersebut, Ahad (7/12) siang. Mereka mendesak pihak developer segera menutup pembangunan unit pengolahan sampah (UPS) di lingkungan perumahan itu. Keberadaan UPS dianggap merusak lingkungan dan kesehatan.

Pengunjuk rasa juga menuntut janji developer membangun fasilitas umum dan fasilitas sosial. Menanggapi tuntutan warga, PT Gapura Prima selaku pengembang perumahan menyatakan lahan pembangunan UPS telah diserahkan ke Pemerintah Kota Depok, sehingga penggunaannya bukan wewenang developer lagi.

Di Kota Depok, terdapat hampir 20 lokasi pembuangan sampah yang ditolak warga, karena berada di lingkungan perumahan. Warga meminta pembangunan UPS minimal satu kilometer dari pemukiman.(BEY)

Bawa Cacing, Warga Rivaria Tolak UPS Depok

Sumber: http://news.okezone.com/ 21 Desember 2008

Marieska Harya Virdhani – Okezone

DEPOK – Penolakan terhadap pembangunan unit pembuangan sampah (UPS) Kota Depok terus berlanjut. Kali ini, sekira 300 warga Bukit RIvaria, Kelurahan Bedahan kembali melakukan aksi unjuk rasa dengan membawa cacing.

Namun jangan salah, cacing yang dimaksud adalah sebuah kostum yang digunkan salah seorang demonstran, sebagai bentuk penyakit yang akan ditimbulkan jika UPS tersebut terus jadi dilanjutkan.

Koordinator lapangan, Turyadi (44) mengatakan, pembanguan UPS berdiameter 30 x 40 meter ini dirasa sangat mengganggu dan dapat menimbulkan berbagai penyakit.

“Karena pembangunan proyek ini berjarak hanya lima meter dari perumahan warga. Sehingga dapat menyebabkan berbagai penyakit,” kata Turyadi di sela-sela aksi unjuk rasa di Depok, Minggu (21/12/2008).

Dia melanjutkan, proyek bernilai Rp500 juta tersebut dinilai melanggar UU persampahan 18/2008. “Karena tidak mengajak warga untuk bersosialisasi dalam pembangunan UPS,” tegasnya.

Padahal, lanjut Turyadi, pada site plan 2006 tempat pembangunan UPS akan dijadikan tempat ibadah.

“Tetapi malah dijadikan UPS. Kita juga telah melayangkan surat kepada Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Depok, Walikota Depok, dan Pemkot Depok atas keberatan tersebut,” kesalnya. (kem)

Demo Lanjutan Pengolahan Sampah Rivaria Digelar

Sumber:http://www.tempo.co/read/  1 Februari 2009

TEMPO Interaktif, Depok:Warga perumahan Bukit Rivaria kembali melakukan aksi damai di depan Unit Pengelolaan Sampah (UPS) Bukit Rivaria, Sawangan dalam rangka menuntut relokasi.

Pada aksi yang dimulai pada Minggu (1/02), pukul 10:00 WIB warga yang berseragam putih-putih melakukan orasi dengan berjalan dari Sport Center Bukit Rivari menuju lokasi UPS. Selain itu, Ikatan Warga Bukit Rivaria (IWARI) juga memasang beberapa spanduk di lokasi-lokasi strategis perumahan yang isinya menentang keberadaan UPS. Aksi ini mendapatkan pengawalan dari Polsek Sawangan dan berlangsung damai. Puncak dari aksi, warga kemudian menyegel bangunan UPS.

Tuntutan warga dalam aksi ini adalah adanya pernyataan dari Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail untuk bersedia merelokasi bangunan UPS. Hal tersebut dikarenakan keberadaan UPS sudah melanggar Undang-undang no 18 tahun 2008. “Seharusnya pengelolaan UPS itu berbasis masyarakat, tapi ini tidak disosialisasikan”, ujar Turyadi, juru bicara IWARI kepada Tempo. Ia menambahkan seandainya UPS ini tetap dioperasikan maka sebaiknya sampah yang ditangani adalah sampah yang berasal dari warga perumahan saja dan pengelolaanya diserahkan kepada warga.

Sekretaris IWARI, Muhlianto mengatakan bahwa bangunan UPS di Bukit Rivaria dirancang untuk mengolah sampah sebanyak 40 M kubik per 8 jam. Sementara warga perumahan bukit Rivaria sendiri diperkirakan hanya menghasilakn sampah sekitar 5-7 m kubik per harinya. “Itu berarti nanti UPS akan digunakan untuk mengolah sampah se-kecamatan”, ujarnya. Padahal di depan Bukit Rivaria sudah terdapat TPS untuk menampung sampah warga. “Seharunya yang dikembangkan menjadi UPS yang di depan itu”, jelasnya.

