UPS Sukatani

Koperasi Sampah, Mengapa Tidak?

Sumber: http://rw12maharaja.blogspot.com/2008/05/

Posted by Inti Pustaka on 18:30 // 0 Komentar
Ramai juga komentar bapak-bapak warga RW 12. Sampai-sampai Pak Sigit teriak Allah Akbar [mau jihad ya pak]. Kalau developer tidak mengusulkan UPS ke belakang masjid Al Ikhlas, mungkin komentar tidak berjejalan. Hal ini membuktikan kalau sampah masih dianggap barang menjijikan, najis dan harus dibuang jauh-jauh dari halaman rumah. Sampah belum dianggap sebagai sumber daya ekonomi atau komoditas yang menguntungkan.

Saya memang ditunjuk menjadi anggota Tim Lima dari Forum Warga Depok Maharaja. Namun yang paling kerja keras dan tinggi pengabdiannya adalah Pak Firdaus Nasrun (ketua Forum). Saya cuma tukang ngompori beliau saja dalam menghadapi developer. Sepengetahuan saya, usulan UPS di Blok O-P berasal dari developer dan Forum Warga belum menyetujuinya.

1. Apa dan bagaimana proyek unit pengolahan sampah (UPS) milik Pemkot Depok ?

Saya sudah mengunjungi UPS di Kelurahan Sukatani dan mewawancarai pekerjanya. Saya juga mewawancarai Wali Kota Pak Nurmahmudi. Hasil reportase dan wawancara itu sudah saya tulis di majalah Tempo [pernah saya posting di sini].

Tulisan di Tempo itu terkait dengan UU Pengelolaan Sampah yang baru disahkan DPR. UU itu ingin mengubah paradigma berpikir warga soal sampah. Barang buangan ini ingin dijadikan sumber daya ekonomi, seperti di negara-negara maju.

UPS di Sukatani memang contoh UPS sejenis yang bakal dibangun di Depok. Ukuran hanggarnya sekitar 20 x 15 meter, atapnya dari baja ringan dengan sekelilingnya tembok bata sehingga tertutup seperti pabrik. Ada dua pintu dari teralis besi dan mesin pengolah sampah.

Apakah UPS itu tidak bau ? Masih ada, tapi bau dari zat-zat komposter. Bukan dari bau busuk sampah, karena sampah yang datang langsung diolah oleh 10 petugas. Apakah UPS itu masih membutuhkan truk pengangkut sampah ? Iya. Karena sampah anorganik tidak bisa diolah, kecuali plastik yang dijual ke pemulung. UPS itu tidak punya mesin incenerator/pembakar sampah. Sehingga sekitar 30 % sampah yang masuk, perlu dibuang ke TPA Cipayung oleh truk sampah.

2. Dimana letak UPS yang ideal ?
Warga Blok O-P jelas menolak. Penolakan yang sama juga terjadi bila diletakkan di bawah tegangan tingi, seperti saat ini. Siapa yang menolak ? Warga sekitar dan lainnya, karena lokasi itu fasum dan fasos untuk masjid raya atau lainnya.

Saya juga tidak setuju, karena lokasinya di tengah-tengah perumahan [ingat satu UPS untuk 3.000 KK, sehingga kita wajib menerima sampah dari luar kompleks Maharaja]. Mending tanah itu untuk mesjid atau balai pertemuan atau sanggar untuk generasi muda atau sarana olah raga. Di Sukatani, UPS letaknya di pinggir/bagian belakang kompleks perumahan Kopassus.

Kita harus tetap mendesak ke developer agar UPS itu di belakang Blok S (seperti rencana semula). Soal Pak Marzuki Darusman, bisa dilobby. Jangan percaya begitu saja pernyataan dan klaim developer. Track record-nya selama ini: selalu ingkar janji dan melulu mencari keuntungan. Atau cari lokasi lain di pinggiran perumahan.

3. Apa dan bagaimana Koperasi Sampah ?

Pak Nurmahmudi bilang kalau subsidi Pemkot untuk menggaji 10 pegawai hanya tahun pertama. Setelah itu ? Ya 3.000 kepala keluarga yang menggaji, masing-masing pegawai sekitar Rp 800.000/bulan. [ingatmasih ada biaya listrik, solar mesin dan pemeliharan gedung, plus mesin].

Untuk mengantisipasi kondisi pasca-subsidi, sejakawal kita harus rancang sesuatu. Apa itu ? Koperasi Sampah [namanya bisa diubah biar keren dan menjual; oh ya bentuknya bisa juga CV atau PT].
Koperasi ini yang mengelola UPS. Mulai dari menarik iuran sampah hingga menggaji pegawai. Selain itu bisnis jual beli barang-barang bekas. Sampah DTC bisa jadi potensi yang besar.

Untuk bahan menulis Tempo, saya mewawancarai seorang pengusaha di Bekasi. Bisnisnya membeli plastik dari para pemulung dan mengolahnya menjadi biji plastik yang dijual ke pabrik besar. Dia membuat mesin pengolah. Ternyata pengusaha ini kekurangan pasokan plastik bekas. Koperasi sampah Depok Maharaja bisa mmanfaatkan peluang ini.

Upss … saya sudah kebanyakan bicara. Orang bijak bilang semakin banyak omong makin banyak salahnya. Ayo jadikan sampah sebagai sumber daya ekonomi, Ayo kita berjihad mendukung Pak Firdaus menghadapi developer yang kikir ini. Allah Akbar … Allah Akbar
… Allah Akbar.

Wassalam

Untung Widiyanto

One response to “UPS Sukatani

  1. Bpk Untung Widiyanto….Sy sngt terkesan dgn tulisan bpk di media ini. Di desa Cilangkap – Tapos dimn skrng sy domisili…itu ada UPS jg pak….tp sayang pengolahan sampah mnjd kompos blm maksimal…kendalany dimn sy jg tdk paham. Penumpukan sampah baik didlm hanggar maupun di luar hanggar tdk bs ditangani oleh petugas UPS. Oleh sebab itu sy mohon kpd instansi terkait untk memberikan pelajaran cara mengolah sampah yg baik agar tdk terjd penumpukan sampah.
    Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s