Jumat siang lalu (30/01), pihak pengelola UPS datang mengantarkan mesin pengelola sampah untuk dimasukkan UPS. Akan tetapi, tindakan tersebut dihadang oleh warga Bukit Rivaria. Dengan tindakan tersebut, maka keberadaan UPS hingga saat ini dinyatakan dalam status quo.

TIA HAPSARI

Warga Sawangan Tetap Tutup TPS

Republika, 1 Maret 2011 
Sumber: http://bataviase.co.id/node/585984 

Sudah tiga pekan ini, tidak ada aktivitas yang terlihat di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang berlokasi di Kompleks Rivaria, Sawangan Baru, Depok. Spanduk yang menjelaskan penutupan TPS ini sudah sedikit rusak.

Namun, spanduk itu masih cukup tegar menghalangi warga untuk membuang sampah di lokasi tersebut. Terlihat di dalam TPS tumpukan sisa sampah yang belum sempat diangkut ke TPA Cipayung.

TPS ini diblokir atas kesepakatan masyarakat kelurahan Sawangan Baru. TPS ditutup karena tidak adanya titik temu antara warga Sawangan Baru dan kompleks Rivaria untuk mengubah TPS menjadi Unit Pengelolaan Sampah (UPS).

“Sudah 15 tahun TPS tersebut berdiri dan warga sekitar merasa terganggu dengan bau sampah yang menumpuk,” ujar Saipul Bahri, Ketua RT 03/01, Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, saat ditemui di kediamannya, Kamis (24/2).

Warga yang membuang sampah ke TPS tersebut bukan hanya warga Rivaria, melainkan juga warga lain yang lewat, sengaja membuang sampah ke TPS tersebut. “Ada juga warga lainyang membuang sampah ke TPS, bukan hanya warga dari Rivaria. Bahkan, ada juga yang datang dari Bojong Sari dan Parung Bingung,” ungkap Saipul.

Maka, ia bersama-sama tokoh masyarakat Sawangan Baru melakukan pertemuan untuk membicarakan masalah sampah ini. Mereka akhirnya sepakat untuk meminta pengembang mengalihkan fungsi TPS saat ini menjadi UPS. Selain untuk mengurangi jumlah sampah, lanjut Saipul, hal ini dilakukan sebagai bentuk program pemerintah daerah dalam membangun UPS di setiap kecamatan.

Namun, ketika dilihat ke lapangan, lokasi TPS berdiri di tanah milik developer, yaitu PT Abadi Mukti. Lokasi TPS juga kurang luas untuk dibuat UPS. Idealnya, UPS membutuhkan tanah seluas 500 meter persegi. Pihak developer menyetujui usulan dari warga Sawangan Baru asalkan warga Rivaria juga menyetujui ide ini.

Rencananya UPS akan dibuat di lahan di seberang TPS berdiri saat ini. “Dari 5 RW yang ada di Perumahan Rivaria. sudah ada 2 RW yang setuju, yaitu RW Ol dan RW 05. Selebihnya, masih belum menemukan kata sepakat,” ucap Saipul.

Anggota Komisi C DPRD Kota Depok, Slamet Riyadi, menyambut baik ide pembuatan UPS ini. Menurutnya, pembuatan UPS ini dapat mengurangi jumlah sampah yang harus dikirim ke TPA Cipayung. “Ide ini sangat baik karena selain merupakan program pemda untuk membangun UPS, juga dapat mengurangi kapasitas sampah yang dikirim ke TPA Cipayung,” ujarnya.

Pihak pengembang Rivaria sebenarnya sudah pernah membuat sebuah UPS di dalam kompleks Rivaria. Namun, UPS yang dibangun tidak berfungsi dengan baik karena banyak menuai protes dari warga Rivaria. “Mungkin ini salah satu penyebab developer tidak mau membangun UPS lain di Rivaria,” kata Slamet.

Warga Sawangan Baru kini sedang menunggu kepastian dari tiga RW lainnya yang belum memberikan persetujuan. Sampai kata sepakat itu muncul, ungkapnya, TPS tetap ditutup oleh warga.

“Sebenarnya, hari ini juga bisa kita buka TPS tersebut. Namun, penutupan ini merupakan komitmen warga Sawangan Baru. TPS tidak akan dibuka sampai adanya kata sepakat untuk pembangunan UPS,” tutur Saipul,”katanya. cO2 ed maghflroh yenny

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s